Mari kita membaca Firman Tuhan dari Surat Yohanes yang pertama, 1 Yohanes 2:1-6.

Silahkan dibaca terlebih dulu.

Ada satu pertanyaan yang muncul setelah saya membacanya: Apakah aku mengenal Allahku?

Siapakah Allahku?

Tahu dan Kenal

Jika mendengar kata mengenal maka bagi saya itu berarti ada interaksi atau hubungan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain atau sesuatu (benda). Atau bisa juga dikatakan bahwa mengenal itu lebih dari sekedar tahu. Kalau saya klasifikasikan maka saya bisa membuat kategori dari tidak tahu, pernah dengar, tahu, kenal, dan mungkin kenal dekat dan seterusnya.

Mengenal juga ditandai dengan memiliki gambaran atau image terhadap pribadi atau sesuatu. Semisal saya sebutkan “mobil listrik”, maka akan tergambar dalam pikiran kita sebuah mobil listrik. Semisal saya sebutkan “ayah”, maka akan tergambar dalam pikiran kita figur ayah kita masing-masing. Tapi semisal saya sebutkan “Pak Ali, tukang sate kambing, di pasar segar, kota wisata cibubur”, maka yang muncul dalam pikiran kita adalah tanda tanya, siapa dia? Saya tidak tahu, atau saya tidak terbayang walaupun informasi yang disampaikan lebih banyak dari dua kata yang sebelumnya.

Kalau sekarang saya sebut kata “Allah”, gambaran seperti apa yang muncul dalam benak kita?

Bisakah dituliskan gambaran yang muncul dalam pikiran anda dalam selembar kertas?

1. ….

2. ….

3. ….

Kita manusia atau juga binatang untuk bisa sampai pada tahap mengenal maka orang tersebut perlu berpindah dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, agar pada interaksi berikut-berikutnya bisa mengenali.

Dan perpindahan tersebut memerlukan aktivasi sensori dari salah satu atau lebih indera kita, apakah melihat (mata), atau mendengar (telinga), atau mencium (hidung), atau merasakan (lidah, kulit, atau perasaan). Hal itu saya sebut sebagai pengalaman.

Apakah kita sudah pernah melihat sebelumnya? Apakah kita sudah pernah mendengar sebelumnya, mencium atau membaui sebelumnya, atau apakah kita sudah pernah merasakan sebelumnya?

Kemudian dari tahapan tahu untuk menjadi kenal perlu pengalaman yang lebih banyak, atau lebih sering terhadap sesuatu atau seseorang (pribadi) tersebut. Dari yang awalnya hanya “tahu sekilas” kemudian menjadi tahu benar dan semakin sering berinteraksi maka akan terjadi perpindahan atau perubahan menjadi mengenal. Saat interaksinya semakin dalam, semakin intens, maka pengenalannya akan semakin dalam.

Mengenal Allah

Sehingga dari pemikiran di atas jika kita akan menjawab pertanyaan apakah saya mengenal Allah saya? Maka kita harus refleksi ke dalam hati, mengingat, apakah kita sudah pernah melihat dengan mata atau bertemu dengan Allah? Apakah kita sudah pernah mendengar suaraNya? Apakah kita sudah pernah merasakan sentuhanNya?

Atau apakah kita sudah pernah memiliki pengalaman bersamaNya atau denganNya?

Pernahkah?

Memang benar ada orang-orang yang memiliki karunia untuk bisa merasakan atau mengalami interaksi dengan Allah melalui indera mereka, mendengar secara audible, atau melihat dan mengenali wajah Tuhan, namun banyak orang yang tidak.

Namun bukan pengalaman dari indera kita yang akan membuat kita mengenal pribadi Allah, lihatlah ke dua belas rasul Tuhan Yesus, mereka yang selama 3 tahun lebih berjalan dan hidup berdampingan denganNya. Jika mereka benar mengenal Allah, mengapa mereka takut tenggelam saat kapal mereka diterjang badai saat Tuhan Yesus juga ada di dalam kapal? Mengapa Yudas sampai mengkhianati Tuhan Yesus? Mengapa Thomas tidak percaya sebelum melihat Yesus yang bangkit dengan mata kepalanya sendiri? Mengapa dari ribuan orang yang sudah pernah berinteraksi bahkan makan roti dan ikan mukzizat atau melihat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit mungkin ada yang ikut mendukung menyalibkan Tuhan Yesus? Mengapa orang Farisi pada masa itu, tidak suka dengan Tuhan Yesus?

Maka dari itu, mengenal Allah bukanlah melalui pengalaman atau interaksi fisik (melihat, mendengar, memegang atau sentuhan), namun melalui pengalaman rohani, pengalaman spiritual dengan Allah yang kemudian akan menimbulkan iman percaya kepada Allah. Iman percaya itu akan mengaktifkan mata rohani, telinga rohani, dan kepekaan hati.

Itulah mengapa Tuhan Yesus berkata, “berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”. Itu berarti mereka memiliki iman. Itu berarti mereka mengenal Allah.

Mengenal Allah bukan hanya sekedar kenal.

Dan sekarang mari kita buka dan baca kembali Alkitab kita di ayat ke empat sampai enam:

Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.

Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.

Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup

‭1 Yohanes 2:3-6 TB‬

Firman Tuhan dengan tegas berkata bahwa tanda kita mengenal Allah adalah apabila kita menuruti perintah-perintahNya.

Mengapa?

Mengapa harus menuruti perintah-perintahNya?

Karena Allah adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi, dan segala isinya.

Karena Allah kita adalah Allah yang sangat mengasihi kita.

Yang karena kasihNya yang luar biasa, Allah sudah menyiapkan tempat bagi kita, rumah bagi kita di sorga.

Dan agar kita bisa menempati rumah itu maka kita harus menjaga hidup kita kudus dan berkenan bagi Allah.

Dan untuk memiliki hidup kudus dan berkenan itu maka acuannya, panduannya, standarnya, atau referensinya adalah perintah-perintah Allah, Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab kita.

…..

Pertanyaan lagi…

Sudahkah kita melakukannya…..?

Ataukah kita enggan….?

…..

Bukankah kita ingin mengalami kasih Allah yang sempurna, sang pencipta di dalam diri kita?

…..

Berbeda dengan kita mengenal Allah. Bisa dipastikan manusia hanya mengenal Allah sepotong saja, apakah ada manusia yang mengenal pribadiNya, kasihNya yang tak terselami? Berbeda dengan kita mengenal Allah, Allah mengenal kita luar dan dalam, secara fisik bahkan Firman Tuhan berkata jumlah helai rambut kita pun Allah tahu, belum lagi tentang hati dan pikiran kita.

Inginkah kita menempati rumah keren yang sudah disiapkan Allah bagi kita di sorga?

Atau kalau kita pernah mendengar kisah tentang suasana di neraka, bagi saya tidak ada rumah, asal bisa masuk saja dan mungkin tidur di jalan atau di lantai kalau memang ada bentuk jalan di sana maka itu sudah sangat, sangat cukup bagi saya.

Maka dari itu, mari kita mulai lagi kencangkan ikat pinggang, kencangkan tali sepatu, singsingkan lengan, fokuskan pandangan kita, kacamata kita (yang pakai kacamata) untuk benar-benar serius menyusun strategi dan beraksi.

  • Membaca, mendengar dan merenungkan Firman Tuhan (saat teduh pribadi, ibadah, pertemuan perkumpulan rohani, menonton khotbah).
  • Berdoa
  • Mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya percaya, tidak perlu menunggu kita finish, saat kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh kita sudah bisa merasakan penyertaan dan kasih Allah yang tak terhingga dalam hidup kita dan keluarga kita.

….

Ps. Pertanyaan terakhir, the last question. Jika tadi kita membahas jawaban atas pertanyaan, “Apakah aku mengenal Allahku?

Bagaimana jika Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan seperti yang ditanyakan kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihiKu?”

Apa yang perlu dan harus lakukan untuk menunjukkan bukti kongkrit jawaban kita kepadaNya?

Doa

Ya Tuhan, ajar kami mengenalMu.

Ajar kami bukan hanya sekedar mengenalMu, ajar kami mengasihiMu, mencintaiMu dengan sepenuh hati, dengan segenap akal budi, pikiran, dan segenap kekuatan kami.

Ajar kami menuruti perintah-perintahMu.

Amen

Pic: thechosen.tv

Quote of the week

“Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan yang merenungkan taurat itu siang dan malam.”

~ Mazmur 1

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari Kucinta Alkitabku

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca