Bilangan 12:1-14
Musa, Harun, dan Miryam adalah hamba-hamba Tuhan.
Miryam sangat berjasa bagi kehidupan Musa. Pada era pembunuhan bayi-bayi.
Dalam dunia Allah, jasa bukan segalanya, perkenanan Tuhan lah segalanya.
Bagi kita yang menerima jasa, jangan lupa kulit.
Di ayat pertama, terkesan Harun dan Miryam mempermasalahkan tentang istri Musa, perempuan Kush. Namun di ayat berikutnya Harun dan Miryam mempermasalahkan apakah hanya melalui Musa saja Tuhan berfirman? Padahal Tuhan bilang Musa adalah orang yang paling lembut hatinya.
Orang yang berkenan di hadapan Tuhan itu tetap ada orang yang tidak suka. Namun pastikan bahwa itu karena ketaatan kita pada Tuhan, bukan karena kelakuan kita yang tidak benar.
Kalau kita tidak suka dengan atasan, pemimpin rohani di atas kita, pastikan bahwa kita punya alasan yang jelas, bukan karena iri, karena kepahitan, karena tidak suka, dan motivasinya hanyalah dirinya sendiri. Membunuh karakter.
Jangan suka memperkarakan, apalagi kalau tidak jelas hatimu. Karena kalau tidak apapun yang kau perkarakan akan membuat hatimu semakin salah.
Belajar untuk otak-atik perkenanan Tuhan di dalam diri kita. Kalau kita tidak jelas, motivasi kita tidak bersih, kita belum memahami hati kita maunya apa, tidak ada poin-poin obyektif yang jelas dan kita tidak bisa menjelaskannya maka lebih baik kita drop dari hati, bertobat, dan minta Tuhan untuk mengangkat perasaan yang slah itu, mintalah kasih, mintalah kerendahan hati.
Bukan berarti kita selalu lari dari masalah, apa-apa masuk ke hadirat Allah, lupakan, lupakan. Jika sesuatu atau pemimpin kita benar-benar membutuhkan masukan kita (input, feedback, kritikan yang membangun) yang akan berguna dan berarti maka:
- Bawa dulu di dalam doa.
- Tenangkan hati, jangan panasan, kita ingat Firman.
- Susun dalam poin-poin sederhana. Tujuannya untuk mencari solusi, bukan untuk menang-menangan, cari solusi bersama (win-win) yang paling cocok dengan Firman Tuhan.
- Setelah selesai disampaikan, masuk kembali ke dalam hadirat Allah lagi, bersihkan hati.
- Jangan diungkit-ungkit lagi, detox hati.
Orang yang sombong itu adalah kekejian bagi Tuhan, tapi orang yang rendah hati dikasihi oleh Tuhan dan ditunjukkan jalanNya.
Jika kita mau mengejar perkenanan Tuhan, satu jalan: rendah hati.
Kita bisa salah, tapi saat kita mau diajar, ditegur, didisiplin pasti orang tersebut tidak akan dibuang oleh Tuhan, apalagi dibuang sama orang. Sebaliknya orang yang sukanya membangkang.
Ada orang-orang yang sudah tidak jelas motivasi hatinya bisa salah paham dengan dirinya sendiri, dia dimusuhi Tuhan, tapi dia pikir dia dibela Tuhan. Juling rohani, ketika orang hatinya sudah jauh dari perkenanan Tuhan, dia sendiri sudah tidak bisa lihat Tuhan dan dia salah mengerti situasi.
Power syndrome adalah salah satu bentuk kesombongan. Di satu area mungkin kita adalah pemimpin, tapi di area lain bisa jadi kita adalah anak murid, atau junior, atau bawahan. Jangan sampai ada power syndrome.
Jangan ngaku-ngaku, karena orang yang dikenan Tuhan itu nanti Tuhanlah yang akan mengakui dia. Kesaksian Allah jauh lebih tinggi daripada kesaksian siapa pun (ayat 7). Seperti pada saat Tuhan menyatakan Tuhan Yesus saat dibaptis oleh Yohanes pembabtis.
Kalau kita ditekan, seringkali kita merasa tidak tahan, dan kita tahu kita benar, jangan minta pembalasan. Tidak usah membenarkan diri, tidak usah banyak bicara, berlutut di hadapan Allah, jangan minta pembalasan karena siapalah kita ini, tapi mintalah penyertaan. Satu hal itu saja cukup.
Ayat 10, orang yang dikenan Tuhan juga bisa sakit. namun ada perbedaannya. Apabila kita mendapatkan vonis penyakit, namun kita tahu hidup kita juga tahu bahwa kita sudah berusaha untuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, orang tersebut tidak takut, ada pegangan, ada sukacita yang tidak bisa tercuri sekalipun sedih, ada damai sejahtera yang melampaui akal budi, hidup pun berserah penuh, tidak takut mati.
Tapi kalau kita mengalami sakit, dan di hati kecil kita tahu kita berdosa di hadapan Tuhan, waktu di vonis penyakit tersebut kita tahu itu adalah hukuman Allah.
Kalau kita di vonis sesuatu, dan kita punya keyakinan bahwa Tuhan di pihak kita, kita akan melihatnya bukan sebagai suatu hukuman namun sebagai batu loncatan untuk semakin percaya kepada Tuhan, untuk semakin mengasihi Tuhan, untuk semakin sungguh-sungguh di dalam kehidupan akan sangat berbeda perasaannya.
Musa tidak membalas bahkan tidak mengucapkan satu kata untuk membalas, justru Musa meminta kepada Tuhan untuk menyembuhkan Miryam (ayat 13).
Tuhan mengabulkan permintaan Musa. Apabila kita masih survive, bisa jadi ada orang yang berkenan di hadapan Tuhan yang berdoa untuk kita. Tapi perkenanan Tuhan berbeda, kepada orang yang dikenan Tuhan, akan dibela.
Ada 1 prinsip kebenaran, bahwa kita tidak akan bisa masuk ke dalam Kanaan kita sebelum favour, perkenanan Tuhan direstorasi.
Poin-poin yang menjadi pegangan kita apabila kita hidup berkenan di hadapan Tuhan:
- Tuhan akan mengakuinya di hadapan manusia. Mintalah buah.
- Tuhan akan membelanya terhadap pengkritiknya. Jadit idak perlu membela diri.
- Tuhan akan mendengarkan doanya untuk musuh-musuhnya.
Tidak ada orang yang hidupnya selalu berkenan, perkenanan Tuhan itu bukanlah copyright, justru kita harus right to copy. Ingatkan kepada diri sendiri.
Pantangan, jangan melawan orang yang berkenan di hadapan Tuhan.
Jadilah orang-orang benar yang hidunya berkenan di hadapan Tuhan, yang mendoakan musuh-musuh agar hidupnya diberkati Tuhan.
