Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Kategori: ILMB Challenge 2022

  • Renungan 2 Samuel 3 – Mau berpihak kemana? (Which side are you on?)

    ‘Ketika Yoab bersama dengan segenap tentaranya sudah pulang, diberitahukan kepada Yoab, demikian: ”Abner bin Ner telah datang kepada raja dan ia sudah dibiarkannya pergi dengan selamat.” Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ”Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja?

    2 Samuel 3:23-24 (TB) https://my.bible.com/bible/306/2SA.3.23-24

    Siapakah Abner bin Ner?

    Abner bin Ner adalah Panglima Saul yang membantu anak Saul yaitu Isyboset menjadi raja menggantikan ayahnya, yang membunuh Asael adik Yoab Panglima Daud.

    Karena marah dengan Isyboset karena dituduh yang tidak benar, Abner pindah berpihak kepada Daud. Proses perpindahan pihak itu ternyata tidak diketahui oleh Yoab, sehingga pada saat mereka pulang setelah berperang, Yoab membunuh Abner (Kisah lengkap baca disini (2 Samuel 2) dan disini (2 Samuel 3)).

    Pada masa peperangan, sudah pasti orang akan berpihak ke salah satu sisi yang sesuai cara pandangnya/ keyakinannya dengan dirinya. Namun ada banyak juga yang tidak mau ikut campur memilih untuk tidak memihak karena berbagai macam alasan.

    Pada saat ibadah hari minggu yang lalu (21 Agustus 2022 di Gereja Mawar Sharon Bogor) Pdm. Yenny Verodika, Ketua Departemen Doa Sinode Gereja Mawar Sharon menyampaikan bahwa kita sesungguhnya hidup dalam masa peperangan rohani, apalagi kita mau memasuki bulan CG Fun yang ibarat suatu kegiatan penyerangan untuk merebut kembali jiwa-jiwa yang terhilang.

    Di dunia ini, kita akan selalu menghadapi resiko dikecewakan oleh orang lain, apalagi saat ekspektasi-ekspektasi, harapan-harapan yang kita miliki ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Apalagi saat janji-janji yang dulu disampaikan diawal ternyata kenyataannya, realitanya tidak seperti itu. Seperti janji kampanye yang bertujuan untuk mengumpulkan pendukung agar menang dalam pemilihan.

    Saat kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, itu adalah saat dimana kita memilih untuk berpihak kepada Tuhan. Dan saat memilih pihak atau tidak memilih pihak, selalu ada konsekuensinya.

    Dalam peperangan di dunia, jika tidak memilih maka kita bisa menjadi korban dari kedua pihak yang bertempur. Jika kita memilih salah satu pihak maka kita bisa menjadi pihak yang menang atau yang kalah.

    Kira-kira, jika kita memilih Tuhan, Tuhan bakal menang atau kalah ya?

    Pernahkah bapak-ibu nonton pertandingan olahraga? Nonton pertandingan dimana yang bertanding adalah tim yang bapak/ibu dukung dan yang secara statistik sudah pasti bakal menang. Apa yang bapak/ibu rasakan selama menonton pertandingan? Saat menang, apa yang bapak ibu rasakan? Saat ternyata kalah, apa yang bapak ibu rasakan?

    Memilih percaya Tuhan, bukan hanya menonton tim Tuhan yang sedang bertanding, namun kita masuk dalam tim Tuhan yang ikut bertanding dalam pertandingan itu.

    Supaya menang telak, maka kita harus ikuti semua strategi yang sudah disusun oleh Tuhan. Baik strategi untuk latihan-latihan sebelum bertanding, maupun strategi dalam pertandingan. Strategi pertahanan dan juga strategi menyerang.

    Yang membuat suatu tim kebobolan, itu biasanya karena ada anggota tim yang tidak sinkron karena tidak nurut ke strategi yang sudah dibuat, atau tidak fokus/ perhatiannya teralihkan.

    Menarik ya.

    Oke, saya ingin mengajak dan mengingatkan kita semua untuk berlatih setiap waktu, setiap waktu ya, bukan hanya hari. Karena pertempuran rohani itu juga terjadi setiap waktu. Berlatih secara pribadi, membangun manusia roh kita, dan berlatih secara kelompok melalui komunitas rohani (komsel/ connect group – CG), atau di pelayanan di Gereja.

    Mari kita dengan sengaja, lebih serius lagi membangun hubungan dengan Tuhan yang lebih erat lagi, agar kita semakin mengerti dan memahami semua strategi yang Tuhan sudah buat, posisi dan peran kita dalam strategi Tuhan itu dimana dan harus berbuat apa? Agar kita bisa mendengar instruksi-instruksi Tuhan dalam pertandingan hidup ini.

    Semoga kita semua menang setiap waktu, bahkan bukan hanya menang, tapi kita semua menjadi lebih dari pemenang. Menjadi MVPnya (Most Valuable Player) tim Tuhan.

    Amin.

  • Renungan 2 Samuel 15 – Tidak Melekat pada Dunia (Not Attached to The World).

    Kita seringkali begitu terikat dengan dunia ini sehingga kita sulit sekali untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, terutama yang berhubungan dengan pelayanan dan penginjilan.

    Hari ini kita belajar dari Daud dalam pelariannya dari anaknya sendiri yaitu Absalom.

    Pada saat Daud dan seluruh istananya pergi, ternyata ada banyak orang yang mengikuti/ menyertai Daud yang akhirnya disuruh Daud untuk kembali. Dan ternyata Tabut Allah juga dibawa pegawai-pegawainya beserta mereka. Saat Daud melihat Tabut Allah yang dibawa mereka Daud meminta agar Tabut Allah tersebut dipulangkan kembali ke Istana.

    Lalu berkatalah raja kepada Zadok: ”Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya. 

    Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.”

    2 Samuel 25 – 26 (TB) https://my.bible.com/id/bible/306/2SA.15.TB

    Betapa mengharukan pasti moment tersebut, karena semua orang tahu betapa kuat penyertaan Tuhan pada Daud, sehingga melepaskan Tabut Allah kembali ke istana pasti terasa berat. Ibarat melepaskan penyertaan Tuhan pada Daud.

    Namun kita melihat iman Daud, bahwa Daud percaya penuh kepada Tuhan, bahwa Daud berserah penuh kepada Tuhan, bahwa Daud mungkin ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan agar tetap berada di istana.

    Yang berkesan buat saya saat merenungkan pasal ini adalah pernyataan Daud di ayat ke 26. Daud berserah jika memang Tuhan tidak menganggapnya layak lagi sehingga Tuhan tidak lagi berkenan Daud melihat kembali Tabut Allah, ia menerima, ia pasrah. Saya dapat merasakan betapa berat Daud mengucapkan hal itu, seperti seseorang yang akan putus hubungan. Saya dapat merasakan betapa cintanya Daud pada Tuhan, namun mungkin karena ia tidak ingin Tabut Allah dibawa-bawa mengikuti pelariannya ke tempat-tempat yang ia juga tidak tahu, mungkin ke gua-gua atau tempat-tempat yang tidak layak maka Daud memutuskan agar Tabut Allah tidak dibawa.

    Dalam kehidupan kita sehari-hari seringkali kita menjadi terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi, melekat pada benda, pada posisi atau jabatan, bahkan terlalu melekat pada orang. Tuhan menginginkan agar kita melekat pada diriNya yang utama, sehingga jika rancangan Tuhan agar kita berpindah, agar kita keluar, maka kita perlu untuk melepaskan hal-hal duniawi yang melekat pada diri kita.

    Pada saat Tuhan mengutus kita menjadikan seluruh bangsa muridNya, maka kita harus keluar dari zona nyaman kita, kita harus menanggalkan hal-hal duniawi yang melekat pada diri kita untuk menjalankan perintah Tuhan. Jika Tuhan mengizinkan hal-hal duniawi tersebut masih bersama kita maka hendaknya itu semua menjadi sarana untuk kita mengerjakan perintah Tuhan, bukan justru menjadi penghambat. Hal-hal itu menjadi talenta yang Tuhan percayakan untuk kita gunakan dalam pekerjaan Tuhan.

    Mari kita meminta tuntunan Roh Kudus agar kita mengerti dan menyadari posisi kita, keberadaan kita di dunia, tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, misi hidup kita, agar kita berjalan dengan benar, agar kita bekerja dengan benar, mengerjakan pekerjaan yang benar yang sesuai dengan perintah Tuhan sehingga pada akhirnya nanti Tuhan puas melihat hasil pekerjaan kita selama di dunia ini.

    Amin

  • Renungan 1 Samuel 27 – Di Luar Zona Nyaman.

    Ayat Rhema
    Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: ”Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya.”
    1 Samuel 27:1 TB
    https://bible.com/bible/306/1sa.27.1.TB

    Renungan
    Diluar zona nyaman.

    Luar biasa penyertaan Tuhan dan hikmat yang ditangkap oleh Daud pada masa pelarian dari kejaran Saul.
    Daud jistru tinggal di tengah-tengah orang Filistin.
    Tidak nyaman pastinya.
    Karena sebenarnya tempat itu juga merupakan musuh Daud, musuh bangsa Israel yang juga harus dimusnahkan, tapi justru Daud tinggal di tengah2 mereka.

    Yang saya kagum dari kisah ini ada bbrp poin:

    1. Jalan menghadapi pergumulan seringkali tidak nyaman.
      Lihat Daud harus berpura2 bersekutu dengan musuh.
    2. Saat menjalaninya, Daud senantiasa melaksanakan perintah Tuhan.
      Berada ditengah2 musuh punya resiko terseret arus, namun Daud dan pasukannya bertahan untuk tetap mengerjakan perintah Tuhan.
    3. Tuhan itu menjagai dan melindungi kita.
      Saat kita mengikuti perintahNya, Tuhan menjagai dan melindungi Daud.

    Aplikasi
    Saat menhadapi pergumulan, seringkali solusinya tidak nyaman.

    Crosscheck pada Tuhan, bisa diskusi dengan orang tua rohani, apakah benar itu jalannya.

    Jika benar, walaupun berat mari kita kerjakan, kita belajar taat. Dan sambil mengerjakan itu, kita juga tetap menjalankan ketaatan akan perintah2 Tuhan yang lain, yang dasar agar kita tidak terseret arus.

    Harapan
    Semoga kita semua selamat. Survive.

    Dan pelan-pelan, pintu kemenangan dan kemuliaan akan terbuka.

    Amin

  • Renungan 2 Samuel 12: Yoab, Panglima Daud yang Hebat.

    Yoab adalah salah seorang Panglima Daud. Selama itu dia berperang bersama-sama dan untuk Daud.

    DI pasal ini diceritakan tentang perang terakhir melawan bani Amon, melawan raja Hanun yang sebelumya sudah mempermalukan dan menghina utusan Daud yang diutus untuk memberikan ucapan turut berdukacita atas kematian ayah Raja Hanun.

    Yoab sudah hampir di garis finish, di garis akhir tinggal sedikit lagi ia bisa memenangkan perang tersebut. Namun yang luar biasa, saat ia sudah merasa yakin tinggal 1 kali lagi, alias 1 langkah Skak-mat, ia memberikan kehormatan tersebut kepada rajanya, kepada atasannya untuk memperoleh kemenangannya.

    Sebuah sikap hati yang luar biasa, yang jarang kita lihat saat-saat ini.

    Kerendahan hati Yoab dalam peristiwa ini bisa kita contoh, bahwa tidak selalu harus kita yang menang semua, namun saat bekerja dalam satu tim setiap kemenangan adalah kemenangan bersama. Apalagi jika kredit atau pujian/ penghargaan tersebut kita persembahkan kepada atasan kita, kita tidak akan kekurangan.

    Amin

  • Renungan 2 Samuel 11: There is no single sin, always sins

    Tidak ada yang namanya dosa tunggal.

    Satu perbuatan dosa pasti, diiringi dengan dosa berikutnya.

    Kita belajar dari Daud di 2 Samuel 11, minimal Daud melakukan 3 dosa.

    Dosa pertama: berzina dalam pikiran dan mengingini istri orang lain, saat pertama kali melihat Batsyeba sedang mandi.

    Dosa kedua: berzina atau malah kekerasan seksual pada Batsyeba.

    Dosa ketiga: membunuh.

    Saat jatuh dalam dosa yang pertama akan berlanjut dengan dosa kedua atau ketiga. Bentuk dosanya bisa saja merupakan tindaklanjut/ kelanjutan dari perbuatan sebelumnya, atau usaha untuk menutupi perbuatan sebelumnya.

    Saat ini sedang ramai diberitakan kasus pembunuhan seorang polisi yang diduga dilakukan oleh atasannya seorang jenderal polisi. Pasti ada yang tidak benar sebelumnya, sehingga mencetuskan kejadian pembunuhan, kemudian dilanjutkan dengan perbuatan menutupi/ membuat skenario untuk menutupi kejadian tersebut, dan kebohongan-kebohongan untuk menutupi kejadia tersebut.

    Lihatlah rangkaian dosa yang terjadi saat kita jatuh dalam dosa.

    Marilah kita senantiasa menjaga hati. Kita mulai belajar menyadari dan mengenali diri kita. Disaat-saat kapan kita terjatuh. sehingga perlu kita belajar dari Tuhan Yesus di perjanjian baru bagaimana menangkal agar jangan sampai jatuh ke dalam dosa.

    Tuhan Yesus sudah mencontohkan salah satunya yang sangat jelas adalah pencobaan di padang gurun dimana Yesus dicobai, digoda untuk melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

    Dan Puji Tuhan, saat kemenangan terjadi, kemuliaan pun didapatkan.

    Semoga kita semakin mengenali diri kita, semakin memahami diri kita sendiri saat-saat dimana kita jatuh dalam dosa, dan yang terpenting adalah memiliki penangkal agar tidak sedikitpun mendekati hal tersebut.

    Amin.

    Semoga Tuhan Yesus memberkati.

  • Renungan 2 Samuel 10: Tak semua niat baik dan perbuatan baik dianggap baik.

    Ternyata memang tak semua niat yang baik, perbuatan yang baik dipandang baik bahkan oleh orang yang menjadi tujuan dari niat dan perbuatan baik tersebut.

    Seringkali orang yang menjadi tujuan niat baik atau perbuatan baik tersebut juga bisa dipengaruhi oleh bisikan-bisikan jelek yang memberikan pemikiran bahwa yang diniatkan, yang dilakukan itu justru sebenarnya tidak baik, bahwa ada motivasi tersembunyi di belakangnya yang punya tujuan mencederai, melukai, atau mencelakakan dirinya.

    Dari 2 Samuel pasal 10 ini kita bisa belajar dari Daud bahwa selalu ada kemungkinan bahwa niat dan perbuatan baik kita dianggap tidak baik. Bahwa ternyata ada orang-orang yang membisikkan pemikiran-pemikiran yang tidak baik. Bahwa kita pun perlu hati-hati saat mendengar masukan atau pemikiran dari orang lain baik itu sesuatu yang jelek atau mungkin sesuatu yang baik.

    Kita juga bisa belajar bagaimana Daud menyikapi niat baiknya yang disalah-artikan. Di awal, justru Daud malah mengajari pegawainya untuk kembali lagi. Namun sayangnya karena sudah dipenuhi pemikiran yang jelek membuat bani Amon justru melihat yang dilakukan Daud adalah “membenci bani Amon”, yang kalau kita baca tidak ada kalimat yang menunjukkan hal tersebut.

    Peperangan yang dimulai oleh bani Amon membuat Daud akhirnya mengambil sikap untuk tidak diam lagi, bersiap untuk melawan. Peperangan-peperangan terjadi sampai Daud pun akhirnya turut berperang, dan menang, dan akhirnya mereka menyerah.

    Belajar dari kisah peristiwa yang ada di pasal 10 ini, maka sangatlah penting agar kita senantiasa mengacu kepada kebenaran dalam Firman Tuhan, mendengar suara Tuhan, mendengar suara Roh Kudus, agar kita jangan sampai salah mengambil tindakan, jangan salah mengambil sikap, jangan salah dalam melihat dan membaca situasi. Baik posisi kita sebagai Hanun raja bani Amon, ataupun posisi kita sebagai Daud.

    Memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan menjadi urgent, karena peristiwa di atas adalah dinamika kehidupan sehari-hari yang biasa kita hadapi/ temui, sehingga jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Hanun.

    Semoga kita semua senantiasa diingatkan dalam setiap langkah agar apapun yang kita pikirkan, kita rasakan, kita lakukan dalam tuntunan Tuhan.

    Mari kita merenungkan juga lagu Tiap Langkahku.

    Semoga Tuhan Yesus memberkati.

  • Apa yang kita tahu?

    Renungan ILMB
    Imamat 11

    Ayat Rhema
    Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi.
    Imamat 11:44 TB
    https://bible.com/bible/306/lev.11.44.TB

    Renungan
    Ini adalah binatang2 yang menajiskan tubuh kita.

    Siapa yang bisa memberitahu alasannya kenapa hewan2 itu najis?

    Padahal, buat orang2 yg pernah makan dan sering makan, itu enak kok… sehat2 aja kok…

    Kita tdk tahu semua.

    Sama seperti saat kita sbg anak2 yg diperintah oleh orang tua. Seringkali kita kesal, marah krn tidak jelas alasannya. Tapi saat kita berada di posisi orang tua baru kita menyadari bahwa dulu mmg kita gak ngerti.

    Kembali ke hewan2 tadi, kita tidak benar2 tahu apa dampaknya bagi tubuh kita jika kita mengkonsumsi binatang di atas. Bahkan mungkin ada yg bilang justru saya tambah kuat pak, stamina joss.
    Cuma ini perintah Tuhan ya, yang Maha Tahu, yang menciptakan tubuh kita, yang paling tahu apa yg bikin tubuh kita makin baik atau pelan2 makin rusak.

    Sama seperti buah pengetahuan yg baik dan jahat. Tuhan sudah larang, bilang manusia akan mati. Tp karena goyah, terbujuk oleh setan, makan deh. Dan gak mati! Memang gak langsung mati, tapi apa yg terjadi jika mrk tetap  nurut?

    Kembali kepada keterbatasan pengetahuan kita, pemahaman kita, jadi yg kita butuhkan hanya Iman percaya dan ketaatan menjalankan perintah2 Tuhan.

    Aplikasi

    Faith – iman
    Believe – percaya
    Obey – taat

    Harapan/ Doa
    Just believe dan just do it.
    Percaya saja dan lakukan.

    Bantu kami ya Tuhan untuk senantiasa percaya dan berani melakukan.

  • Hanya Perlu Percaya

    Hanya Perlu Percaya

    ILMB Day 11

    Ayat RHEMA

    dan Ia berfirman: ”Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.Kejadian 11:6 TB
    https://bible.com/bible/306/gen.11.6.TB

    Renungan

    Potensi yang ada dalam diri manusia ternyata memang luar biasa besarnya. Bahkan Tuhan sendiri mengatakan, jika manusia bersatu, apa pun yang direncanakan akan dapat terlaksana.

    Aplikasi

    Kita harus mengupayakan dan meminta perkenanan Tuhan untuk kesatuan dalam merencanakan dan juga dalam pelaksanaan. Meminta penyertaan Roh Kudus dalam setiap rencana dan pelaksanaannya, agar bisa berhasil dan juga sesuai dengan rencana Tuhan.

    Harapan

    Ingatkan kami senantiasa ya Tuhan untuk melibatkan Engkau sejak awal proses perencanaan sampai dengan akhirnya. Agar apapun yang kami rencanakan, apapun yang kami kerjakan berkenan kepadaMu.

  • Kenapa sih tidak langsung menutupi?

    Ayat Rhema
    Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar.
    Kejadian 9:22 TB
    https://bible.com/bible/306/gen.9.22.TB

    Renungan
    Kenapa ya Ham tidak langsung menutupi ayahnya?
    Kenapa ya Ham mesti cerita2 ke saudara-saudaranya dulu?
    Mungkin apa yang Ham lihat sesuatu yang memalukan. Alih2 juga merasa malu akan kondisi ayahnya saat itu dan berusaha menutupinya, ia malah meninggalkan ayahnya dan cerita ke kedua saudaranya.
    Kedua saudaranya mendengar peristiwa itu berusaha menutupi ayahnya bahkan dengan tidak berusaha untuk melihat. Dan sayangnya, Ham tidak disitu juga membantu kedua saudaranya.

    Aplikasi
    Dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam bersosial seringkali kita menemukan kondisi yang tidak pas di diri orang lain. Seringkali kita malah ngomong keluar, membicarakan dengan orang yang lain lagi. Padahal mungkin orang yang tidak pas tersebut adalah bagian dari kita, keluarga kita, pasangan atau anak kita, anggota tim kita, dan sebagainya.
    Kalau kita tidak tahu harus berbuat apa, lebih baik diam! Atau mungkin bertanya, konsultasi harus bagaimana ke orang yang kira-kira bisa memberikan alternatif solusi?
    Kalau ada yang bisa kita lakukan, ya langsung lakukan saja, dan tetap diam. Tidak perlu dicerita-ceritakan.
    Kecuali, perlu kita diskusikan agar ada perbaikan atau tidak terulang kembali. Berbeda konteksnya ya, membicarakan yang hanya cerita-cerita vs membicarakan/ diskusi untuk perbaikan.

    Contoh peristiwa.
    Beberapa waktu lalu ada pasien rawat inap yang harus dilakukan pemeriksaan lab. Karena menggunakan asuransi, maka harus diajukan dulu oleh admin untuk penjaminan asuransi. Namun ternyata ada kesalahan yang menyebabkan prosesnya lama.
    Keluarga pasien menanyakan berulangkali ke perawat, kapan bisa dilakukan. Karena mungkin merasa tertekan karena ditanya berulang kali, perawat tersebut menyebutkan bahwa tadi admin ada kesalahan sehingga tertunda.
    Keluarga pasien marah besar akhirnya kepada admin tersebut.

    Bukan mengajarkan untuk berbohong, namun alih-alih menyampaikan hal yang kurang pas yang ada pada salah satu anggota tim kita (menyampaikan kesalahan orang lain), mungkin akan jauh lebih baik kita membantu mereka untuk memperbaiki kesalahan/ kekurangan yang terjadi sehingga yang diharapkan oleh pelanggan bisa segera terwujud.

    Harapan/Doa
    Ya Tuhan, ingatkan diriku selalu bahwa aku pun orang yang tak sempurna, yang punya banyak kekurangan.
    Ingatkan aku daripada membicarakan orang lain, lebih baik merenungkan FirmanMu atau menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan.