Salah satu kerinduan kita setiap orang percaya adalah pulang kembali ke rumah Bapa di sorga.
Dan jika kita saling berbicara jika berbicara tentang sorga maka kita senantiasa menunjuk ke atas. Sebaliknya apabila kita bicara tentang dosa, hari penghakiman, dan neraka maka kita akan senantiasa arahnya ke bawah, ke kejatuhan.
[1] Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.
Panggilan untuk naik ke sorga, itu yang kita tunggu, yang kita harapkan.
Namun seperti kita ketahui bersama buat kita yang percaya bahwa tidak semua orang akan bisa naik ke sorga, ada syarat dan kondisinya.
Tinggal pertanyaannya adalah, apakah kita memenuhi persyaratan tersebut?
Hari ini kita diingatkan lagi untuk menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam hidup kita. Karena sesudah hidup di dunia ini ada hidup lain yang bahagia tidaknya ditentukan dari hidup kita saat ini di dunia.
Mari kita berjuang lagi untuk memantaskan diri di hadapan Tuhan, mari kita pererat lagi hubungan kita dengan Tuhan, mari kita kembali ke jalanNya, melakukan segala perintah-perintahNya.
Doa
Ya Tuhan, pasti enak ya di atas sana.
Kami mau Tuhan, menjadi salah satu yang Engkau panggil naik ke sorga.
Kami sadar hidup kami masih naik turun, kami sering jatuh dalam dosa. Kami berlari-lari dari hadapanMu.
Ampuni kami ya Tuhan.
Ajari kami setiap waktu ya Tuhan, agar hidup kami berkenan di hadapanMu.
Wahyu 3:20 TB
[20] Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Mengapa situasinya bukan sebaliknya? Tuhan menunggu di dalam ada orang yang mengetok-ketok pintu maka akan dibukakan dan dijamu makan bersama-sama dengan Tuhan? Disini Tuhan ingin menunjukkan betapa Tuhan ingin bersama-sama dengan kita. Tuhan sebagai pribadi sendiri ingin bareng dengan kita.
Namun yang jadi masalah adalah jika kita tidak membuka pintu hati kita untuk Tuhan.
Mengapa kita bisa tidak membukakan pintu?
Tuhan tidak hanya sekedar mengetok pintu sepertinya, melainkan Tuhan juga memanggil kita. Sayangnya ada kondisi-kondisi dimana kita tidak mendengar nama kita dipanggil-panggil Tuhan.
Beberapa sebagai berikut:
1. Kita sedang sibuk
Ya, sedang sibuk seringkali membuat kita tidak mendengar kalau ada orang yang memanggil kita, antara terlalu kompleks masalah sehingga kita fokus disitu untuk membereskan atau terlalu menggairahkan sehingga kita juga tidak dengar suara orang yang memanggil kita.
2. Tidak kenal dan takut.
Bisa jadi karena kita tidak mengenal suara orang yang mengetok pintu dan memanggil kita membuat kita menjadi takut, sehingga tidak membukakan pintu.
3. Sedang menutup diri
Bisa jadi kita memang sedang menutup diri, tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Mungkin karena sedang ada masalah, mungkin karena sedang malas berurusan dengan orang lain, mungkin karena ingin “me time” – nonton, sosial media, dll.
Dan tentunya ada hal-hal lain lagi yang menyebabkan kita tidak membukakan pintu bagi Tuhan.
Ayat rhema ini membuat saya merenung, apakah dalam keseharian saya itu saya seringkali terlalu sibuk, atau sedang takut, malas, sedang mau menyendiri saja? Sehingga mungkin kita memasang signage “do not disturb” di pintu hati kita.
Atau…. saya tidak kenal suaraNya Tuhan…. Saya tidak tahu kalau selama ini Tuhan sudah ketok-ketok sambil memanggil nama saya?
Doa:
Ya Tuhan, maafkan aku kalau selama ini aku tidak mengenali suaraMu, maafkan aku kalau selama ini aku terlalu sibuk, ketakutan sendiri, atau bermalas-malasan sendiri.
Ajari aku Tuhan agar semakin hari semakin mengenal Engkau, mengenal isi hatiMu sehingga dimanapun dan kapanpun aku bisa mengenali kehadiranMu di dalam hidupku ini.
Saat Tuhan datang, kita diminta untuk memegang apa yang kita miliki agar jangan ada yang mengambil mahkota kita, atau dengan kata lain kita kehilangan mahkota yang sudah disiapkan bagi kita.
Tapi apa yang bisa kita pegang saat Tuhan datang?
Kalau kita keburu mati saat Tuhan datang, apa yang bisa kita pegang saat kita sudah mati?
Atau bila kita beruntung Tuhan datang dan kita masih hidup, maka ada yang harus kita pegang agar mahkota kita jangan sampai terlepas dari kita.
Iman!
Ya, hanya iman kita satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita.
[8] Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.
Pernahkah anda sewaktu kecil tiba-tiba merasa panik saat berada di tengah keramaian di tempat yang baru karena kehilangan pandangan akan orang tua anda atau teman sepermainan anda?
Atau pernahkah pada saat bepergian, tiba-tiba cemas karena peta digital kita membawa kita melewati jalur yang aneh, yang sepertinya bukan membawa kita menuju tujuan kita?
Mungkin itulah rasanya bila kita tersesat.
Sebelum lanjut, mari kita baca dulu bacaan renungan kita hari ini dari 1 Petrus 2: 18-25
Yang menjadi rhema hari ini adalah ayat yang terakhir yaitu ayat 25:
[25] Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.
Mengalami perasaan tersesat adalah karunia Tuhan, karena ia disadarkan bahwa ia tersesat. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya tersesat. Bersyukurlah walaupun sulit disaat merasa cemas dan panik karena tersesat.
Dan berbahagialah barangsiapa yang mencari-cari Tuhan di kala merasa tersesat. Dan berbahagialah yang mengikuti tuntunanNya di masa yang sulit itu. Ada banyak orang yang mencari jalan keluar sendiri, tidak dengar-dengaran dengan Tuhan.
Seperti kata Daud di Mazmur
[13] Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
Bahwa banyak yang tidak sadar dirinya tersesat. Maka berbahagialah yang merasa tersesat dan mencari suara Tuhan yang menuntun dirinya.
Apa yang harus kita lakukan saat merasa tersesat?
1. Jangan panik.
Refleks pertama saat menyadari kita tersesat adalah jangan panik. Berhentilah dahulu, atur nafas, dan doa minta pertolongan Tuhan.
Yehezkiel 34:16 TB [16] Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
1 Yohanes 3:7 TB [7] Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
Apakah anda merasa hubungan anda akhir-akhir ini dengan Tuhan agak jauh?
Anda kehilangan semangat?
Tidak semangat berdoa, baca Alkitab?
Yuk baca sedikit saja sepotong kisah di Kitab Wahyu ini, hanya 6 ayat saja.
Sudah dibaca?
Ada 2 ayat rhema yang menjadi pengingat bagi saya pribadi juga.
[2] Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. [3] Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.
Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati!
Bangunlah dan kuatkanlah yang sudah hampir mati!
Apakah anda sedang merasa loyo atau lemas secara kerohanian?
Inilah pengingat bagi kita semua.
Tuhan juga mengingatkan bahwa tugas kita di dunia ini belum sempurna, belum selesai, masih ada banyak hal yang harus kita kerjakan selagi masih ada waktu.
Bukankah kita ingin menuntaskan, menyelesaikan tugas, pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada kita?
Bukankah kita ingin memberikan hasil yang terbaik kepada Tuhan?
Bagaimana caranya kalau sudah terlanjur lemas begini?
Yuk, kita bergerak lagi.
Tuhan ingatkan tuh di ayat selanjutnya: ingatlah bagaimana kita menerima dan mendengar dulu, ayo kita mulai lagi, kita lepaskan hal-hal yang membuat kita tidak melakukannya.
Saat kita bergerak, motivasi juga akan bertumbuh. Saat kita mulai ambil Alkitab, membangun kembali kerinduan untuk mendengar suara Tuhan dan mulai membaca serta merenungkan Firman Tuhan, maka Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita yang kita mungkin sudah abaikan suaraNya beberapa waktu akan semakin jelas kita dengar. Memberi kita harapan baru, pertolongan, dan sukacita.
Seringkali kita perlu booster, ayo datang kembali ke komunitas rohani, ayo datang ibadah di gereja, ayo ikut retret doa. Itu bisa sebagai booster.
Tapi kita perlujaga dengan membangun rutinitas pribadi supaya api yang ada tidak padam lagi. Kita perlu tambahi minyak dengan saat teduh pribadi, dengan membangun kehidupan doa dan waktu-waktu ngobrol dengan Tuhan.
Yuk, kencangkan kembali tali sepatu, ikat pinggang, untuk melangkah lagi. Masih ada waktu, tidak ada kata terlambat.
Doa:
Ya Tuhan, maafkan aku yang sekian lama mengabaikan Engkau. Aku sibuk dengan urusanku, sibuk dengan pikiranku, bukannya mengobrol dengan Engkau di sela-sela waktu, malahan bengong scrolling sosial media.
Ya Tuhan, terimakasih Engkau senantiasa memanggilku agar tidak berlari jauh dari padaMu.
Aku mau melangkah lagi ya Tuhan, mengerjakan pekerjaan yang sudah Engkau percayakan kepadaku.
Dari Firman Tuhan tersebut yang menjadi ayat rhema kali ini adalah ayat 23,
[23] Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. [24] Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. [25] Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. https://bible.com/bible/306/rev.2.23-25.TB
Wahyu 2:23-25 TB
Di ayat 23 ini, kita bisa merasakan kekesalan Allah. Kasih Allah yang begitu besar seperti tidak terima dengan oknum yang merusak jiwa-jiwa di sekitarnya. Dan disini Allah mengkonfirmasi Daud di Mazmur 139:
[23] Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; [24] lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Tidak ada satu tempat pun dimana kita bisa berlari untuk bersembunyi dari Tuhan, karena Ia mengetahui hati kita manusia dimanapun berada, tak satupun terkecuali. Pernyataan Allah di kitab Wahyu ini membuat saya membayangkan suasana ujian. Jika di Mazmur ibarat proses penelusuran, pencarian informasi, di Wahyu ibarat Allah sedang konfirmasi hasil temuan audit dimana kita ditanya-tanya apakah benar, dan kenapa alasannya?
Jika seperti itu faktanya, masihkah kita orang-orang percaya berpikir untuk mendukakan hati Tuhan dengan berbuat dosa? Walaupun semua yang berbuat dosa itu sepertinya jika ditanya akan menjawab bahwa ia tidak berpikir hal itu akan mendukakan Tuhan. Berpikir pun jika pikirannya dikuasai dengan hawa nafsu maka hawa nafsunya yang akan mengambil alih kendali atas tubuhnya, dan kita jatuh dalam dosa.
Akhirnya saya menyadari mengapa kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, itu agar Firman Tuhan menguasai pikiran kita, menguasai hati kita, dan perasaan kita, sehingga tubuh kita pun dalam kuasa dan kendali Tuhan.
Ayat yang menjadi rhema saya ambil dari versi New International Version:
[13] I know where you live—where Satan has his throne. Yet you remain true to my name. You did not renounce your faith in me, not even in the days of Antipas, my faithful witness, who was put to death in your city—where Satan lives. https://bible.com/bible/111/rev.2.13.NIV
Revelation 2:13 NIV
Kalau versi bahasa Indonesia:
[13] Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.
Ada 2 hal yang Tuhan inginkan apabila kita tinggal di daerah yang mayoritasnya bukan pengikut Kristus:
1. Tetap berpegang pada iman akan Tuhan kita Yesus Kristus.
2. Tidak menyangkali iman kita akan Tuhan kita Yesus Kristus.
Dua hal yang intinya satu yaitu tetap setia pada iman kita.
Jemaat di Pergamus rupanya tinggal di daerah dimana iblis bertahta. Saya tidak bisa membayangkan situasi dan kondisi daerah itu seperti apa. Namun yang pasti akan ada begitu banyak godaan, situasi, pemikiran yang akan menarik, menggoyang iman percaya kita akan Kristus.
Bahkan disebutkan bahwa di dalam jemaat juga ada orang-orang yang memiliki aliran dan cara hidup yang salah. Budaya sekitar pasti sedikit banyak berusaha mempengaruhi cara pikir dan cara hidup anak-anak Tuhan.
Sehingga selain bertobat, dan hidup dengan jalan yang benar kita senantiasa memerlukan tuntunan, support yang menjagai kita senantiasa di dalam jalur, tidak melenceng ke kiri atau ke kanan.
Senantiasa berada dalam kumpulan akan menjagai kita dari resiko tertarik keluar. Selain itu kita sendiri pun harus senantiasa mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan yang akan berfungsi sebagai pedang dan tentu saja mempraktikan dalam kehidupan sehari-hari, karena kalau hanya dipelajari tanpa dipraktikkan ibarat pedang tadi hanya kita simpan dalam sarungnya, tidak kita pegang erat-erat dengan kedua tangan kita untuk menangkis setiap serangan iblis. Apalagi jika kita tinggal di teritorial iblis, pedang itu tidak boleh lepas dari tangan kita. Malah seharusnya jika memang kita harus melakukan hal lain atau bekerja juga maka kita bekerja seperti kisah Israel di kitab Nehemia.
[16] Sejak hari itu sebagian dari pada anak buahku melakukan pekerjaan, dan sebagian yang lain memegang tombak, perisai dan panah dan mengenakan baju zirah, sedang para pemimpin berdiri di belakang segenap kaum Yehuda [17] yang membangun di tembok. Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata.
Sebagai minoritas, berjaga-jaga adalah mandatory, alias wajib hukumnya. Jangan sampai pikiran kita tertipu oleh pernyataan dan pemikiran yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Bertahan seperti setetes minyak dalam segelas air, yang tidak menjadi larut.
Berjaga-jaga sendiri suatu keharusan, namun akan lebih kuat jika kita berjaga-jaga bersama-sama dengan saudara-saudara seiman. Dimana kita bisa saling menguatkan bila ada yang lelah, kita bisa saling dukung, saling mengingatkan bila ada yang lengah. Dan semuanya dilakukan dengan penuh kasih.
Saat kita bersama-sama walaupun minor, saya percaya Tuhan menuntun kita dengan tiang awan dan tiang apiNya, menjagai kita siang dan malam, dan juga memelihara hidup kita dengan memberikan “manna” yang baru.
Doa:
Ya Tuhan kami bersyukur untuk pengingat ini ya Tuhan.
Dimanapun kami berada, kami harus senantiasa setia pada iman percaya kami, dan kami harus setia pada FirmanMu.
Jagai kami ya Tuhan setiap saat agar kami jangan sampai tersesat.
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. https://bible.com/bible/306/rev.2.10.TB
Wahyu 2:10 TB
Sungguh indah membaca kalimat pernyataan janji Tuhan yang disampaikan melalui Yohanes untuk jemaat di Smirna.
Bahwa kesetiaan kepada Tuhan yang kita perjuangkan itu hadiahnya sangat besar. Walaupun tidak ada seorang pun yang pernah melihat seperti apa itu mahkota kehidupan. Dan apa yang akan terjadi, apa yang akan kita alami jika kita mendapatkan mahkota itu. Tapi karena Tuhan yang menjanjikan, itu berarti sesuatu yang luar biasa.
Yang pasti mahkota tersebut tidak mungkin kita dapatkan di masa kita hidup karena syaratnya adalah setia sampai mati.
Di bagian awal disampaikan tentang penderitaan, apakah itu berarti kita harus mengalami penderitaan dulu, saat kita setia maka kita akan mendapatkan mahkota kehidupan itu?
Penderitaan yang dimaksudkan bukanlah semata penderitaan mengalami aniaya karena iman percaya kita kepada Tuhan. Namun sesungguhnya dalam hidup selalu ada masa dimana kita merasa susah, ada masa dimana kita secara pribadi merasa menderita, mungkin bagi orang lain itu hal biasa namun bagi satu dua orang mungkin dirasakan berbeda. Apalagi kita sebagai pengikut Kristus, yang memiliki standar tinggi, perjuangan melawan kedagingan kita juga tidaklah ringan.
Oleh karena itu, tetap setia bahkan dalam pergumulan kecil dan tentunya pergumulan besar itu yang akan membawa kita menuju tahta Bapa untuk menerima karunia mahkota kehidupan.
Waktunya kita merenungkan.
Apakah aku setia?
Doa:
Ya Tuhan, kami akui kami seringkali berpaling daripadaMu, kami bahkan berbalik daripadaMu.
Maafkan kami Tuhan jika kami sudah membuatMu sedih, membuatMu terdiam mungkin melihat tingkah polah kami.
Engkau setia kepada kami, tak ada siapa pun yang lebih setia daripada Engkau ya Tuhan.
Dan kami mau lebih ya Tuhan, bukan hanya ucapan well done My son, tapi kami mau juga mendapatkan mahkota kehidupan yang telah Engkau janjikan. Kami mau berjuang sehingga kami layak, pantas, bukan karena semata demi mahkotanya, tapi kami percaya Engkau akan sangat bangga kepada kami.
Terimakasih Tuhan, terimakasih.
Amen
NB: Ada bonusnya lagi :
Wahyu 2:11 TB [11] Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.”
Bebas dari segala penderitaan dari kematian yang kedua!! Yeay!
Jemaat di Efesus adalah salah satu dari 7 jemaat yang disebutkan dalam kitab Wahyu ini.
Yang menjadi ayat rhema kita kali ini adalah:
[5] Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Tuhan sungguh baik, Ia mengingatkan jemaat Efesus untuk bertobat, untuk refleksi betapa dalamnya mereka jatuh ke dalam dosa.
Mereka harus bertobat dan melakukan lagi apa yang awal mulanya mereka lakukan saat mereka mengenal Kristus, saat mereka mengalami cinta pertama kepada Tuhan, kasih mula-mula.
Tuhan tetap meminta kita mengasihiNya dengan berapi-api, walaupun keseharian kita sudah menjalankan perintah Tuhan dengan sabar dan tidak mengenal lelah. Memang kasihlah yang terutama.
Seringkali kasih kita menjadi datar, rasa menggebu-gebu mulai pudar, dan hidup menjadi rutinitas belaka. Dan hal itu dapat menjadi peluang iblis untuk masuk ke dalam pikiran kita. Sehingga Tuhan ingin agar kita selalu menjaga api kasih mula-mula kita agar tetap bernyala-nyala. Masing-masing harus menemukan bahan bakarnya masing-masing, alasan personal yang akan membuatnya senantiasa berkobar setiap hari, setiap waktu.
Lalu bagaimana cara untuk menjaga api kasih mula-mula itu?
1. Berkomunitaslah. Tentunya dalam komunitas rohani yang membangun. Komunitas yang fokusnya transformasi kehidupan. Yang ingin setiap anggotanya selain mengalami peningkatan kualitas hubungan dengan Tuhan, semakin mengasihi Tuhan juga dalam hal mengasihi sesama.
Dalam komunitas ini kita akan bertemu dengan anggota lain, dalam diskusi dan sharing seringkali kita akan melihat dan mendengar bagaimana tuntunan dan penyertaan Tuhan bekerja. Masalah yang kita alami tidak sebesar yang kita pikirkan.
2. Rutin ke Gereja untuk Ibadah. Rutinitas ini sama seperti kita perlu makan dan minum. Kita perlu mendengarkan impartasi dari gembala kita di Gereja. Sehingga saat ke Gereja, datanglah dengan tujuan itu, agar kita mendapatkan insight, sudut pandang, nilai-nilai dari pengajaran yang disampaikan pada saat itu.
3. Saat teduh pribadi. Bagaimana pun juga, membangun hubungan personal dengan Tuhan adalah yang terpenting. Komunitas dan Gereja mendukung menciptakan lingkungan agar kita secara pribadi mengalami kedekatan dengan Tuhan, semakin mengasihi Tuhan.
Doa:
Ya Tuhan, ampuni kami yang sering kali jatuh bangun dalam dosa. Ampuni kami yang saat ini jauh dari padaMu.
Kami mau kembali padaMu ya Tuhan. Berkumpul bersama denganMu.
Tuntun kami Tuhan, untuk bangkit dan melangkah lagi dalam penyertaan dan kasihMu.
Apa yang akan terjadi pada kita kalau kita bertemu muka dengan Tuhan?
Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: ”Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
Wahyu 1:17-18 TB
Yohanes saja yang sudah menjadi murid Tuhan Yesus tersungkur seperti orang mati, bagaimana dengan kita?
Apakah kita juga akan tersungkur di kaki Tuhan, atau malah terlempar? Atau bisa saja kita biasa-biasa saja? Atau kita justru lari ketakutan? Tidak ada yang tahu.
Tapi apapun reaksi yang akan kita alami jika kita punya kesempatan bertemu muka dengan Tuhan pasti sesuatu yang menunjukkan betapa besar kasih kita kepada Tuhan. Betapa kita mengasihiNya.
Betapa kita merindukan momen perjumpaan itu, seperti seorang yang merindukan perjumpaan dengan kekasih hatinya. Yang begitu exciting, begitu menggebu-gebu tidak sabar.
Bukankah anda memiliki kerinduan yang sama untuk bertemu dengan Tuhan?
Kerinduan yang begitu besar ini membuat kita tahan menderita, dan sangat bersyukur dan sukacita bila kita bisa maju setapak demi setapak dalam antrian bertemu Tuhan. Kita sudah dekat, sudah dekat, yeay…!
Dan tentunya saat bertemu denganNya kita ingin memberikan sesuatu yang indah, sesuatu yang berharga, yang membuat Tuhan senang. Seperti kita kalau mau bertemu seseorang yang oenting kalau kita tahu ia suka sesuatu, makanan misalnya kita pasti ingin membawa makanan itu untuknya. Namun sayangnya bukanlah materiil yang Tuhan inginkan. Tuhan hanya menginginkan hati kita, iman kita.
Ayo teman-teman, kita siapkan hati dan kuatkan iman kita, mengantri giliran untuk bertemu Bapa, Our beloved Father.
Doa
Oh Tuhan, Engkau begitu manis.
Betapa aku merindukan Engkau ya Tuhan. Hatiku hancur menungguMu.
Kapankah waktuku Tuhan?
Kapankah aku bisa berjumpa denganMu pada akhirnya?
Ingin kubawa hati yang terbaik untukMu, hatiku yang sungguh mengasihiMu.
Ingin kutunjukkan imanku kepadaMu, iman yang kuat kepadaMu.
Ingin kutunjukkan bekas luka-lukaku, agar Engkau lihat perjuanganku.
Aku tahu Engkau tahu.
Tapi aku ingin, seperti seorang anak yang ingin pamer kepada ayahnya.
Oh Tuhan, kapankah waktuku?
Kapankah giliranku?
Apakah aku benar-benar bisa berjumpa denganMu, Bapa yang kurindu?
Ataukah aku akan hilang lenyap ditelan bumi?
Oh janganlah itu terjadi ya Tuhan.
Jangan biarkan aku hilang lenyap dan kehilangan kesempatanku untuk bertemu denganMu.