Kepahitan selalu berbuah pahit. Itulah yang dialami oleh Absalom.
Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya.
https://bible.com/bible/306/2sa.13.22.TB
2 Samuel 13:22 TB
Absalom memang diam saat melihat peristiwa yang terjadi pada adiknya. Dia tahu bahwa saat itu jika ia langsung membalas mungkin justru ia yang kalah, oleh karena itu ia menyimpan dendamnya, menunggu dan merancang saat yang tepat.
Dan pada akhirnya Amnon mati dibunuh orang-orang Absalom.
Kita boleh saja marah atau kesal, namun Tuhan mengajarkan agar kita mengampuni, memaafkan. Bukan hanya untuk orang tersebut, namun justru yang paling diuntungkan adalah diri kita sendiri.
Memang tidaklah mudah memaafkan, tidaklah mudah mengampuni apalagi orang yang sudah melukai, menyakiti yang kita sayangi, namun kita perlu menyadari bahwa saat kita dendam, maka kita membuka celah di hati kita untuk iblis. Kita mengizinkan iblis menjalankan tipu dayanya, mempengaruhi hati kita, perasaan kita dan logika kita. Semuanya diputarbalikkan.
Sebaliknya pengampunan, kasih adalah perintah Tuhan. Saat kita belajar dan berusaha untuk mengasihi dan mengampuni maka kita mengizinkan Tuhan untuk memulihkan diri kita, hati kita, sehingga penyertaan Tuhan tetap tinggal di hati kita. Kita tidak meninggalkan celah bagi iblis di hati kita.
Pergumulan terjadi setiap waktu, peluang terjadi konflik juga bisa terjadi kapan pun. Oleh karena itu senantiasa kita harus memegang perintah Tuhan untuk mengampuni yang bersalah kepada kita.
Amin