Renungan Matius 4 – Si Penggoda – The Tempter
Rhema dari Saat Teduh pribadi – Matius 4
Ayat Rhema
Matius 4:2-3 TB
[2] Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.[3] Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
https://bible.com/bible/306/mat.4.3.TB
Dalam versi NIV
Matthew 4:2-3 NIV
[2] After fasting forty days and forty nights, he was hungry.[3] The tempter came to him and said, “If you are the Son of God, tell these stones to become bread.”
https://matthew.bible/matthew-4-2
Renungan
Saat membaca pasal ini, Matius 4 terutama kisah tentang Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Ini seperti momen khusus untuk melihat kemampuan Tuhan Yesus, seperti ujian apakah Tuhan Yesus akan berhasil?
Ada 1 kata yang menarik perhatian saya, “lalu datanglah si pencoba”. Si pencoba julukan yang diberikan kepada iblis yang akan mencobai Tuhan Yesus.
Saya penasaran dengan julukan ini, sehingga saya cek ke versi New International Version (NIV) disitu menggunakan kata the tempter. Tuhan Yesus dibawa ke wilderness to be tempted. Terjemahan ke bahasa adalah untuk digoda oleh si penggoda.
Saya percaya bahwa si penggoda tidak hanya mencoba menggoda Tuhan Yesus kali ini saja. Pasti ada banyak kesempatan sejak Tuhan Yesus lahir sampai peristiwa ini dikisahkan.
Akhirnya laparlah Yesus, and later He was hungry. And the tempter came, lalu datanglah si pencoba itu.
Momen ini menjadi rhema bagi saya, bahwa si penggoda akan datang saat kita memiliki kebutuhan atau keinginan yang saya konotasikan dengan keinginan/ kebutuhan daging yang manusiawi. Maka si penggoda akan datang untuk memberikan pilihan, atau opsi.
Selama puasanya, Tuhan mungkin mengerjakan banyak hal, saya membayangkan tentunya yang bersifat spiritual, rohani, dan pada satu titik setelah 40 hari Tuhan merasa lapar. Mungkin sebelumnya juga sudah muncul sedikit-sedikit rasa lapar itu, namun yang kali ini adalah lapar yang sesungguhnya. Dan si penggoda mulai menghampiri Tuhan Yesus.
Si penggoda tidak disebutkan menghampiri Tuhan selama 40 hari, namun saat Tuhan merasa lapar. Saat lapar barulah si penggoda datang.
Kalau kita mengisi keseharian kita walaupun saat tidak sedang berpuasa, memenuhinya dengan yang bersifat spiritual apakah si penggoda tidak menghampiri kita? Apa maksudnya dengan kegiatan yang bersifat spiritual pak? Bayangan saya semua kegiatan, aktivitas walaupun itu terlihat duniawi namun kita mengerjakannya untuk Tuhan, dalam Tuhan, itu spiritual activity. Karena dalam melakukannya kita dituntun oleh Roh Kudus. Saya yakin si penggoda tidak menghampiri.
Namun saat pikiran kita, yang mungkin didorong oleh badan kita mulai memikirkan hal-hal untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pribadi kita, diri kita, badan kita, di situlah si penggoda datang.

Si penggoda datang tentunya menawarkan opsi-opsi, pilihan-pilihan sesuai dengan yang kita bisa lakukan, mampu lakukan. Kalau kita merasa lapar (manusiawi) saat kita sedang doa puasa (spiritual), tentunya si penggoda tidak akan seperti kepada Tuhan Yesus menawarkan kita mengubah handphone kita menjadi nasi goreng, kecuali dijual dulu. Pastinya si penggoda akan menawarkan kita untuk makan entah ambil makanan di dapur atau ke minimarket, atau ke warung, atau buka laci persediaan stok makanan, sambil berbisik di pikiran kita ayo nanti sakit kamu harus makan, ayo nanti kamu itu akan emosional kalo lapar, ayo nanti jadi tidak fokus kerja, ayo nanti lemas loh, ayo ini mau perjalanan loh kamu nanti mual masuk angin. Manusiawi sekali kan pemikirannya? Pemikiran-pemikiran itulah yang akan diberikan oleh si penggoda dalam pikiran kita.
Belajar dari respon Tuhan Yesus, Ia selalu bisa menangkis godaan-godaan itu dengan Firman Tuhan. Bahkan di akhir Tuhan Yesus menyerang iblis juga dengan Firman Tuhan.
Jadi benarlah bahwa Firman Tuhan itu adalah ketopong keselamatan (safety helmet) dan pedang roh (Efesus 6:17).
Kesimpulannya adalah si penggoda akan menggoda kita disaat kita memiliki keinginan, kebutuhan pribadi (manusiawi), dan agar kita tidak jatuh tergoda maka kita perlu berpegang pada Firman Tuhan yang akan menjagai pikiran kita (sebagai ketopong keselamatan) dan pedang Roh, untuk menangkis dan menyerang balik/ mematahkan tipu daya dan godaan-godaan si penggoda.
Aplikasi
Tidak ada yang lain, mari kita semakin rindu untuk mengenal Tuhan melalui Firman Tuhan agar kita memahami preferensi Tuhan dalam segala hal, terutama dalam menghadapi pilihan-pilihan di kehidupan kita.
Saya berpikir bahwa saat kita memutuskan diri sebagai anak Tuhan memang sudah seharusnya kita memilih yang benar, seperti diet. Hidup kita tidak bisa bebas sembarangan lagi, makan sembarangan, tapi kita menentukan untuk makan makanan yang baik untuk kesehatan kita. Dalam hal ini adalah memilih pilihan-pilihan yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Harapan dan Doa
Ya Tuhan, ternyata tidak mudah ya untuk hidup benar dan kudus. Kami harus benar-benar bergantung pada tuntunan Roh Kudus agar jangan sampai kami terjatuh dalam godaan si penggoda.
Ingatkan kami selalu ya Tuhan, setiap waktu.
Amen.
