| |

53. Renungan 2 Petrus 3 – Bangunlah Rumahmu

Hari Tuhan sudah dekat dan akhir zaman sudah seringkali disampaikan, bahkan mungkin sedah sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, namun memang sampai sekarang Hari Tuhan yang disampaikan itu belum tiba juga waktunya.

Lalu apakah kita akan berhenti mempercayainya? bahwa Hari Tuhan itu benar-benar akan datang?

Mari kita baca Alkitab kita, 2 Petrus 3 tentang Hari Tuhan.

Hari Tuhan itu ada, itu adalah salah satu janji Tuhan yang dinantikan oleh seluruh orang percaya.

‘Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. ‘

2 Petrus 3:9 TB

Sesuai dengan ayat yang menjadi rhema bagi saya, justru kita harusnya melihat belum datangnya Hari Tuhan sebagai waktu tunggu. Sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk berbalik dan bertobat.

Karena kalau Hari Tuhan benar datang, maka tidak akan ada waktu lagi bagi kita untuk memperbaiki diri karena kita baru tersadar bahwa ternyata hari itu benar-benar ada. Yang ada apabila kita tidak siap adalah ketakutan yang begitu besar, penyesalan, dan tangisan.

Karena hari Tuhan tidak kunjung datang, maka sebagian orang yang tidak tahan untuk melampiaskan hawa nafsunya, sebagai bentuk pembenaran berubah menjadi pengejek yang mengejek mempertanyakan dimanakah Hari Tuhan yang diseru-serukan oleh orang-orang percaya? Mengapa kita harus hidup kudus karena toh setelah sekian lama hari itu juga tidak datang? Mengapa harus menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bersenang-senang menikmati hidup.

Sesungguhnya mereka yang sengaja tidak mau tahu dan tidak mau peduli untuk mempersiapkan diri untuk datangnya Hari Tuhan ibarat sedang menggali lubang kuburnya, menggali lorong untuk menuju ke kerajaan maut. Semakin dalam ia menggali, semakin sulit ia melihat ke atas untuk berbalik dan keluar dari lubangnya. Ia terus saja menggali, dan menggali semakin dalam.

Sementara mereka yang sadar, dan sekuat hati menahan diri dan berjuang untuk hidup suci dan saleh demi menanti-nantikan datangnya Hari Tuhan ibarat sedang membangun rumah mereka di sorga. Rumah seperti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Saat hari itu datang diri kita harus ditemukan dalam kondisi yang sesuai dengan yang Tuhan mau sehingga kita harus senantiasa, setiap waktu berusaha agar kita kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia (Ayat 14).

Sehingga sekaranglah waktu terbaik bagi kita untuk berbalik dan bertobat, bukan nanti karena bisa saja tidak ada nanti bagi kita karena Hari Tuhan itu tiba seperti pencuri. Daripada kita sibuk menunggu peringatan, menunggu alarm, atau berusaha mengidentifikasi Hari Tuhan sudah semakin dekat, alangkah lebih baiknya kita dari saat ini mempersiapkan diri. Apakah kita berharap bisa meniru penjahat yang disalibkan di sebelah Tuhan Yesus yang mendapat janji keselamatan karena bertobat di saat-saat terakhir? Masalahnya apakah kita sangat yakin bahwa diri kita masih ingat bertobat saat waktu itu datang? Atau justru kita ketakutan, dan ada orang yang karena takutnya justru marah dan memaki, menghujat Tuhan sebagai pelampiasannya?

Masih ada waktu sekarang, berhentilah melakukan hal-hal yang membawa kita semakin dalam ke lubang maut, berbaliklah kepada Tuhan. Sedalam apapun kita, jika kita bersungguh-sungguh berbalik dan bertobat Tuhan sanggup memulihkan hidup kita.

Saya ingin mengajak kita semua menggunakan strategi yang berbeda daripada hanya sekedar bertahan untuk melawan godaan setan dan iblis menuruti hawa nafsu kedagingan. Bagaimana jika kita gunakan strategi bekerja untuk Tuhan di masa tunggu ini? Fokus yang selama ini mungkin kita gunakan bertahan menjaga hidup suci dan saleh beralih menjadi bekerja untuk Tuhan sambil tetap menjaga hidup suci dan saleh.

Strategi bertahan itu seperti menjalankan rutinitas keagamaan namun hanya sekedar menjalankan saja, tanpa ada passion di dalamnya. Karena sudah rutin saja, dan kehidupan di luar rutinitas keagamaan tetap lebih banyak jauh dari Tuhan. Tidak semua orang bisa selalu kuat bertahan, walaupun Roh Kudus senantiasa akan menguatkan diri kita.

Strategi bekerja untuk Tuhan ibarat strategi menyerang. Menyerang bukan berarti melupakan pertahanan, karena kalau tidak menjaga pertahanan menjalani hidup suci dan saleh maka sangat beresiko kita akan jatuh. Pertahanan tetap dijaga namun fokus kita bukan lagi melihat dan mengantisipasi resiko jatuh terhadap serangan iblis terhadap diri kita namun beralih menjadi bagaimana kita bisa menyelamatkan jiwa-jiwa, bagaimana mereka bisa mendengar tentang berita keselamatan, bagaimana hidup mereka bisa berbalik pada Tuhan, bertobat, dan mengalami penyertaan Tuhan sehingga mengalami terobosan, seperti amanat yang disampaikan Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga. Bahkan kita dibekali Roh Kudus yang akan menjadi partner kerja kita sehingga kita tidak berusaha dan bekerja sendirian. Roh Kudus yang akan menjadi penghibur, pemberi semangat, pemberi insight dan ide-ide, hikmat, dan pemberi kekuatan untuk kita yang mau bekerja untuk Tuhan.

Doa

Ya Tuhan, terimakasih Engkau telah menjadi Juru Selamat bagi kami. Dalam hati kecil kami, kami sangat ingin untuk berkumpul bersama-sama denganMu namun kami sadar fisik kami masih ada di dunia. Ajari kami ya Roh Kudus untuk bisa bekerja bagi Tuhan dengan kondisi kami dan keterbatasan yang kami miliki. Kami mau percaya bahwa Engkau akan memperlengkapi kami dengan segala sesuatu yang kami perlukan, segala tools, pengetahuan, dan kemampuan agar kami bisa menghasilkan buah yang harum di hadapanMu ya Tuhan.

Amen

Image by BiZkettE1 on Freepik

Similar Posts