“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.”
Mazmur 22:2 TB
https://bible.com/bible/306/psa.22.2.TB
Kalimat ini akan membawa ingatan kita kepada peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Dan bukan hanya ayat pertama, namun keseluruhan ayat dalam pasal ini menceritakan bagaimana peristiwa Yesus diadili sampai mati di kayu salib.
Yang menarik, bahwa ini ditulis jauh sebelum Yesus datang. Dan semuanya terjadi seperti apa yang telah tertulis.
Saya mencoba membayangkan apa yang muncul dalam hati dan pikiran penulis mazmur ini? apakah benar ia mendapatkan visi atau penglihatan di masa yang akan datang? ataukah apa yang ia alami seperti yang ia tuliskan dalam bentuk analogi-analogi.
Jika seluruhnya merupakan analogi dari seorang pencipta musik/ mazmur yang kita percaya itu diinspirasikan oleh Tuhan, maka kondisi kita yang hidup saat ini terutama bagi anak-anak Tuhan mirip dengan isi mazmur ini.
- Seringkali kita merasa sendirian, tanpa pertolongan, sepertinya Tuhan jauh dan tidak menjawab seruan doa-doa kita.
- Kita merasa kecil, tidak ada artinya, merasa tak berdaya menghadapi tekanan dalam kehidupan ini, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri (persepsi atas diri).
- Kita mencoba mengapi-apikan diri dengan mengingat-ingat san mengakui kebesaran Tuhan.
- Kita merasa dilingkupi tekanan yang begitu besar seperti lembu-lembu jantan dan banteng yang besar, ditambah lagi auman singa yang pasti menggetarkan hati, membuat hati serasa mau copot. Seperti sudah mau diterkam dan dikoyakkan.
- Kita merasa tak berdaya, bahkan untuk melangkah sejengkal pun seperti tidak punya kekuatan lagi. Tangan dan kaki kita seperti terpaku tidak bisa bergerak. Dan mereka juga mengambil kehormatanku agar aku dipermalukan.
Namun penulis juga mengingatkan betapa besar kuat dan kuasa Tuhan, betapa dalam kasih Tuhan kepada kita, bahwa Tuhan setia dan tidak pernah meninggalkan kita.
Penulis juga menuliskan bagaimana sikap hati kita melihat situasi yang terjadi dan bagaimana seharusnya respond hati kita, yaitu:
- Tuhan itu dekat.
- Tuhan itu adalah sumber kekuatan kita.
- Tuhan menolong kita.
- Tuhan tidak diam saja, Tuhan telah menjawab kita.
- Kita harus menceritakan betapa luar biasa penyertaan dan pertolongan Tuhan kepada keluarga kita, kepada sesama anggota jemaat.
- Kesengsaraan kita bukanlah sesuatu yang memalukan, dan Tuhan pasti akan menolong.
- Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak kita sikap hati dan respond hati yang benar, serta betapa luar biasanya pekerjaan Tuhan atas hidup kita
“Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang,
orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia;
biarlah hatimu hidup untuk selamanya!”
Mazmur 22:27 TB
https://bible.com/bible/306/psa.22.27.TB
Mari kita senantiasa fokus pada Tuhan, pikiran, hati, pandangan, pendengaran kita berfokus kepada Tuhan agar hati kita, hidup kita tenang karena Tuhan sudah menyiapkan semuanya.
Dan teruslah berseru kepada Tuhan, jangan berhenti berseru, meminta, berdoa dan berharap kepada Tuhan. Seperti seorang anak kepada bapaknya yang percaya bahwa bapaknya pasti akan menolong, (ada keyakinan/iman). Dan Tuhan pasti akan menjawab, seperti dikatakan doa orang benar jika dengan yakin dinyatakan akan besar kuasanya.
Dengan keyakinan itu marilah kita berdoa: Ya Tuhan, terima kasih atas penyertaan dan pertolonganMu.
Aku mau senantiasa melekat kepadaMu, mengarahkan hati, tubuh kepadaMu agar langkahku benar, sehingga hidupku benar, dan aku bisa berlari menuju Engkau untuk pamer sama seperti seorang anak kepada bapaknya. Terima kasih Tuhan Yesus.
Amen
