Kita seringkali begitu terikat dengan dunia ini sehingga kita sulit sekali untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, terutama yang berhubungan dengan pelayanan dan penginjilan.
Hari ini kita belajar dari Daud dalam pelariannya dari anaknya sendiri yaitu Absalom.
Pada saat Daud dan seluruh istananya pergi, ternyata ada banyak orang yang mengikuti/ menyertai Daud yang akhirnya disuruh Daud untuk kembali. Dan ternyata Tabut Allah juga dibawa pegawai-pegawainya beserta mereka. Saat Daud melihat Tabut Allah yang dibawa mereka Daud meminta agar Tabut Allah tersebut dipulangkan kembali ke Istana.
Lalu berkatalah raja kepada Zadok: ”Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.
Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.”
2 Samuel 25 – 26 (TB) https://my.bible.com/id/bible/306/2SA.15.TB
Betapa mengharukan pasti moment tersebut, karena semua orang tahu betapa kuat penyertaan Tuhan pada Daud, sehingga melepaskan Tabut Allah kembali ke istana pasti terasa berat. Ibarat melepaskan penyertaan Tuhan pada Daud.
Namun kita melihat iman Daud, bahwa Daud percaya penuh kepada Tuhan, bahwa Daud berserah penuh kepada Tuhan, bahwa Daud mungkin ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan agar tetap berada di istana.
Yang berkesan buat saya saat merenungkan pasal ini adalah pernyataan Daud di ayat ke 26. Daud berserah jika memang Tuhan tidak menganggapnya layak lagi sehingga Tuhan tidak lagi berkenan Daud melihat kembali Tabut Allah, ia menerima, ia pasrah. Saya dapat merasakan betapa berat Daud mengucapkan hal itu, seperti seseorang yang akan putus hubungan. Saya dapat merasakan betapa cintanya Daud pada Tuhan, namun mungkin karena ia tidak ingin Tabut Allah dibawa-bawa mengikuti pelariannya ke tempat-tempat yang ia juga tidak tahu, mungkin ke gua-gua atau tempat-tempat yang tidak layak maka Daud memutuskan agar Tabut Allah tidak dibawa.
Dalam kehidupan kita sehari-hari seringkali kita menjadi terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi, melekat pada benda, pada posisi atau jabatan, bahkan terlalu melekat pada orang. Tuhan menginginkan agar kita melekat pada diriNya yang utama, sehingga jika rancangan Tuhan agar kita berpindah, agar kita keluar, maka kita perlu untuk melepaskan hal-hal duniawi yang melekat pada diri kita.
Pada saat Tuhan mengutus kita menjadikan seluruh bangsa muridNya, maka kita harus keluar dari zona nyaman kita, kita harus menanggalkan hal-hal duniawi yang melekat pada diri kita untuk menjalankan perintah Tuhan. Jika Tuhan mengizinkan hal-hal duniawi tersebut masih bersama kita maka hendaknya itu semua menjadi sarana untuk kita mengerjakan perintah Tuhan, bukan justru menjadi penghambat. Hal-hal itu menjadi talenta yang Tuhan percayakan untuk kita gunakan dalam pekerjaan Tuhan.
Mari kita meminta tuntunan Roh Kudus agar kita mengerti dan menyadari posisi kita, keberadaan kita di dunia, tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, misi hidup kita, agar kita berjalan dengan benar, agar kita bekerja dengan benar, mengerjakan pekerjaan yang benar yang sesuai dengan perintah Tuhan sehingga pada akhirnya nanti Tuhan puas melihat hasil pekerjaan kita selama di dunia ini.
Amin