|

DAY 9 – LORD I NEED YOU, THE PERFECT ONE

Renungan Doa Puasa 10 Hari – Connect Group Family 08

(ditulis ulang dari renungan doa puasa Gereja Mawar Sharon Balikpapan – Desember 2015)

Renungan Hari-9 : Yohanes 5 : 1 – 9

1Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. 

2Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya 

3dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. 

4Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. 

5Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. 

6Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: ”Maukah engkau sembuh?” 

7Jawab orang sakit itu kepada-Nya: ”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” 

8Kata Yesus kepadanya: ”Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” 

9Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.Tetapi hari itu hari Sabat.

Renungan

Firman Tuhan dalam ayat ini seringkali dikhotbahkan untuk menggambarkan satu hal yaitu kurang iman. Si lumpuh ditanya oleh Tuhan Yesus, maukah engkau sembuh? Bukannya menjawab mau, tapi malah bercerita kalau tidak ada yang menggotong dia ke kolam Betesda.

Saya menangkap satu kebenaran bahwa jika ayat ini dikotbahkan/ diceritakan hanya dengan cara rersebut, maka kita akan jatuh dalam sebuah penghakiman.

Saya membayangkan situasinya: dia pria lumpuh yang selama 38 tahun menunggu di tepi kolam Betesda. Dan setiap kali air berguncang, selalu ada yang mendahului dia untuk masuk ke dalam kolam tersebut. Jadi kalau secara akal, normal dan wajar kalau orang ini menjadi pahit, kecewa, tawar hati dan kehilangan pengharapan. Dalam kondisi seperti itu, ketika Yesus yang sebenarnya adalah satu-satunya pribadi yang bisa menolong hidupnya, satu-satunya jawaban yang seharusnya ia nantikan selama 38 tahun berada di hadapannya, ia tidak bisa mengenali Yesus. Jadi spontan, ketika ia ditanya apakah engkau mau sembuh, ia menjawab dengan menceritakan semua kepahitan dan kekecewaannya bahwa tidak ada yang peduli, orang lain egois, tidak memberi kesempatan kepada si lumpuh untuk lebih dahulu masuk ke kolam.

Aplikasi

Dalam doa dan puasa raya hari-hari ini, seburuk apapun keadaan dan situasi hidup kita, mari kita minta hati yang baru, hati yang bisa tetap berharap kepada Tuhan. Tidak kecewa, tidak tawar hati dan tidak berhenti berharap kepada Tuhan.

Bukan supaya dinilai orang sebagai orang yang beriman, kuat, tabah atau apa dan bagaimanapun.

Tapi kita minta hati yang tidak kecewa, tidak tawar hati dan tetap berharap kepada Tuhan. Karena jika kita dalam keadaan kecewa dan tawar hati, Tuhan Yesus dan pertolonganya yang sudah ada di depan matapun, kita tetap buta dan tidak bisa melihatnya. Tidak bisa mengenali Yesus yang datang-datang untuk menawarkan pertolongan yang selama ini dinanti-nantikan.

Doa pribadi

Similar Posts