Hanya Tuhan yang dapat mengubah hati seseorang, kalimat itu yang selama ini saya jadikan pegangan jika bertemu dengan seseorang yang keras hati.
Pernyataan Tuhan yang kita baca hari ini memberikan perspektif yang baru.
Mari kita baca terlebih dahulu Kitab Wahyu 2:18-29 tentang Kepada Jemaat di Tiatira.
Dari Firman Tuhan tersebut yang menjadi ayat rhema kali ini adalah ayat 23,
[23] Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.
Wahyu 2:23-25 TB
[24] Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu.
[25] Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.
https://bible.com/bible/306/rev.2.23-25.TB
Di ayat 23 ini, kita bisa merasakan kekesalan Allah. Kasih Allah yang begitu besar seperti tidak terima dengan oknum yang merusak jiwa-jiwa di sekitarnya. Dan disini Allah mengkonfirmasi Daud di Mazmur 139:
[23] Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; [24] lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Mazmur 139:23-24 TB
https://bible.com/bible/306/psa.139.23-24.TB

Tidak ada satu tempat pun dimana kita bisa berlari untuk bersembunyi dari Tuhan, karena Ia mengetahui hati kita manusia dimanapun berada, tak satupun terkecuali. Pernyataan Allah di kitab Wahyu ini membuat saya membayangkan suasana ujian. Jika di Mazmur ibarat proses penelusuran, pencarian informasi, di Wahyu ibarat Allah sedang konfirmasi hasil temuan audit dimana kita ditanya-tanya apakah benar, dan kenapa alasannya?
Jika seperti itu faktanya, masihkah kita orang-orang percaya berpikir untuk mendukakan hati Tuhan dengan berbuat dosa? Walaupun semua yang berbuat dosa itu sepertinya jika ditanya akan menjawab bahwa ia tidak berpikir hal itu akan mendukakan Tuhan. Berpikir pun jika pikirannya dikuasai dengan hawa nafsu maka hawa nafsunya yang akan mengambil alih kendali atas tubuhnya, dan kita jatuh dalam dosa.
Akhirnya saya menyadari mengapa kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, itu agar Firman Tuhan menguasai pikiran kita, menguasai hati kita, dan perasaan kita, sehingga tubuh kita pun dalam kuasa dan kendali Tuhan.
Doa
