Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: #iLoveMyBible

  • 91. Renungan Mazmur 6 – Lingkungan yang menjatuhkan

    91. Renungan Mazmur 6 – Lingkungan yang menjatuhkan

    Kita semua pastinya hidup dalam suatu lingkungan. Kita tidak bisa hidup sendiri, dan bila kita mengaku sebagai murid Kristus, maka sesuai dengan amanat Tuhan Yesus sebelum naik ke surga, kita harus pergi ke bangsa-bangsa untuk memberitakan Firman Tuhan, menjadikan mereka bukan hanya pengikut tapi murid Tuhan.

    Namun ada resiko di saat kita menjadi bagian dari lingkungan, yaitu kejatuhan dalam dosa.

    Pengaruh lingkungan itu begitu besar atas diri kita.

    Sebelum lanjut mari kita baca untuk kita renungkan Mazmur pasal 6.

    Yang menjadi ayat renungan hari ini adalah:

    Psalms 6:8 NIV
    Away from me, all you who do evil, for the Lord has heard my weeping.

    https://bible.com/bible/111/psa.6.8.NIV

    Dalam penyesalannya akan dosa, Daud menyadari bahwa mungkin ia dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak kudus hiduonya yang ada di sekitar dia. Sehingga ia mungkin saja merasionalisasi perbuatannya.

    Saat Daud sadar, ia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya, dan bukan cuma itu saja namun Daud juga mencegah resiko untuk ia jatuh kembali dalam dosa.

    Buat kita, bisakah kita mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi diri kita sehingga jatuh lagi dalam dosa?

    Doa

    Ya Tuhan, berikanku alarm yang bisa membangunkan kesadaranku bukan hanya saat aku jatuh, namun jauh sebelumnya, agar hidupku selalu berkenan di hadapanMu.

    Amen

    Image by mdjaff on Freepik

  • 90. Khotbah Ps. Philip Mantofa – Ketika Tuhan Berkenan : Musa

    90. Khotbah Ps. Philip Mantofa – Ketika Tuhan Berkenan : Musa

    Bilangan 12:1-14

    Musa, Harun, dan Miryam adalah hamba-hamba Tuhan.

    Miryam sangat berjasa bagi kehidupan Musa. Pada era pembunuhan bayi-bayi.

    Dalam dunia Allah, jasa bukan segalanya, perkenanan Tuhan lah segalanya.

    Bagi kita yang menerima jasa, jangan lupa kulit.

    Di ayat pertama, terkesan Harun dan Miryam mempermasalahkan tentang istri Musa, perempuan Kush. Namun di ayat berikutnya Harun dan Miryam mempermasalahkan apakah hanya melalui Musa saja Tuhan berfirman? Padahal Tuhan bilang Musa adalah orang yang paling lembut hatinya.

    Orang yang berkenan di hadapan Tuhan itu tetap ada orang yang tidak suka. Namun pastikan bahwa itu karena ketaatan kita pada Tuhan, bukan karena kelakuan kita yang tidak benar.

    Kalau kita tidak suka dengan atasan, pemimpin rohani di atas kita, pastikan bahwa kita punya alasan yang jelas, bukan karena iri, karena kepahitan, karena tidak suka, dan motivasinya hanyalah dirinya sendiri. Membunuh karakter.

    Jangan suka memperkarakan, apalagi kalau tidak jelas hatimu. Karena kalau tidak apapun yang kau perkarakan akan membuat hatimu semakin salah.

    Belajar untuk otak-atik perkenanan Tuhan di dalam diri kita. Kalau kita tidak jelas, motivasi kita tidak bersih, kita belum memahami hati kita maunya apa, tidak ada poin-poin obyektif yang jelas dan kita tidak bisa menjelaskannya maka lebih baik kita drop dari hati, bertobat, dan minta Tuhan untuk mengangkat perasaan yang slah itu, mintalah kasih, mintalah kerendahan hati.

    Bukan berarti kita selalu lari dari masalah, apa-apa masuk ke hadirat Allah, lupakan, lupakan. Jika sesuatu atau pemimpin kita benar-benar membutuhkan masukan kita (input, feedback, kritikan yang membangun) yang akan berguna dan berarti maka:

    1. Bawa dulu di dalam doa.
    2. Tenangkan hati, jangan panasan, kita ingat Firman.
    3. Susun dalam poin-poin sederhana. Tujuannya untuk mencari solusi, bukan untuk menang-menangan, cari solusi bersama (win-win) yang paling cocok dengan Firman Tuhan.
    4. Setelah selesai disampaikan, masuk kembali ke dalam hadirat Allah lagi, bersihkan hati.
    5. Jangan diungkit-ungkit lagi, detox hati.

    Orang yang sombong itu adalah kekejian bagi Tuhan, tapi orang yang rendah hati dikasihi oleh Tuhan dan ditunjukkan jalanNya.

    Jika kita mau mengejar perkenanan Tuhan, satu jalan: rendah hati.

    Kita bisa salah, tapi saat kita mau diajar, ditegur, didisiplin pasti orang tersebut tidak akan dibuang oleh Tuhan, apalagi dibuang sama orang. Sebaliknya orang yang sukanya membangkang.

    Ada orang-orang yang sudah tidak jelas motivasi hatinya bisa salah paham dengan dirinya sendiri, dia dimusuhi Tuhan, tapi dia pikir dia dibela Tuhan. Juling rohani, ketika orang hatinya sudah jauh dari perkenanan Tuhan, dia sendiri sudah tidak bisa lihat Tuhan dan dia salah mengerti situasi.

    Power syndrome adalah salah satu bentuk kesombongan. Di satu area mungkin kita adalah pemimpin, tapi di area lain bisa jadi kita adalah anak murid, atau junior, atau bawahan. Jangan sampai ada power syndrome.

    Jangan ngaku-ngaku, karena orang yang dikenan Tuhan itu nanti Tuhanlah yang akan mengakui dia. Kesaksian Allah jauh lebih tinggi daripada kesaksian siapa pun (ayat 7). Seperti pada saat Tuhan menyatakan Tuhan Yesus saat dibaptis oleh Yohanes pembabtis.

    Kalau kita ditekan, seringkali kita merasa tidak tahan, dan kita tahu kita benar, jangan minta pembalasan. Tidak usah membenarkan diri, tidak usah banyak bicara, berlutut di hadapan Allah, jangan minta pembalasan karena siapalah kita ini, tapi mintalah penyertaan. Satu hal itu saja cukup.

    Ayat 10, orang yang dikenan Tuhan juga bisa sakit. namun ada perbedaannya. Apabila kita mendapatkan vonis penyakit, namun kita tahu hidup kita juga tahu bahwa kita sudah berusaha untuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, orang tersebut tidak takut, ada pegangan, ada sukacita yang tidak bisa tercuri sekalipun sedih, ada damai sejahtera yang melampaui akal budi, hidup pun berserah penuh, tidak takut mati.

    Tapi kalau kita mengalami sakit, dan di hati kecil kita tahu kita berdosa di hadapan Tuhan, waktu di vonis penyakit tersebut kita tahu itu adalah hukuman Allah.

    Kalau kita di vonis sesuatu, dan kita punya keyakinan bahwa Tuhan di pihak kita, kita akan melihatnya bukan sebagai suatu hukuman namun sebagai batu loncatan untuk  semakin percaya kepada Tuhan, untuk semakin mengasihi Tuhan, untuk semakin sungguh-sungguh di dalam kehidupan akan sangat berbeda perasaannya.

    Musa tidak membalas bahkan tidak mengucapkan satu kata untuk membalas, justru Musa meminta kepada Tuhan untuk menyembuhkan Miryam (ayat 13).

    Tuhan mengabulkan permintaan Musa. Apabila kita masih survive, bisa jadi ada orang yang berkenan di hadapan Tuhan yang berdoa untuk kita. Tapi perkenanan Tuhan berbeda, kepada orang yang dikenan Tuhan, akan dibela.

    Ada 1 prinsip kebenaran, bahwa kita tidak akan bisa masuk ke dalam Kanaan kita sebelum favour, perkenanan Tuhan direstorasi.

    Poin-poin yang menjadi pegangan kita apabila kita hidup berkenan di hadapan Tuhan:

    1. Tuhan akan mengakuinya di hadapan manusia. Mintalah buah.
    2. Tuhan akan membelanya terhadap pengkritiknya. Jadit idak perlu membela diri.
    3. Tuhan akan mendengarkan doanya untuk musuh-musuhnya.

    Tidak ada orang yang hidupnya selalu berkenan, perkenanan Tuhan itu bukanlah copyright, justru kita harus right to copy. Ingatkan kepada diri sendiri.

    Pantangan, jangan melawan orang yang berkenan di hadapan Tuhan.

    Jadilah orang-orang benar yang hidunya berkenan di hadapan Tuhan, yang mendoakan musuh-musuh agar hidupnya diberkati Tuhan.

    Image by freepik

  • 89. Renungan Kitab Mazmur 5 – Begitu Romantis

    89. Renungan Kitab Mazmur 5 – Begitu Romantis

    Dalam hubungan dengan Tuhan seperti Daud, kita juga bisa membangun hubungan yang romantis dengan Tuhan.

    Menyenangkan hati Tuhan bukan hanya dari sudut pandang kita sebagai hamba, namun kita juga adalah anak, kita adalah mempelai Tuhan, kekasih Tuhan sehingga membangun hubungan yang romantis bukanlah sesuatu yang aneh.

    Seperti syair lagu ini:

    Ya Tuhanku aku hendak bernyanyi bagiMu
    Selamaku hidup
    Ya Allahku aku hendak bermazmur bagiMu
    Selagi ku ada
    Inilah yang kurenungkan setiap waktu
    Nyanyian pujian dan pengagungan kepadaMu
    Biarlah manis Kau dengar Tuhan
    Manis Kau dengar Tuhan
    Dan hatiku bersuka karnaMu

    Lirik lagu”Manis Kau dengar” –

    Sebelum merenungkan lebih lanjut mari kita membaca terlebih dahulu Mazmur pasal 5.

    Dan yang menjadi ayat rhema untuk renungan kita hari ini adalah:

    Mazmur 5:4 TB
    Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku,
    pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu,
    dan aku menunggu-nunggu.

    https://bible.com/bible/306/psa.5.4.TB

    Coba kita baca kembali ayat 4 ini dengan perlahan, sambil membayangkan kita menjadi Daud.

    Pagi-pagi Daud mengatur persembahan bagi Tuhan.

    Kemudian Daud bernyanyi, bermazmur memuji Tuhan.

    Dan Daud berkomunikasi dengan Tuhan, mencurahkan segala isi hatinya. Bukan hanya kesusahannya, tapi juga sukacitanya.

    Kalimat terakhir, “dan aku menunggu-nunggu”. Saya membayangkan kita sedang menunggu-nunggu kedatangan kekasih hati yang sangat kita rindukan, kangen untuk bertemu. Ada perasaan bergolak, rasa tidak sabar, sambil membayangkan segala sesuatu yang indah. Mungkin kita menunggu sambil membawa suatu bingkisan kejutan untuknya? Wow, bukankah itu sesuatu yang romantis?

    Saya percaya kalau Tuhan juga ingin membangun hubungan yang romantis dengan kita. Mungkin jauh lebih ingin Tuhan daripada kita manusia, padahal siapa lah kita manusia jika dibandingkan Tuhan.

    Daud pagi-pagi membangun hubungannya terlebih dahulu dengan Tuhan. Seperti tidak sabar untuk ngobrol dengan Tuhan di dalam saat teduhnya. Daud tidak sabar untuk masuk dalam hadirat Tuhan.

    Bagaimana dengan kita?

    Apakah kita melihat Tuhan sebagai pribadi yang kita kasihi, kita kangenin? Apakah pernah ada perasaan rindu untuk bertemu dengan Tuhan setiap hari?

    Bisakah kita membangun hubungan yang lebih romantis dengan Tuhan?

    Hubungan yang mesra seperti hubungan Daud dengan Tuhan.

    Maukah anda mengupayakannya?

    Untuk Tuhan yang sudah all out buat anda?

    Doa

    Hai Tuhan,

    Tuhan, terimakasih Engkau sudah baik banget denganku, jauh sebelum aku mengenal Engkau.

    Terimakasih sudah mencintaiku begitu besar.

    Aku mau Tuhan untuk mencintaiMu lebih lagi dari saat ini, lebih dan lebih lagi.

    Biarlah segala sesuatu yang aku lakukan bersumber dari rasa cintaku kepadaMu. Karena aku ingin membawa semuanya itu menjadi persembahan yang harum di hadapanMu.

    Amin

    Image by freepik

  • 87. Renungan Mazmur 3 – Faithfull Selftalk (A Prayer)

    87. Renungan Mazmur 3 – Faithfull Selftalk (A Prayer)

    Shalom,

    Selftalk mempengaruhi keputusan-keputusan penting dalam hidup kita.

    Mari kita membaca dan akan merenungkan kitab Mazmur pasal 3.

    Yang menjadi ayat rhema yang akan kita renungkan hari ini adalah:

    Mazmur 3:2-4 TB

    [2] Ya Tuhan, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; [3] banyak orang yang berkata tentang aku: ”Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.”

    Sela

    [4] Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.

    https://bible.com/bible/306/psa.3.2-4.TB

    Setiap kita, kita semua memiliki masalah dalam hidup, baik masalah diri sendiri, keluarga, di komunitas, ataupun di tempat kerja dan aktivitas. Ada waktu-waktu dimana masalah itu begitu berat dalam hidup kita sehingga membuat diri kita merasa tertekan di dalam hati.

    Dan biasanya akan timbul percakapan-percakapan di dalam hati kita, di dalam kepala kita. Percakapan saat dalam pikiran kita ada muncul satu kalimat pernyataan atau pertanyaan dan ada yang meresponi. Itulah yang kita sebut selftalk.

    Selftalk sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan setiap orang. Dan keputusan yang diambil apabila ada unsur perasaan bagi kita orang percaya kita sebut sebagai respon hati.

    Daud mengajarkan kepada kita apa yang harus kita pikirkan di dalam renungan hari ini terutama di saat-saat mengalami tekanan hidup.

    Pikirkanlah Tuhan!

    Tuhan mengetahui setiap pikiran kita.

    Lukas 5:22 TB
    [22] Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?

    https://bible.com/bible/306/luk.5.22.TB

    Jika kita ingin mengalami tuntunan Tuhan, maka memikirkan apa yang berkenan bagi Tuhan itu yang menjadi kunci, seperti Tuhan Yesus pernah berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33 TB).”

    Paulus juga mengingatkan kita

    Filipi 4:8 TB
    [8] Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

    https://bible.com/bible/306/php.4.8.TB

    Tidak mudah memang, namun bisa dilatih jika ada keinginan yang kuat. Agar terbentuk faithfull selftalk. Percakapan yang ada fi dalam hati kita, selalu dikuasai, dipengaruhi oleh firman Tuhan. Cara pandang kita alias POV sesuai dengan firman Tuhan sehingga respon yang keluar, seharusnya juga sesuai dengan firman Tuhan.

    Sekali lagi mari kita ingat selalu, apabila kita mengalami tekanan hidup, ingat-ingatlah Tuhan, perkataan Tuhan dalam firman Tuhan. Maka damai sejahtera, penghiburan, dan semangat yang baru akan diberikan Tuhan di dalam hati kita.

    Amen

    Doa

    Ya Tuhan,

    Pikiran kami masih seringkali kacau, kotor, dan juga kusut. Bantu kami ya Tuhan agar pikiran kami bersih dan lurus sejalan dengan setiap firmanMu ya Tuhan.

    Kami mau hidup kami di dalam kendaliMu, kami mau hidup kami tenang karena Engkau yang pegang kendali, Engkau Tuhan Allah kami, sumber kekuatan kami.

    Dalam nama Tuhan Yesus.

    Amen.

    Nb: jika anda merasa diberkati, bagikanlah kepada relasi anda.

    Image by freepik

  • 86. Renungan Mazmur 2 – Bukan hanya raja yang diurapi TUHAN

    86. Renungan Mazmur 2 – Bukan hanya raja yang diurapi TUHAN

    Manusia selalu ingin mendapatkan kepastian, memiliki garansi apalagi jika dihadapkan pada situasi yang menantang, yang penuh pergolakan.

    Mazmur 2, versi bahasa Indonesia berjudul Raja yang diurapi Tuhan.

    Namun pasal ini tidak hanya berbicara tentang seorang raja, pasal ini berbicara tentang siapa pun, tentang janji Tuhan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.

    Mari kita membaca terlebih dahulu Mazmur pasal 2.

    Ayat yang menjadi rhema renungan hari ini adalah sebagai berikut:

    Mazmur 2:6-12 TB
    [6] ”Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!”

    [7]  Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: ”Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.

    [8] Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
    [9]  Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.”

    [10] Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!

    [11] Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, [12] supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.

    Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!

    https://bible.com/bible/306/psa.2.6-12.TB

    Tuhan adalah Bapa kita, guru kita, mentor kita, coach kehidupan kita. Seringkali dalam banyak kondisi dan situasi kita tidak tahu harus bagaimana, maka pertama-tama carilah Tuhan dulu, sebelum mencari pertolongan dan bantuan dari orang lain.

    Pasal ini bicara bukan hanya tentang raja yang dilantik seperti kisah pada waktu itu, namun berbicara tentang kita, tentang posisi kita saat ini, bahwa Tuhan menempatkan kita dengan tujuan.

    Dan Tuhan tidak membiarkan kita begitu saja, Tuhan mempersilahkan kita meminta kepadaNya maka hal-hal yang di luar ekspektasi kita akan diberikan Tuhan kepada kita.

    Mintalah kepada Tuhan.

    Tuhan juga ingin kita menjadi pribadi yang bijaksana, memiliki kerendahan hati, dan senantiasa belajar, baik belajar melalui Firman Tuhan maupun belajar hal-hal teknis sesuai dunia pekerjaan kita.

    Dan yang paling penting adalah kita menjalin hubungan intim dengan Tuhan. Beribadah dengan rasa kerinduan, takut ketinggalan, takut terlewat, takut kehilangan tuntunan dan penyertaan Tuhan. Milikilah rasa itu.

    Agar kita bahagia berada dalam perlindungan dan penyertaan Tuhan.

    Pasal ini begitu detil berbicara tentang segala sesuatu yang harus kita lakukan.

    Kita semua adalah anak kesayangan Tuhan, “Anak-Ku engkau!”. Kata Tuhan tadi di ayat ke-7.

    Make Him proud, make Him proud that He trust you to win the battle of life.

    Doa

    Ya Tuhan,

    Terimakasih untuk FirmanMu hari ini. Biarlah rhema ini tertanam dan bertumbuh di dalam hati kami, di pikiran sadar dan bawah sadar kami.

    Dan FirmanMu ini akan menjadi tuntunan hidup kami dalam segala situasi kehidupan yang kami hadapi sejak kami membuka mata sampai kami menutupnya kembali. Selalu seperti itu.

    Terimakasih Bapa, terimakasih Coach 😊. I love You

    Image by freepik

  • 85. Renungan Kejadian 6 – Who am I?

    85. Renungan Kejadian 6 – Who am I?

    Genesis 6:9 NIV
    [9] This is the account of Noah and his family. Noah was a righteous man, blameless among the people of his time, and he walked faithfully with God.

    https://bible.com/bible/111/gen.6.9.NIV

    Itulah Nuh.

    Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

    Deskripsi Nuh di dalam Firman Tuhan.

    Saya membayangkan Kitab Kehidupan itu seperti Alkitab, dikatakan bahwa orang-orang benar namanya akan dicatat dalam kitab kehidupan. Dan untuk membedakan saya dengan orang lain yang namanya sama, maka mungkin saja dituliskan deskripsi tentang siapakah saya.

    Pertanyaannya sekarang adalah siapakah saya?

    Jika diri kita sendiri diberi kesempatan untuk menuliskan satu kalimat tentang siapakah diri kita, seperti apakah kita?

    Coba masing-masing membayangkan terlebih dahulu.

    Deskripsi siapakah diri kita itu merupakan gambar diri.

    Dan pada saat Tuhan menciptakan kita, maka Tuhan pun telah menentukan gambar diri kita.

    Namun dalam keseharian, apakah hidup kita sudah sesuai dengan gambar diri yang direncanakan Tuhan? Ataukah sudah jauh melenceng?

    Jika hati kita merasa bahwa kita masih jauh, maka waktunya bagi kita untuk mulai membangun hubungan lebih erat dengan Tuhan. Karena dari situ lah kita akan bisa memahami gambar diri yang direncanakan Tuhan atas pribadi kita. Dari situ lah kita pun akan mulai menjalani hidup kita sesuai dengan gambar diri kita yang direncanakan Tuhan.

    Amen

    Image by freepik

  • 83. Renungan Matius 14 – Mengejar Mimpi

    83. Renungan Matius 14 – Mengejar Mimpi

    Mayoritas orang memiliki mimpi yang ingin diraih, atau setidaknya punya keinginan yang ingin digapai, namun tidak semua orang mau melangkah keluar dari zona amannya, ataupun jika mau mudah terdistraksi sehingga takut sendiri.

    Mari kita baca Firman Tuhan dari Matius 14 tentang Yesus berjalan di atas air

    Yang menjadi ayat emas kita hari ini adalah:

    ‘Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: ”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” ‘
    Matius 14:28-30

    https://www.bible.com/id/bible/306/MAT.14.28-30

    Ya, kita mudah sekali terkagum dengan suatu mukzizat, atau suatu hal yang luar biasa yang kita lihat. Dan kita juga ingin untuk mengalami atau mendapatkannya. Ini adalah hal yang sangat manusiawi, karena dengan adanya dorongan itu yang akan membuat manusia maju, membuat manusia survive, namun juga dapat membuat manusia jatuh terpuruk.

    Petrus di tengah ketakutan dan ketidakpercayaannya, saat badai menerpa kapal mereka, para rasul melihat seseorang yang berjalan di atas air. Petrus juga ingin mengalami bisa berjalan di atas air untuk membuktikan bahwa itu Tuhan.

    Dan Tuhan tidak melarang, justru Tuhan merestui Petrus untuk melangkah keluar dari kapal bahkan Tuhan memberikan petunjuk.

    Namun sayangnya, fokus Petrus terdistraksi, sehingga di awal ia sudah bisa berjalan beberapa langkah, karena terdistraksi ia menjadi takut sehingga akhirnya mulai tenggelam.

    Kisah ini menggambarkan diri kita sendiri, disaat diri kita menggebu-gebu untuk mengejar sesuatu kemudian mulai dimunculkan di hadapan kita situasi badai yang bergelora, suara angin dan ombak yang menderu, hembusan angin kencang dan hujan di wajah kita yang akhirnya membuat fokus kita beralih kepada masalah yang ada di sekitar kita.

    Hari ini kita diberikan tips oleh Firman Tuhan:

    1. Tuhan tidak membatasi mimpi kita, jika kita punya mimpi dan itu sejalan dengan rencana Tuhan, pasti Tuhan akan merestui, tinggal kembali kepada kita untuk keluar dari zona aman kita. Melangkah keluar dari perahu kita.
    2. Jika kita memiliki tujuan yang ingin kita capai, maka fokuslah pada tujuan tersebut. Bagi Petrus yang ingin melangkah di air seperti Tuhan Yesus, Petrus diminta Tuhan untuk fokus kepadaNya.
    3. Akan ada situasi yang tidak menyenangkan, yang akan menakutkan, namun tetaplah fokus agar kita bisa terus melangkah menuju/ mencapai tujuan tersebut. Perjalanan menggapai tujuan/ mimpi melalui zona yang sepertinya membahayakan, namun kita harus tetap fokus agar bisa terus melangkah. Karena yang membuat kita berhenti melangkah adalah diri kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti melangkah, dan putar balik masuk kembali ke zona aman kita.
    4. Selama tujuan tersebut sejalan dengan rencana Tuhan, maka tangan Tuhan senantiasa siap menolong, tidak akan kita sampai mati tenggelam, nyaris tenggelam mungkin agar kita kembali bergantung kepada Tuhan, kembali fokus kepada tujuan kita. Petrus memang nyaris tenggelam, namun tangan Tuhan langusng menangkap tangannya, perlindungan Tuhan senantiasa ada bagi anak-anakNya.

    Doa

    Ya Tuhan, bantu kami menemukan tujuan hidup kami yang sesungguhnya. Bantu kami melangkah setahap demi setahap agar kami bisa menjadi seperti yang Engkau inginkan.

    Bantu kami agar pandangan kami, mata, telinga, dan seluruh indera kami fokus kepada tujuan yang Engkau tetapkan bagi kami.

    Terimakasih Tuhan Yesus,

    Amin.

    Image by freepik

  • 82. Renungan Wahyu 20 – Waiting List

    82. Renungan Wahyu 20 – Waiting List

    Pernahkah kita masuk dalam waiting list?

    Mau pergi ke suatu tempat yang kita inginkan, yang ramai sekali peminatnya sehingga kita masuk dalam waiting list, daftar tunggu.

    Atau mau beli sesuatu yang lagi trend, handphone atau laptop, karena banyak peminatnya sehingga masuk dalam waiting list.

    Begitulah saya membayangkan tentang kitab kehidupan yang disebutkan dalam kitab Wahyu ini, mungkin lebih mirip seperti guests list.

    Mari dibaca dahulu Wahyu 20.

    Dan ayat yang menjadi bahan renungan kita adalah:

    Wahyu 20:15 TB
    [15] Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

    https://bible.com/bible/306/rev.20.15.TB

    Ada satu kitab, yang mungkin berisikan nama-nama jiwa-jiwa yang akan masuk ke dalam sorga. Kitab itu adalah kitab kehidupan.

    Dan pada akhir nanti, di waktu penghakiman, jika nama kita tidak masuk dalam kitab tersebut maka kita akan masuk ke dalam lautan api.

    Apakah nama saya dan anda ada di dalam kitab itu?

    Kapankah kira-kira nama kita akan ditulis di situ?

    Apakah saat kita baik, hidup benar nama kita akan ditulis dalam kitab kehidupan itu?

    Kemudian saat kita jatuh dalam dosa, nama kita dihapus dari kitab itu? Dan kalau bertobat lagi, hidup benar lagi baru ditulis lagi?

    Nah kalau kita hidupnya dosa-tobat-dosa-tobat, pasti yang menulis kesal ya, repot…

    Saya juga tidak tahu bagaimana dan kapan, namun yang pasti kalau mau kehidupan setelah kematian kita enak, maka kita harus hidup benar di masa sekarang ini. Di kehidupan yang sekarang ini.

    Pilihannya hanya 2, ketenangan dan sukacita sepanjang masa atau kesakitan dan penderitaan sepanjang masa. Mau pilih yang mana?

    Lebih baik siapkan diri ya, supaya kita bisa ada namanya di kitab kehidupan. Jangan sampai terlambat. Jangan sampai sudah terlalu tua, dan sakit-sakitan baru berpikir mau berusaha, pasti terlambat lah ya.

    Yuk, selagi masih ada tenaga, pikiran masih relatif terang, yuk kita usahakan hidup benar setiap waktu.

    Doa

    Ya Tuhan, nama saya jangan dihapus dari kitab kehidupan ya.

    Saya mau usaha untuk hidup benar untuk kehidupan saya berikutnya.

    Amen.

    Image by wavebreakmedia_micro on Freepik

    Nb. Semoga memberkati. Jika anda ingin mendapatkan renungan-renungan di email anda, anda bisa klik tombol langganan.

  • 81. Renungan Yesaya 41 – Jika engkau cemas

    81. Renungan Yesaya 41 – Jika engkau cemas

    Jika engkau cemas, bacalah Firman Tuhan ini dengan bersuara untuk dirimu:

    Yesaya 41:9-13 TB
    [9] engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ”Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; [10] janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. [11] Sesungguhnya, semua orang yang bangkit amarahnya terhadap engkau akan mendapat malu dan kena noda; orang-orang yang membantah engkau akan seperti tidak ada dan akan binasa; [12] engkau akan mencari orang-orang yang berkelahi dengan engkau, tetapi tidak akan menemui mereka; orang-orang yang berperang melawan engkau akan seperti tidak ada dan hampa. [13] Sebab Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ”Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”

    https://bible.com/bible/306/isa.41.9-13.TB

    Bacalah sekali lagi sambil membayangkan bahwa Tuhan sendirilah yang berbicara kepadamu.

    Bacalah lagi sampai jiwamu percaya.

    Amen

    Image by wayhomestudio on Freepik

  • 80. Renungan Yesaya 6 – Yesaya dipanggil Allah

    80. Renungan Yesaya 6 – Yesaya dipanggil Allah

    Pernahkah anda mengalami pengalaman supranatural dengan Tuhan?

    Peristiwa yang membuat anda menyadari dan mengakui betapa besarnya Tuhan? Betapa tidak berartinya diri kita tanpa Tuhan?

    Mari kita membaca Yesaya 6 untuk merenungkan pengalaman Yesaya mendapat panggilan ALlah.

    Yang menjadi ayat rhema kita hari ini adalah jawaban Yesaya kepada Tuhan.

    ‘Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata:
    ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”
    Maka sahutku: ”Ini aku, utuslah aku!” ‘
    Yesaya 6:8

    https://www.bible.com/bible/306/ISA.6.8

    Tidak semua orang memang pernah mengalami pengalaman supranatural seperti yang dialami oleh Yesaya. Namun saya percaya bahwa setiap orang dipanggil oleh Tuhan, hanya apakah dia tahu atau mengenali itu panggilan dari Allah? Dan bagi siapapun yang pernah mengalami pengalaman spiritual seperti itu, Tuhan punya tugas khusus kepada dirinya, janganlah melarikan diri dari panggilan Allah.

    Janganlah melarikan diri dari panggilan Allah, karena Allah akan memperlengkapi kita. Yesaya pada saat itu mengalami penglihatan, belum mendapatkan panggilan Allah langsung teringat akan dosa-dosanya, teringat akan kenajisannya. Dan malaikat Tuhan menyentuhkan bara dari mezbah ke bibir Yesaya sambil berkata bahwa kesalahannya telah dihapus dan dosanya telah diampuni. Pada saat itu seketika pemulihan terjadi di dalam diri Yesaya, walaupun tidak tersebut, namun terpancar dari reaksi Yesaya pada saat Tuhan berkata.

    Saat Tuhan berkata, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” . Spontan Yesaya langsung menjawab tanpa berpikir panjang, “Ini aku, utuslah aku!”.

    Jika seandainya pertanyaan itu ditanyakan kepada kita saat ini, seperti apa respon kita? Apakah kita akan bertanya dulu, “ehmm, Tuhan mau utus saya kemana? Situasinya disana bagaimana ya Tuhan? Apakah jauh? Bagaimana dengan pekerjaan saya, karir saya, bisnis saya?”. Dan berbagai macam pertanyaan lain yang kita tanyakan.

    Mari kita belajar dari Yesaya, hanya 2 hal saja:

    1. Menyadari dan mengakui situasi dan kondisi kita.

    Kita manusia punya keterbatasan, termasuk kesalahan dan dosa. Dan pasti Tuhan tahu semua itu. Namun Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, karena tidak ada, tapi Tuhan mencari siapa saja yang mau bekerja untuk Tuhan, siapa saja yang terpanggil.

    Dan kalau kita lihat pengalaman Yesaya, Tuhan memulihkan dahulu diri Yesaya, perasaan najis, perasaan tidak pantas, mental blocking terbesar sebelum Tuhan menyatakan panggilanNya. Disini bukan Tuhan panggil, Yesaya menjawab ya, baru kemudian Tuhan pulihkan.

    Jadi sesungguhnya saat kita mengalami panggilan Allah, itu berarti kita sedang dipulihkan walaupun mungkin belum 100% karena mungkin saat kita meresponi panggilan Allah dan mengerjakannya maka kita akan pulih 100%.

    2. Meresponi panggilan Allah dengan menjawab “ya”.

    Bagi orang yang telah mengalami hubungan dengan Tuhan seharusnya akan meresponi panggilan Allah itu dan berkata “Ya”.

    Saya tidak bisa membayangkan jika Yesaya berkata tidak, atau Yesaya diam-diam saja apa yang akan terjadi. Tapi kita bisa lihat pengalaman Yunus yang menghindari panggilan Allah. Dari Yunus saya belajar bahwa Tuhan begitu mengasihi Yunus dan bangsa Niniwe, peristiwa yang dialami Yunus bukanlah suatu hukuman atau pelajaran tapi suatu tuntunan yang akan berguna bagi Yunus. Bisa jadi memang Yunus belum siap pada saat itu, namun pengalaman yang dialaminya membuat ia semakin siap mentalnya untuk menghadapi bangsa Niniwe. Mungkin itu memang harus terjadi dan dialami agar Yunus selamat dari bangsa Niniwe.

    Apakah hari ini anda merasa dipanggil Allah untuk melakukan sesuatu? Untuk membaca Alkitab mungkin, untuk pergi ke Gereja mungkin, untuk mengampuni, untuk dibaptis, atau untuk melayani di Gereja? Lakukanlah dua hal di atas, terbukalah kepada Tuhan agar Ia yang memberikan pengertian, dan jangan tunggu sampai benar-benar mengerti, responi panggilan tersebut walaupun berat mungkin rasanya karena rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, dan waktu Tuhan adalah yang terbaik, semua akan indah pada waktunya.

    Amin