Sudden Death, Label, & Victory.
Renungan dari Wahyu 21:7-8
Berapakah umur kita saat ini ?
Jika kita sudah berumur diatas 35 tahun maka menurut pengalaman saya sebagai seorang dokter, kita bisa mati kapan saja. Saya beberapa kali menyaksikan pasien meninggal karena serangan jantung dan stroke di usia muda 30an tahun. Apalagi saat usia kita menginjak kepala 4, tentunya peluang untuk mati jauh lebih besar.
Mengapa saya menulis tentang ini ?
Kesadaran ini hinggap di pikiran saya beberapa minggu belakangan ini. Kemudian saya berpikir 2 hal, yang pertama kemanakah saya setelah mati ? Lalu pertanyaan kedua adalah bagaimana istri dan anak-anak saya sepeninggalnya saya ? Dan jawabannya juga sudah tersedia di dalam hati kecil kita masing-masing. Jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita bisa melihat jawabannya. Jawaban… bukan harapan atau keinginan, mohon dibedakan. Saya pribadi terus terang juga tidak bagus jawabannya, karena saya juga masih bolak-balik jatuh dalam dosa.
Saat saya melihat ayat ini, Wahyu 21:7-8
Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”
Wahyu 21:7-8 TB
https://bible.com/bible/306/rev.21.7-8.TB
Saat saya membaca kedua ayat tersebut reaksi saya adalah “asem…!”.
Untuk mendapatkan seluruh privilege, kemewahan yang dijelaskan di ayat-ayat sebelumnya (mohon dibaca sendiri) kita harus menang. Dan karena di usia kita saat ini kita bisa mati tiba-tiba, tanpa ada peringatan sebelumnya sehingga kita tidak punya waktu untuk bertobat mengakui dosa-dosa kita maka kita harus menang setiap saat. Setiap saat… Yes, setiap saat. Setiap saat! Oleh karena itulah maka pendeta kami Ps.Philip Mantofa senantiasa berkata, kalau jatuh dalam dosa segeralah minta ampun, minta tuntunan roh kudus agar jangan sampai jatuh lagi dalam dosa.
Ohya, untuk memudahkan pemahaman kita lebih lanjut ada baiknya jika menonton juga video khotbah Trip to Hell dari Ps. Philip Mantofa.
Ayat 7 dan 8 bagi saya adalah label. Pada dasarnya kita selalu memberi label kepada sesuatu agar lebih mudah mengingatnya. Contoh : Bp.A si tukang sayur, Ibu B yang baik itu, Si C yang tukang gosip, dll. Nah, di ayat 7 dan 8 adalah label saat kita mati nanti. Apakah kita akan diberi label Anak Tuhan, atau sebaliknya ? Si ini, si itu, si siapa, dll. Jadi hanya ada 2 kategori label ya, label Anak-Ku dan label yang lain. Sayangnya label itu disematkan saat kita mati, berdasarkan kondisi kita saat itu untuk kehidupan kita berikutnya.
Kalau anda bersedia merenungkan, kira-kira label apa yang akan anda kenakan hari ini kalau kita mati hari ini ? Renungkan dulu baru kemudian bertanya ke dalam hati kita masing-masing. Hasil saya masih di label yang lainnya. Hiks…
Ayo mari kita sama-sama memperjuangkan jiwa kita untuk senantiasa memenangkan dan mempertahankan gelar sebagai “Anak-Ku”.
Baca juga apa yang Tuhan katakan pada hamba di perumpamaan talenta. Sinkron ya ?
Ohya, hati-hati, jangan sampai kita jatuh di dalam dosa yang kita tidak tahu kalau itu dosa. Menyedihkan sekali. Seperti kena diskualifikasi dalam suatu pertandingan.
Itulah kenapa kita diminta untuk 1. baca Alkitab dari awal sampai akhir berulang-ulang. 2. Datang beribadah ke Gereja. 3. Bersekutu dengan saudara-saudara untuk saling memperkuat.
Beruntung saya berada di Gereja dan komunitas (Connect Group) yang tidak pernah berhenti untuk senantiasa mengingatkan saya, membangun jiwa saya agar saya dapat menang.
Buat anda semua, ayo temukanlah komunitas tersebut di dalam gereja anda.
