Dapat rhema apa hari ini ?
Yakobus 5:7 TB
https://bible.com/bible/306/jas.5.7.TB
[7] Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.
Bersabarlah sampai kedatangan Tuhan!
Saat menghadapi tekanan yang berat ada insting kita yang mengatakan agar kita lari. Ada tiga reaksi, insting yang juga ada pada binatang saat menghadapi suatu ancaman: lari, menyerang, atau freeze alias diam.
Hari ini Yakobus menyampaikan kepada kita untuk bersabar. Bukan salah satu dari ketiga reaksi tersebut di atas. Bersabar ini bukan juga hanya diam saja, namun tetap berusaha, tetap mengerjakan apa yang menjadi tugas kita.
Sama seperti petani yang dituliskan pada ayat di atas. Kesabaran petani bukanlah diam, membiarkan saja tanamannya sampai turun hujan. Namun ia tetap bekerja menjaga tanaman-tanamannya, menyiangi dari rumput dan gulma, memasang orang-orangan untuk menghindarkan dari binatang pemangsa, dan lain-lain.
Kesabaran Memerlukan Tujuan.
Petani dengan sabar menunggu karena sudah membayangkan tuaian hasil yang ia bisa tuai nantinya saat panen, dan agar tuaiannya maksimal ia tahu ada pekerjaan atau hal-hal yang harus ia kerjakan sambil menunggu waktunya panen.
Begitu pun dengan kita, Yakobus meminta kita untuk bersabar menjalani kehidupan ini karena kita membayangkan pada saat kedatangan Tuhan, kita bisa mendapatkan mahkota kehidupan dan bisa turut bersama dalam kebahagiaan bersama Bapa di sorga.
Seperti Ayub yang bersabar menjalani penderitaannya, walaupun pada saat itu Ayub tidak bisa membayangkan akhirnya seperti apa, Ayub tetap bertahan, tetap percaya, tetap setia. Ayub tetap bersabar menjalani hidupnya. Dan Tuhan menggantikan semua kehilangan yang dialami oleh Ayub seperti sedia kala.
Musa, yang karena kehilangan kesabarannya sehingga ia diputuskan Tuhan tidak masuk ke Kanaan seperti yang dijanjikan Tuhan sebelumnya, namun ternyata Tuhan memberikan kemuliaan yang besar kepada Musa atas kesetiaannya. Menjalani perjalanan di padang pasir yang begitu sulit, ditambah dengan keputusan Tuhan bisa merupakan suatu pukulan bagi Musa. Jika Musa terpengaruh dengan pemikiran jahat bisa saja Musa kecewa dan berbalik dari Tuhan, tapi Musa tetap setia menjalankan apa yang harus ia jalani dan kerjakan sesuai perintah Tuhan. Musa tetap bersabar, tetap setia kepada Tuhan.
Dasar untuk Berharap
Memiliki tujuan/goal itu berarti memiliki suatu dasar atau alasan untuk berharap. Dan memiliki pengharapan atas dasar tersebut merupakan suatu keharusan, kewajaran.
Pengharapan itu yang membuat kita sabar, membuat kita kuat, membuat kita tetap menjalani, tetap mengerjakan apa yang harus kita kerjakan dan jalani agar kita bisa mencapai tujuan tersebut.
Namun bagaimana jika tujuan tersebut menjadi tidak ada? Hilang? Seperti Musa yang mendapat tugas membawa bangsa Israel ke tanah kanaan, namun di tengah-tengah Tuhan memutuskan ia tidak masuk ke tanah kanaan, bukankah ia seperti kehilangan tujuan? Bagaimana ia membawa Israel ke tanah kanaan dan ia sendiri tidak masuk ke sana? Seperti Ayub yang sudah kehilangan segalanya, bahkan ditimpa penyakit, Ayub pasti kehilangan tujuan, karena semua yang ia peroleh, ia siapkan semuanya sudah hilang hanya tinggal ia sendiri bersama istrinya yang juga menekan dirinya.
Kedatangan Tuhan Yesus ke Dunia Memberikan Harapan Baru.
Tuhan Yesus datang memberikan tujuan yang baru, yaitu rumah di sorga. Ada banyak kamar yang disiapkan Tuhan bagi kita, bukan seperti Adam dan Hawa yang bisa bertemu dan berinteraksi dengan Tuhan di taman Eden, ini kita tinggal satu rumah dengan Bapa. Mendengarkan yang disampaikan oleh Yesus pasti masing-masing orang punya bayangan sendiri-sendiri tentang rumah itu, ukurannya, dekorasinya, dan sebagainya.
Musa yang sudah pernah bertemu dengan Tuhan berhadapan muka tidak mempunyai tujuan itu atau mungkin kita tidak tahu karena tidak tertulis, apalagi Ayub.
Sehingga kita memiliki dasar untuk berharap, untuk bersabar. Seberapa kuat dasar tersebut bergantung pada seberapa kuat iman kita, seberapa yakin, seberapa percaya akan janji Tuhan itu, karena bukanlah sesuatu yang nyata bentuknya. Tuhan perlu memberikan ilustrasi (dalam bentuk rumah) agar kita bisa membayangkannya, karena kalau tidak bisa kita bayangkan akan sulit bagi kita untuk percaya apalagi berharap dan bersabar. Itulah mengapa dikatakan seperti tidak ada dasar untuk berharap. Bukan tidak ada dasar untuk berharap, namun tidak nyata. Bagi yang tidak percaya maka dasar itu tidak ada.
Keteguhan Hati
“Bersabar dan meneguhkan hatimu”. Ini yang dituliskan pada ayat selanjutnya. Jangan takut dan kuatkanlah hatimu, ini yang dikatakan Tuhan kepada Musa, kepada Yosua, kepada Daud.
Selain bersabar maka Tuhan juga meminta kita untuk meneguhkan hati, menguatkan hati kita, menguatkan iman percaya kita. Karena selama masa penantian itu akan ada begitu banyak godaan, begitu banyak tantangan yang bisa mengacak-acak logika dan pemikiran kita sehingga mengombang-ambingkan hati kita dan iman kita. Yang akan membuat kita bersungut-sungut, saling mempersalahkan. Meneguhkan hati dalam pengharapan.
Lebih daripada Pemenang
Saat kita pada waktunya nanti memperoleh apa yang Tuhan janjikan bisa dikatakan kita menjadi pemenang, kita finished well.
Tapi menjadi pertanyaan saya mengapa tidak dari awal Allah menjanjikan rumah di sorga kepada manusia? Agar jelas.
Sepertinya bukan itu, bukanlah rumah di sorga, ada hal di atas dari sekedar rumah di sorga, dari sekedar mahkota kehidupan, bisakah kita lihat ada satu benang merah yang Tuhan sampaikan sejak awal, sejak kisah Perjanjian Lama sampai dengan kitab Wahyu di Perjanjian Baru yaitu mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, dengan segala jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu.
Mengasihi Tuhan itulah yang harusnya menjadi dasar utama dari segala sesuatu. Dasar mengapa kita harus bersabar. Dasar mengapa kita harus meneguhkan hati. Dasar mengapa kita harus terus berharap, kita harus terus berjuang melawan ketakutan kita, kedagingan kita, dan tipu daya iblis.
Saat kita berharap akan mendapatkan mahkota kehidupan, saat kita berharap untuk masuk ke dalam rumah Tuhan di sorga, kita seperti mengharapkan imbalan atas apa yang kita perjuangkan selama kita hidup di dunia. Hubungan kita dengan Tuhan menjadi hubungan transaksional, imbal balik. Bukan, bukan itu yang Tuhan ingin kita dapatkan, bukan.
Hanya satu yang Tuhan inginkan, Tuhan ingin kita sungguh-sungguh mengasihiNya. Bahkan hukum yang kedua bahwa kita harus mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri pun hanya bisa sempurna bila didasari karena kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
Pertanyaan Tuhan Yesus yang ditanyakan sampai 3 kali kepada Petrus adalah pertanyaan yang sangat fundamental, bukan hanya kepada Petrus tapi kepada kita yang mengaku percaya kepadaNya. Apakah engkau mengasihiKu? Apakah engkau mengasihiKu? Apakah engkau mengasihiKu? Dan ketiga pertanyaan itu dilanjutkan dengan pernyataan tugas panggilan untuk Petrus menggembalakan domba-domba. Peristiwa itu seperti Tuhan mau menyampaikan tugas yang harus dilakukan oleh Petrus, namun Petrus harus melakukan itu karena ia mengasihi Tuhan.
Kehilangan bayangan tujuan, kehilangan harapan karena apa yang selama ini kita miliki hilang, diambil dari kita akan sering kita hadapi di dunia. Namun satu yang tidak boleh hilang sama sekali, mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bertanya kepada Tuhan atas kehilangan tujuan dan harapan boleh, namun jangan sampai kecewa dengan Tuhan, jangan sampai pahit apalagi benci dengan Tuhan.
Bila kita terus sungguh-sungguh mencintai Tuhan, bertekun menjalankan apa yang sudah Ia minta, walaupun begitu berat penderitaan yang harus kita pikul, pada akhirnya nanti seperti Yakobus tuliskan kita bisa disebut sebagai yang berbahagia, seperti yang Paulus tuliskan kita bisa disebut pemenang yang lebih dari sekedar pemenang.
Look Up and Look Inside
Pandanglah ke atas kepada Tuhan, carilah wajahNya, bayangkan wajah Tuhan yang begitu mengasihi kita. Dan lihatlah ke dalam, ke dalam hati kita, apakah kita sungguh-sungguh mengasihiNya? Dengan sepenuh hati kita, dengan sepenuh jiwa, dengan sepenuh akal budi (logika, pemikiran kita), dengan sepenuh kekuatan kita?
Mari kita berdoa
Ya Tuhan, maafkan kami, ternyata kami belum sungguh-sungguh mengasihi Engkau.
Dalam banyak waktu kami lupa, dalam banyak waktu kami hitung-hitungan denganMu, bahkan kami seringkali menggunakan FirmanMu untuk membenarkan pemikiran kami agar kami tidak harus melakukan apa yang Engkau minta.
Dalam banyak waktu kami kecewa kepadaMu, karena Engkau seperti diam saja, Engkau seperti menghilang dari kami, kami merasa ditinggalkan. Bahkan mungkin terbersit rasa benci. Maafkan kami ya Tuhan.
Tuhan, kami itu banyak tidak tahu, kami banyak tidak mengerti, sama seperti seorang anak yang tidak mengerti apa yang orang tuanya perjuangkan bagi anak-anaknya, apa arti didikan orang tua kami kepada kami, dan baru belakangan kami menyadari betapa Engkau mengupayakan yang terbaik bagi kami, betapa Engkau mengasihi kami anak-anakMu.
Jangan biarkan kami terlambat sadar ya Tuhan, selagi masih ada waktu, selagi masih ada umur kami, kami ingin kembali kepadaMu, kami mau sungguh-sungguh mengasihiMu, kami mau hidup seperti yang Engkau mau, bukan karena kami berharap mendapatkan janjiMu namun karena kami sungguh mengasihiMu.
Ajari kami ya Tuhan, baik melalui setiap Firman Tuhan yang kami baca dan kami dengar, baik melalui orang-orang disekitar kami yang Engkau utus untuk mengingatkan kami, menyadarkan kami kembali.
Kami mau berubah Tuhan, dari cara hidup kami yang lama ke cara hidup yang baru yang berkenan kepadaMu.
Dan pada waktunya nanti, bukan rumah, kamar, atau bahkan mahkota kehidupan yang kami tunggu, tapi perjumpaan denganMu, tinggal bersatu bersama denganMu. Dan jadikan itu kerinduan kami yang terdalam, yang mengakar di dalam hati kami, di dalam pikiran bawah sadar kami yang menguasai segala pikiran dan segala perasaan kami.
Semua orang yang ingin sungguh-sungguh mengasihi Tuhan katakan Amen.
Haleluya.
