Hari ini adalah hari minggu palma, terbayang suasana gereja yang dalam liturginya merayakan hari minggu palma.
Suasana ceria dan sukacita ada di dalamnya.
Ayat rhema hari ini:
Yohanes 12:14-15 TB
Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: ”Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.”
https://bible.com/bible/306/jhn.12.14.TB
Renungan saya hari ini:
Mengapa ada kata “jangan takut”?
Ya mengapa?
Karena kalau melihat referensinya, yang tertulis di Zakaria adalah seperti ini:
Zakharia 9:9 TB
Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
https://bible.com/bible/306/zec.9.9.TB
Disana disampaikan agar Yerusalem bersorak-sorai.
Tidak berbeda jauh dengan yang tertulis di Injil Matius:
Matius 21:5 TB
”Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”
https://bible.com/bible/306/mat.21.5.TB
Mengapa bisa berbeda kata-kata pembukanya? Bisa berbeda berdasarkan sudut pandang penulis pada saat itu. Matius mungkin karena ia seorang pemungut cukai, ia mendokumentasikan, detil dan rinci. Sementara Yohanes, mungkin pada saat mengingat hal itu kembali ia merasa sangat sedih dan mungkin juga takut sehingga yang dituliskannya adalah jangan takut.
Pada saat kita mengingat dan merenungkan Firman Tuhan, dari satu ayat yang sama Roh Kudus bisa menuntun kita melihat dan merasakan dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Dan biasanya hal itu memang pribadi sifatnya. Dari satu ayat Firman Tuhan yang sama Tuhan bisa berbicara dengan konteks yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Puji Tuhan itulah rhema, itulah saat logos menjadi rhema.
Hari ini, disaat saya membayangkan sukacita Yesus disambut di Yerusalem, mungkin di dalam hati Yesus berkecamuk perasaan sedih dan mungkin juga takut. Karena walaupun Ia Tuhan, namun tidak menutup kemungkinan tubuh fisik Yesus saat itu merasakan sedih dan sedikit takut.
Itupun yang saya rasakan, perayaan minggu palma tidak pernah benar-benar menjadi suatu perayaan sukacita, karena kita tahu waktu sudah sangat dekat bagi Dia untuk menjalani sengsara ditangkap dan disalibkan. Perayaan Minggu Palma ini merupakan pembuka dari satu rangkaian kisah sengsara, yang ditutup dengan perayaan sukacita Paskah.
Mari kita mengingat, merenungkan, dan membayangkan dalam minggu ini, bagaimana Tuhan Yesus menjalani sengsaraNya.
Amen
