Bagi sebagian besar kita yang percaya, yang memiliki iman kristiani senantiasa didoktrin untuk selalu berpegang pada janji Tuhan.

“Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.”
‭‭
Mazmur‬ ‭103‬:‭17‬-‭18‬ ‭TB‬‬

https://bible.com/bible/306/psa.103.17-18.TB

Kasih Tuhan akan ada atas orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya, pada janji-Nya.

Kita perlu lebih cermat lagi atas kata janji di ayat ini, karena seringkali yang kita tangkap, yang kita pahami, dan yang kita jadikan pegangan itu adalah Tuhan yang berjanji. Padahal kalau disimak dengan baik di situ tertulis “perjanjian”, bukan hanya “janji”. Sehingga itu berarti ada janji yang dibuat oleh minimal 2 pihak, seperti dalam sebuah perjanjian kerjasama/ MOU, pihak pertama akan melakukan kewajibannya, begitu pula pihak kedua juga punya kewajiban yang harus dilaksanakan.

Sayangnya kita seringkali menuntut pihak Tuhan untuk melakukan janji-Nya padahal kita sendiri tidak melakukan kewajiban kita.

Memang hubungan dengan Tuhan bukan merupakan hubungan transaksional. Jika melakukan A maka akan mendapat B dari pihak sana, bukan begitu. Karena apa yang diberikan Tuhan jauh lebih besar, bahkan tak ternilai dari apa yang bisa kita lakukan bagi Dia. Tapi itu bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa atau tidak sungguh-sungguh melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Dalam hubungan suami istri, ada hal-hal yang harus dilakukan oleh suami, dan ada yang harus dilakukan oleh istri sesuai perannya masing-masing, dan bukan hanya berkaitan dengan tugas dan fungsi, namun dalam hubungan jika ingin diperhatikan maka hendaknya kita memberikan perhatian, jika ingin disayang, hendaknya kita menunjukkan sayang kita. Tidak bisa kita diam saja dan menuntut pasangan kita melakukan itu dan berpikir itu adalah tugas dia yang harusnya dia lakukan, sementara kita tidak sadar dan sengaja melupakan, tidak mau tahu yang bagian kita.

Demikian pula dengan Tuhan, seringkali kita kecewa dan marah sama Tuhan karena seperti Tuhan tidak menepati janji-Nya.

Kita terlalu fokus pada diri kita, sehingga janji-Nya untuk kita itulah yang kita tunggu-tunggu, yang kita tuntut untuk digenapi Tuhan. Bukan pribadi-Nya, bukan hubungan dengan-Nya. Sehingga saat apa yang kita tunggu-tunggu tadi tidak kunjung datang kita kecewa, kita marah, kita kepahitan, kita akhirnya tidak mau lagi berurusan dengan Tuhan.

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.”
‭‭
Mazmur‬ ‭103‬:‭13‬-‭14‬ ‭TB‬‬

https://bible.com/bible/306/psa.103.13-14.TB

Seharusnya kita fokus untuk mengasihi Bapa, melayani Bapa, mengerjakan apa-apa yang menjadi titah-Nya di kalimat lanjutan ayat 18 di atas. Janganlah kita hanya fokus pada kalimat pertama dan menutup kalimat kedua. Kita fokus untuk mengerjakan peran kita sebagai anak, tugas kita sebagai seorang anak dalam keluarga Tuhan.

Jika fokus kita benar, jika kita bangun hubungan yang intim dengan Tuhan, mengerjakan panggilan kita, apa yang menyukai hati Tuhan, membuatnya happy dan proud, pasti Tuhan tidak akan tanggung-tanggung dengan kita.

Apakah kita masih ada rasa kecewa dengan Tuhan?

Atau bahkan marah, dan kepahitan dengan Tuhan?

Ayo kita datang kepada Tuhan, kita sampaikan semuanya, kita mohon ampun pada Tuhan, dan mari ke depannya kita mulai fokus mengenal Tuhan, mengenal pribadiNya bukan hanya dari teori tapi benar-benar sebagai pribadi yang selalu ada bersama-sama dengan kita, yang tinggal di hati kita.

Amin

Quote of the week

“Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan yang merenungkan taurat itu siang dan malam.”

~ Mazmur 1

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari Kucinta Alkitabku

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca