Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Kategori: Saat Teduh

  • We are all witnesses (Luke 24)

    I Love My Bible
    Sharing rhema dan renungan saat teduh dari Lukas 24.
    ‭‭


    Ayat Rhema
    Lukas‬ ‭24:18‭-‬19‬ ‭TB‬‬
    [18] Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” [19] Kata-Nya kepada mereka: ”Apakah itu?” Jawab mereka: ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

    https://bible.com/bible/306/luk.24.18.TB

    Renungan
    Pada ayat tersebut kedua murid itu bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada Tuhan Yesus. Bukan hanya tentang Tuhan Yesus pastinya, sama sepeti kalau kita sedang ngobrol, bercerita, pasti ada pengalaman dan kesan pribadi yang juga diceritakan.

    Walaupun setelah mereka cerita kemudian mereka diluruskan oleh Tuhan Yesus karena ada sudut pandang yang kurang pas.

    Dan setelah Tuhan Yesus pergi mereka justru semakin bersemangat untuk bercerita pengalaman mereka dengan Tuhan.

    Aplikasi
    Walaupun kita tidak pernah mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus, namun kita pasti pernah mengalami pengalaman iman, atau kalau kita merasa belum pernah mengalami, kita pernah mendengar orang bercerita tentang pengalaman imannya.

    Sesungguhnya kita semua yang mengaku sebagai orang percaya adalah saksi Kristus.
    ‭‭Lukas‬ ‭24:48‬ ‭(TB‬‬) : Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

    Ya, kita semua adalah saksi seperti yang dikatakan Tuhan Yesus. Walaupun kita tidak mengalami pengalaman langsung secara fisik bertemu dan bergaul dengan Tuhan Yesus.

    Kita adalah saksi karena iman percaya.

    Dan karena kita adalah saksi, maka sudah sewajarnya kita bersaksi.

    Mungkin ada yang berpikir: Kalau murid-murid Tuhan kan enak ya, mereka bertemu langsung, jadi kalau mau bersaksi gampang….

    Kita semua pasti pernah mengalami pengalaman iman. Hanya seringkali kita tidak menyadarinya. Seringkali justru saat kita mendengar orang lain bercerita, baru kita tersadar, oh iya ya… aku juga pernah begitu. Baru tersadar bahwa dirinya juga mengalami penyertaan Tuhan. Nah…… kesadaran itu jangan disimpan sendiri, ceritakanlah, bagikanlah dengan orang lain, siapa tahu orang lain itu juga belum sadar bahwa Tuhan menyertai hidupnya.

    Yuk, ke depan kita semakin sering, semakin tekun dalam membaca Alkitab, dalam mendengarkan dan merenungkan Firman Tuhan, dalam mendengar khotbah di ibadah, dan yang harus kita ingat dalam menceritakan kebaikan Tuhan di hidup kita.

    Harapan
    Semoga saat kita selalu meniatkan hati untuk membagikan cerita tenrang kebaikan Tuhan, maka Roh Kudus akan memberikan karunia kepada kita untuk mengerti dan memahami Firman Tuhan, untuk dapat berkata-kata menceritakan kebaikan Firman Tuhan di hidup kita, baik tulisan maupun lisan.

    Amen.

    #ilovemybible

  • Renungan Lukas 24 – He Always Near

    Renungan dan rhema saat teduh dari Lukas 24:13-35.

    Ya Tuhan Yesus itu tidak pernah jauh dari kita anak-anakNya. Ia dekat dan dalam banyak kesempatan bahkan tanpa kita sadari Ia menghampiri kita, berdiri sangat dekat, bahkan berjalan bersama-sama dengan kita.

    Mari buka Alkitab kita:

    ‭‭Lukas‬ ‭24:13‭-‬15‬ ‭TB‬‬
    [13] Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,

    [14] dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

    [15] Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.

    https://bible.com/bible/306/luk.24.13.TB

    Susahnya kehidupan, banyaknya masalah, pergumulan baik pribadi, dalam keluarga, pekerjaan, usaha, atau lingkungan membuat kita beralih fokus. Kita jadi fokus ke sana, bagaimana kita menyelesaikan, mengatasi, atau melewati kondisi-kondisi itu semua. Pikiran, energi, perasaan kita tertuju ke sana, bahkan seringkali ditambah dengan emosi.

    Kita lupa, mata, telinga, pikiran dan bahkan hati kita seperti ada yang menyelimuti kita, mengikat kita, mencegah kita untuk menjangkau Tuhan, untuk bertanya kepada Tuhan, atau mungkin sudah mencari namun kita menyangkali apa yang Tuhan arahkan, petunjuk, jalan dari Tuhan.

    Dalam kisah dua murid yang sedang perjalanan ke Emaus ini kita melihat bahwa Yesus menghampiri mereka berdua yang sedang ngobrol tentang kesusahan hati yang mereka hadapi akibat kematian Tuhan Yesus. Mereka bahkan “curhat” dan terlihat seperti masih tidak bisa menerima hal itu terjadi, karena mereka masih berpikir bahwa Yesus datang untuk membebaskan Israel dari jajahan Romawi (ayat 21).

    Mata mereka seperti tertutup, padahal Tuhan sendiri yang ada di depan mereka. Namun mereka mulai mendengar saat Tuhan menegur mereka, dan kemudian membuka pikiran serta logika mereka dengan penjelasan tentang Yesus menurut kitab nabi-nabi.

    Dan saat mereka sadar bahwa Yesuslah yang ada bersama-sama dengan mereka, mereka juga baru sadar bahwa jiwa mereka, hati mereka berkobar-kobar saat mendengarkan Tuhan berbicara. Yang pertama kali meresponi Tuhan itu adalah hati kita, jiwa kita yang langsung bisa mengenali Tuhan. Namun logika kita justru yang seringkali membungkamnya, menyangkalinya.

    Sangat disayangkan….

    Saat kita mendapatkan tuntunan Tuhan, petunjuk Tuhan janganlah disangkali, janganlah gunakan logika dan pemikiran serta kepintaran kita. Jika kita ragu, maka itulah waktunya kita untuk berdoa lagi, bertanya, berdiskusi, konsultasi dengan Tuhan, pada Roh Kudus. Mintalah hikmat agar kita percaya, dan melangkahlah sesuai tuntunan Tuhan itu dengan iman.

    Semoga kita tidak kehilangan kesempatan. We did not miss the opportunity untuk bisa menikmati perjalanan hidup dengan Tuhan.

    Amen.

  • Renungan Lukas 21 – Jika Tuhan Yesus membutuhkan Saat Teduh, mengapa kita tidak?

    Renungan dan rhema saat teduh pribadi dari Lukas 21:34-38

    Ayat Rhema

    ‭‭Lukas‬ ‭21:37‬ ‭TB‬‬
    Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun.

    https://bible.com/bible/306/luk.21.37.TB

    Renungan

    Ya, setelah Tuhan Yesus mengerjakan segala sesuatunya di siang hari, Yesus memilih untuk bermalam di Bukit Zaitun. Mengapa Tuhan tidak memilih untuk bermalam di salah satu rumah pengikut atau mungkin berkemah di dekat kota atau pemukiman saja? Mengapa harus naik ke Bukit Zaitun?

    Yesus pun ternyata membutuhkan waktu khusus untuk terhubung dengan Bapa. Ia perlu keluar dari segala situasi dan masuk dalam hadirat Tuhan. Seperti charge baterai.

    Aplikasi

    Apakah kita tahu, sadar bahwa spirit kita pun perlu di charge setiap hari? Perlu diperbarui setiap hari?

    Sebenarnya kita butuh tidak ya terhubung dengan Tuhan. Mengalami pembaruan jiwa/ spirit setiap hari?

    Pernahkah kita merasakan nikmatnya hidup dengan spirit yang penuh dengan Roh Kudus? Pernahkah kita membandingkan hidup kita saat kita merasa kosong/ empty? Pernahkah kita merasakan hidup kita saat bergelimang dosa? Mungkin senyum di wajah, tapi kosong di mata dan di hati.

    Jika Yesus melakukannya setiap hari, bukankah itu suatu kebiasaan yang sangat penting untuk juga kita bangun dalam hidup kita?

    Mari kita bangun kebiasaan untuk menyediakan waktu khusus terhubung dengan Tuhan, masuk dalam hadirat Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, dan berdoa.

    Image by wirestock on Freepik

    Tuhan Yesus memberkati.

  • Renungan Lukas 12 – Kekuatiran karena tidak mengenal Allah

    Renungan dan rhema saat teduh dari Lukas 12:22 – 34

    Hal kekuatiran, selain disampaikan pada Injil Lukas juga disampaikan di Injil Matius.

    Mari kita baca ayat 22 sampai dengan 26, kemudian kita lompat ke ayat 29 sampai dengan 34.

    Berikut ayat emas kita yang pertama.

    ‭‭Lukas‬ ‭12:22‬ ‭TB‬‬
    Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.

    https://bible.com/bible/306/luk.12.22.TB

    Ya, sangat manusiawi perasaan kuatir itu dimiliki oleh manusia.

    Dan area tersebut merupakan salah satu area yang sering digunakan iblis agar kita jatuh dalam dosa, agar hidup kita jadi tidak tenang, agar kita menjauh dari Tuhan.

    Kekuatiran ini seperti yang disampaikan pada ayat itu yang berkaitan dengan hal-hal fisik: makanan, pakaian. Hal-hal yang sifatnya kebutuhan primer dan sekunder. Kekuatiran ini yang sifatnya berlebihan yang membuat seseorang tidak merasa “cukup” tapi mau lebih lagi, lebih lagi, buat “jaga-jaga”, atau biar tidak kelihatan “lebih miskin” dari antara anggota komunitasnya.

    Image by stockking on Freepik

    Sayangnya kalau bawaannya sudah kuatiran, akan merembet ke banyak hal.

    Saat kita merasa kuatir, pikiran kita bisa kemana-mana. Wah kalau begini nanti begitu, kalau begitu nanti begono, kalau begono bisa begana. Jadi kemana-mana, ujung-ujungnya jadi kusut akhirnya kita jadi tidak bisa bergerak. Mau memaksakan diri bergerak malah jatuh karena terlilit. Pikiran kita jadi kusut, perasaan kita jadi semakin kacau. Hidup kita jadi tidak damai.

    Kekuatiran itu juga yang akhirnya membuat orang terlalu sibuk untuk mengumpulkan harta dunia.

    Dan kebenarannya kenapa orang bisa jatuh dalam kekuatiran adalah karena mereka kurang mengenal Allah. Mungkin tahu kalau Allah itu baik, kalau Allah itu Maha Pengasih, dan lain-lain. Tapi mereka tidak mengenal Allah secara pribadi.

    ‭‭Lukas‬ ‭12:30‬ ‭TB‬‬
    Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.

    https://bible.com/bible/306/luk.12.30.TB

    Perasaan kuatir itu normal bagi setiap manusia, itu bagian dari insting. Namun bagi orang yang mengenal Allah secara pribadi akan memiliki respon hati yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Allah. Akan memiliki sudut pandang yang juga pasti berbeda, karena fokusnya berbeda.

    Fokus orang yang tidak mengenal Allah bukan hanya bisa hidup tapi mengarah kepada serakah – greedy, rakus, tidak puas diri. Sementara fokus orang yang mengenal Allah adalah Kerajaan Allah, ia mengerjakan hal-hal yang berkenan di mata Allah, ia mencari perkenanan Allah agar pada akhirnya nanti ia bisa masuk dalam Kerajaan Allah, ia selamat dari alam maut.

    Apakah orang percaya tidak boleh kuatir? Boleh, tentu saja boleh. Apalagi kuatir jangan sampai ia tidak dikenali Allah, kuatir tidak masuk Kerajaan Allah. Justru hal-hal itulah yang seharusnya dikuatirkan oleh orang-orang percaya.

    Oleh karena itu, bertobatlah saudara-saudaraku. Ayo kita kembali kepada Tuhan.

    Kalau saat ini kita masih hidup menjalankan perbuatan dosa, ayo berhenti. Identifikasi hal-hal atau kondisi yang mengarahkan kita untuk mengulangi lagi dosa itu, keluarlah dari situ.

    Ayo kembali ke Gereja, ayo ikut lagi komsel, persekutuan, ayo pelayanan. Memang tidak mudah dengan segala macam aktivitas kita, justru kalau kita tahu bahwa hal-hal itu yang akan mendekatkan kita kepada Tuhan, menjauhkan kita dari resiko jatuh lagi ke dalam dosa, kebiasaan kita yang lama, dan kita rindu untuk kembali ke jalan Tuhan pasti Tuhan yang akan membukakan jalanNya.

    Ayo baca lagi Alkitabnya, ayo doa, ayo saat teduh. Baca Alkitabnya mengerti atau tidak mengerti, tetap baca. Mintalah tuntunan Roh Kudus, agar Ia menyingkapkan rhema di dalam Firman Tuhan yang kita baca. Rhema yang akan berguna bagi kita untuk menjalani kehidupan ini.

    Dan percayalah, Tuhan akan membawa kita naik lebih tinggi lagi, jadi kepala dan bukan ekor untuk kemuliaan nama Tuhan.

    Amen.

  • Renungan Matius 22 – Love cannot be forced

    Kasih tidak bisa dipaksakan.

    Renungan dan rhema dari Matius 22 – Hukum yang terutama.

    Ayat Rhema

    ‭‭Matius‬ ‭22:37‭-‬40‬ ‭TB‬‬
    [37] Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. [38] Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

    [39] Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

    [40] Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

    https://bible.com/bible/306/mat.22.37.TB

    Renungan

    Kasih itu tidak bisa dipaksakan.

    Kasih itu benar-benar harus timbul dari dalam hati yang terdalam untuk mengasihi orang lain. Dan umumnya kita hanya mengasihi yang kita kenal, benar atau benar?

    Mengapa Tuhan Yesus bilang hukum yang pertama dan terutama adalah mengasihi Tuhan, Allah dengan segala sesuatu yang ada di diri kita? Karena mengasihi Tuhan Allah dengan segala sesuatu yang ada di diri kita adalah akar dari segala sesuatu. Adalah sumber, adalah pondasi, adalah fundamental dari segala sesuatu di hidup ini. Segala sesuatu. Ya, segala sesuatu literally. Mengasihi Tuhan Allah adalah level one dari seluruh level kehidupan kita. We must pass this level to be succeded in the next levels. Untuk dapat sukses di kehidupan ini, suatu kesuksesan yang sesuai kacamata Tuhan.

    Dan untuk dapat mengasihi Tuhan Allah maka kita harus dengan sengaja belajar mengenal dan mengasihi Tuhan. Dengan sengaja berusaha untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Sampai pada titik dimana setiap waktu kita senantiasa benar-benar yakin dan percaya bahwa Tuhan itu begitu baik dalam kehidupan kita dan sudah begitu mengasihi kita lebih dahulu bahkan jauh sebelum kita mengenalNya.

    Hasil dari usaha kita di level one ini akan membawa kita ke level two – mengasihi sesama manusia. Belajar mengasihi orang yang kita kenal mungkin terdengar lebih mudah, walaupun kenyataannya seringkali tidak juga. Meskipun orang-orang dekat kita, keluarga, teman.

    Fokus pengajaran di Perjanjian Baru bagi saya adalah tentang kasih, bagaimana mengasihi Tuhan dan bagaimana mengasihi sesama. Perubahan hidup yang dialami oleh murid-muridnya dan semua orang yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru tujuannya adalah untuk kedua hukum tersebut.

    ‭‭Roma‬ ‭13:8‭-‬10‬ ‭TB‬‬
    [8] Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

    [9] Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

    [10] Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

    https://bible.com/bible/306/rom.13.8.TB

    Memang lebih mudah menanamkan rasa takut untuk menghindarkan seseorang jatuh dalam hal yang tidak kita inginkan – masuk dalam Neraka, dalam kegelapan. Namun rasa takut yang ditanamkan tidak membuat orang lantas berpikir untuk melakukan lebih bagi orang lain.

    Kita harus memenuhi pikiran kita dengan pikiran mengasihi Tuhan, dan bahwa mengasihi orang lain pun juga sebagai bentuk mengasihi Tuhan karena Tuhan mengasihi setiap orang, karena kita ingin banyak orang juga mengalami kasih dan cinta Tuhan.

    ‭‭Roma‬ ‭8:28‬ ‭TB‬‬
    [28] Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

    https://bible.com/bible/306/rom.8.28.TB

    Rasa cinta kepada Tuhan, mengasihi Tuhan harus yang terutama kita tanamkan dalam pikiran kita, yang kita wariskan pada anak-anak kita. Namun rasa takut akan Tuhan juga perlu, agar kita tahu dampaknya jika kita mendukakan hati Tuhan, menolak kasihNya kepada kita.

    Itulah mungkin kenapa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, karena mereka tidak dapat membayangkan seperti apa “mati” yang disampaikan Allah kepada mereka jika mereka makan buah dari pohon terlarang. Seandainya mereka tahu, mungkin mereka akan menolak tipu daya iblis.

    Ya kita memang tidak bisa memaksakan agar orang mengasihi Tuhan, mencintai Tuhan. Kasih tidak bisa dipaksakan, namun kasih Tuhan bisa kita tunjukkan kepada orang lain, Dari situlah orang-orang, jiwa-jiwa bisa merasakan kasih Tuhan. kasih Tuhan itu harus dirasakan atas pengalaman masing-masing pribadi.

    Aplikasi

    Mari penuhi pikiran kita, hati kita dengan rasa cinta kepada Tuhan. Dan rasa cinta itu juga disertai dengan rasa takut akan Tuhan agar kita senantiasa memelihara dan menjaga api cinta kita kepada Tuhan.

    Jangan biarkan iblis memasuki pikiran kita dengan segala alasan dan justifikasi, serta rasionalisasi sehingga kita melakukan hal-hal yang pada akhirnya akan membuat kita jatuh dalam dosa. Kita belum tentu memiliki waktu di masa depan untuk berbalik kepadaNya. Lebih baik berbalik dari sekarang, selagi masih ada nafas.

    Harapan dan Doa

    Tuhan aku mau api cinta kepadaMu. Butakan mataku dengan cinta pada Tuhan, agar jangan ada yang lain, agar pikiranku hanya tertuju kepadaMu.

    Amen

    From thechosen instagram
  • Renungan Matius 21 – Status Quo

    Renungan dan rhema dari saat teduh Matius 21 – Pertanyaan tentang kuasa Yesus.

    Ayat Rhema

    ‭‭Matius‬ ‭21:27‬ ‭TB‬‬
    [27] Lalu mereka menjawab Yesus: ”Kami tidak tahu.” Dan Yesus pun berkata kepada mereka: ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

    https://bible.com/bible/306/mat.21.27.TB

    Renungan

    Ayat ini merupakan ayat yang berisi jawaban Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan tua-tua yang mendatangiNya dan bertanya tentang kuasa.

    Kuasa yang dimaksud disini adalah otoritas. Kasarnya mereka bertanya tentang “jabatan” atau “posisi”, atau siapa yang menyuruh melakukan ini itu dan mengajarkan semua ini?

    Mereka mempertanyakan otoritas Tuhan Yesus.

    Bisa dimaklumi, karena mereka sangat eksklusif, dan pastinya mereka memiliki persepsi sendiri Mesias yang akan datang itu seperti apa. Sehingga mereka tidak mau mengakui Tuhan Yesus. Dan hati saya juga merasakan jika Tuhan Yesus datang sebagai seorang panglima perang, belum tentu juga bisa diterima oleh kalangan Farisi dan tua-tua Yahudi. Boleh dikatakan mereka juga tidak terbayang siapa yang mereka tunggu, Mesias yang mereka nanti-nantikan.

    From TheChosen Instagram

    Dan sangat mungkin terjadi, mereka sudah merasa mapan dengan posisi, derajat mereka di antara bangsa Israel sehingga justru kedatangan Mesias menjadi suatu ancaman bagi kenyamanan posisi mereka.

    Akhirnya situasi yang terjadi adalah status quo. Karena tidak terbuka pikirannya dengan kedatangan Tuhan Yesus, yang mengajarkan hal-hal yang menurut mereka berbeda dengan yang selama ini mereka yakini sehingga mereka justru mensupresi Tuhan Yesus.

    Aplikasi

    Apakah kita begitu juga dalam kehidupan sehari-hari?

    Lebih senang mendengar hal-hal yang hanya ingin kita dengar? Mendengar hal-hal yang sesuai dengan pemikiran dan logika kita sendiri?

    Apakah kita terbuka dengan Firman Tuhan? Dengan tuntunan Roh Kudus?

    Atau kita masih pilih-pilih? Melakukan yang nyaman dan aman saja bagi kita? Kita masih hitung-hitungan dengan Tuhan karena kita takut dikucilkan pergaulan, takut jatuh dalam kondisi keterpurukan masa lalu?

    Teman kerja saya pernah bilang, Tuhan itu tidak pernah hitung-hitungan dengan kita, jadi saat kita sudah diberkati walaupun baru naik sedikit, jangan kita hitung-hitungan dengan Tuhan, karena kita sendiri yang akan menutup pintu berkat dari Tuhan.

    Harapan dan Doa

    Buat Tuhan mari kita terbuka, agar Roh Kudus bekerja seluas-luasnha dalam kehidupan kita.

    Jika ada yang menurut kita berat, mari kita minta kekuatan, keberanian, kelapangan hati, dan tuntunan Tuhan.

    Amen.

  • Renungan Matius 20 – It is Okay to Ask Him for

    Renungan dan rhema dari saat teduh Matius 20 tentang Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. John and James’ mother.

    Ayat Rhema

    ‭‭Matius‬ ‭20:20‭-‬21‬ ‭TB‬‬
    [20] Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. [21] Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

    https://bible.com/bible/306/mat.20.21.TB

    Renungan

    Tidak apa-apa meminta.

    Ya, apalagi meminta sesuatu hal yang ibaratnya mustahil. Namun kita tidak akan pernah tahu permintaan itu tidak bisa dikabulkan sampai kita memintanya.

    Belajar dari ibu yakobus dan yohanes, betapa ia menginginkan yang terbaik bagi kedua anaknya yang menyerahkan hidupnya bagi Tuhan.

    Ah, saya membayangkan situasinya pada saat itu. Di suatu ruangan tengah dimana Yesus sedang berkumpul bersama murid-muridNya, kemudian ibu ini masuk diiringi kedua anaknya, Yohanes dan Yakobus, kemudian duduk bersimpuh di tanah dan sujud meminta kepada Tuhan. Pasti semua orang akan melihat mereka. Suatu hal yang penuh resiko mempermalukan diri mungkin menurut sebagian orang. Namun tindakan ini benar-benar dorongan dari hati seorang ibu yang ingin kedua anaknya mendapatkan yang terbaik. Hati ibu yang percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan yang hidup. Tidak banyak orang yang punya hati dan berani seperti ibu ini. Ini adalah bentuk dari iman, bentuk dari pengakuan siapa Yesus bagi mereka.

    Dan yang saya sedang bayangkan, bagaimana ekspresi Tuhan Yesus pada saat itu ya? Saya membayangkan bagaimana Tuhan tersenyum, tersenyum karena keluguan dan kepolosan ibu ini, tersenyum karena walaupun ibu ini dan Yohanes serta Yakobus tidak benar-benar tahu apa yang mereka minta, mereka berani meminta. Tersenyum karena tindakan ini menunjukkan betapa mereka sungguh mencintai Tuhan. Dan Tuhan pasti menjawab mereka dengan lembut, berusaha memberi mereka pengertian.

    From thechosen instàgram

    Meminta, mengajukan permohonan kepada Tuhan itu oke loh. Oke banget. Tidak perlu kuatir seaneh apa pun permohonan kita itu, asalkan bukan yang mengarah pada dosa. Tuhan pasti akan memberikan pengertian kepada kita. Jika kita benar-benar mengasihi Tuhan, maka mintalah bantuan apa yang menjadi pergumulan kita, mintalah visi dan misi untuk hidup kita, untuk masa depan kita. Mintalah kekuatan dan keberanian untuk terus berjalan dan melangkah dalam pengenalan akan Tuhan.

    Wow… Tuhan betapa aku mengasihi-Mu.

    Aplikasi

    Taruh di hati kita, bahwa Tuhan itu baik sekali, super baik, teramat baik. Bahkan tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa baiknya Tuhan.

    Kasihilah Tuhan dengan segenap hati, segenap budi, akal, pikiran. Sampai Tuhan benar-benar menjadi fokus hidup kita. Sampai setiap waktu yang kita pikirkan hanya Tuhan.

    Mintalah, mintalah untuk boleh duduk bersama Tuhan di akhir zaman nanti, mintalah kalau tidak bisa di sebelah kanan atau kiri Tuhan setidaknya duduk dalam ruangan yang sama itu jauh, jauh lebih dari cukup karena saya sadar jika saya orang berdosa yang aslinya tidak layak dan tidak pantas. Tapi karena saya ini anak Tuhan, justru aslinya kita itu layak dan pantas duduk di sebelah Tuhan. Jangan sampai hilang, jangan sampai kita ketinggalan kereta pulang ke rumah Bapa karena kita berkutat hidup dalam pikiran, kedagingan, dan kesibukan duniawi kita.

    Harapan dan Doa

    Semoga kita bisa bareng-bareng ya, duduk di rumah Tuhan. Menikmati pesta yang Tuhan selenggarakan di rumahNya.

    Amen.

  • Renungan Matius 18 – Jika Ingin Masuk Surga

    Rhema dan renungan dari Matius 18 – tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

    Ayat Rhema

    Berawal dari rasa penasaran murid-murid tentang siapa yang terbesar di Kerajaan Sorga, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang lain juga.

    ‭‭Matius‬ ‭18:3‭-‬5‬ ‭TB‬‬


    [3] lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

    [4] Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

    [5] Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

    https://bible.com/bible/306/mat.18.3.TB

    Renungan

    Di awal, saya menangkap kesan Tuhan Yesus mengingatkan mereka daripada berpikir siapa yang terbesar ingatlah jika ingin masuk Kerajaan Sorga mereka harus bertobat dulu, bukan hanya bertobat tapi juga menjadi seperti anak kecil itu.

    Menjadi anak kecil dalam konteks ini adalah menjadi pribadi yang polos, jujur, tidak dendam, dan bergantung pada Tuhan.

    From thechosen Instagram

    Dan untuk menjadi yang terbesar justru harus merendahkan diri, rendah hati, tulus, lebih senang melayani daripada dilayani. Dan sudah pasti sombong, ego ingin dihargai, ingin diprioritaskan kebalikan dari itu.

    Mungkin murid-murid menanyakan hal ini karena sebelumnya Tuhan Yesus pernah menyampaikan bahwa Yohanes Pembaptis saja tidak lebih besar dari yang terkecil di Kerajaan Sorga. Mungkin jadi perbincangan di antara mereka, mereka akan jadi apa di Kerajaan Sorga.

    Aplikasi

    Sama seperti perintah Tuhan Yesus, daripada berpikir tentang kecil besar di sorga lebih baik kita fokus untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan.

    Bertobat, hidup menjaga kekudusan, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

    Tidak mudah memang, namun hadiahnya priceless, tak ternilai harganya, masuk ke dalam Kerajaan Sorga, pulang kembali ke rumah Bapa.

    Bukankah itu yang kita semua kejar?

    Harapan dan Doa

    Ajari kami selalu ya Tuhan untuk bertobat, untuk hidup kudus, untuk mengasihi dan melayani.

    Amen

  • Renungan Matius 17 – Menguatkan Iman

    Rhema dan renungan saat teduh – Matius 17 tentang Yesus menyembuhkan anak muda yang sakit ayan.

    Ayat Rhema

    ‭‭Matius‬ ‭17:19‭-‬21‬ ‭TB‬‬


    [19] Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: ”Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?”

    [20] Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

    [[21] Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.]”

    https://bible.com/bible/306/mat.17.21.TB

    Renungan

    Sekiranya kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…

    Sepertinya masalah terbesar manusia itu adalah iman, keyakinan, faith. Entah karena memang imannya yang sangat kecil atau mental blocking yang sangat besar, entah mana yang lebih dulu.

    Tapi apapun penyebabnya yang jelas kita harus memperbesar iman kita. Namun bagaimana caranya?Kalau berdasarkan kisah di atas salah satu caranya adalah dengan doa dan puasa.

    Doa dan puasa yang benar akan membuat hubungan kita dengan Tuhan semakin erat. Saat hubungan kita dengan Tuhan semakin erat, maka iman kita, keyakinan kita pada Kristus pun seharusnya juga semakin kuat.

    Nah, murid-murid Tuhan yang sudah berjalan bersama Yesus, yang sudah melihat mengalami berbagai mukzizat, bahkan juga sudah mendoakan orang-orang sakit dan mereka sembuh, itu saja dikatakan masih sebagai orang yang kurang percaya.

    Bagaimana dengan kita yang hidup saat ini, yang tidak mengalami Kristus dengan mata kepala kita sendiri, dan pasti jauh lebih banyak yang belum pernah mendoakan orang lain sehingga bisa sembuh? Apakah iman kita bisa sebesar biji sesawi? Bukan dalam rangka memindahkan gunung, tapi untuk menghadapi berbagai macam pergumulan di dalam kehidupan ini.

    Tidakkah sudah cukup berat kehidupan ini sehingga masih harus ditambah doa dan puasa lagi? Justru dengan doa dan puasa, kita mengkondisikan tubuh kita, terutama roh/spirit/jiwa kita sejalan dengan kehendak Kristus. Akan ada begitu banyak berkat dan karunia yang Tuhan Yesus berikan, begitu banyak hal yang tidak baik yang Tuhan luputkan dari hidup kita.

    Kita perlu doa dan puasa, saya perlu doa dan puasa. Justru dengan doa dan puasa ini saya bisa hidup. Jika tidak doa dan puasa maka saya akan mati. Dengan doa dan puasa, iman saya akan Kristus akan semakin kuat, akan semakin besar. Amen, dalam nama Tuhan Yesus.

    Hanya orang hidup yang bisa membagikan kehidupan.

    Aplikasi

    Jadikan Doa dan Puasa sebagai cara untuk hidup. A way to live. Bukan cara hidup, karena cara hidup kita adalah Kristus.

    Bangun kehidupan doa pribadi, bangun kehidupan doa keluarga, doa komunitas. Lakukan puasa berkala.

    Image by jcomp on Freepik

    Harapan dan Doa

    Semoga iman kita semakin bertumbuh dan berkembang besar, semoga iman kita semakin kuat.

    Be strong and courages!

    Dalam nama Yesus, Amen.

    Imannya yang menyembuhkannya.
  • Renungan Matius 16 – Persyaratan menjadi Murid Kristus

    Rhema dan renungan dari saat teduh pribadi – Matius 16 tentang pemberitahuan tentang penderitaan Yesus dan syarat mengikuti Dia.

    Ayat Rhema

    ‭‭Matthew‬ ‭16:24‭-‬26‬ ‭NIV‬‬


    [24] Then Jesus said to his disciples, “Whoever wants to be my disciple must deny themselves and take up their cross and follow me.

    [25] For whoever wants to save their life will lose it, but whoever loses their life for me will find it.

    [26] What good will it be for someone to gain the whole world, yet forfeit their soul? Or what can anyone give in exchange for their soul?

    https://matthew.bible/matthew-16-24

    Renungan

    1. Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Tuhan. Ini satu paket, jangan dipisah-pisahkan agar konteksnya selalu jelas. Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Tuhan itu berarti mengalahkan kedagingan kita untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Mengapa harus satu paket, agar tujuannya jelas, agar alasan dibalik penyangkalan diri itu pun juga jelas.

    Mengalahkan kedagingan itu tidak mudah. Dan dalam hal mengikut Tuhan, mengalahkan kedagingan untuk menjaga kekudusan agar senantiasa berfokus pada Tuhan itu berlangsung seumur hidup. Diet seumur hidup. Pantang seumur hidup. Puasa seumur hidup. No cheating day. Karena cheating itu sudah pasti akan jatuh dalam dosa. Radikal memang radikal ke dalam diri sendiri.

    2. Apa yang bisa kita berikan untuk Tuhan kita berikan. Kalau bisa berikanlah yang terbaik, jangan hitung-hitungan dengan Tuhan. Tidak perlu takut bakal mati karena hanya orang-orang beruntung yang sampai harus mati demi Kristus. Tapi sadarilah bahwa jika kita melakukan poin 1 di atas atau ayat 25 dengan sungguh-sungguh sampai akhir hayat kita, boleh juga dikatakan kita mati untuk Kristus karena sampai akhir hayat kita hidup sungguh-sungguh menjaga kekudusan untuk Kristus.

    Dalam hal hidup untuk Kristus, kita mungkin memilih untuk tidak hidup seperti orang-orang lain yang hidupnya bebas tidak jelas, saat memilih hidup untuk Kristus memang kita akan kehilangan kenikmatan hidup duniawi, namun ada hidup yang baru sebagai gantinya baik di dunia apalagi nanti di sorga. Hidup dalam penyertaan Tuhan itu adalah hidup yang luar biasa, tidak ada hal lain lagi di dunia yang bisa menggantikannya, itu merupakan karunia, berkat, hadiah, reward tertinggi dari Tuhan selama kita hidup di dunia. Dan di akhir nanti ada reward lagi, mahkota kehidupan dan tinggal bersama Kristus di sorga.

    Saat fokus utama hidup kita mengejar kesuksesan dunia, dan bukan mengejar perkenanan Tuhan kita akan kehilangan jiwa kita. Mungkin saja kita kaya raya, sukses dalam bisnis atau pekerjaan, namun jiwa kita akan kosong, empty, atau tersesat, lost.

    Aplikasi

    Ayo kita bangun kembali, kita tata lagi hidup kita, dan ayo kita melangkah lagi berjalan bersama Kristus, berjalan di dalam Kristus.

    Jadilah radikal dalam menjalankan Firman Tuhan. Mari kita latih jiwa kita, agar lebih dominan daripada daging kita.

    From thechosen Instagram

    Harapan dan Doa

    Semoga bisa senantiasa setiap waktu berfokus kepada Kristus.

    Amen