Yehezkiel 5:8-9 TB [8] sebab itu beginilah firman Tuhan Allah: Lihat, Aku, ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. [9] Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat.
Terutama di ayat 9 ini sangat terlihat bagaimana dilema yang dirasakan oleh Tuhan menghadapi tingkah laku bangsa Israel.
Bagi kita saat ini, apakah kehidupan kita masih menyerupai bangsa Israel yang tidak taat, yang menajiskan dirinya (tempat kudusNya)? Ataukah kita sedang berusaha hidup benar, dengan menjaga kekudusan?
Apabila kita masih yang pertama maka bertobatlah, kembalilah kepada Tuhan, berbaliklah dari segala sesuatu yang akan menjatuhkan kita.
Apabila kita masuk kategori yang kedua, ayolah kita ambil bagian untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tidakkah anda merasa kasihan kepada Tuhan yang sudah begitu baik namun terus-terusan dikhianati, dibuat sedih dan marah. If you love Him so much, you will do anything for Him.
Ibarat kita melihat orang tua kita, atau anak kita yang sedang kewalahan mengangkat barang, jika kita mengasihi maka spontan kita akan membantu mereka. Nah bagaimana dengan kesusahan hati Tuhan? Jika hati kita tidak tergerak, maka akan muncul pertanyaan di atas: Apakah engkau mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati?
Doa
Ya Tuhan, Engkau lelah ya Tuhan? Menghadapi kelakuan kami yang nantinya akan menyusahkan hidup kami sendiri? Yang akan menjerumuskan kami ke dalam kegelapan?
Apa yang bisa kubantu ya Tuhan? Mungkin tak seberapa dampaknya, tapi aku mau bantu Tuhan.
Beritahu aku caranya, ajari aku, tuntun aku ya Tuhan, agar aku bisa membantuMu dengan semaksimal mungkin.
Yakobus 5:7 TB [7] Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.
Saat menghadapi tekanan yang berat ada insting kita yang mengatakan agar kita lari. Ada tiga reaksi, insting yang juga ada pada binatang saat menghadapi suatu ancaman: lari, menyerang, atau freeze alias diam.
Hari ini Yakobus menyampaikan kepada kita untuk bersabar. Bukan salah satu dari ketiga reaksi tersebut di atas. Bersabar ini bukan juga hanya diam saja, namun tetap berusaha, tetap mengerjakan apa yang menjadi tugas kita.
Sama seperti petani yang dituliskan pada ayat di atas. Kesabaran petani bukanlah diam, membiarkan saja tanamannya sampai turun hujan. Namun ia tetap bekerja menjaga tanaman-tanamannya, menyiangi dari rumput dan gulma, memasang orang-orangan untuk menghindarkan dari binatang pemangsa, dan lain-lain.
Kesabaran Memerlukan Tujuan.
Petani dengan sabar menunggu karena sudah membayangkan tuaian hasil yang ia bisa tuai nantinya saat panen, dan agar tuaiannya maksimal ia tahu ada pekerjaan atau hal-hal yang harus ia kerjakan sambil menunggu waktunya panen.
Begitu pun dengan kita, Yakobus meminta kita untuk bersabar menjalani kehidupan ini karena kita membayangkan pada saat kedatangan Tuhan, kita bisa mendapatkan mahkota kehidupan dan bisa turut bersama dalam kebahagiaan bersama Bapa di sorga.
Seperti Ayub yang bersabar menjalani penderitaannya, walaupun pada saat itu Ayub tidak bisa membayangkan akhirnya seperti apa, Ayub tetap bertahan, tetap percaya, tetap setia. Ayub tetap bersabar menjalani hidupnya. Dan Tuhan menggantikan semua kehilangan yang dialami oleh Ayub seperti sedia kala.
Musa, yang karena kehilangan kesabarannya sehingga ia diputuskan Tuhan tidak masuk ke Kanaan seperti yang dijanjikan Tuhan sebelumnya, namun ternyata Tuhan memberikan kemuliaan yang besar kepada Musa atas kesetiaannya. Menjalani perjalanan di padang pasir yang begitu sulit, ditambah dengan keputusan Tuhan bisa merupakan suatu pukulan bagi Musa. Jika Musa terpengaruh dengan pemikiran jahat bisa saja Musa kecewa dan berbalik dari Tuhan, tapi Musa tetap setia menjalankan apa yang harus ia jalani dan kerjakan sesuai perintah Tuhan. Musa tetap bersabar, tetap setia kepada Tuhan.
Dasar untuk Berharap
Memiliki tujuan/goal itu berarti memiliki suatu dasar atau alasan untuk berharap. Dan memiliki pengharapan atas dasar tersebut merupakan suatu keharusan, kewajaran.
Pengharapan itu yang membuat kita sabar, membuat kita kuat, membuat kita tetap menjalani, tetap mengerjakan apa yang harus kita kerjakan dan jalani agar kita bisa mencapai tujuan tersebut.
Namun bagaimana jika tujuan tersebut menjadi tidak ada? Hilang? Seperti Musa yang mendapat tugas membawa bangsa Israel ke tanah kanaan, namun di tengah-tengah Tuhan memutuskan ia tidak masuk ke tanah kanaan, bukankah ia seperti kehilangan tujuan? Bagaimana ia membawa Israel ke tanah kanaan dan ia sendiri tidak masuk ke sana? Seperti Ayub yang sudah kehilangan segalanya, bahkan ditimpa penyakit, Ayub pasti kehilangan tujuan, karena semua yang ia peroleh, ia siapkan semuanya sudah hilang hanya tinggal ia sendiri bersama istrinya yang juga menekan dirinya.
Kedatangan Tuhan Yesus ke Dunia Memberikan Harapan Baru.
Tuhan Yesus datang memberikan tujuan yang baru, yaitu rumah di sorga. Ada banyak kamar yang disiapkan Tuhan bagi kita, bukan seperti Adam dan Hawa yang bisa bertemu dan berinteraksi dengan Tuhan di taman Eden, ini kita tinggal satu rumah dengan Bapa. Mendengarkan yang disampaikan oleh Yesus pasti masing-masing orang punya bayangan sendiri-sendiri tentang rumah itu, ukurannya, dekorasinya, dan sebagainya.
Musa yang sudah pernah bertemu dengan Tuhan berhadapan muka tidak mempunyai tujuan itu atau mungkin kita tidak tahu karena tidak tertulis, apalagi Ayub.
Sehingga kita memiliki dasar untuk berharap, untuk bersabar. Seberapa kuat dasar tersebut bergantung pada seberapa kuat iman kita, seberapa yakin, seberapa percaya akan janji Tuhan itu, karena bukanlah sesuatu yang nyata bentuknya. Tuhan perlu memberikan ilustrasi (dalam bentuk rumah) agar kita bisa membayangkannya, karena kalau tidak bisa kita bayangkan akan sulit bagi kita untuk percaya apalagi berharap dan bersabar. Itulah mengapa dikatakan seperti tidak ada dasar untuk berharap. Bukan tidak ada dasar untuk berharap, namun tidak nyata. Bagi yang tidak percaya maka dasar itu tidak ada.
Keteguhan Hati
“Bersabar dan meneguhkan hatimu”. Ini yang dituliskan pada ayat selanjutnya. Jangan takut dan kuatkanlah hatimu, ini yang dikatakan Tuhan kepada Musa, kepada Yosua, kepada Daud.
Selain bersabar maka Tuhan juga meminta kita untuk meneguhkan hati, menguatkan hati kita, menguatkan iman percaya kita. Karena selama masa penantian itu akan ada begitu banyak godaan, begitu banyak tantangan yang bisa mengacak-acak logika dan pemikiran kita sehingga mengombang-ambingkan hati kita dan iman kita. Yang akan membuat kita bersungut-sungut, saling mempersalahkan. Meneguhkan hati dalam pengharapan.
Lebih daripada Pemenang
Saat kita pada waktunya nanti memperoleh apa yang Tuhan janjikan bisa dikatakan kita menjadi pemenang, kita finished well.
Tapi menjadi pertanyaan saya mengapa tidak dari awal Allah menjanjikan rumah di sorga kepada manusia? Agar jelas.
Sepertinya bukan itu, bukanlah rumah di sorga, ada hal di atas dari sekedar rumah di sorga, dari sekedar mahkota kehidupan, bisakah kita lihat ada satu benang merah yang Tuhan sampaikan sejak awal, sejak kisah Perjanjian Lama sampai dengan kitab Wahyu di Perjanjian Baru yaitu mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, dengan segala jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu.
Mengasihi Tuhan itulah yang harusnya menjadi dasar utama dari segala sesuatu. Dasar mengapa kita harus bersabar. Dasar mengapa kita harus meneguhkan hati. Dasar mengapa kita harus terus berharap, kita harus terus berjuang melawan ketakutan kita, kedagingan kita, dan tipu daya iblis.
Saat kita berharap akan mendapatkan mahkota kehidupan, saat kita berharap untuk masuk ke dalam rumah Tuhan di sorga, kita seperti mengharapkan imbalan atas apa yang kita perjuangkan selama kita hidup di dunia. Hubungan kita dengan Tuhan menjadi hubungan transaksional, imbal balik. Bukan, bukan itu yang Tuhan ingin kita dapatkan, bukan.
Hanya satu yang Tuhan inginkan, Tuhan ingin kita sungguh-sungguh mengasihiNya. Bahkan hukum yang kedua bahwa kita harus mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri pun hanya bisa sempurna bila didasari karena kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
Pertanyaan Tuhan Yesus yang ditanyakan sampai 3 kali kepada Petrus adalah pertanyaan yang sangat fundamental, bukan hanya kepada Petrus tapi kepada kita yang mengaku percaya kepadaNya. Apakah engkau mengasihiKu? Apakah engkau mengasihiKu? Apakah engkau mengasihiKu? Dan ketiga pertanyaan itu dilanjutkan dengan pernyataan tugas panggilan untuk Petrus menggembalakan domba-domba. Peristiwa itu seperti Tuhan mau menyampaikan tugas yang harus dilakukan oleh Petrus, namun Petrus harus melakukan itu karena ia mengasihi Tuhan.
Kehilangan bayangan tujuan, kehilangan harapan karena apa yang selama ini kita miliki hilang, diambil dari kita akan sering kita hadapi di dunia. Namun satu yang tidak boleh hilang sama sekali, mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bertanya kepada Tuhan atas kehilangan tujuan dan harapan boleh, namun jangan sampai kecewa dengan Tuhan, jangan sampai pahit apalagi benci dengan Tuhan.
Bila kita terus sungguh-sungguh mencintai Tuhan, bertekun menjalankan apa yang sudah Ia minta, walaupun begitu berat penderitaan yang harus kita pikul, pada akhirnya nanti seperti Yakobus tuliskan kita bisa disebut sebagai yang berbahagia, seperti yang Paulus tuliskan kita bisa disebut pemenang yang lebih dari sekedar pemenang.
Look Up and Look Inside
Pandanglah ke atas kepada Tuhan, carilah wajahNya, bayangkan wajah Tuhan yang begitu mengasihi kita. Dan lihatlah ke dalam, ke dalam hati kita, apakah kita sungguh-sungguh mengasihiNya? Dengan sepenuh hati kita, dengan sepenuh jiwa, dengan sepenuh akal budi (logika, pemikiran kita), dengan sepenuh kekuatan kita?
Mari kita berdoa
Ya Tuhan, maafkan kami, ternyata kami belum sungguh-sungguh mengasihi Engkau.
Dalam banyak waktu kami lupa, dalam banyak waktu kami hitung-hitungan denganMu, bahkan kami seringkali menggunakan FirmanMu untuk membenarkan pemikiran kami agar kami tidak harus melakukan apa yang Engkau minta.
Dalam banyak waktu kami kecewa kepadaMu, karena Engkau seperti diam saja, Engkau seperti menghilang dari kami, kami merasa ditinggalkan. Bahkan mungkin terbersit rasa benci. Maafkan kami ya Tuhan.
Tuhan, kami itu banyak tidak tahu, kami banyak tidak mengerti, sama seperti seorang anak yang tidak mengerti apa yang orang tuanya perjuangkan bagi anak-anaknya, apa arti didikan orang tua kami kepada kami, dan baru belakangan kami menyadari betapa Engkau mengupayakan yang terbaik bagi kami, betapa Engkau mengasihi kami anak-anakMu.
Jangan biarkan kami terlambat sadar ya Tuhan, selagi masih ada waktu, selagi masih ada umur kami, kami ingin kembali kepadaMu, kami mau sungguh-sungguh mengasihiMu, kami mau hidup seperti yang Engkau mau, bukan karena kami berharap mendapatkan janjiMu namun karena kami sungguh mengasihiMu.
Ajari kami ya Tuhan, baik melalui setiap Firman Tuhan yang kami baca dan kami dengar, baik melalui orang-orang disekitar kami yang Engkau utus untuk mengingatkan kami, menyadarkan kami kembali.
Kami mau berubah Tuhan, dari cara hidup kami yang lama ke cara hidup yang baru yang berkenan kepadaMu.
Dan pada waktunya nanti, bukan rumah, kamar, atau bahkan mahkota kehidupan yang kami tunggu, tapi perjumpaan denganMu, tinggal bersatu bersama denganMu. Dan jadikan itu kerinduan kami yang terdalam, yang mengakar di dalam hati kami, di dalam pikiran bawah sadar kami yang menguasai segala pikiran dan segala perasaan kami.
Semua orang yang ingin sungguh-sungguh mengasihi Tuhan katakan Amen.
Efesus 4:13-14 TB [13] sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, [14] sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,
1. Tahu, kenal, dan tertarik. Ini adalah fase paling awal dimana seseorang dari sekedar tahu, pernah lihat, atau pernah dengar kemudian tertarik untuk mengenal lebih dekat, lebih dalam. Dan setelah mengenal lebib dalam kemudian tertarik untuk berkomitmen.
2. Lahir baru. Ini adalah fase menyatakan komitmen yang biasanya ditandai dengan baptisan.
3. Bayi rohani. Ini merupakan fase setelah lahir baru, masa-masa ini adalah masa dimana seseorang ingin sekali mengetahui lebih jauh, mengalami lebih banyak.
4. Anak-anak rohani. Kelanjutan dari bayi rohani. Sudah lebih banyak tahu. Mulai belajar membangun kebiasaan dan hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
5. Dewasa rohani. Saat sudah jauh lebih mandiri terutama dalam hal membangun hubungan dengan Tuhan. Sudah memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk senantiasa membangun hubungan personal dengan Tuhan, dan menjalani hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
6. Kematian rohani. Adalah fase dimana seseorang menjadi apatis dan tidak percaya lagi kepada Kristus.
Dimanakah diri kita berada?
Dimanapun posisi kita berada, ada satu hal yang harus kita ingat dan kita pegang, yaitu kita semua pada dasarnya ingin selamat. Dan keselamatan itu ditandai dengan kita pulang ke rumah Bapa di sorga. Dan untuk bisa berkumpul bersama-sama dengan Bapa kita di sorga maka setelah menyatakan iman percaya, kita harus membangun hubungan personal dengan Kristus dan hidup sesuai dengan FirmanNya. Karena itu iman kita harus bertumbuh agar jangan begitu mudahnya kita termakan godaan akhirnya menjadi tersesat. Bukannya pulang ke rumah Bapa di sorga, malah masuk ke api yang tak pernah mati.
Bagaimana caranya agar kita bisa tumbuh optimal?
1. Tertanam dalam satu gereja lokal. Mengapa perlu tertanam? Agar pondasi kita kuat, dasar-dasar iman kita kuat karena mengikuti dan mendapatkan nutrisi secara teratur. Mengapa hanya satu gereja lokal? Karena hakikat tertanam itu pada satu tempat. Kalau lebih dari satu sama saja tidak tertanam. Dan ibarat tanaman yang pindah-pindah pot bukan karena bertumbuh sehingga memerlukan penambahan tanah/ media tanam, maka pertumbuhannya tidak akan optimal, malah resiko mati jauh lebih besar.
2. Bergabung dan aktif dalam komunitas rohani di gereja lokal tersebut. Mengapa komunitas rohani di gereja lokal? Mengapa tidak di gereja lain atau multi-denominasi? Karena akan berbeda nutrisinya walaupun sumbernya sama. Dan resikonya kalau bercampur-campur, yang ada akan bingung, absurd, sehingga tidak mantap pondasi, dasar-dasarnya, dan sudut pandangnya. Komunitas ini bisa menjadi support system kita saat kita mengalami kendala dan kita bisa mendapat booster untuk pertumbuhan.
3. Membangun hubungan personal dengan Tuhan. Tuhan ingin kita berjalan bersamaNya, dalam tuntunanNya karena dunia ini kejam. Namun sulit terjadi kalau kita tidak kenal Tuhan, sehingga tidak benar-benar yakin dan percaya kepadaNya, apalagi bergantung kepadaNya. Kita akan sulit mendengar arahan Tuhan, kita akan menjalani hidup ini semaunya kita saja, apa yang menurut pemikiran dan hati kita sudah paling benar, mungkin bisa ditambah nasihat teman-teman dekat, atau pakar yang kita temui atau kita lihat.
Jangan mati, selesaikanlah pertandingan iman ini.
Kita semua ingin finish dan mendapatkan piala, masuk berkumpul bersama Bapa di sorga. Jadi janganlah kita sampai mati rohani. Mari kita selesaikan pertandingan iman kita ini dengan baik.
Doa
Ya Tuhan, bantu kami bertumbuh. Agar kami benar-benar bisa menyelesaikan pertandingan iman kami dengan benar.
Hari ini saya menyadari apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dari manusia.
Ayat rhema hari ini
Ibrani 10:5-7 TB [5] Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: ”Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki – tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku –. [6] Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. [7] Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”
Bagian dari Kitab Ibrani ini menegaskan Mazmur Daud:
Mazmur 40:7-9 TB [7] Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. [8] Lalu aku berkata: ”Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; [9] aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.”
Walaupun Daud bermazmur bahwa Tuhan tidak menuntut korban bakaran dan korban penghapus dosa, pasti Daud masih melakukannya karena pada saat itu, itulah ritual yang mereka jalani. Daud mungkin tidak benar-benar mengerti karena ia pun bermazmur bahwa Tuhanlah yang meletakkan nyanyian baru pada bibirnya.
Mazmur 40:4 TB [4] Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.
Namun setelah Tuhan Yesus turun menjadi manusia, mati, dan bangkit serta naik ke sorga barulah disadari pemenuhan kitab Mazmur itu. Bukan korban persembahan yang diinginkan Tuhan, namun iman percaya kepadaNya.
Iman percaya yang menggerakkan kita untuk melakukan setiap kehendakNya.
Saya pun teringat kembali bagaimana Abraham membawa Ishak untuk dikorbankan. Bagaimana susahnya hati Abraham untuk melakukan apa yang Tuhan minta. Mengorbankan anak satu-satunya yang mana ia sudah menunggu puluhan tahun, menghadapi tekanan terhadap imannya yang mempertanyakan apakah benar janji Tuhan akan memberikan kepadanya keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di lautan. Dan Abraham tetap pergi membawa Ishak, sambil bertahan menjaga imannya bahwa Tuhan pasti akan menepati janjiNya, ia tetap melangkah mengerjakan apa yang Tuhan minta.
Itulah yang Tuhan mau, iman kita dan kita melangkah dalam iman.
Saat kita melakukannya Tuhan akan selalu menyertai kita dalam setiap prosesnya.
Doa
Ya Tuhan, seringkali kami tidak mengerti bahkan tidak tahu mengapa situasi yang berat harus terjadi dalam kehidupan kami. Tapi seperti anak yang percaya kepada bapaknya, kami mau terus melangkah. Ajari kami Tuhan, berikan kami semangat saat kami mulai ragu, lemah, atau takut, bahkan terpikir untuk kabur. Kami percaya ada bagian kami yang tak ternilai yang sudah Engkau siapkan untuk kami saat kami sudah selesai nantinya.
Oh Tuhan betapa kami merindukan tanganMu yang menggandeng tangan kami, betapa kami merindukan dekapan dan pelukanMu saat kami sedih, kecewa, ragu, atau takut. Jangan biarkan kami sendirian ya Tuhan menyusuri kehidupan ini, karena kami tahu kami takkan sanggup melangkah tanpa Engkau di sisi kami.
2 Korintus 4:17 TB [17] Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Sama seperti Tuhan Yesus yang sedang menjalani kisah sengsara, segala penderitaan yang dijalani oleh Tuhan Yesus hanya untuk satu visi yaitu kemuliaan kekal.
Ya, penderitaan kita di dunia, pergumulan, kesakitan, kesulitan, dan segala hal yang membuat kita susah juga sudah dialami oleh Tuhan Yesus, Ia yang tidak berdosa sedikit pun harus menanggung penderitaan yang begitu mengerikan dan keji demi kita manusia, demi kita mendapatkan akses kembali ke rumah Bapa di surga.
Jadi apa pun situasi dan kondisi kita, betapa susah dan menyakitkan pergumulan kita ayo kita kerjakan demi kemuliaan kekal yang melebibi segala-galanya. Jalani dengan sukacita.
Renungan dan rhema dari Matius 22 – Hukum yang terutama.
Ayat Rhema
Matius 22:37-40 TB [37] Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. [38] Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
[39] Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
[40] Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Kasih itu benar-benar harus timbul dari dalam hati yang terdalam untuk mengasihi orang lain. Dan umumnya kita hanya mengasihi yang kita kenal, benar atau benar?
Mengapa Tuhan Yesus bilang hukum yang pertama dan terutama adalah mengasihi Tuhan, Allah dengan segala sesuatu yang ada di diri kita? Karena mengasihi Tuhan Allah dengan segala sesuatu yang ada di diri kita adalah akar dari segala sesuatu. Adalah sumber, adalah pondasi, adalah fundamental dari segala sesuatu di hidup ini. Segala sesuatu. Ya, segala sesuatu literally. Mengasihi Tuhan Allah adalah level one dari seluruh level kehidupan kita. We must pass this level to be succeded in the next levels. Untuk dapat sukses di kehidupan ini, suatu kesuksesan yang sesuai kacamata Tuhan.
Dan untuk dapat mengasihi Tuhan Allah maka kita harus dengan sengaja belajar mengenal dan mengasihi Tuhan. Dengan sengaja berusaha untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Sampai pada titik dimana setiap waktu kita senantiasa benar-benar yakin dan percaya bahwa Tuhan itu begitu baik dalam kehidupan kita dan sudah begitu mengasihi kita lebih dahulu bahkan jauh sebelum kita mengenalNya.
Hasil dari usaha kita di level one ini akan membawa kita ke level two – mengasihi sesama manusia. Belajar mengasihi orang yang kita kenal mungkin terdengar lebih mudah, walaupun kenyataannya seringkali tidak juga. Meskipun orang-orang dekat kita, keluarga, teman.
Fokus pengajaran di Perjanjian Baru bagi saya adalah tentang kasih, bagaimana mengasihi Tuhan dan bagaimana mengasihi sesama. Perubahan hidup yang dialami oleh murid-muridnya dan semua orang yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru tujuannya adalah untuk kedua hukum tersebut.
Roma 13:8-10 TB [8] Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
[9] Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
[10] Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Memang lebih mudah menanamkan rasa takut untuk menghindarkan seseorang jatuh dalam hal yang tidak kita inginkan – masuk dalam Neraka, dalam kegelapan. Namun rasa takut yang ditanamkan tidak membuat orang lantas berpikir untuk melakukan lebih bagi orang lain.
Kita harus memenuhi pikiran kita dengan pikiran mengasihi Tuhan, dan bahwa mengasihi orang lain pun juga sebagai bentuk mengasihi Tuhan karena Tuhan mengasihi setiap orang, karena kita ingin banyak orang juga mengalami kasih dan cinta Tuhan.
Roma 8:28 TB [28] Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Rasa cinta kepada Tuhan, mengasihi Tuhan harus yang terutama kita tanamkan dalam pikiran kita, yang kita wariskan pada anak-anak kita. Namun rasa takut akan Tuhan juga perlu, agar kita tahu dampaknya jika kita mendukakan hati Tuhan, menolak kasihNya kepada kita.
Itulah mungkin kenapa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, karena mereka tidak dapat membayangkan seperti apa “mati” yang disampaikan Allah kepada mereka jika mereka makan buah dari pohon terlarang. Seandainya mereka tahu, mungkin mereka akan menolak tipu daya iblis.
Ya kita memang tidak bisa memaksakan agar orang mengasihi Tuhan, mencintai Tuhan. Kasih tidak bisa dipaksakan, namun kasih Tuhan bisa kita tunjukkan kepada orang lain, Dari situlah orang-orang, jiwa-jiwa bisa merasakan kasih Tuhan. kasih Tuhan itu harus dirasakan atas pengalaman masing-masing pribadi.
Aplikasi
Mari penuhi pikiran kita, hati kita dengan rasa cinta kepada Tuhan. Dan rasa cinta itu juga disertai dengan rasa takut akan Tuhan agar kita senantiasa memelihara dan menjaga api cinta kita kepada Tuhan.
Jangan biarkan iblis memasuki pikiran kita dengan segala alasan dan justifikasi, serta rasionalisasi sehingga kita melakukan hal-hal yang pada akhirnya akan membuat kita jatuh dalam dosa. Kita belum tentu memiliki waktu di masa depan untuk berbalik kepadaNya. Lebih baik berbalik dari sekarang, selagi masih ada nafas.
Harapan dan Doa
Tuhan aku mau api cinta kepadaMu. Butakan mataku dengan cinta pada Tuhan, agar jangan ada yang lain, agar pikiranku hanya tertuju kepadaMu.