Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: Hikmat

  • 22. 2 Timotius 6:1 – Memberi respect atau penghormatan

    22. 2 Timotius 6:1 – Memberi respect atau penghormatan

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya mendapat rhema yang sangat menarik, yang sangat menegur bagi saya pribadi.

    Ayat rhema saya hari ini

    ‭1 Timotius 6:1 TB‬
    Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang.

    https://bible.com/bible/306/1ti.6.1.TB

    Renungan saya

    Ini menarik ini ayat ini, karena memiliki sudut pandang yang sangat tidak biasa. Dan ini mengingatkan saya juga akan beberapa kisah di Perjanjian Lama yang tokoh dalam kisah tersebut menunjukkan sikap ini.

    Zaman dulu mungkin memang banyak sekali perbudakan, bukan hanya di luar negeri termasuk di Indonesia, saat Indonesia dijajah sama artinya diperbudak.

    Apakah saat ini masih ada praktik perbudakan, kemungkinan besar masih ada walaupun kecil atau tidak terlihat.

    Yang menjadi rhema saya pagi ini tidaklah semata praktik perbudakan seperti dulu, namun lebih luas daripada itu yaitu perasaan diperbudak, menanggung beban perbudakan, seperti diperbudak. Entah kenapa hal itu yang saya tangkap dari ayat ini. Dan lebih luas lagi apalagi kita sebagai pekerja yang memperoleh bayaran. Yang hak-haknya dibayarkan, karena kalau budak yang sebenarnya mereka tidak punya hak sama sekali karena semua hidup mereka sudah menjadi milik tuannya.

    Paulus mengajarkan kepada kita yang memiliki perasaan seperti diperbudak, atau mungkin memang diperbudak agar menganggap tuan mereka layak mendapatkan segala penghormatan. Wah, bukan hanya satu tapi ternyata segala penghormatan. Kita harus respect kepada mereka. Dan begitu pula kalau kita sebagai karyawan. Ini adalah sudut pandang yang menarik, agar kita hendaknya menganggap tuan kita, atau atasan kita, atau pemimpin kita itu layak mendapatkan segala penghormatan.

    Segala sesuatu dimulai dari persepsi dan cara pandang, begitulah dengan menganggap layak, itu pun adalah persepsi atau cara pandang. Dan Paulus mengajarkan dasar atau alasannya mengapa kita harus melakukan itu yaitu agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat.

    Kita melakukan itu untuk nama baik Tuhan, termasuk menjalankan ajaran Tuhan dalam mengasihi sesama. Karena itu berarti jika kita tidak menganggap mereka layak apalagi seringkali berdasarkan perasaan kita sendiri yang pertama-tama kita jatuh dalam dosa, menghakimi orang lain karena dalam banyak situasi terutama kita yang berstatus pegawai atau bawahan kita tidak tahu semua hal, kita tidak paham semua latar belakang.

    Kemudian saya diingatkan juga pada salah satu Firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita harus menghormati pemimpin yang ditempatkan Tuhan atas kita, walaupun mereka memiliki banyak kekurangan.

    Lihatlah beberapa tokoh dalam perjanjian lama seperti Daniel, Mezakh, dan Abednego, kemudian Yusuf anak Israel, dan beberapa lagi. Mereka menunjukkan bagaimana menghormati pemimpin mereka.

    Semoga kita semua bisa belajar mengasihi sesama dalam hal ini adalah mengasihi tuan atau pemimpin yang ditempatkan Tuhan atas kita. Dan juga sebaliknya saat kita menjadi pemimpin maka kita pun mungkin hendaknya menganggap setiap orang yang ada dibawah kita layak untuk dikasihi.

    Amen

  • Ps. Tryfena Yochebed – Di Sisi Penyertaan Allah

    Ps. Tryfena Yochebed – Di Sisi Penyertaan Allah

    Dalam hidup kita hanya ada 2 sisi:

    1. Sisi Penyertaan Allah

    2. Sisi Tanpa Penyertaan Allah

    Mari baca kisah tentang Yunus:

    ‭‭Datanglah firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai, demikian:

    https://bible.com/bible/306/jon.1.1.TB

    Saat Firman Tuhan datang dan meminta Yunus pergi ke Niniwe

    Yunus bukannya pergi tapi justru kabur menghindar berusaha jauh dari hadapan Tuhan.

    Yunus tidak mau ke Niniwe karena mereka itu bangsa yang keji, kenapa Tuhan mau selamatkan mereka? Kenapa tidak Tuhan biarkan bangsa itu binasa. Yunus tidak mau ke sana, mungkin Yunus bahkan benci atau dendam dengan mereka.

    Kita manusia juga seringkali kabur dari hadapan Tuhan, karena kita tidak mau melakukan hal-hal yang Tuhan minta.

    Bahkan Yunus pun rela bayar biaya perjalanan yang begitu jauh, yang pasti mahal. Dan kita pun seringkali rela mengorbankan apa yang kita miliki agar tetap tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

    Apa Niniwe anda hari ini?

    Ini waktunya kita mengerjakan Niniwe kita, jangan melarikan diri, melangkahlah, terima dulu. Saat Tuhan mengutus maka Tuhan akan memperlengkapi dan menjagai kita.

    Sangking tidak maunya Yunus ke sana, saat kapal ditimpa badai pun Yunus bisa-bisanya tidur nyenyak sementara semua awak kapal panik sampai membuang muatan mereka ke laut.

    Dalam hidup kita pun seringkali terjadi goncangan atau badai, ini terjadi karena Tuhan begitu mengasihi Yunus. Bagaimana kalau Yunus dibiarkan Tuhan sampai ke Tarsis, maka Yunus akan semakin jauh dari hadapan Tuhan. Bahkan Tuhan menyelamatkan Yunus melalui ikan besar.

    Jadi hamba Tuhan tidak jaminan kita berada di sisi penyertaan Allah. Itu harus dibangun setiap waktu, dijaga setiap waktu.

    Jauh dari hadapan Tuhan itu seperti keluar dari radar. Jauh dari pantauan. Jauh dari rencana Allah. Kita perlu membangun kedekatan dengan Tuhan.

    Kedekatan dengan Tuhan tidak dibangun dengan ibadah di hari minggu, jumlah pelayanan yang kita jalani. Tapi dibangun dari hari demi hari.

    Taat pada Firman Tuhan adalah satu-satunya jalan dalam penyertaan Tuhan.

    Dan semua yang Tuhan lakukan itu bukan untuk kemuliaan Tuhan karena nama Tuhan sudah besar, namun Tuhan ingin membesarkan kita sebagai anak-anak yang dikasihiNya.

    Dimanakah posisi anda saat ini?

    Tuhan senantiasa menyertai hidup kita, namun ada satu pertanyaan apakah kita menyertai Tuhan dalam rencana-rencanaNya? Apakah kita yang mengaku menyayangi, menganggap Tuhan sebagai Tuhan kita bersedia melakukan apa pun agar rencana Tuhan bisa terwujud?

    Naik level lah menjadi anak-anak Tuhan yang menyertai Tuhan.

    Semoga Tuhan Yesus memberkati.

    (Sermon Note – Ibadah GMS Bogor 24 Maret 2024)

  • 19. 1 Timotius 4 – Membangun diri dalam melayani dan memberitakan Injil

    19. 1 Timotius 4 – Membangun diri dalam melayani dan memberitakan Injil

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini mendengarkan arahan Paulus kepada Timotius melalui suratnya yang pertama, bab 3 dan 4.

    Ayat rhema hari ini:

    Terutama di bab 4, saya mendapatkan prinsip-prinsip dalam melayani, terutama prinsip dalam membangun diri kita sendiri dalam rangka melayani dan memberitakan Injil.

    ‭‭1 Timotius 4:6 TB‬‬
    [6] Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

    https://bible.com/bible/306/1ti.4.6.TB

    Dan di ayat-ayat selanjutnya Paulus menyampaikan beberapa hal terkait tugas Timotius dalam melayani, membangun dan memberitakan Injil.

    Renungan

    1. Kita harus mendidik diri kita dalam hal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat.

    Itu berarti kita memang harus belajar, bagaimana ceritanya kita mau memberitakan Injil jika kita tidak tahu, tidak memahami Injil itu sendiri? Bagaimana kita mau menceritakan kebaikan Tuhan Yesus jika kita tidak pernah berusaha mengenal pribadiNya dan hidup bergantung kepadaNya?

    2. Menjauhi takhayul dan dongeng nenek-nenek tua.

    Takhayul dan dongeng nenek-nenek tua itu membuat kita bingung. Walaupun seperti hal-hal yang sederhana, tidak nyata, hanya khayalan, justru dapat meracuni pikiran dan hati kita. Bisa jadi iman kita melemah karena dari sekedar mendengar cerita takhayul dan dongeng menjadi mulai percaya sedikit-sedikit. Tutup kuping rapat-rapat agar jangan goyah iman kita.

    3. Rajin beribadah

    Ini ayat emas yang kita juga sering dengar:
    Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. ‭‭1 Timotius 4:8 TB‬‬

    Mungkin ada banyak orang yang menganggap remeh ibadah, ah itu hanya ritual saja. Bisa saja kita berpendapat seperti itu, itu karena kita tidak pernah sungguh-sungguh saat beribadah, pikirannya kemana-mana, sambil chat WA urusan pekerjaan, dan alasan lain-lain sehingga kita tidak pernah merasakan manfaat dan kegunaannya bagi diri kita. Sehingga kita tidak menganggap ibadah itu sebagai sesuatu yang penting.

    4. Menjadi teladan

    Dalam hal:

    • Perkataan
    • Tingkah laku
    • Kasih
    • Kesetiaan, dan
    • Kesucian

    Dengan senantiasa berusaha menjadi teladan dalam hal-hal tersebut, kita akan mendapatkan respect, rasa hormat dari siapa pun termasuk dari orang-orang yang secara usia mungkin lebih senior.

    5. Bertekun dalam membaca Firman Tuhan.

    Nahhh… kembali lagi ke Alkitab. Tidak bisa tidak karena Firman Tuhan adalah sumber dari segala sumber jika kita ingin membangun dan menjaga diri kita sebelum membangun dan mengajar orang lain. Firman Tuhan inilah yang akan memperkaya hidup kita dengan hikmat, yang akan menuntun kita dalam menjalani proses transformasi diri, transformasi karakter kita agar semakin serupa dengan Tuhan.

    Harapan dan Doa

    Ya Tuhan jangan lepaskan tangan kami ya Tuhan, agar kami jangan sampai terseret arus dunia ini. Biarlah kami tampak bodoh karena tidak mengikuti trend dunia, tapi berikan kami hikmat agar kami semakin sejalan dengan trendMu ya Tuhan.

    Amen

    Image by mindandi on Freepik

  • 18. 1 Timotius 1:5-6 Perihal memberi nasihat

    18. 1 Timotius 1:5-6 Perihal memberi nasihat

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini mendengar petunjuk Paulus kepada Timotius dalam hal memberi nasihat.

    Rupanya Timotius diutus ke Efesus ada misinya yaitu untuk memberi nasihat kepada beberapa orang karena pengajaran mereka kurang tepat.

    Paulus juga menjelaskan tujuan dari nasihat yang akan diberikan oleh Timotius nantinya itu apa.

    Ayat rhema hari ini:

    ‭‭1 Timotius 1:5-6 TB‬‬
    Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.

    https://bible.com/bible/306/1ti.1.5.TB

    Renungan

    Menarik sekali arahan yang disampaikan Paulus kepada Timotius. Ada 2 hal yang saya bisa pelajari dari sini: 1. Paulus bukan hanya menyuruh, namun juga mengarahkan, memberi tahu alasan dan tujuannya dalam memberi nasihat kepada beberapa orang di Efesus. 2. Ternyata dalam menasihati juga harus benar tujuannya, harus murni tujuannya.

    Sebagai seorang bapak rohani, Paulus menunjukkan bahwa ia mengajar dan membimbing anak-anak rohaninya. Ia menggembalakan. Dorongan untuk mengajar dan membimbing menurut saya itu merupakan salah satu bentuk dari mengasihi, sehingga disini terlihat bahwa Paulus mengasihi Timotius. Nah ini menjadi refleksi bagi saya, apakah saya senantiasa memberi perhatian, mengajar, mengarahkan, dan membimbing pasangan dan anak-anak saya? Anggota tim saya? Bawahan saya di tempat kerja? Atau kita lebih sering langsung perintah-perintah saja? Tanpa mau tahu apakah mereka bisa mengerjakannya atau tidak?

    Kemudian yang kedua, menasihati itu tujuannya juga harus benar, dan benar sesuai standar Tuhan. Karena seringkali kita menasihati memang tujuannya agar mereka benar, tapi benar menurut kita atau malah seringkali bukan diarahkan ke sesuatu yang benar, justru malah disesatkan. Kasihan kan ya.

    Yuk kita berlatih lagi untuk menjadi orang yang lebih baik, baik sebagai orang tua, atau yang dituakan karena usia atau posisi dan juga mengisi hati dan pikiran kita dengan Firman Tuhan agar apa yang keluar dari kita dalam bentuk nasihat juga benar dasar dan tujuannya.

    Amen

    Image by freepik

  • 15. 1 Tesalonika 5:19 – Janganlah padamkan Roh

    15. 1 Tesalonika 5:19 – Janganlah padamkan Roh

    Dapat rhema apa hari ini?

    ‭‭1 Tesalonika 5:19 TB‬‬
    Janganlah padamkan Roh,

    https://bible.com/bible/306/1th.5.19.TB

    Mengapa Paulus sampai menuliskan pesan ini dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika?

    Pada dasarnya, Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita senantiasa menuntun setiap langkah kita, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Dan tentunya menuntun kita untuk sesuatu hal yang baik yang berkenan bagi Tuhan.

    Namun seringkali memang kita mengabaikan Roh Kudus, dan bukan hanya mengabaikan juga menekan agar Roh Kudus tidak banyak bicara. Padahal seperti kata Tuhan Yesus, Roh Kudus ini adalah Sang Penolong yang akan menolong kita dan membantu kita, hanya kita yang seringkali sadar tidak sadar memilih untuk menggunakan akal kepintaran kita sendiri.

    Mungkin memang ada sebagian orang yang tidak tahu bagaimana mengakses Roh Kudus yang ada dalam dirinya, namun banyak yang sudah tahu tetap saja lebih suka mengandalkan pikirannya sendiri, logikanya sendiri. Sangatlah disayangkan, karena kita akan jadi sangat rentan untuk menjadi korban tipu daya iblis.

    Alih-alih jangan memadamkan Roh Kudus, mengapa kita tidak mengoptimalkan sekalian Roh Kudus yang sudah Tuhan berikan kepada kita, dan yang sudah kita terima? Kita full bergantung kepadaNya, meminta petunjuk, arahan, solusi, karena sesungguhnya Roh Kudus adalah Tuhan, yang ada dalam setiap hati manusia yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Hendaknya kita mencari jawaban dahulu (terutama) pada Roh Kudus, agar kalau memang kita perlu mencari di mesin pencari (google, bing, chat gpt, AI, dan lain-lain) kita pun mencari dalam tuntunan Roh Kudus agar hasil yang keluar dari mesin pencari tersebut berkenan bagi Tuhan, dan hasil pencarian kita itupun haruslah kita tanyakan dan doakan pada Tuhan agar jangan sampai kita salah langkah dan jadi tersesat.

    Yang pertama-tama kita lakukan untuk bisa mengakses Roh Kudus adalah: membangun hubungan denganNya, melalui hal-hal yang selama ini selalu diingatkan membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, berdoa, dan mengucap syukur. Sama seperti jika kita ingin mengenal pribadi seseorang, ingin dikenal dan dipercaya maka kita akan mengupayakan untuk bertemu dan berkomunikasi atau bahkan bekerja bersama, tidak berbeda jika kita ingin mengenal pribadi Roh Kudus.

    Saat hubungan kita dengan Roh Kudus sudah terbangun maka kapan saja kita memerlukan bantuan, bertanya, Roh Kudus akan menolong. Dan jika kita pada satu titik terus membangun hubungan dan bergantung kepadaNya, maka tanpa disadari kita akan menjadi satu di dalamNya, di dalam Roh Kudus, sehingga apapun yang kita jalani semuanya dalam tuntunan dan penyertaan Roh Kudus.

    Maka dari itu marilah kita jangan sia-siakan Roh Kudus sang penolong, sang penghibur, yang memberikan damai sejahtera dan sukacita yang sudah diberikan Tuhan kepada kita masing-masing anak-anakNya.

    Semoga hidup kita hari-hari yang akan datang bisa terus berbuah lebih banyak lagi.

    Amen.

    Image by freepik

  • 14. 1 Korintus 7:25 – Hikmat Paulus

    14. 1 Korintus 7:25 – Hikmat Paulus

    Dapat rhema apa hari ini?

    Bacaan hari ini dari 1 Korintus pasal 7. Menarik sekali surat yang dituliskan oleh Paulus ini, berbicara tentang perkawinan.

    Ada beberapa poin penting disana, namun yang menjadi rhema saya bukanlah tentang topik yang beliau bahas.

    Ayat rhema yang saya dapatkan:

    ‭‭1 Korintus 7:25 TB‬‬
    Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.

    https://bible.com/bible/306/1co.7.25.TB

    Renungan

    Yang menjadi rhema bagi saya adalah ayat ini merupakan pernyataan beliau yang sifatnya disclaimer bahwa tentang bagian ini, yang berkaitan dengan gadis bukan merupakan perintah Tuhan secara langsung, tetapi merupakan pendapat Paulus secara pribadi.

    Bagi kita yang berniat menjalani hidup di dalam Kristus, seringkali dalam banyak hal tidak ada secara tertulis ayat Firman Tuhannya. Pernah ada yang bertanya kepada saya tentang trading saham, apakah itu dosa? Karena ada orang yang beranggapan itu judi. Atau dalam hal perkembangan teknologi, memang tidak ada Firman Tuhan yang menyebutkan istilah yang ada pada saat ini seperti internet, media sosial, dan sebagainya.

    Namun bagi kita, Tuhan memberikan hikmat baik melalui gembala-gembala kita di gereja atau hikmat pribadi hasil dari merenungkan Firman Tuhan secara pribadi atau hasil perenungan bersama Tuhan mengenai suatu topik.

    Tuhan yang merupakan sang pencipta, yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini akan memberikan hikmat atau rahmat kepada kita dalam segala hal. Tentunya jika kita mau membuka hati dan pikiran bertanya apa arahan Tuhan, apa kehendak Tuhan dari suatu peristiwa atau kondisi. Maka Tuhan dengan sukacitanya akan mencurahkan hikmat dan rahmatNya kepada kita sehingga seringkali muncul sudut pandang, cara pikir, ataupun bagaimana cara menghadapi suatu situasi atau kondisi.

    Topik tentang perkawinan bukanlah hal yang mudah dibahas oleh Paulus, karena ia sendiri tidak menikah. Namun karena ia menulis dengan hikmat dari Tuhan maka tulisannya walaupun bukan suara Tuhan langsung dinyatakan kepada Paulus kita tetap dapat menganggapnya seperti arahan Tuhan langsung kepada kita.

    Aplikasi

    Apakah kita masih sering kali bergumul sendiri dengan situasi, kondisi masalah di sekitar kita?

    Sudahkah kita mendoakan situasi dan kondisi tersebut kepada Tuhan? Meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan agar kita bisa memiliki sudut pandang yang benar, dan hati yang benar.

    Biasanya Tuhan akan memperlihatkan jalanNya kepada kita.

    Tinggal 1 masalah berikutnya, apakah kita mau mengambil jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan?

    Atau kita justru kabur, menghindar karena pikiran kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi sendiri? Kita takut sekali melangkah maju.

    Harapan dan doa

    Ayo jadilah anak terang yang penurut.

    Karena kalau tidak turut, itu namanya kita menolak Allah.

    Hal-hal yang pernah Tuhan sampaikan kepada kita melalui siapapun ayo kita minta keberanian dari Tuhan untuk menjalankannya.

    Amen

    PS: Image by freepik

  • 13. 1 Tesalonika 2:1-12 – Nilai-nilai Pelayanan Paulus

    13. 1 Tesalonika 2:1-12 – Nilai-nilai Pelayanan Paulus

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya mendapatkan rhema yang luar biasa dari Surat 1 Paulus kepada Jemaat di Tesalonika yang berisi tentang nilai dan mindset yang dimiliki Paulus dalam melayani jemaat. Menarik ya?

    Ayat Rhema hari ini:

    Pelayanan Paulus di Tesalonika 2:1-12

    (1) Kamu sendiri pun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 

    (2) Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 

    (3) Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 

    (4) Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 

    (5) Karena kami tidak pernah bermulut manis – hal itu kamu ketahui – dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi – Allah adalah saksi – 

    (6) juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 

    (7) Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 

    (8) Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 

    (9) Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 

    (10) Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 

    (11) Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 

    (12) dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

    https://my.bible.com/id/bible/306/1TH.2.TB

    Renungan

    Berani karena pertolongan Allah. Dalam pelayanan atau dalam misi kita memberitakan Injil kita memerlukan keberanian yang datangnya hanya bisa datang dari Allah. Karena bagaimanapun juga, sejarah menunjukkan bahwa tugas pengutusan ini memerlukan perjuangan yang berat dan memiliki resiko mendapatkan penganiayaan dan penghinaan.

    Hati yang murni. Harus disertai dengan hati yang murni, tanpa motivasi pribadi yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan karena itu akan menyesatkan dan membuat orang merasa tertipu. Karena jika hati kita tidak murni dalam menjalankan tugas perutusan/ pelayanan bukan Tuhan yang bekerja dan menuntun kita, kita dikuasai oleh iblis sehingga yang akan terpancar atau keluar dari kita itu bukan sesuatu yang menghasilkan damai sejahtera.

    Tujuannya untuk menyukakan hati Allah. Karena sesungguhnya yang kita layani adalah Allah sendiri melalui jiwa-jiwa atau orang-orang atau tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, maka tujuan atau motivasi kita bukanlah untuk menyukakan hati manusia, namun hanya Allah saja. Hal itu membuat kita tidak perlu bermulut manis karena kita mengharapkan pujian atau apresiasi dari manusia.

    Berlaku ramah. Tidak ada seorang pun yang suka berinteraksi dengan orang yang ketus atau cuek atau pemarah. Maka berlaku ramah sangatlah esensial dalam kita menjalankan tugas ini. Tidak mudah pada beberapa kondisi, namun saat kita aman di dalam Tuhan (secured) maka sikap ramah itu akan keluar/ terpancar dengan sendirinya dalam perilaku kita sehari-hari.

    Jadilah seperti orang tua (parent). Seperti seorang ibu yang merawat dan mengasuh anak-anaknya, seperti seorang bapak yang menasihati dan menguatkan anak-anaknya. Dan bahkan mengorbankan diri baik waktu, tenaga, atau bahkan materi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak rohani atau dalam tugas pelayanan kita.

    Jaga kekudusan dan hubungan dengan Tuhan. Karena kita akan menjadi contoh dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari, bagaimana hidup kita. Apakah kita senantiasa menjaga kesalehan kita, apakah kita senantiasa berusaha bersikap adil, apakah kita senantiasa berusaha untuk hidup benar karena salah satu untuk itulah Tuhan memanggil dan memilih kita.

    Harapan dan Doa

    Ya Tuhan, berikan kami hati dan pikiran yang terbuka agar kami dapat dengan mudah Engkau bentuk sesuai dengan kehendakMu.

    Amen

    Ps: Image by freepik

  • 8. 1 Korintus 1:18 – Diselamatkan karena Pemberitaan Salib

    8. 1 Korintus 1:18 – Diselamatkan karena Pemberitaan Salib

    Dapat rhema apa hari ini?

    Pagi ini ada ayat yang menarik hati saya.

    Ayat rhema kita pagi ini:

    ‭‭1 Korintus 1:18 TB‬‬
    Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

    https://bible.com/bible/306/1co.1.18.TB

    Renungan, mari kita renungkan ayat tersebut:

    Ada 2 poin dari ayat tersebut yang berkaitan dengan pemberitaan tentang salib:

    • Pemberitaan tentang salib itu adalah kebodohan.
    • Pemberitaan tentang salib itu adalah kekuatan Allah.

    Yang menarik bagi saya adalah kedua hal tersebut bukanlah lawan kata, padahal Paulus menuliskannya sebagai suatu perbandingan, menggunakan kata “tetapi”. Kebodohan lawan katanya kepintaran, atau kecerdasan, atau bisa juga menggunakan kata kebijaksanaan yang secara konteks merupakan lawan kata dari kebodohan.

    Mengapa dalam hal ini Paulus menggunakan kata kekuatan Allah?

    Kemudian dalam ayat ini juga ada 2 kategori manusia:

    • Yang akan binasa.
    • Yang akan diselamatkan Allah.

    Paulus menjelaskan semuanya dalam ayat-ayat selanjutnya di pasal ini.

    1. Allah akan membinasakan hikmat dan kearifan orang-orang yang disebut berhikmat, bijak.

    Pada waktu itu golongan ahli Taurat, mayoritas orang Yahudi, dan Yunani melihat pemberitaan salib itu sebagai suatu kebodohan. Bagi ahli Taurat dan orang Yahudi pasti tidak menerima Tuhan Yesus sebagai Mesias, tidak cocok dengan gambaran persepsi Mesias yang selama bergenerasi didoktrinkan kepada mereka. Mereka selalu meminta tanda dan bukti. Sementara itu bagi orang Yunani yang percaya akan banyak dewa, figur dan profil Tuhan Yesus sama sekali tidak mendekati salah satu dewa-dewi mereka, apalagi sampai mati disalibkan. Mereka mencari hikmat, logika yang mana sulit mereka temukan dalam ajaran Tuhan Yesus.

    Sehingga menjadikan pemberitaan tentang salib ini sebagai batu sandungan atas keyakinan bangsa Yahudi. Dan karena tidak masuk dalam logika orang-orang Yunani mereka menganggapnya sebagai suatu kebodohan.

    2. Bagi siapapun yang dipanggil, Kristus adalah Kekuatan Allah dan Hikmat Allah.

    Kita semua telah dipanggil, bahkan termasuk orang Yahudi dan Yunani di atas, namun bersediakah kita membuka hati untuk menjawab, menangkap, atau meresponi panggilan Allah?

    Paulus menyampaikan bahwa di awal-awal, jemaat Korintus yang terpanggil, yang memutuskan untuk percaya dan mengikuti Tuhan Yesus dan turut memberitakan salib dulunya bukan siapa-siapa, bukan dari golongan terpelajar dan bukan dari golongan orang-orang berpengaruh dan terpandang.

    Tuhan mau memberikan hikmat dan kekuatan Allah kepada siapa saja yang mau, namun sayangnya kedua golongan itu biasanya yang seringkali menolak panggilan Allah, makanya merekalah yang akan binasa.

    Sementara bagi yang mau meresponi panggilan Allah, apapun latar belakangnya bukan hanya hikmat sebagai lawan kata kebodohan yang akan Tuhan tambahkan, juga kekuatan Allah, dan akhirnya nanti keselamatan.

    Bukankah kalau kita mau berhitung, meresponi panggilan Tuhan itu untungnya berlipat ganda ya? Dapat hikmat Allah, dapat kekuatan Allah, dan akhirnya diselamatkan dalam sorga.

    Aplikasi, apa yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?

    Hari ini waktunya kita mengambil keputusan, apakah kita mau komitmen dalam panggilan Tuhan?

    Apakah kita bersedia bayar harga agar kita mendapatkan berbagai karunia Allah itu, baik hikmat, kekuatan, dan juga tentunya keselamatan.

    Anak sekolah saja harus belajar, mengerjakan tugas, mengerjakan ujian supaya dapat nilai bagus.

    Yang buka usaha pun begitu, di awal-awal saat merintis usaha harus bangun pagi-pagi, buka toko, urus segala sesuatu sendiri demi mendapatkan cuan agar bisa memperbesar usahanya, agar bisa makan.

    Seberapa penting dan berharganya kah karunia Tuhan itu sehingga seringkali kita mengenyampingkan karena proses untuk memperolehnya kita lihat sangat tidak nyaman, susah, tidak enak.

    Putuskanlah untuk berkomitmen, mulailah dari memutuskan tertanam dalam satu gereja lokal, gereja dimana kita bisa bertumbuh dan berkembang dalam iman akan Kristus. Tertanam itu berarti mengakar, menyerap air, sari makanan agar bisa bertambah besar, agar bisa berbuah nantinya. Komitmen dalam satu gereja lokal juga menunjukkan komitmen kita pada Tuhan.

    Setelah memutuskan berkomitmen di satu gereja lokal maka langkah berikutnya bangun juga komitmen untuk terlibat di dalamnya, mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja tersebut, terlibat aktif di dalamnya, karena kita dipanggil Tuhan bukan hanya untuk mendengarkan Firman Tuhan, kita dipanggil Tuhan selain menjadi pelaku Firman dan juga memberitakan Firman Tuhan, memberitakan salib. Nah…. kalau kita tidak mau terlibat masuk dalam gereja apa yang mau kita lakukan? Kalau kita ikut beberapa gereja mana yang mau kita pilih?

    Ayo, putuskanlah bahwa kita benar-benar mau jadi murid Kristus sesungguhnya.

    Harapan dan Doa

    “Don’t Let Me Go” framed art by thechosen.tv

    Ya Tuhan ampuni kami ya Tuhan, binasakanlah kekerasan hati kami ini kalau kami selama ini seringkali menolak panggilanMu dengan alasan-alasan, dengan logika-logika yang kami buat sendiri.

    Kalau perlu ganti hati kami ya Tuhan, ganti dengan hati yang begitu mengasihiMu, hati yang mengerti kerinduanMu, dan hati yang kuat, dan mau melangkah mengerjakan panggilanMu.

    Ganti kepintaran kami membuat alasan-alasan untuk tidak melaksanakan panggilanMu dengan kebodohan, dengan penundukan diri untuk melangkah hanya mengandalkan tuntunanMu.

    Jangan biarkan kami binasa ya Tuhan.

    Jangan lepaskan tangan kami.

    Jangan palingkan wajahMu dari kami ya Tuhan.

    Kami mau selamat ya Tuhan.

    Tolong kami yang kurang percaya ini.

    Amen.

  • Kenapa sih tidak langsung menutupi?

    Ayat Rhema
    Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar.
    Kejadian 9:22 TB
    https://bible.com/bible/306/gen.9.22.TB

    Renungan
    Kenapa ya Ham tidak langsung menutupi ayahnya?
    Kenapa ya Ham mesti cerita2 ke saudara-saudaranya dulu?
    Mungkin apa yang Ham lihat sesuatu yang memalukan. Alih2 juga merasa malu akan kondisi ayahnya saat itu dan berusaha menutupinya, ia malah meninggalkan ayahnya dan cerita ke kedua saudaranya.
    Kedua saudaranya mendengar peristiwa itu berusaha menutupi ayahnya bahkan dengan tidak berusaha untuk melihat. Dan sayangnya, Ham tidak disitu juga membantu kedua saudaranya.

    Aplikasi
    Dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam bersosial seringkali kita menemukan kondisi yang tidak pas di diri orang lain. Seringkali kita malah ngomong keluar, membicarakan dengan orang yang lain lagi. Padahal mungkin orang yang tidak pas tersebut adalah bagian dari kita, keluarga kita, pasangan atau anak kita, anggota tim kita, dan sebagainya.
    Kalau kita tidak tahu harus berbuat apa, lebih baik diam! Atau mungkin bertanya, konsultasi harus bagaimana ke orang yang kira-kira bisa memberikan alternatif solusi?
    Kalau ada yang bisa kita lakukan, ya langsung lakukan saja, dan tetap diam. Tidak perlu dicerita-ceritakan.
    Kecuali, perlu kita diskusikan agar ada perbaikan atau tidak terulang kembali. Berbeda konteksnya ya, membicarakan yang hanya cerita-cerita vs membicarakan/ diskusi untuk perbaikan.

    Contoh peristiwa.
    Beberapa waktu lalu ada pasien rawat inap yang harus dilakukan pemeriksaan lab. Karena menggunakan asuransi, maka harus diajukan dulu oleh admin untuk penjaminan asuransi. Namun ternyata ada kesalahan yang menyebabkan prosesnya lama.
    Keluarga pasien menanyakan berulangkali ke perawat, kapan bisa dilakukan. Karena mungkin merasa tertekan karena ditanya berulang kali, perawat tersebut menyebutkan bahwa tadi admin ada kesalahan sehingga tertunda.
    Keluarga pasien marah besar akhirnya kepada admin tersebut.

    Bukan mengajarkan untuk berbohong, namun alih-alih menyampaikan hal yang kurang pas yang ada pada salah satu anggota tim kita (menyampaikan kesalahan orang lain), mungkin akan jauh lebih baik kita membantu mereka untuk memperbaiki kesalahan/ kekurangan yang terjadi sehingga yang diharapkan oleh pelanggan bisa segera terwujud.

    Harapan/Doa
    Ya Tuhan, ingatkan diriku selalu bahwa aku pun orang yang tak sempurna, yang punya banyak kekurangan.
    Ingatkan aku daripada membicarakan orang lain, lebih baik merenungkan FirmanMu atau menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan.