Renungan Matius 3 – Menjadi seperti Yohanes Pembabtis – Modelling John The Baptizer

Rhema dari Saat Teduh Pribadi – Matius 3

Ayat rhema

‭‭Matius‬ ‭3:2‭-‬3‬ ‭TB‬‬

[2] ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” [3] Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: ”Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

https://bible.com/bible/306/mat.3.3.TB

Renungan

Tokoh dalam Alkitab bisa menjadi role model bagi kita.

Bagaimana dengan John The Baptizer? Pastinya sebelum memberitakan ini ia sudah melakukannya terlebih dahulu.

Yang John sampaikan kepada orang-orang saat itu ada 3 hal:

  1. Bertobat
  2. Persiapkan jalan untuk Tuhan
  3. Luruskan jalan untuk Tuhan

Ketiga hal ini bukanlah sesuatu yang bukan hanya kita beritakan, sampaikan kepada orang lain, namun adalah hal-hal yang pertama-tama harus kita lakukan sendiri dulu.

Bertobat

Bertobat adalah suatu momen dimana kita memutuskan untuk tidak lagi menjalani cara hidup yang lama. John melakukannya dengan menjalani hidup nomaden, menggunakan baju dari kulit binatang, makanannya langsung dari alam. Mungkin itu adalah cara Yohanes Pembabtis setelah ia memutuskan diri untuk memberikan dirinya kepada Tuhan. Radikal – gak main-main.

Bertobat janganlah kita jadikan hal yang biasa, karena kita akan kehilangan esensinya. Bertobat hendaklah dilakukan benar-benar, dengan kesadaran dan kesungguhan hati, karena bila tidak maka pasti kita akan kembali ke cara hidup yang lama.

Langkah radikal apa yang sudah kita lakukan sebagai bentuk pertobatan?

“Daging kita, default-nya, gravitasinya adalah mengarah kepada dosa.”

Ps. Philip Mantofa

Persiapkan Jalan untuk Tuhan

Ini adalah tahapan selanjutnya setelah keputusan untuk bertobat. Dan sepertinya seharusnya harus dilakukan segera setelah bertobat. Kenapa? Karena alih-alih hanya bertobat, kita harus melakukan ini.

Persiapkan jalan untuk Tuhan ibarat sebuah proyek mendirikan rumah, proyek membuat jalan.

Image by prostooleh on Freepik

Dimulai dari mencari tahu jalan untuk Tuhan itu seperti apa? Berapa ukurannya, panjangnya, lebarnya, ketebalan aspalnya, perlu saluran air kah?, perlu trotoar kah? Apakah perlu ada rest area? Pohon-pohon peneduh di pinggir jalan?

Ini adalah tahapan pengenalan akan Tuhan, seperti apa karakterNya, apa yang Ia suka dan apa yang tidak.

Pengenalan ini bukan hanya melalui membaca Firman Tuhan, mendengarkan khotbah atau sharing di CG, namun yang terutama melalui komunikasi dengan Tuhan. Seberapa sering kita berkomunikasi dengan Tuhan akan menentukan pengenalan kita akan Tuhan dan tentunya proses mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Seberapa sering kita doa dan “self-talk” dengan Tuhan yang ada di hati kita?

Luruskan Jalan untuk Tuhan

Ini adalah cara hidup yang baru. Waktu-waktu dimana kita menjalani hidup yang lurus, hidup yang benar.

Sangat tidak mudah untuk hidup lurus dan hidup benar.

Karena ada saja cara yang digunakan iblis untuk membelokkan cara pandang kita. Susah kalau cara pandang kita sampai terbelok, karena kita pasti akan ditarik kembali ke cara hidup yang lama.

Sangat tidak mudah karena Tuhan Yesus pun sampai bilang bahwa Roh Kudus akan mendampingi kita, akan menolong kita.

Tahu dan sadarkah kita kalau ada Roh Kudus di hati kita? Pernah diajak ngobrol gak? Pernah diajak diskusi gak? Pernah dicurhatin gak?

Dalam keseharian kita banyak sekali hal yang akan membawa kita kembali ke jalan lama, bahkan saat merenungkan Firman Tuhan.

Kemarin di kantor, hari itu saya puasa, dan siang itu saya merasa sangat bersyukur atas pertolongan Tuhan menyelesaikan masalah di kantor hari itu. Saya teringat quote yang disampaikan saat ibadah hari minggu – Percayalah bahwa kita sudah diselamatkan, I am saved. Kemudian tiba-tiba muncul pikiran “I am not worthy for this salvation.” Pada saat itu perasaan yang muncul adalah rasa syukur atas kasih Tuhan yang begitu besar sehingga saya yang banyak dosa, Tuhan masih bantu saya. Namun saya juga diingatkan pada saat itu bahwa Iblis bisa membuat sudut pandang terbalik alih-alih membuat kita sangat bersyukur, namun membuat kita mundur karena merasa tak pantas.

Aplikasi

Tidak mudah, tapi sangat bisa.

Yuk, kita mencontoh John. Tidak perlu dengan ganti baju, makan serangga dan madu, serta tinggal nomaden. Namun kesungguhan hatinya, komitmennya dalam membangun hubungan dengan Tuhan.

Buah dari hubungan itu adalah keberanian untuk menceritakan Tuhan kepada orang lain, bahkan mengajak orang untuk bertobat, menegur orang, dan membawa orang pada Tuhan melalui baptisan.

Untuk membantu kita, kita sebaiknya tergabung dalam komunitas rohani yang se-visi dan se-misi agar kita terjaga.

Harapan dan Doa

Ya Tuhan, ya Roh Kudus colek kami setiap waktu ya, kalau kami mulai toleh ke kanan dan ke kiri dan berbelok tidak lurus sesuai jalanMu.

Bangkitkan kasih yang besar dalam diri kami agar kami berani mengambil sikap yang benar dalam keseharian kami.

Dalam Nama Tuhan Yesus. Amen

Similar Posts