Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: Kasih

  • 27. Easter – He has Risen, come and see (Matthew 28:6).

    27. Easter – He has Risen, come and see (Matthew 28:6).

    Dapat rhema apa hari ini?

    Pagi ini saya terbangun pagi-pagi sekali, dan membaca verse of the day di aplikasi youversion.

    ‭Matius 28:6 TB‬
    [6] Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

    https://bible.com/bible/306/mat.28.6.TB

    Saat membaca ayat ini, hati dan pikiran saya berpikir dan merenungkan juga membayangkan beberapa hal:

    1. Bagaimana perasaan para wanita yang awalnya datang hanya mau sekedar melihat kubur Yesus? Bahwa ternyata Tuhan Yesus sudah tidak ada di dalam kubur?

    Mereka pergi pasti masih dengan perasaan sedih dan duka yang sangat mendalam, dan tiba-tiba mereka dikejutkan dengan beberapa hal gempa bumi, batu kubur yang besar terguling sendiri, dan seorang malaikat Tuhan turun di depan mereka.

    Yang awalnya sedih dan duka berganti menjadi kaget dan takut pastinya, karena bagi mereka itu bukanlah hal yang biasa terjadi.

    Kemudian saat mereka masuk ke dalam kubur, mereka benar tidak menemukan tubuh Yesus terbaring di sana, mereka tambah kaget, bingung, takut, sedih, pasti bercampur aduk perasaan yang mereka rasakan. Mereka tidak tahu harus bagaimana? Mereka tidak tahu harus bagaimana meresponi apa yang mereka baru alami. Ditambah lagi malaikat itu mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit, bangkit? Bagaimana mungkin? Kalau anak Yairus, dan Lazarus, Tuhan Yesus yang membangkitkan tapi apakah mungkin Tuhan Yesus bangkit sendiri? Mereka senang pastinya, bersukacita karena informasi yang mereka terima dari malaikat Tuhan Yesus sudah bangkit walaupun masih kalut, bercampur aduk perasaan mereka. Dan bertanya-tanya, apakah benar Yesus pernah bilang kalau Ia akan bangkit?

    2. Hidup berjalan bersama dengan Tuhan itu tidak akan biasa-biasa saja ya, kita akan mengalami banyak hal yang luar biasa yang akan menggoncangkan hati dan pikiran kita.

    Ya bagi perempuan-perempuan yang mengalami peristiwa ini, sekarang kita bisa menyebut mereka beruntung, tapi saat mereka mengalami itu mereka pasti sangat kalut.

    Begitu pula kita, saat ada peristiwa besar yang kita hadapi, di saat itu kita pasti kalut, bisa cemas sampai takut, bisa sedih, atau sebaliknya marah karena takut. Maka dari itu sesuai yang dikatakan malaikat kepada mereka, “Janganlah kamu takut;” kemudian malaikat itu juga menambahkan dengan kalimat yang menenangkan mereka, “sama seperti yang telah dikatakanNya“. Oh ya?, ternyata Tuhan sudah pernah mengatakan hal ini kepada kita? Kapan ya? Dimana?

    Saat hidup kita berjalan di sisi penyertaan Tuhan, walaupun penuh dengan gejolak maka jika kita senantiasa mendengar, merenungkan, dan mengingat FirmanNya segala perasaan negatif itu akan menghilang, ganti tenang dan sukacita, atau bahkan justru tidak muncul sama sekali karena kita sudah yakin lebih dahulu bahwa Tuhan akan menjaga kita, Tuhan akan menolong kita.

    Dalam peringatan paskah kali ini, mari kita datang kembali kepada Tuhan untuk bertemu pribadiNya agar sukacita kita kembali penuh. Sama seperti ketika mereka berjumpa lagi dengan Tuhan dalam perjalanan kembali dari kubur. Agar segala perasaan, beban berat yang kita sedang pikul diangkat oleh Tuhan. Agar kita pun juga bisa bangkit dari dosa, dari segala keterpurukan perasaan dan pikiran kita. Biarlah Tuhan menggantinya dengan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa.

    Come and see

    Mungkin hati kita saat ini merasa kosong sama seperti kubur yang kosong, Tuhan sudah bangkit. Ayo cari Tuhan lagi, agar Ia kembali menjadi Raja dan Juru Selamat di dalam hati kita. Jangan sedih dan kecewa, Tuhan sedang menunggu kita di satu tempat (di galilea kita), mari melangkah dengan sukacita ke tempat dimana kita dulu pernah bertemu denganNya, mari kita tinggalkan segala beban, karena Tuhan sudah bangkit, tidak ada yang perlu kita cemaskan dan takutkan lagi.

    Mari berjalan bersamaNya, bergandengan tangan erat-erat sama seperti seorang anak kecil yang menggandeng tangan orang tuanya.

    Semoga kasih Tuhan selalu beserta kita, dari sekarang sampai selama-lamanya. Amen.

  • 22. 2 Timotius 6:1 – Memberi respect atau penghormatan

    22. 2 Timotius 6:1 – Memberi respect atau penghormatan

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya mendapat rhema yang sangat menarik, yang sangat menegur bagi saya pribadi.

    Ayat rhema saya hari ini

    ‭1 Timotius 6:1 TB‬
    Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang.

    https://bible.com/bible/306/1ti.6.1.TB

    Renungan saya

    Ini menarik ini ayat ini, karena memiliki sudut pandang yang sangat tidak biasa. Dan ini mengingatkan saya juga akan beberapa kisah di Perjanjian Lama yang tokoh dalam kisah tersebut menunjukkan sikap ini.

    Zaman dulu mungkin memang banyak sekali perbudakan, bukan hanya di luar negeri termasuk di Indonesia, saat Indonesia dijajah sama artinya diperbudak.

    Apakah saat ini masih ada praktik perbudakan, kemungkinan besar masih ada walaupun kecil atau tidak terlihat.

    Yang menjadi rhema saya pagi ini tidaklah semata praktik perbudakan seperti dulu, namun lebih luas daripada itu yaitu perasaan diperbudak, menanggung beban perbudakan, seperti diperbudak. Entah kenapa hal itu yang saya tangkap dari ayat ini. Dan lebih luas lagi apalagi kita sebagai pekerja yang memperoleh bayaran. Yang hak-haknya dibayarkan, karena kalau budak yang sebenarnya mereka tidak punya hak sama sekali karena semua hidup mereka sudah menjadi milik tuannya.

    Paulus mengajarkan kepada kita yang memiliki perasaan seperti diperbudak, atau mungkin memang diperbudak agar menganggap tuan mereka layak mendapatkan segala penghormatan. Wah, bukan hanya satu tapi ternyata segala penghormatan. Kita harus respect kepada mereka. Dan begitu pula kalau kita sebagai karyawan. Ini adalah sudut pandang yang menarik, agar kita hendaknya menganggap tuan kita, atau atasan kita, atau pemimpin kita itu layak mendapatkan segala penghormatan.

    Segala sesuatu dimulai dari persepsi dan cara pandang, begitulah dengan menganggap layak, itu pun adalah persepsi atau cara pandang. Dan Paulus mengajarkan dasar atau alasannya mengapa kita harus melakukan itu yaitu agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat.

    Kita melakukan itu untuk nama baik Tuhan, termasuk menjalankan ajaran Tuhan dalam mengasihi sesama. Karena itu berarti jika kita tidak menganggap mereka layak apalagi seringkali berdasarkan perasaan kita sendiri yang pertama-tama kita jatuh dalam dosa, menghakimi orang lain karena dalam banyak situasi terutama kita yang berstatus pegawai atau bawahan kita tidak tahu semua hal, kita tidak paham semua latar belakang.

    Kemudian saya diingatkan juga pada salah satu Firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita harus menghormati pemimpin yang ditempatkan Tuhan atas kita, walaupun mereka memiliki banyak kekurangan.

    Lihatlah beberapa tokoh dalam perjanjian lama seperti Daniel, Mezakh, dan Abednego, kemudian Yusuf anak Israel, dan beberapa lagi. Mereka menunjukkan bagaimana menghormati pemimpin mereka.

    Semoga kita semua bisa belajar mengasihi sesama dalam hal ini adalah mengasihi tuan atau pemimpin yang ditempatkan Tuhan atas kita. Dan juga sebaliknya saat kita menjadi pemimpin maka kita pun mungkin hendaknya menganggap setiap orang yang ada dibawah kita layak untuk dikasihi.

    Amen

  • 18. 1 Timotius 1:5-6 Perihal memberi nasihat

    18. 1 Timotius 1:5-6 Perihal memberi nasihat

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini mendengar petunjuk Paulus kepada Timotius dalam hal memberi nasihat.

    Rupanya Timotius diutus ke Efesus ada misinya yaitu untuk memberi nasihat kepada beberapa orang karena pengajaran mereka kurang tepat.

    Paulus juga menjelaskan tujuan dari nasihat yang akan diberikan oleh Timotius nantinya itu apa.

    Ayat rhema hari ini:

    ‭‭1 Timotius 1:5-6 TB‬‬
    Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.

    https://bible.com/bible/306/1ti.1.5.TB

    Renungan

    Menarik sekali arahan yang disampaikan Paulus kepada Timotius. Ada 2 hal yang saya bisa pelajari dari sini: 1. Paulus bukan hanya menyuruh, namun juga mengarahkan, memberi tahu alasan dan tujuannya dalam memberi nasihat kepada beberapa orang di Efesus. 2. Ternyata dalam menasihati juga harus benar tujuannya, harus murni tujuannya.

    Sebagai seorang bapak rohani, Paulus menunjukkan bahwa ia mengajar dan membimbing anak-anak rohaninya. Ia menggembalakan. Dorongan untuk mengajar dan membimbing menurut saya itu merupakan salah satu bentuk dari mengasihi, sehingga disini terlihat bahwa Paulus mengasihi Timotius. Nah ini menjadi refleksi bagi saya, apakah saya senantiasa memberi perhatian, mengajar, mengarahkan, dan membimbing pasangan dan anak-anak saya? Anggota tim saya? Bawahan saya di tempat kerja? Atau kita lebih sering langsung perintah-perintah saja? Tanpa mau tahu apakah mereka bisa mengerjakannya atau tidak?

    Kemudian yang kedua, menasihati itu tujuannya juga harus benar, dan benar sesuai standar Tuhan. Karena seringkali kita menasihati memang tujuannya agar mereka benar, tapi benar menurut kita atau malah seringkali bukan diarahkan ke sesuatu yang benar, justru malah disesatkan. Kasihan kan ya.

    Yuk kita berlatih lagi untuk menjadi orang yang lebih baik, baik sebagai orang tua, atau yang dituakan karena usia atau posisi dan juga mengisi hati dan pikiran kita dengan Firman Tuhan agar apa yang keluar dari kita dalam bentuk nasihat juga benar dasar dan tujuannya.

    Amen

    Image by freepik

  • Kenapa sih tidak langsung menutupi?

    Ayat Rhema
    Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar.
    Kejadian 9:22 TB
    https://bible.com/bible/306/gen.9.22.TB

    Renungan
    Kenapa ya Ham tidak langsung menutupi ayahnya?
    Kenapa ya Ham mesti cerita2 ke saudara-saudaranya dulu?
    Mungkin apa yang Ham lihat sesuatu yang memalukan. Alih2 juga merasa malu akan kondisi ayahnya saat itu dan berusaha menutupinya, ia malah meninggalkan ayahnya dan cerita ke kedua saudaranya.
    Kedua saudaranya mendengar peristiwa itu berusaha menutupi ayahnya bahkan dengan tidak berusaha untuk melihat. Dan sayangnya, Ham tidak disitu juga membantu kedua saudaranya.

    Aplikasi
    Dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam bersosial seringkali kita menemukan kondisi yang tidak pas di diri orang lain. Seringkali kita malah ngomong keluar, membicarakan dengan orang yang lain lagi. Padahal mungkin orang yang tidak pas tersebut adalah bagian dari kita, keluarga kita, pasangan atau anak kita, anggota tim kita, dan sebagainya.
    Kalau kita tidak tahu harus berbuat apa, lebih baik diam! Atau mungkin bertanya, konsultasi harus bagaimana ke orang yang kira-kira bisa memberikan alternatif solusi?
    Kalau ada yang bisa kita lakukan, ya langsung lakukan saja, dan tetap diam. Tidak perlu dicerita-ceritakan.
    Kecuali, perlu kita diskusikan agar ada perbaikan atau tidak terulang kembali. Berbeda konteksnya ya, membicarakan yang hanya cerita-cerita vs membicarakan/ diskusi untuk perbaikan.

    Contoh peristiwa.
    Beberapa waktu lalu ada pasien rawat inap yang harus dilakukan pemeriksaan lab. Karena menggunakan asuransi, maka harus diajukan dulu oleh admin untuk penjaminan asuransi. Namun ternyata ada kesalahan yang menyebabkan prosesnya lama.
    Keluarga pasien menanyakan berulangkali ke perawat, kapan bisa dilakukan. Karena mungkin merasa tertekan karena ditanya berulang kali, perawat tersebut menyebutkan bahwa tadi admin ada kesalahan sehingga tertunda.
    Keluarga pasien marah besar akhirnya kepada admin tersebut.

    Bukan mengajarkan untuk berbohong, namun alih-alih menyampaikan hal yang kurang pas yang ada pada salah satu anggota tim kita (menyampaikan kesalahan orang lain), mungkin akan jauh lebih baik kita membantu mereka untuk memperbaiki kesalahan/ kekurangan yang terjadi sehingga yang diharapkan oleh pelanggan bisa segera terwujud.

    Harapan/Doa
    Ya Tuhan, ingatkan diriku selalu bahwa aku pun orang yang tak sempurna, yang punya banyak kekurangan.
    Ingatkan aku daripada membicarakan orang lain, lebih baik merenungkan FirmanMu atau menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan.

  • Mengapa Kecil ?

     

    Mengapa huruf a dari ayat di atas bukan huruf besar, seperti biasanya kalau Tuhan yang berbicara?

    Apakah janji tersebut bukan dari Tuhan?

    Coba naik ke atas, ke permulaan pasal 1. Itu adalah perkataan Salomo, mungkin kepada anaknya atau kepada siapa kita tidak tahu.

    Salomo adalah Raja yang dikarunia hikmat dari Tuhan, pengertian, dan kebijaksanaan.
    Saat ia memberikan nasihat, pengertian tentunya tidak semua lantas diterima. Mungkin karena dirasa terlalu keras, menampar, menyindir, tidak pengertian, dll maka tidak semua serta merta menerima nasihat dan ajarannya.

    Belajar dari pasal ini.
    Kita sebagai orang yang diberikan hikmat, rhema, mendengar suara Tuhan tidak serta merta akan didengar oleh rekan diskusi/ sharing kita. Menurut saya tugas saya mewartakan/ menyampaikan, pengalaman saya bilang jangan terlalu berharap untuk didengar, apalagi dikerjakan. Tapi bersukacitalah jika itu terjadi. Biarlah kita menjadi pekerja yang menabur benih, yg mungkin bisa jatuh dimana saja. Tuhanlah yang akan memberikan pertumbuhan, Tuhanlah yang akan mengubah hati orang tersebut.

    Hari-hari ini memang banyak orang yang membutuhkan pengertian, semangat, testimoni yang membangkitkan motivasi, membangkitkan iman dan pengharapan.

    Tugas kita adalah menaburkan benih, sebarkan seluas-luasnya, sesering mungkin, jangan menyerah, karena kita tidak pernah tahu kapan tanah itu siap.

    Ayo mari kita tetap bergerak, tetap semangat menceritakan/ sharing kebaikan-kebaikan Tuhan yg kecil, sedang, atau besar dalam hidup kita pada orang lain. Biarkan Tuhan yang menumbuhkan iman dan pengharapan dalam hati orang tersebut.

    #come-on-keep-moving

  • Kejarlah Kasih Itu

    20 Juli 2019

    Hari ini saya membaca 1 Korintus Pasal 13 dan sebagian 14.

    Saya kembali dibuat terfokus dengan banyaknya penekanan-penekanan. Saya juga dibuat membolak-balik halaman Alkitab saya.

    Pada awalnya saat sampai di bagian 1 Korintus 14:24‭-‬25 TB
    https://bible.com/bible/306/1co.14.24-25.TB

    Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”

    Saya merasa diingatkan kembali akan panggilan saya, sehingga saya kemudian mencoba menarik benang merah ke firman-firman (ayat-ayat) sebelumnya.

    1. Salah satu hal agar semakin banyak jiwa mengakui dan akhirnya mengimani Allah adalah setelah ia diyakinkan oleh seseorang yang menggunakan karunia bernubuat.

    2. Ditekankan juga pada ayat 1

    Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
    1 Korintus 14:1 TB

    Okee…. berarti salah satu “senjata” yang perlu saya miliki untuk menjalankan Amanat Agung adalah Karunia untuk Bernubuat.

    Lalu bagaimana agar saya bisa memperoleh karunia tersebut ?

    Darimana ?

    Pada pasal 12 ayat 8 disebutkan

    Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.

    1 Korintus 12:8 TB
    https://bible.com/bible/306/1co.12.8.TB

    Itu berarti karunia-karunia tersebut adalah pemberian Roh Kudus.

    Akhirnya saya mengerti, itulah mengapa Gereja Mawar Sharon mengajak jemaatnya untuk memiliki hubungan yang lebih intim dengan Roh Kudus.

    Hmmm berikutnya saya dituntun untuk fokus pada kalimat “Kejarlah kasih itu”. Kalimat itu menjadi menarik, lebih menarik daripada hal karunia diatas.

    Kasih yang dikejar itu kasih apa ?

    Saya mundur lagi ke pasal 13 ayat 4 – 7.

    Kasih itu sabar;

    kasih itu murah hati;

    ia tidak cemburu.

    Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

    Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.

    Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

    Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.

    Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

    1 Korintus 13:4‭-‬7 TB
    https://bible.com/bible/306/1co.13.4-7.TB

    Kemudian saya juga melihat lagi ayat yang pernah saya highlight :

    1. Kasih tidak berkesudahan

    2. Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu Iman, Pengharapan, dan Kasih, dan yang terbesar adalah kasih

    Saya kemudian mundur lagi, mulai dari ayat 1 – 3 -> saya membuat kesimpulan dari 3 ayat ini bahwa segala sesuatu tidak ada artinya dan tidak berguna jika saya tidak memiliki kasih.

    Bahkan disebutkan di ayat 2, sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

    Ditambah lagi ayat 8 : Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

    Ayat 9 : Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

    Dari hal-hal di atas saya diberitahu bahwa (seperti pasal 14 ayat 1) sudah benar jika kita mengusahakan diri agar memperoleh karunia-karunia terutama karunia bernubuat.

    Namun saya juga diingatkan bahwa bukanlah karunia yang terutama yang menjadi fokus utama melainkan kasih.

    Bukan mengejar karunia, namun mengejar kasih.

    Kasih itu karakter. Salah satu karakter Tuhan. Jadi kalau kita memiliki misi untuk menjadi serupa dengan Tuhan karena kita mengaku adalah anak-anak Tuhan maka membentuk karakter kasih dalam diri kita adalah salah satu keharusan.

    Saat saya mencari judul untuk tulisan ini, saya penasaran dan mencari pasal yang sama di bible versi AMPC

    EAGERLY PURSUE and seek to acquire [this] love [make it your aim, your great quest]; and earnestly desire and cultivate the spiritual endowments (gifts), especially that you may prophesy (interpret the divine will and purpose in inspired preaching and teaching).

    1 Corinthians 14:1 AMPC
    https://bible.com/bible/8/1co.14.1.AMPC

    Wow, menurut saya itu bukan hanya mengejar karena kalau diterjemahkan artinya bersemangat mengejar dan berusaha untuk mendapatkan kasih ini. Sangat berbeda kan ?

    Bahkan dipesankan agar pengejaran kasih itu menjadi tujuan kita, pencarian besar kita. Sama seperti seorang pencari harta karun sedang mencari harta karun terbesar.

    Luar biasa pagi ini Tuhan berbicara melalui firmanNya dan juga penyertaan Roh Kudus saat saya merenungkan firman-firman ini.

    Ayo mari sempurnakan misi hidup kita untuk mengejar kasih.