Tidak tanggung, Tuhan memperlengkapi kita yang melayani umatNya, melayani jiwa-jiwa dengan sumber daya yang kita butuhkan. Walaupun di awal kita melihatnya sebelah mata, karena kecil atau sedikit, seperti tidak berarti. Hanya lima potong roti dan dua potong ikan, sementara ada ribuan orang yang harus disediakan makanan. Itu setara satu stadion.
Bagi yang punya kebutuhan memang terlihat kecil atau sedikit, tidak akan cukup, namun bagi yang memiliki sumber daya itu, mungkin iti sesuatu yang besar, bahkan miliknya satu-satunya. Dan Tuhan melakukan multiplikasi sumberdaya yang dimiliki sehingga cukup, bahkan lebih sisanya. Lebih dari cukup bahkan bisa dibilang melimpah.
Orang-orang yang makan roti dan ikan mungkin hanya makan sampai kenyang, atau mungkin membawa beberapa potong untuk bekal pulang, tapi para murid bisa dibilang masing-masing dari.mereka membawa hampir satu bakul. Bukankah itu melimpah? Itupun asalnya bukan roti dan ikan mereka.
Kalau begitu apakah ikut Tuhan hidup kita bakal dipenuhi kelimpahan? Nah kalau ini salah fokus namanya, dari satu peristiwa langsung di generalisasi. Bukan kelimpahan, tapi pemeliharaan, bahkan disaat kita melayani jiwa-jiwa yang membutuhkan bantuan Tuhan mengirimkan sumberdaya, yang mungkin seperti tak berarti awalnya, namun saat Tuhan memberkati ternyata yang kecil itu menjadi berlipat-lipat ganda.
Aplikasi
Kerjakan apa yang Tuhan minta, walaupun kelihatannya aneh sekali, dan tidak mungkin.
Dari seluruh isi pasal ini Tuhan Yesus mengingatkan sampai 3x bahwa hidup kita itu, terutama sebagai orang percaya bukan yang baik-baik saja. Ada begitu banyak situasi yang akan mempengaruhi pertumbuhan benih Firman Tuhan dalam hati kita.
Ada faktor luar, dan ada faktor dari dalam.
Faktor luar adalah situasi lingkungan pergaulan di sekitar kita yang membuat Firman Tuhan yang sudah ditanam itu akhirnya gagal tumbuh. Pengaruh dari orang-orang sekitar, pengaruh dari tontonan, dan seberapa sering kita mendengarkan Firman Tuhan, dan sebagainya.
Faktor dalam adalah kondisi hati dan tentunya iman kita. Jika kita senantiasa terbuka akan tuntunan Tuhan serta kita benar-benar rindu untuk mengenal Tuhan, dan kita benar-benar mengasihi Tuhan sehingga ingin merubah diri kita itu ibarat tanah yang gembur yang akan membuat Firman Tuhan tumbuh dengan subur.
Aplikasi
Yuk, dengan sengaja kita baca Alkitab kita lagi, coba renungkan apa maksud Tuhan dengan FirmanNya itu. Kita minta tuntunan Roh Kudus agar memberi kita pengertian, memberi kita hikmat agar kita bisa mengerti apa maunya Tuhan.
Yuk, doa. Tuhan rindu sekali ngobrol dengan kita loh, Dia ingin sekali dengar cerita-cerita kita, dengar curahan hati kita, baik lagi sedih, lagi senang, atau lagi susah. Kita anggap Tuhan itu sebagai Tuhan dan sahabat dalam hidup kita. Bestie…
Yuk, aplikasikan. Kalau tidak kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, itu ibarat kita “omdo” alias omong doang. Ibarat cinta Tuhan bertepuk sebelah tangan. Kita tidak serius mengasihi Tuhan. Ayo kita aplikasikan, karena pada saat kita mengaplikasikan, hidup kita akan mengalami terobosan demi terobosan.
Rhema dan renungan saat teduh pribadi – Matius 12 tentang Kembalinya Roh Jahat.
Ayat Rhema
Matius 12:43-44 TB [43] ”Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. [44] Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.
Tempat yang tandus. Tandus itu kering, tidak ada air, tidak ada pepohonan, dan seperti tidak tampak kehidupan.
Tempat yang kosong. Ya, walaupun rapi, bersih, dan teratus, selama itu kosong disitulah roh jahat akan ada.
Tandus dan kosong itu bukan tempat fisik seperti rumah, ruangan, melainkan hati dan pikiran manusia.
Rapi dan bersih tidak menjamin roh jahat tidak datang, akan sama dengan yang berantakan dan kotor, roh jahat akan datang mengobrak-abrik yang sudah rapi dan bersih tadi.
Kekosongan, kering atau tandus itu harus diisi dengan kehidupan, dan satu-satunya sumber hidup hanyalah Tuhan karena di luar Tuhan itu adalah kematian walaupun orang tersebut hidup sesungguhnya ia mati jiwanya.
Banyak orang yang kosong, kering, atau tandus jiwanya. Bahkan yang rajin datang ke gereja sekalipun. Banyak jiwa-jiwa yang sesungguhnya haus dan lapar namun mereka tidak sadar sampai jiwa mereka mati.
Pertama-tama ayo penuhi hati dan pikiran kita dengan Firman Tuhan.
Mendengarkan lagu-lagu pujian rohani, mendengarkan khotbah, mendengarkan suara sendiri saat membaca Firman Tuhan. Telinga fisik dan telinga hati kita jadikan saluran masuk, akses masuk Firman Tuhan ke dalam hati dan pikiran kita.
Yang kedua, kurangi akses masuk roh jahat, kalau perlu tutup sekalian. Roh jahat bisa masuk dari sensori kita, termasuk dari telinga. Batasi mendengarkan hal-hal yang berpotensi mengotori jiwa dan pikiran; bergosip, mendengar atau nonton acara gosip. Menonton siaran-siaran di TV, di media sosial yang tidak membangun iman kita, tidak berdasarkan Firman Tuhan.
Dan yang ketiga, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, termasuk menghapalkan atau mengulang-ulang ayat di Firman Tuhan. Itu seperti mengisi bahkan menggemakan, memenuhi Suara Tuhan di dalam hati pikiran kita.
Jagalah hati kita dengan segala kewaspadaan. Waspada akan pengaruh/ masuknya roh jahat dalam pikiran kita.
Yang terakhir, bicarakan/ sampaikan Firman Tuhan di berbagai kesempatan. Termasuk nilai kristiani. Buat jiwa-jiwa yang tandus, kering, atau kosong. Biarlah perkataan kita bisa sedikit banyak mengisi hati dan pikiran mereka. Gunakan forum yang kita bisa akses (rapat, pertemuan di perkumpulan), gunakan media sosial yang kita miliki.
Kepada anak-anak kita, dengan sengaja kita sebagai orang tua harus sampaikan nilai-nilai berdasarkan Firman Tuhan, jangan biarkan teman-teman, pergaulan, dan tontonan mereka yang paling dominan. Ajak ngobrol, ajak diskusi, atau sekedar memberitahu. Aneh mungkin rasanya awal-awal, tapi ingatlah satu hal bahwa kita sedang memberi mereka bekal kehidupan terbaik, yaitu Firman Tuhan.
Harapan dan Doa
Tuhan, ajari kami ya Tuhan bagaimana caranya mengisi hati dan pikiran kami dengan Engkau, dengan perkataanMu.
Engkau yang paling paham pendekatan/ metode untuk masuk ke dalam hati dan pikiran kami yang paling tepat, paling efektif dan paling efisien. Beritahu kami kode rahasia yang kami pahami saat Engkau mengetuk pintu hati kami, agar kami dengan segera membukanya.
Dan ajari kami agar kami punya keberanian untuk menyampaikan FirmanMu kepada orang terdekat kami, kepada pasangan kami, dan terutama kepada anak-anak kami.
Renungan dan rhema dari saat teduh pribadi – Matius 11 tentang Yesus dan Yohanes Pembaptis.
Ayat Rhema
Matius 11:16-17 TB [16] Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: [17] Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.
Itulah kita manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Seringkali kita semau-maunya sendiri. Berpikir sendiri, analisa sendiri, memutuskan sendiri yang justru tidak sejalan dengan rencana dan kehendak Tuhan.
Benar kita seperti yang disampaikan di Firman Tuhan di atas. Tuhan dengan caraNya sudah berusaha agar manusia senantiasa hidup benar, namun manusia memang semau-maunya sendiri. Tidak mau diatur.
Banyak alasan yang dibuat untuk tidak melakukan perintah Tuhan, bahkan untuk mendekat pada Tuhan juga tidak (baca Alkitab, doa, ibadah ke Gereja) tapi bilang cinta Tuhan, tapi mengaku sebagai anak Tuhan.
Saya jadi teringat satu ayat, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati – Yakobus 2:26. Apakah itu sama dengan orang tersebut juga orang mati? ( baca renungan : Apakah saya orang mati?)
Saya membayangkan Tuhan pasti bingung ya. Bingung dan jengkel mungkin tepatnya.
Aplikasi
Ayolah, come on…
Jangan terlalu banyak alasan, apalagi untuk melakukan apa yang sudah jelas-jelas Tuhan minta, baik langsung di hati kita maupun melalui orang-orang di sekitar kita (khotbah di Gereja, pemimpin rohani, teman rohani, pasangan).
Semoga nafas kita masih ada saat kita sadar nantinya.
Dan masih punya waktu, saat sadar bahwa belum melakukan apa-apa bagi Tuhan.
Harapan
Semoga nama kita masih ada ya dalam kitab kehidupan.
Semoga Tuhan tidak menolak kita, karena tidak mengenal kita yang tidak jelas maunya apa.
Rhema dari saat Teduh Pribadi – Matius 10 tentang Yesus memanggil kedua belas muridNya.
Ayat Rhema
Matius 10:1 TB [1] Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.
Bukan hanya kepada murid-muridNya pada saat itu, namun Tuhan Yesus juga memberi kuasa kepada kita juga di saat ini. Percayakah anda?
Harus percaya!
Karena pada saat kita mengambil komitment percaya kepada Tuhan Yesus, di saat itu pula kita menyatakan diri pula bahwa kita adalah anak Tuhan, dan bahwa kita juga merupakan murid Tuhan.
Dan Tuhan mengutus mereka dalam sebuah proyek, atau tugas singkat.
Pada saat para murid diutus, mereka juga diberikan kemampuan dan otoritas. Yang menariknya pada saat itu mereka belum pernah melakukannya sama sekali. Dan itu bukanlah suatu tugas biasa, namun merupakan mukzizat.
Apakah kita berani?
Aplikasi
Tidak setiap orang berani mengambil keputusan saat dipanggil atau diutus oleh Tuhan.
Tolong ambillah tugas itu, kesempatan itu.
Karena itu akan bekerja ke dua arah, bagi orang-orang yang kita layani dan juga tentunya bagus dan baik bagi kita.
Be strong and courages kata Tuhan.
Harapan dan Doa
Semoga kita semua memantapkan hati untuk mengerjakan Amanat dari Tuhan. Mengerjakan Amanat Agung.
Dan biarlah setiap usaha yang kita lakukan senantiasa dalam tuntunan Roh Kudus agar berkenan di hati Tuhan.
Rhema dari Saat Teduh pribadi – Matius 9 tentang Orang Lumpuh Disembuhkan.
Ayat Rhema
Matius 9:2 TB [2] Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ”Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”
Kita semua perlu iman agar bisa mengalami terobosan sekecil apapun di kehidupan kita. Apalagi untuk bisa mengalami terobosan yang besar, tentunya iman kita pun harus cukup besar. Namun yang terjadi seringkali sebaliknya, kita kehilangan keyakinan kita, kehilangan iman kita saat melihat tantangan di depan.
Pasal 9 ini adalah pasal tentang iman yang menghasilkan mukzizat. Dan bukan hanya tentang iman sendiri namun juga iman dari orang-orang sekitar. Iman yang berujung pada kesembuhan dan kebangkitan orang mati suatu hal yang di luar nalar manusia bahkan sampai dengan saat ini sehingga disebut mukzizat, miracle alias keajaiban.
Rhema dari Saat Teduh Pribadi – Matius 8 tentang Hal Mengikuti Yesus.
Ayat Rhema
Matius 8:1 TB [1] Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. [21] Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: ”Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” [22] Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Mencoba membayangkan ekspresi murid Tuhan itu pada saat itu, dan membayangkan bagaimana perasaannya saat Tuhan menyampaikan hal itu. Saat membaca ini sekilas pasti kita berpikir kalau Tuhan itu tidak punya perasaan, seperti justru tidak punya kasih ya? Apakah benar Tuhan Yesus yang lemah lembut seperti itu?
Tapi yang Roh Kudus letakkan di hati saya berbeda, Tuhan Yesus tidak begitu kok. Tuhan Yesus menyampaikan hal tersebut dalam rangka memberikan pengajaran kepada para muridNya.
Apa yang dimaksud dengan kalimat orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka?
Siapa orang-orang mati itu? Saat merenungkan ini, saya terpikir tentang Kitab Kehidupan. Apakah orang-orang mati ini adalah orang-orang yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan? Apakah itu berarti orang-orang yang mengikuti Tuhan itu akan tertulis namanya dalam Kitab Kehidupan, dan disebut orang yang hidup?
Mungkin itulah pengajaran yang mau disampaikan Tuhan Yesus kepada para muridNya.
Bayangan saya, Tuhan pasti mengizinkan muridNya itu pulang dahulu, dan kemudian menyusul mereka kembali setelah selesai penguburan. Atau bisa saja terjadi seperti yang kita bayangkan, bahwa Tuhan Yesus tidak mengizinkan muridNya untuk pulang dulu. Bisa saja, namun itu pasti karena Tuhan punya rencana atau tahu sesuatu yang murid itu tidak ketahui. Sepertinya kejam tak berperasaan, sama seperti waktu murid-muridNya memberitahu kalau Lazarus sakit keras dan hampir meninggal. Tuhan Yesus pun bertahan untuk tidak pergi, pasti harapan muridNya Yesus akan pergi untuk menyembuhkan Lazarus, tapi Yesus bertahan ternyata untuk menunjukkan mukzizat berikutnya.
Aplikasi
Ayo kita refleksi, kira-kira nama kita apakah sudah ada di dalam daftar di Kitab Kehidupan?
Kalau belum, jangan cari calo ya, karena yang ada agen-agen untuk kitab yang satunya.
Ayolah. Kalau belum tahu harus bagaimana supaya masuk dalam list, ayo kembali ke Gereja, memang tidak ada Gereja yang sempurna, pandanglah Yesus, justru dalam ketidaksempurnaan Gereja itu, bersama dengan Yesus justru kita akan mengalami kasih Tuhan, dan masuk list tentunya harapannya kan ya.
Harapan dan Doa
Tuhan, saya ini masuk kategori orang mati atau orang hidup?
Beritahu saya ya Tuhan, supaya selagi masih ada kesempatan, saya mau kerjakan tugas-tugas saya yang selama ini tidak pernah saya kerjakan atau saya tunda-tunda.
Saat membaca pasal ini, Matius 4 terutama kisah tentang Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Ini seperti momen khusus untuk melihat kemampuan Tuhan Yesus, seperti ujian apakah Tuhan Yesus akan berhasil?
Ada 1 kata yang menarik perhatian saya, “lalu datanglah si pencoba”. Si pencoba julukan yang diberikan kepada iblis yang akan mencobai Tuhan Yesus.
Saya penasaran dengan julukan ini, sehingga saya cek ke versi New International Version (NIV) disitu menggunakan kata the tempter. Tuhan Yesus dibawa ke wilderness to be tempted. Terjemahan ke bahasa adalah untuk digoda oleh si penggoda.
Saya percaya bahwa si penggoda tidak hanya mencoba menggoda Tuhan Yesus kali ini saja. Pasti ada banyak kesempatan sejak Tuhan Yesus lahir sampai peristiwa ini dikisahkan.
Akhirnya laparlah Yesus, and later He was hungry. And the tempter came, lalu datanglah si pencoba itu.
Momen ini menjadi rhema bagi saya, bahwa si penggoda akan datang saat kita memiliki kebutuhan atau keinginan yang saya konotasikan dengan keinginan/ kebutuhan daging yang manusiawi. Maka si penggoda akan datang untuk memberikan pilihan, atau opsi.
Selama puasanya, Tuhan mungkin mengerjakan banyak hal, saya membayangkan tentunya yang bersifat spiritual, rohani, dan pada satu titik setelah 40 hari Tuhan merasa lapar. Mungkin sebelumnya juga sudah muncul sedikit-sedikit rasa lapar itu, namun yang kali ini adalah lapar yang sesungguhnya. Dan si penggoda mulai menghampiri Tuhan Yesus.
Si penggoda tidak disebutkan menghampiri Tuhan selama 40 hari, namun saat Tuhan merasa lapar. Saat lapar barulah si penggoda datang.
Kalau kita mengisi keseharian kita walaupun saat tidak sedang berpuasa, memenuhinya dengan yang bersifat spiritual apakah si penggoda tidak menghampiri kita? Apa maksudnya dengan kegiatan yang bersifat spiritual pak? Bayangan saya semua kegiatan, aktivitas walaupun itu terlihat duniawi namun kita mengerjakannya untuk Tuhan, dalam Tuhan, itu spiritual activity. Karena dalam melakukannya kita dituntun oleh Roh Kudus. Saya yakin si penggoda tidak menghampiri.
Namun saat pikiran kita, yang mungkin didorong oleh badan kita mulai memikirkan hal-hal untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pribadi kita, diri kita, badan kita, di situlah si penggoda datang.
Si penggoda datang tentunya menawarkan opsi-opsi, pilihan-pilihan sesuai dengan yang kita bisa lakukan, mampu lakukan. Kalau kita merasa lapar (manusiawi) saat kita sedang doa puasa (spiritual), tentunya si penggoda tidak akan seperti kepada Tuhan Yesus menawarkan kita mengubah handphone kita menjadi nasi goreng, kecuali dijual dulu. Pastinya si penggoda akan menawarkan kita untuk makan entah ambil makanan di dapur atau ke minimarket, atau ke warung, atau buka laci persediaan stok makanan, sambil berbisik di pikiran kita ayo nanti sakit kamu harus makan, ayo nanti kamu itu akan emosional kalo lapar, ayo nanti jadi tidak fokus kerja, ayo nanti lemas loh, ayo ini mau perjalanan loh kamu nanti mual masuk angin. Manusiawi sekali kan pemikirannya? Pemikiran-pemikiran itulah yang akan diberikan oleh si penggoda dalam pikiran kita.
Belajar dari respon Tuhan Yesus, Ia selalu bisa menangkis godaan-godaan itu dengan Firman Tuhan. Bahkan di akhir Tuhan Yesus menyerang iblis juga dengan Firman Tuhan.
Jadi benarlah bahwa Firman Tuhan itu adalah ketopong keselamatan (safety helmet) dan pedang roh (Efesus 6:17).
Kesimpulannya adalah si penggoda akan menggoda kita disaat kita memiliki keinginan, kebutuhan pribadi (manusiawi), dan agar kita tidak jatuh tergoda maka kita perlu berpegang pada Firman Tuhan yang akan menjagai pikiran kita (sebagai ketopong keselamatan) dan pedang Roh, untuk menangkis dan menyerang balik/ mematahkan tipu daya dan godaan-godaan si penggoda.
Aplikasi
Tidak ada yang lain, mari kita semakin rindu untuk mengenal Tuhan melalui Firman Tuhan agar kita memahami preferensi Tuhan dalam segala hal, terutama dalam menghadapi pilihan-pilihan di kehidupan kita.
Saya berpikir bahwa saat kita memutuskan diri sebagai anak Tuhan memang sudah seharusnya kita memilih yang benar, seperti diet. Hidup kita tidak bisa bebas sembarangan lagi, makan sembarangan, tapi kita menentukan untuk makan makanan yang baik untuk kesehatan kita. Dalam hal ini adalah memilih pilihan-pilihan yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Harapan dan Doa
Ya Tuhan, ternyata tidak mudah ya untuk hidup benar dan kudus. Kami harus benar-benar bergantung pada tuntunan Roh Kudus agar jangan sampai kami terjatuh dalam godaan si penggoda.
Rhema dan hasil perenungan Saat Teduh pribadi saya – Matius 1
Ayat Rhema
Matius 1:17 TB
[17] Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Dari 14×3 keturunan sejak Abraham sampai dengan Tuhan Yesus ada yang saya tahu, namun ternyata banyak juga yang saya tidak ingat siapa mereka. Saya yakin pasti ada dalam kisah-kisah di perjanjian lama.
Janji Tuhan kepada Tuhan terus digenapi sampai sekarang. Bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut.
Namun kepada Abraham, Tuhan tidak menjanjikan akan datangnya Mesias. Janji akan datangnya Mesias ada jauh setelah Abraham meninggal. Tapi tidak ada satu pun yang tahu bagaimana Mesias itu akan datang dan kapan persisnya.
Sekarang pun kita menerima janji bahwa Tuhan akan datang lagi, namun lagi-lagi tidak ada satu pun yang tahu kapan itu akan terjadi.
Dalam Matius ini disebutkan keturunan langsung dari Abraham sampai dengan Tuhan Yesus – mereka memiliki dampak atau terlibat langsung. Namun pasti ada orang-orang di sekitar silsilah tersebut yang mendukung, yang support, membantu sehingga keturunan Abraham bisa sampai dengan Tuhan Yesus lahir.
Saya membayangkan jika seandainya orang-orang yang terlibat tidak langsung itu bisa melihat bahwa apa yang mereka lakukan ternyata berkontribusi dalam sejarah umat manusia, pasti mereka akan sangat bangga.
Nah sekarang, Tuhan mau datang lagi. Siapa tahu Tuhan datang lokasinya di kota kita, atau lokasi anak atau cucu atau generasi kita?
Maukah kita terlibat ikut andil walaupun sederhana dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan lagi?
Aplikasi
Kita tidak pernah tahu seberapa besar keterlibatan kita dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan lagi.
Tapi kita bisa memulai dari diri kita sendiri dan dari keluarga inti kita.
Mari kita semakin hari semakin mengupayakan diri untuk hidup dalam kebenaran.
Mari kita mulai mengajarkan nilai-nilai hidup dalam kebenaran itu pada anak-anak kita, melalui cerita, melalui diskusi tidak langsung (mereka mendengarkan kita saat kita diskusi dengan pasangan), dan melalui apa yang kita lakukan setiap hari (sikap dan perbuatan).
Tuhan pasti juga ingin sebanyak mungkin orang bisa ikut terlibat dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan, karena dengan begitu akan semakin banyak jiwa diselamatkan.
Saya share video ini yang saya tonton 5 tahun lalu. Bayangkan jika anda adalah gembala ini. Gembala yang minder, cacat, dijauhi orang namun punya kerinduan ya g besar untuk mengenal Tuhan.
Share apa yang anda rasakan dan pikirkan ya.
Harapan dan Doa
Tuhan kami ingin sekali terlibat dalam karya keselamatanMu.
Saat ini kami mungkin tidak tahu harus apa dan harus bagaimana.
Berikan kami arahan dan petunjuk ya Tuhan, gerakkan hati kami, berikan kami api kerinduan yang membara agar kami berani melangkah untuk mempersiapkan kedatanganMu.
Renungan saya pagi ini berasal dari ayat emas hari ini yang awalnya agak sulit saya cerna. Namun setelah membaca keseluruhan pasal dan mendengarkan video penjelasannya saya bisa membayangkan dan menangkap konteks dari ayat emas kita ini.
for it is God who works in you to will and to act in order to fulfill his good purpose. Philippians 2:13 NIV https://philippians.bible/philippians-2-13
Ayat emas ini menegur saya. Ayat ini menyingkapkan suatu hal yang menghambat diri saya untuk semakin maju.
Disampaikan bahwa Tuhan sendiri yang bekerja di dalam diri setiap orang yang memberikan hasrat, motivasi, keinginan di dalam diri kita sehingga kita bisa mengerjakan peran dan tanggungjawab kita untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup kita yang pasti baik adanya.
Namun kenyataannya, kita seringkali dihadapkan pada keadaan kita menunda mengerjakan tugas kita, kita malas-malasan, kita justru main game, mengerjakan atau mengurusi hal-hal yang tidak penting. Mengapa bisa begitu?
Ada yang menghalangi Tuhan bekerja dalam diri kita. Ada yang menghalangi Roh Kudus untuk memberikan motivasi dalam diri kita. Sehingga hal-hal tersebut harus kita patahkan.
1. Mental blocking di pikiran bawah sadar kita yang mengatakan bahwa kita tidak mampu, mengatakan sudahlah jangan repot-repot nanti makin susah. Dan lain sebagainya. Kita patahkan semua pikiran itu dalam Nama Tuhan Yesus dan kita gantikan dengan fakta serta kebenaran dalam Firman Tuhan.
2. Tipu daya iblis, yang juga bekerja di dalam diri kita, yang menghalangi Suara Tuhan dalam diri kita, yang membuat kita kehilangan motivasi, kehilangan hasrat dan akhirnya tidak mengerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya.
Mari kita sadari kedua hal tersebut dan kita minta pada Tuhan untuk mematahkan segala sesuatu yang membuat Tuhan tidak bisa bekerja di dalam diri kita. Mari kita berdoa, mari kita berpuasa agar kita bisa fokus untuk mengetjakan talenta yang Tuhan sudah percayakan pada kita.
Mari kita lebih sering membaca dan mendengarkan Firman Tuhan, mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan agar Firman Tuhan mendominasi pikiran kita setiap waktu.