Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: #iLoveMyBible

  • 79. Renungan Kejadian 41 – Firasat dari Tuhan

    79. Renungan Kejadian 41 – Firasat dari Tuhan

    Tidak semua orang bisa memaknai firasat yang dirasakannya. Bagaimana jika firasat itu berasal dari Tuhan?

    Mari kita belajar dari Firaun di era Yusuf di Kejadian 41.

    Firaun mendapatkan mimpi 2x di malam yang sama, mimpi yang membuat hatinya gelisah.

    Mengapa Firaun gelisah? Apakah ia tidak pernah bermimpi sebelumnya, dan ini adalah pengalaman pertamanya? Seharusnya tidak?

    Apakah mimpi ini seram, sehingga ia sampai masih kuatir saat terbangun? Sepertinya mimpi-mimpi buruk sering kita alami dan biasanya lewat begitu saja.

    Mengapa Firaun begitu gelisah? Menurut saya, karena mimpi ini dari Tuhan yang mengandung pesan dan rencana Tuhan tentunya bobotnya berat, dan ini bukan hanya sekedar bunga tidur.

    Jadi kita perlu lebih perhatian di saat hati kita merasa gelisah, kalau dalam hal Firaun di saat ia habis mendapat mimpi, namun buat kita ada hal-hal lain yang kita alami sebelumnya dan membuat hati kita gelisah.

    Lalu apa yang dilakukan Firaun pada saat itu? Karena ia merasa kegelisahannya setelah penglihatannya dalam mimpi, dan juga ia punya kuasa maka ia memanggil para ahli di seluruh Mesir untuk mengartikan mimpinya, dan semua gagal.

    Tapi sepertinya bukan tidak ada satu pun yang bisa, karena pasti ada yang sudah mencoba mengartikan namun interpretasi mereka tidak pas, tidak sesuai, dan tidak menghilangkan kegelisahan dalam hati Firaun.

    Sampai kemudian Yusuf datang dan mengartikan mimpi Firaun. Selain mengartikan mimpi, Yusuf juga memberikan saran untuk menindaklanjuti. Dan semua itu dipandang baik oleh semua orang termasuk Firaun.

    Hal 1 di saat hati kita gelisah adalah datang kepada Tuhan karena bisa jadi itu adalah sebuah firasat dari Tuhan.

    Karena Firaun tidak kenal Tuhan, maka Yusuf yang datang juga bersaksi bahwa Tuhan lah yang bekerja.

    Jangan salah, karena kalau salah kegelisahan tidak hilang malah kita akan makin terjerumus ke dalam dosa, akan semakin susah hidup kita.

    Perasaan gelisah itu, atau firasat mungkin bukan hanya merupakan petunjuk tapi bisa juga teguran dari Tuhan. Seperti Daud pada saat ia jatuh melakukan dosa kepda Betsyeba.

    Hal yang ke-2 di saat hati kita gelisah, dan sudah datang mencari Tuhan maka berikutnya adalah mendengarkan dengan seksama apa yang diminta atau diarahkan oleh Tuhan. Ya, mendengarkan dengan seksama, bukan hanya mendengar apa yang mau kita dengar. Mendengar dengan ekspektasi mendapatkan jawaban atau petunjuk dengan hati yang terbuka.

    Dan hal yang ke-3 adalah melakukan apa yang sudah diarahkan kepada kita.

    Bayangkan jika firaun tidak melakukan apa yang disarankan Yusuf pasti kerajaannya akan hancur berantakan.

    Tuhan rindu untuk bisa menuntun hidup kita ke arah yang benar. Namun seringkali kita yang mengabaikan tuntunanNya. Bahkan walaupun sudah diberikan banyak pertanda kita mengabaikannya, kita tidak mau lihat, kita tidak mau dengar, dan kita tidak mau melakukannya.

    Jika saat ini anda merasa gelisah, maka mungkin anda harus mencari Tuhan lebih lagi. Mungkin tidak cukup hanya dari rumah, tapi harus melangkahkan kaki, ambil resiko.

    Sama seperti Firaun, menyerahkan kuasa atas Mesir kepada seorang budak Ibrani yang baru ia temui satu kali. Firaun mengambil langkah yang sangat beresiko pada waktu itu, dan pasti banyak juga yang tidak sepakat dengan keputusan yang ia ambil, tapi kita bisa lihat bahwa timbul iman pengharapan bahkan dari seseorang yang tidak kenal Tuhan.

    Mari kita cari petunjuk Tuhan, dan lakukan walaupun sepertinya tidak berakibat langsung terhadap situasi yang sedang kita hadapi.

    Biarlah lega hati kita pada akhirnya, dan bersyukur atas tumtunan Tuhan atas hidup kita.

    Amen

    Image by wayhomestudio on Freepik

    NB: Anda bisa berlangganan jika ke depan ingin mendapatkan sharing tentang Firman Tuhan.

  • A song : I want to hear Your voice all the time, o Lord.

    A song : I want to hear Your voice all the time, o Lord.

    Aku ingin mendengar suaraMu ya Tuhan, setiap waktu.

    Seringkali ada waktu-waktu hatiku susah, hatiku tertekan berat, nafasku menjadi pendek. Ada banyak yang bilang aku perlu healing. Ya, mungkin ada benarnya kata pikiranku, tapi healing yang bagaimana? Apakah harus jalan-jalan, liburan, pergi untuk mencari hiburan?

    Tidak, karena aku tahu itu hanyalah sementara. Segala healing yang itu hanyalah pelarian. Tapi suaraMu ya Tuhan adalah yang memulihkanku, yang menyembuhkan dan menenangkan hatiku, meredakan pikiranku, menurunkan detak jantungku, dan ketegangan di leherku. Membuatku bisa bernafas panjang lagi.

    Mendengar suaraMu saja membuatku kuat kembali.

    Mendengar suaraMu saja cukup untuk aku terus melangkah dan tidak berhenti.

    Aku masih mau bekerja untukMu, walau umurku tak panjang lagi.

    Pakai aku terus ya Tuhan sampai detik akhir nafasku. Biarlah telingaku terus condong kepadaMu. Let me hear Your gentle whisper. Let me hear You next to me, or around me.

    Ya, I want to Your voice to the seconds before I passed away.

    Amen

    Lagu : Seperti Rusa Rindu Sungai

    Image by evening_tao on Freepik

  • 78. Renungan Mazmur 3 – Iman Daud

    78. Renungan Mazmur 3 – Iman Daud

    Mazmur pasal 3 adalah Mazmur Daud saat ia lari dari Absalom anaknya. Di edisi bahasa Indonesia – terjemahan baru diberi judul Nyanyian pagi menghadapi musuh.

    Di awal ekspektasi saya pasal 3 ini akan panjang, namun ternyata hanya 9 ayat, menarik.

    Mari kita baca terlebih dahulu Mazmur 3.

    Yang menjadi ayat rhema kita hari ini adalah:

    ‭Mazmur 3:5-6 TB‬
    [5] Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.

    Sela

    [6] Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku!

    https://bible.com/bible/306/psa.3.5-6.TB

    Saat membaca dan merenungkan pasal ini ada satu kata yang menjadi rhema bagi kita yaitu iman.

    Kenapa iman?

    Ditengah situasi yang tidak nyaman, tidak mengenakkan, bahkan mungkin mengesalkan, bisa dirasakan ada ketenangan di dalam hatinya.

    Dikejar mau dibunuh oleh anak kandungnya sendiri pasti sangat berat rasanya. Stressnya pasti besar sekali. Dikhianati oleh anaknya sendiri.

    Agak berbeda pada saat Daud di masa pelarian dari Saul.

    Daud tetap bergantung pada Tuhan, memohon pertolonganNya, namun kali ini Daud juga lebih tenang.

    Jika hidup kita senantiasa bergantung pada Tuhan dan mengandalkan Tuhan maka ketenangan hati akan selalu ada. Mungkin tidak 100%, namun yang pasti kita akan selalu punya harapan bahwa Tuhan akan membukakan jalan bagi hidup kita.

    Doa

    Terimakasih Tuhan untuk segala yang tlah Kau lakukan untuk aku dan keluargaku selama ini.

    Seringkali kami memang tidak paham terutama bila kesusahan terjadi, namun kami tetap percaya bahwa semua akan baik pada waktunya.

    Terimakasih Tuhan.

    Amen.

    Nb. Jika anda merasa terinspirasi dan ingin mendapatkan update, anda bisa klik tombol berlangganan.

    Image by Racool_studio on Freepik

  • 75. Renungan Kitab Wahyu – Barangsiapa Menang

    75. Renungan Kitab Wahyu – Barangsiapa Menang

    Membaca kitab Wahyu pikiran kita dibawa berimajinasi terutama tentang suasana dan segala figur yang coba digambarkan oleh Yohanes pada waktu itu.

    Kitab Wahyu jelas berisi petunjuk, arahan, dan tuntunan apa yang harus kita lakukan dan yang seharusnya tidak kita lakukan karena segala sesuatu ada efeknya baik untuk kita pribadi maupun untuk orang lain.

    Dari surat-surat yang dituliskan kepada jemaat-jemaat atau gereja-gereja pada waktu itu ada satu benang merah yang sangat menarik dari surat tersebut, yaitu barang siapa menang.

    Siapa yang ingin menang dalam hidup ini?

    Walaupun surat tersebut bukan ditujukan kepada kita, namun kita percaya surat-surat tersebut juga relevan bagi kita di masa kini, termasuk apabila kita mengikuti arahan Allah di surat-surat tersebut maka ada hadiah yang dijanjikan Allah.

    Berikut hadiah atau rewards yang dijanjikan Tuhan pada kita:

    1. Makan dari pohon kehidupan.

    Dikatakan pada surat kepada jemaat di Efesus.

    ‭Wahyu 2:7 TB‬
    [7]  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” 

    https://bible.com/bible/306/rev.2.7.TB

    2. Tidak menderita di kematian kedua.

    Ditulis pada surat kepada jemaat di Smirna.

    ‭Wahyu 2:11 TB‬
    [11]  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” 

    https://bible.com/bible/306/rev.2.11.TB

    3. Diberi manna dan nama baru.

    Ditulis pada surat kepada jemaat di Pergamus.

    ‭Wahyu 2:17 TB‬
    [17] Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.”

    https://bible.com/bible/306/rev.2.17.TB

    4. Kuasa atas bangsa-bangsa

    Ditulis pada surat kepada jemaat Tiatira:

    ‭Wahyu 2:26-28 TB‬
    [26]  Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; [27] dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk – sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku – [28] dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.

    https://bible.com/bible/306/rev.2.26-28.TB

    5. Mendapatkan pengakuan di hadapan Bapa dan para malaikat.

    Dituliskan pada surat kepada jemaat di Sardis.

    ‭Wahyu 3:5 TB‬
    [5]  Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.

    https://bible.com/bible/306/rev.3.5.TB

    6. Dijadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah.

    Dituliskan dalam surat kepada jemaat di Filadelfia

    ‭Wahyu 3:12 TB‬
    [12]  Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.

    https://bible.com/bible/306/rev.3.12.TB

    7. Duduk bersama dengan Allah Bapa di atas takhta Tuhan di surga.

    Dituliskan di surat kepada jemaat Laodikia

    ‭Wahyu 3:21-22 TB‬
    [21] Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. [22] Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

    https://bible.com/bible/306/rev.3.21-22.TB

    Ada rewards yang Tuhan sediakan bagi kita.

    Mungkin ada yang berpikir, ahhh… memangnya rewards itu worth it?

    Memang sulit membayangkannya karena hanya Allah sendiri dan para malaikat yang tahu apakah hadiah-hadiah yang dijanjikan Tuhan itu benar-benar sesuatu yang sangat berharga.

    Perlu iman untuk percaya.

    Dan perlu iman dan terutama kasih kepada Bapa di surga untuk mengikuti / mengerjakan setiap petunjuk yang dituliskan dalam setiap Firman Tuhan.

    Karena hadiah-hadiah ini memang bukan hanya sekedar untuk bagi siapa yang menang, namun hadiah ini untuk seseorang yang lebih dari pemenang.

    Doa

    Terimakasih Tuhan.

    Aku ingin sekali ya Tuhan untuk mendapatkan hadiah-hadiah yang Engkau janjikan itu.

    Bantu aku ya Tuhan. Tolong aku agar bisa memenangkan pertandingan iman ini.

    Amin.

    Nb:

    Jika anda mendapatkan sesuatu hal yang menginspirasi, boleh berlangganan untuk dapat notifikasi jika ada sharing yang baru.

    Bagikan kepada rekan anda yang memerlukan.

    Image by kues on Freepik

  • 77. Renungan Mazmur 2 – Kita semua diurapi

    77. Renungan Mazmur 2 – Kita semua diurapi

    Benarkah kita diurapi Tuhan?

    Jika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, putra Allah yang maha tinggi maka kita adalah orang yang diurapi Tuhan.

    Renungan kita hari ini dari Mazmur pasal ke-2.

    Yuk, kita baca dulu keseluruhannya. Klik disini.

    Yang menjadi ayat rhema hari ini adalah:

    ‭[7] Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: ”Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
    [8] Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.

    https://bible.com/bible/306/psa.2.7-8.TB

    Mazmur 2:7-8 TB‬

    Apakah anda melihat judul dari Mazmur 2 versi terjemahan baru ini?

    “Raja yang diurapi Tuhan.”

    The annointed King. Pada saat melihat judul ini yang terbersit di pikiran saya, coba ganti kata “raja” dengan kata “orang”.

    “Orang yang diurapi Tuhan”

    Alias

    “The annointed person”

    Bagi setiap orang percaya pastinya ingin diurapi Tuhan. Siapa yang ingin dan siapa yang ingin sekali nih?

    Apa yang dituliskan oleh pemazmur  kali ini menurut saya bukan hanya ditujukan bagi Raja Daud, mungkin menurut saya ya. Namun berlaku juga buat kita.

    Tinggal apakah kita mau menggunakannya atau tidak?

    Saya diingatkan tentang perumpamaan talenta, berkembang pemahaman saya tentang kisah tersebut menunjukkan kalau semua yang dipanggil oleh Tuhan setidaknya menerima minimal 1 talenta. Maka begitulah kita yang dipanggil menjadi anak-anak Tuhan, minimal kita punya 1 talenta. Dan jika kita merasa bhwa kita tidak punya talenta satu pun, izinkan saya mengingatkan bahwa kita punya akses langsung untuk berbicara kepada Tuhan? Bukankah itu juga merupakan suatu karunia yang berasal dari suatu urapan?

    Mintalah, maka akan Ku berikan. Itulah yang dikatakan pemazmur. Dan itu pula yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.

    Seringkali kita takut meminta, kita malu, kita merasa rendah diri, padahal Tuhan tidak berpikir seperti itu. Lihatlah di ayat rhema hari ini, bagi Raja yang diurapi bangsa-bangsa akan diberikan bahkan sampai ke ujung bumi.

    Dan yang seringkali kita salah paham adalah pada saat kita meminta, kita ingin hasilnya cepat. Jika kita meminta untuk mencapai sesuatu, mendapatkan sesuatu maka tetap perlu ada usaha yang kita lakukan untuk menuju ke sana. Jadi pertanyaan, “kalau tetap harus berusaha, lalu apa gunanya berdoa? apa gunanya meminta kepada Tuhan? Toh, kita juga tetap harus kerja keras”.

    Ya, memang kita tetap harus kerja keras, namun hati kita akan lebih siap apa pun yang akan kita hadapi dalam menjalani setiap prosesnya. Ada saatnya upaya kita tidak berjalan seperti yang kita perkirakan, dan saat itu terjadi jangan kecewa sama Tuhan, jangan marah, apalagi mundur dari Tuhan.

    Lihat Abraham, yang harus mengupayakan tanah yang relatif tidak sebaik yang dipilih oleh Lot. Yusuf yang harus menjalani dijual, jadi budak, dipenjara, sebelum akhirnya menjadi orang kepercayaan Firaun. Musa dan bangsa Israel yang harus melewati padang gurun. Daud yang harus bertempur, perang bahkan mau dibunuh oleh raja sendiri. Mereka semua kerja keras fisik dan mental dan tetap setia dalam imannya.

    Yuk, mari kita doa meminta apa yang menjadi kerinduan kita yang paling dalam kepada Tuhan. Dan percayalah pada saat kita meminta dalam doa, Tuhan sudah mengaminkan terlebih dahulu sebelum kita mengucapkan amin. Asalkan semua yang kita minta sesuai dengan kehendak Tuhan.

    Doa:

    Ya Tuhan, kami itu antara sungkan, malu, takut, tidak tahu harus minta apa atau tidak tahu harus berdoa bagaimana, atau kami terlalu sepele dengan doa bahwa kami masih bisa kok memikirkannya sendiri, mengerjakan dan mengupayakannya sendiri.

    Ubah mindset kami ya Tuhan, cara berpikir kami, dan terutama hati kami bahwa kami rindu Tuhan untuk turut campur dalam setiap rencana dan prosesnya. Kami ingin Tuhan review dahulu rencana kami.

    Dalam nama Tuhan Yesus.

    Amin

    Image by freepik

  • 76. Renungan Mazmur 1 – Berjalan, Berdiri, dan Duduk.

    76. Renungan Mazmur 1 – Berjalan, Berdiri, dan Duduk.

    Bagaimanakah kita berjalan?

    Dimanakah kita berdiri? Dan

    Dimanakah kita duduk?

    Ketiga pertanyaan di atas perlu kita renungkan agar kita jangan sampai salah posisi yang berujung pada kebinasaan.

    Mari kita baca dan renungkan kitab Mazmur pasal 1.

    Yang menjadi ayat rhema kita hari ini adalah:

    Mazmur 1:1 TB‬
    [1] Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
    yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan
    yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

    https://bible.com/bible/306/psa.1.1.TB

    Pada saat membaca dan merenungkan Mazmur ini, baru saya sadari bahwa ayat 1 ini merupakan suatu petunjuk. Petunjuk tentang posisi.

    Bagaimana kita berjalan, dimanakah kita berdiri, dan dimanakah kita duduk, sangat oenting sekali agar kita jangan sampai jatuh dalam kebinasaan.

    Kita harus memiliki kesadaran akan hal ini karena kesadaran itu akan menentukan bagaimana kita berjalan dan dimana kita berdiri dan duduk.

    Bagaimana kita berjalan.

    Dikatakan agar kita tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. Berjalan menurut… itu berarti bagaimana kita menentukan pilihan dalam hal apapun juga haruslah mengacu kepada firman Tuhan. Pada saat menimbang-nimbang, firman Tuhan lah yang kita jadikan referensi mana yang harus saya ambil, apa yang harus saya lakukan, bagaimana saya harus bersikap. Firman Tuhan haruslah menjadi referensi utama saat kita menjalani hidup ini.

    Dimana kita berdiri.

    Yang dimaksud disini adalah dimanakah jalan yang kita ambil. Dikatakan hendaknya kita tidak berdiri di jalan orang berdosa. Itu berarti cara hidup kita, jalan hidup yang kita ambil seharusnya adalah jalan kebenaran, cara hidup yang benar. Dalam Tuhan itu hanya ada dua pilihan, dosa atau kudus. Maka kita harus tentukan dijalan mana kita harus berdiri, sehingga petunjuk-petunjuk dan rambu-rambu di jalan kebenaranlah yang seharusnya kita ikuti. Kalau kita berdiri di jalan orang berdosa maka setiap petunjuk dan rambu akan mengarahkan kita pada kebinasaan.

    Dimana kita duduk.

    Dikatakan hendaknya kita tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Itu berarti bahwa kita harus memilih dimana dan apa yang kita lakukan saat kita beristirahat, bersantai apakah kita berkumpul bersama-sama dengan orang-orang yang suka mencemooh. Dan biasanya orang yang seperti ini bukanlah orang yang hidupnya benar.

    Kalau dalam kondisi sekarang, dimana media sosial sudah menguasai kehidupan, maka apa yang kita tonton, apa yang kita dengar di waktu senggang kita, konten-kontennya itulah posisi kita duduk. Jika kita seringkali menonton konten yang berkonotasi negatif maka cepat atau lambat posisi kita berdiri akan bergeser, begitu pula jalan, petunjuk dan rambu yang kita lihat akan seperti yang kita konsumsi di waktu senggang kita.

    Hendaklah di waktu senggang kita merenungkan firman Tuhan, berkumpul dalam perkumpulan orang benar.

    Tuhan rindu kita bertumbuh berkembang, dan berbuah. Untuk itu kita harus dengan sadar menentukan posisi kita. Dimanakah kita harus duduk, dimanakah kita harus berdiri, dan bagaimanakah kita berjalan dalam keseharian kita.

    Doa

    Ya Tuhan, terimakasih atas firman-Mu pada pagi hari ini. Kami belajar suatu hal yang baru tentang posisi.

    Ajari kami lagi ya Tuhan, dan tuntun kami dalam mengaplikasikan dalam kehidupan kami sehari-hari agar hidup kami senantiasa berkenan di hadapanMu.

    Dalam nama Tuhan Yesus.

    Amen.

    Jika anda mendapatkan sesuatu dari sharing ini anda boleh berlangganan untuk mendapatkan info bila ada sharing yang baru.

    Silahkan di-share buat rekan atau saudara anda.

    Image by freepik

  • 74. Renungan Kitab Wahyu 21 – The End Game

    Pada akhirnya nanti akan ada kemuliaan bagi setiap orang yang menang hidupnya. Yang sampai akhir menjaga kekudusan.

    Mari kita membaca Kitab Wahyu pasal 21 dan 22.

    Ayat rhema hari ini adalah:


    [1] Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
    [11] Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.
    https://bible.com/bible/306/rev.21.1-11.TB

    Wahyu 21:1, 11 TB‬

    Ada kemenangan besar yang akan diberikan Tuhan kepada anak-anakNya yang setia sampai akhir.

    Gambaran langit baru, bumi baru, Yerusalem baru dimana para pemenang akan tinggal adalah sesuatu yang sangat ideal, yang jauh dari yang bisa kita bayangkan. Namun apa pun itu bentuknya, yang terpenting adalah kita sudah berkumpul kembali bersama-sama dengan Allah, berkumpul kembali seperti pada mulanya saat Adam dan Hawa diciptakan. Bersama-sama dengan Tuhan adalah hadiah terbesar yang paling tak ternilai.

    Seandainya pun jika harus gambarannya seperti taman atau padang rumput, atau di pinggir pantai, si atas gunung, di lembah asalkan bersama-sama Tuhan sudah jauh lebih dari cukup, bahkan timbul perasaan tidak layak karena siapakah aku ini, manusia yang berlumur dosa, yang penakut, yang bodoh tapi Tuhan mau mengangkat aku.

    Pikirkanlah semuanya itu, dan reverse enginering, bagaimanakah kita harus hidup agar kita sampai pada goals yang kita inginkan, goals untuk berkumpul kembali bersama-sama dengan Tuhan.

    Doa

    Ya Tuhan, kasihMu begitu luar biasa, tak ada kata-kata dari mulutku yang bisa menggambarkannya.

    Aku mau memuji namaMu, aku mau bersuka karenaMu, Bapa yang baik dan mulia.

    Tanamkanlah dalam hatiku kesukaan akan Engkau ya Tuhan, setiap waktu. Izinkanlah kami obsesi akan Engkau ya Tuhan agar namaMu lah yang kami pikirkan sejak kami membuka mata dan menutup mata kami.

    Terimakasih oh Tuhan

    Terimakasih.

    Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

  • 72. Renungan 2 Petrus 2 – Lebih Parah

    72. Renungan 2 Petrus 2 – Lebih Parah

    Dalam beberapa tulisan di Perjanjian Baru, ada disampaikan tentang orang yang kembali ke kehidupan lamanya setelah ia mengenal Kristus.

    Di Surat 2 Petrus pasal ke-2 bahkan diibaratkan seperti anjing yang kembali ke muntahannya.

    Mari kita baca 2 Petrus 2, klik di sini

    Yang menjadi ayat rhema renungan kita hari ini adalah:


    [21] Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.

    https://bible.com/bible/306/2pe.2.21.TB

    2 Petrus 2:21 TB‬

    Saya setuju bahwa seseorang yang sudah baik, sudah bertobat bisa kembali ke kehidupan lamanya, bahkan bisa lebih parah dari yang sebelumnya.

    Namun saya bertanya-tanya, apakah memang lebih baik orang tidak bertobat sejak semula karena kalau ia kembali ke kehidupan lamanya ia akan justru jadi lebih buruk dari sebelumnya.

    Bahaya kalau ayat ini dimaknai seperti itu, bahaya kalau sampainada yang berpikir untuk tidak perlu repot-repot memberitakan Firman Tuhan. Buat apa, toh nanti ujung-ujungnya berbalik dari Tuhan, dan lebih parab.

    Tidak, justru tetaplah menceritakan kebaikan Tuhan, Firman Tuhan agar semakin banyak orang kembali kepada Tuhan, mungkin memang ada yang kembali ke gaya lamanya, tapi pasti ada yang tetap setia.

    Mendekatlah pada komunitas rohani, pergaulan yang benar akan menjagai kita untuk senantiasa hidup benar.

    Doa:

    Ya Tuhan, tolong kami untuk senantiasa hidup benar di hadapanMu. Jagai kami ya Tuhan, berikan kami alasan yang kuat kenapa kami harus tetap setia.

    Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.

    Image by master1305 on Freepik

  • 71. Renungan Kitab Wahyu 10 – Yang Manis namun Pahit

    71. Renungan Kitab Wahyu 10 – Yang Manis namun Pahit

    Ada teka-teki di dalam Kitab Wahyu 10 ini: “Apakah yang manis di dalam mulut, manisnya seperti madu, namun pahit di perut?”

    Pada saat membaca pasal ini, terutama di bagian ini sudah sempat terpikir jawabannya.

    Sebelum kita menggali jawabannya, mari kita baca dulu pasal ini agar kita bisa memahami konteks besarnya, dan saya yakin anda akan menemukan jawabannya sendiri. Kitab Wahyu 10.

    Yang menjadi ayat rhema kita hari ini adalah ayat 9 dan 10:

    ‘Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: ”Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu.” ‘

    https://www.bible.com/id/bible/306/REV.10.9-10

    Wahyu 10:9-10

    Apakah anda sudah mengetahui jawabannya?

    Pada saat merenungkan ayat ini saya menelusur ke belakang, apa yang Yohanes makan? Yohanes makan gulungan kitab yang dibawa oleh malaikat yang kuat yang satu kakinya di lautan dan satu kakinya di bumi.

    Saya membayangkan bagaimana situasinya pada saat itu. Yohanes pasti awalnya bingung karena harus makan gulungan kitab, namun karena rasanya manis seperti madu, mungkin saja Yohanes menghabiskan seluruhnya seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

    Baru beberapa saat kemudian, setelah Yohanes menghabiskan gulungan kitab tersebut ia merasakan sensasi pahit di dalam perutnya.

    Kitab, karena kitab ini dibawa oleh malaikat Allah, maka yang pasti ini bukan kitab yang isinya berasal dari malaikat itu sendiri. Pasti isinya merupakan perkataan Tuhan, merupakan Firman Tuhan.

    Sehingga menurut saya jawaban dari teka-teki ini adalah “Perkataan Tuhan atau Firman Tuhan”. Yeay… apakah sama jawabannya?

    Namun jawaban ini menimbulkan pertanyaan baru mengapa Firman Tuhan menyebabkan perut terasa pahit? Tidak bagus dong berarti.

    Kembali saya merenungkan, dan saat saya merenungkan saya terbayang obat sirup. Ya obat sirup yang biasanya manis rasanya di mulut karena memang ditambahkan pemanis, karena jika tidak ditambahkan pemanis bisa jadi rasanya sangat pahit di mulut. Yang ada kita malah menolak untuk minum obat itu, karena tidak tahan dengan rasanya di mulut. Padahal obat tersebut mungkin merupakan solusi dari penyakit yang kita alami.

    Mengapa orang banyak mengikuti Yesus? Karena dalam banyak situasi, perkataan Tuhan itu membuka mata, memberikan insight, menenangkan jiwa, membangkitkan semangat. Naman dalam banyak hal juga berat untuk dilakukan, membuat kita takut, membuat tidak nyaman, yang harus kita pegang hanya satu, bahwa itu baik bagi jiwa kita.

    Sudahkah anda makan “kitab” hari ini?

    Terlepas apapun after-taste yang kita alami, tidak ada apa-apa, asam, pahit, teruslah makan Firman Tuhan. Firman Tuhan itu seperti vitamin bagi jiwa kita, seperti immune-booster yang akan membangun antibodi di saat kuman, virus akan menyerang.

    DI saat kita lemah, mungkin kita “sakit”, kita jatuh dalam dosa, kita kehilangan rasa percaya, atau kita kecewa, kesal dengan Tuhan, ayo kita tetap makan “kitab” yang kita miliki, justru mungkin dosisnya perlu ditingkatkan untuk melawan virus-virus roh jahat yang mengotori hati dan pikiran kita.

    Yuk, baca yuk…

    Boleh subscribe blog ini, agar anda mendapatkan email reminder, renungan, dan tentunya link ke aplikasi Alkitab agar walaupun kecil dosisnya anda tetap makan.

    Doa

    Ya Tuhan, buat kami lapar dan haus akan perkataanMu setiap waktu ya Tuhan.

    Amin

    Image by master1305 on Freepik

  • 70. Renungan Kitab Wahyu 7 – Bersyukur atas kesusahan hidup.

    70. Renungan Kitab Wahyu 7 – Bersyukur atas kesusahan hidup.

    Hidup kita pasti tidak luput dari berbagai kesusahan, entah itu merupakan kesusahan yang disebabkan oleh orang lain, atau bencana alam, atau bisa juga karena disebabkan oleh diri kita sendiri.

    Saya ingin berkata berbahagialah, namun sepertinya lebih tepat bersyukurlah.

    Mari kita baca Kitab Wahyu pasal yang ke-7 sebagai renungan kita hari ini.

    Dari pasal 7 ini ada dua ayat rhema, yaitu ayat 9 dan ayat 14 untuk kita renungkan:

    ‘Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
    Maka kataku kepadanya: ”Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: ”Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. ‘

    https://www.bible.com/id/bible/306/REV.7.9,14

    Wahyu 7:9,14

    Dibagian awal pasal 7 diceritakan bahwa malaikat memberikan stempel kepada 144.000 bangsa Israel, mereka adalah yang aman yang sudah dimeteraikan Tuhan untuk menerima janji Tuhan.

    Awalnya saya sempat pesimis, yah,,, berarti kita yang bukan keturunan Israel tipis kemungkinannya ya?

    Namun di ayat 9 ini Tuhan menunjukkan bahwa ada kumpulan besar orang yang tidak terhitung banyaknya yang berkumpul memuja Tuhan dengan mengenakan jubah putih.

    Yang lebih membuat saya terharu adalah ternyata mereka adalah orang-orang yang menang dalam Kristus, mereka adalah orang-orang yang tetap setia dan keluar dari kesusahan mereka. Entah mereka keluar dari kesusahan mereka di kala mereka masih hidup atau mereka keluar di kala ajal mereka menjemput.

    Setia sampai akhir seharusnya judul renungan kita hari ini.

    Itulah mengapa Tuhan Yesus mengatakan berbahagialah bagi mereka yang mengalami kesusahan. Karena Tuhan akan memberikan kemenangan di saat kita berhasil melaluinya.

    Tiba-tiba saya merenungkan dalam hati, apakah aku ingin menjadi salah satu dari mereka? Apakah ada keinginan dalam hatiku untuk menjadi salah satu dari kerumunan orang banyak yang berjubah putih itu? Walaupun mungkin aku berdiri di ujung yang terjauh.

    Atau jangan-jangan tidak ada perasaan apa-apa?

    Kerumunan orang-orang yang berjubah putih itu mereka adalah orang-orang yang selamat, mereka adalah para survivor, mereka adalah conqueror, bahkan mungkin lebih dari pemenang.

    Di pasal-pasal sebelumnya, Tuhan menjanjikan begitu banyak rewards, hadiah bagi para pemenang. Dan hadiahnya luar biasa tak ternilai.

    Tidakkah sebagai orang percaya kita ingin bertemu dengan Bapa, pulang kembali ke rumah Bapa? Seberapa ingin kita bertemu dengan Bapa di sorga? Seberapa kangennya kita?

    Renungan hari ini menjadi pengingat untuk kita membangun kerinduan, perasaan kasih mesra dengan Bapa. Pikirkan dan alami Tuhan, betapa Ia mengasihi kita? betapa Ia melindungi dan menjagai hidup kita, seringkali tanpa kita sadari, apalagi syukuri ya.

    Tuhan mengasihimu, sungguh mengasihimu.

    Doa

    Ya Tuhan, aku mau mencintaiMu lebih lagi. Beritahu aku bagaimana caranya ya Tuhan.

    Amen.

    Image by vector_corp on Freepik