Ada teka-teki di dalam Kitab Wahyu 10 ini: “Apakah yang manis di dalam mulut, manisnya seperti madu, namun pahit di perut?”

Pada saat membaca pasal ini, terutama di bagian ini sudah sempat terpikir jawabannya.

Sebelum kita menggali jawabannya, mari kita baca dulu pasal ini agar kita bisa memahami konteks besarnya, dan saya yakin anda akan menemukan jawabannya sendiri. Kitab Wahyu 10.

Yang menjadi ayat rhema kita hari ini adalah ayat 9 dan 10:

‘Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: ”Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu.” ‘

https://www.bible.com/id/bible/306/REV.10.9-10

Wahyu 10:9-10

Apakah anda sudah mengetahui jawabannya?

Pada saat merenungkan ayat ini saya menelusur ke belakang, apa yang Yohanes makan? Yohanes makan gulungan kitab yang dibawa oleh malaikat yang kuat yang satu kakinya di lautan dan satu kakinya di bumi.

Saya membayangkan bagaimana situasinya pada saat itu. Yohanes pasti awalnya bingung karena harus makan gulungan kitab, namun karena rasanya manis seperti madu, mungkin saja Yohanes menghabiskan seluruhnya seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

Baru beberapa saat kemudian, setelah Yohanes menghabiskan gulungan kitab tersebut ia merasakan sensasi pahit di dalam perutnya.

Kitab, karena kitab ini dibawa oleh malaikat Allah, maka yang pasti ini bukan kitab yang isinya berasal dari malaikat itu sendiri. Pasti isinya merupakan perkataan Tuhan, merupakan Firman Tuhan.

Sehingga menurut saya jawaban dari teka-teki ini adalah “Perkataan Tuhan atau Firman Tuhan”. Yeay… apakah sama jawabannya?

Namun jawaban ini menimbulkan pertanyaan baru mengapa Firman Tuhan menyebabkan perut terasa pahit? Tidak bagus dong berarti.

Kembali saya merenungkan, dan saat saya merenungkan saya terbayang obat sirup. Ya obat sirup yang biasanya manis rasanya di mulut karena memang ditambahkan pemanis, karena jika tidak ditambahkan pemanis bisa jadi rasanya sangat pahit di mulut. Yang ada kita malah menolak untuk minum obat itu, karena tidak tahan dengan rasanya di mulut. Padahal obat tersebut mungkin merupakan solusi dari penyakit yang kita alami.

Mengapa orang banyak mengikuti Yesus? Karena dalam banyak situasi, perkataan Tuhan itu membuka mata, memberikan insight, menenangkan jiwa, membangkitkan semangat. Naman dalam banyak hal juga berat untuk dilakukan, membuat kita takut, membuat tidak nyaman, yang harus kita pegang hanya satu, bahwa itu baik bagi jiwa kita.

Sudahkah anda makan “kitab” hari ini?

Terlepas apapun after-taste yang kita alami, tidak ada apa-apa, asam, pahit, teruslah makan Firman Tuhan. Firman Tuhan itu seperti vitamin bagi jiwa kita, seperti immune-booster yang akan membangun antibodi di saat kuman, virus akan menyerang.

DI saat kita lemah, mungkin kita “sakit”, kita jatuh dalam dosa, kita kehilangan rasa percaya, atau kita kecewa, kesal dengan Tuhan, ayo kita tetap makan “kitab” yang kita miliki, justru mungkin dosisnya perlu ditingkatkan untuk melawan virus-virus roh jahat yang mengotori hati dan pikiran kita.

Yuk, baca yuk…

Boleh subscribe blog ini, agar anda mendapatkan email reminder, renungan, dan tentunya link ke aplikasi Alkitab agar walaupun kecil dosisnya anda tetap makan.

Doa

Ya Tuhan, buat kami lapar dan haus akan perkataanMu setiap waktu ya Tuhan.

Amin

Image by master1305 on Freepik

Quote of the week

“Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan yang merenungkan taurat itu siang dan malam.”

~ Mazmur 1

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari Kucinta Alkitabku

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca