Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: faith

  • 41. Renungan Ibrani 12 – My Idol

    41. Renungan Ibrani 12 – My Idol

    ‭Hebrews 12:2 NIV‬
    [2] fixing our eyes on Jesus, the pioneer and perfecter of faith. For the joy set before him he endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God.
    https://bible.com/bible/111/heb.12.2.NIV

    Ibrani 12:2 TB‬
    [2] Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

    https://bible.com/bible/306/heb.12.2.TB

    Memusatkan pandangan kita kepada Kristus merupakan sumber kekuatan dan pengharapan sekaligus penjagaan bagi hidup kita.

    Tuhan Yesus mencontohkan kepada kita manusia, bahwa Ia pun menanggung segala sesuatu, penderitaan, kesakitan, dan malu di atas kayu salib karena Ia senantiasa memandang Bapa di surga. Ia menjalani semuanya dan mendapatkan kekuatan serta keyakinan bahwa semua itu akan membawa keselamatan bagi seluruh manusia.

    Segala penderitaan yang kita alami, Yesus pun pernah menjalaninya dan akhirnya melewatinya. Memang Yesus bukanlah manusia biasa, tapi Ia mau menunjukkan agar kita fokus pada Bapa, padaNya, karena saat kita fokus pada Yesus maka Roh Kudus akan memberikan kekuatan, pengharapan, dan membukakan jalan atas penderitaan dan pergumulan yang sedang kita alami.

    Percayalah bahkan jika pergumulan itu belum berlalu, Tuhan sudah memberikan kekuatan dan pengharapan yang baru untuk kita bisa tenang bahkan sukacita menjalaninya.

    Memusatkan pandangan pada Yesus juga merupakan suatu penjagaan atas hidup kita agar jalan kita tidak ke kanan dan ke kiri, agar keyakinan kita tidak diombang-ambingkan, agar kita tidak disesatkan.

    Penjagaan baik di kala kita sedang berjuang menjalani pergumulan atau di kala kita sedang baik-baik saja, atau bahkan saat hidup kita sedang bahagia-bahagianya. Agar jangan sampai kita terlena dan lupa sehingga kita melenceng dari arah yang Tuhan sudah tentukan.

    Bagaimana caranya agar senantiasa memusatkan pandangan kita kepada Yesus?

    Jadikan Yesus sebagai idola dalam hidup kita!

    Ya, menurut saya itu salah satu cara yang membuat kita senantiasa berpikir tentang Yesus.

    Saya mengingat orang-orang yang mengidolakan penyanyi. Bagaimana mereka bisa mengenali penyanyi tersebut A – Z, hapal semua karyanya, mengikuti media sosialnya, koleksi albumnya, punya barang-barang yang ada wajahnya, menabung dan keluar uang demi bisa menghadiri pertunjukan atau konser mereka, senang saat idolanya senang, ikutan sedih saat idolanya sedih. Bahkan kalau memungkinkan mereka bisa mengikuti gaya mulai dari penampilan, dan juga gaya hidup, serta cara pandang. Dan mereka punya julukan sendiri sebagai fans garis keras, seperti punya tribe atau komunitas sendiri.

    Bagaimana kalau saya mengidolakan Yesus seperti fans garis keras artis penyanyi?

    Bukankah saya seharusnya selalu memikirkan tentang Yesus di sebagian besar waktu saya?

    Bukankah jika terbuka kesempatan kita berjuang untuk bisa bertemu dan berbicara denganNya?

    Bukankah momen untuk bertemu dan berbicara denganNya itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu dan membuat saya exciting? Dan saat kesempatan itu terlewat saya merasa sangat sedih dan susah hati?

    Bukankah saya seharusnya hapal semua kata-kataNya dan karya-karyaNya, bahkan kalau bisa kita meniruNya (doa, perkataan, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan)?

    Bukankah saya seharusnya mengikuti gayaNya (ramah, lembut, dan penuh kasih), cara pandangNya (sabda bahagia di atas bukit)?

    Bukankah saya seharusnya menjalankan permintaanNya (hidup kudus, menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang)?

    Hmmm….

    Tuhan, ternyata ya baru aku sadari kalau Engkau belum menjadi idola dalam hidupku. Oh, Maafkan aku ya Tuhan.
    Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku.
    Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku.
    Dan mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku, sepenuh hatiku.
    Dalam nama Tuhan Yesus. Amen

  • 38. Renungan Ibrani 11 – Karena Iman

    38. Renungan Ibrani 11 – Karena Iman

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya belajar satu hal tentang motif.

    ‭Ibrani 11:32-34 TB‬
    [32] Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, [33] yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, [34] memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

    https://bible.com/bible/306/heb.11.32-34.TB

    Motif adalah sesuatu hal yang mendasari seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

    Di kitab Ibrani 11 ini kita diperlihatkan kembali apa yang menjadi motif dari apa yang diperbuat atau tidak dibuat oleh orang-orang kudus dalam perjanjian lama.

    Motif mereka adalah iman. Karena iman ….., iman dalam Kristus.

    Iman dalam Kristus menjadi motivasi untuk berjuang, iman akan Kristus menjadi sumber pengharapan untuk menahan segala kesulitan dan penderitaan dalam kehidupan mereka.

    Kalau kita refleksi bertanya pada diri kita sendiri, apakah pernah kita berjuang karena iman?

    Dalam kitab ini, begitu banyak contoh perbuatan-perbuatan besar yang diperlihatkan, namun apakah iman itu hanya ditunjukkan dalam perbuatan yang besar? Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Karena saya bukanlah seorang nabi, saya hanyalah seorang karyawan, saya hanyalah pengusaha usaha kecil-kecilan, saya ibu rumah tangga, saya masih sekolah.

    Apa yang bisa, apa yang harus saya lakukan karena iman saya?

    Kalau kita renungkan, maka ada begitu banyak hal, bahkan segala sesuatu yang kita kerjakan mulai dari tidur, makan, berpakaian, dan lain sebagainya.

    Contoh: Dalam hal pribadi, apakah kita menyisihkan waktu khusus untuk membangun hubungan dengan Tuhan, di tengah kesibukan, keinginan untuk “me time”, mengeluarkan biaya untuk pergi ke gereja? Apakah kita memilih membaca Alkitab ketimbang membuka media sosial atau nonton film? Apakah kita menjaga pola makan kita, menahan diri untuk tidak ngemil terus-terusan?

    Dalam pekerjaan, apakah kita berlaku jujur, tidak membuat laporan yang tidak benar, apakah kita benar-benar mengupayakan yang terbaik, apakah kita tetap menghormati atasan kita walaupun seringkali merasa seperti diperlakukan tidak adil?

    Tak terhitung begitu banyak hal. Namun satu yang terpenting, dari seluruh aktifitas dan kegiatan yang kita pilih maka motifnya adalah iman dalam Kristus.

    Tuhan, ya Roh Kudus, tolong buka mata kami, telinga kami, dan pikiran kami agar dalam melihat segala sesuatu kami dapat melihat dalam kacamata iman dalam Kristus. Agar apapun yang kami lakukan, apapun yang kami pikirkan, kami rasakan, motifnya hanya satu yaitu iman akan Kristus. Dan biarlah iman akan Kristus menjadi satu-satunya motif, jangan biarkan ada motif yang lain. Amen.

    Apakah ada contoh aktifitas sehari-hari yang didasari motif iman anda pada Kristus? Mau dong agar kita bisa belajar sama-sama. Bagikan di kolom komentar di bawah ya 😊🙏🏼

    Terimakasih Tuhan Yesus memberkati.

    Image by jcomp on Freepik

  • 25. Jumat Agung – 2 Korintus 4:17 – Miliki Visi Kemuliaan

    25. Jumat Agung – 2 Korintus 4:17 – Miliki Visi Kemuliaan

    Dapat rhema apa hari ini?

    Saya dapat visi!

    ‭2 Korintus 4:17 TB‬
    [17] Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

    https://bible.com/bible/306/2co.4.17.TB

    Sama seperti Tuhan Yesus yang sedang menjalani kisah sengsara, segala penderitaan yang dijalani oleh Tuhan Yesus hanya untuk satu visi yaitu kemuliaan kekal.

    Ya, penderitaan kita di dunia, pergumulan, kesakitan, kesulitan, dan segala hal yang membuat kita susah juga sudah dialami oleh Tuhan Yesus, Ia yang tidak berdosa sedikit pun harus menanggung penderitaan yang begitu mengerikan dan keji demi kita manusia, demi kita mendapatkan akses kembali ke rumah Bapa di surga.

    Jadi apa pun situasi dan kondisi kita, betapa susah dan menyakitkan pergumulan kita ayo kita kerjakan demi kemuliaan kekal yang melebibi segala-galanya. Jalani dengan sukacita.

    Amen

    Image by freepik

  • Ps. Tryfena Yochebed – Di Sisi Penyertaan Allah

    Ps. Tryfena Yochebed – Di Sisi Penyertaan Allah

    Dalam hidup kita hanya ada 2 sisi:

    1. Sisi Penyertaan Allah

    2. Sisi Tanpa Penyertaan Allah

    Mari baca kisah tentang Yunus:

    ‭‭Datanglah firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai, demikian:

    https://bible.com/bible/306/jon.1.1.TB

    Saat Firman Tuhan datang dan meminta Yunus pergi ke Niniwe

    Yunus bukannya pergi tapi justru kabur menghindar berusaha jauh dari hadapan Tuhan.

    Yunus tidak mau ke Niniwe karena mereka itu bangsa yang keji, kenapa Tuhan mau selamatkan mereka? Kenapa tidak Tuhan biarkan bangsa itu binasa. Yunus tidak mau ke sana, mungkin Yunus bahkan benci atau dendam dengan mereka.

    Kita manusia juga seringkali kabur dari hadapan Tuhan, karena kita tidak mau melakukan hal-hal yang Tuhan minta.

    Bahkan Yunus pun rela bayar biaya perjalanan yang begitu jauh, yang pasti mahal. Dan kita pun seringkali rela mengorbankan apa yang kita miliki agar tetap tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

    Apa Niniwe anda hari ini?

    Ini waktunya kita mengerjakan Niniwe kita, jangan melarikan diri, melangkahlah, terima dulu. Saat Tuhan mengutus maka Tuhan akan memperlengkapi dan menjagai kita.

    Sangking tidak maunya Yunus ke sana, saat kapal ditimpa badai pun Yunus bisa-bisanya tidur nyenyak sementara semua awak kapal panik sampai membuang muatan mereka ke laut.

    Dalam hidup kita pun seringkali terjadi goncangan atau badai, ini terjadi karena Tuhan begitu mengasihi Yunus. Bagaimana kalau Yunus dibiarkan Tuhan sampai ke Tarsis, maka Yunus akan semakin jauh dari hadapan Tuhan. Bahkan Tuhan menyelamatkan Yunus melalui ikan besar.

    Jadi hamba Tuhan tidak jaminan kita berada di sisi penyertaan Allah. Itu harus dibangun setiap waktu, dijaga setiap waktu.

    Jauh dari hadapan Tuhan itu seperti keluar dari radar. Jauh dari pantauan. Jauh dari rencana Allah. Kita perlu membangun kedekatan dengan Tuhan.

    Kedekatan dengan Tuhan tidak dibangun dengan ibadah di hari minggu, jumlah pelayanan yang kita jalani. Tapi dibangun dari hari demi hari.

    Taat pada Firman Tuhan adalah satu-satunya jalan dalam penyertaan Tuhan.

    Dan semua yang Tuhan lakukan itu bukan untuk kemuliaan Tuhan karena nama Tuhan sudah besar, namun Tuhan ingin membesarkan kita sebagai anak-anak yang dikasihiNya.

    Dimanakah posisi anda saat ini?

    Tuhan senantiasa menyertai hidup kita, namun ada satu pertanyaan apakah kita menyertai Tuhan dalam rencana-rencanaNya? Apakah kita yang mengaku menyayangi, menganggap Tuhan sebagai Tuhan kita bersedia melakukan apa pun agar rencana Tuhan bisa terwujud?

    Naik level lah menjadi anak-anak Tuhan yang menyertai Tuhan.

    Semoga Tuhan Yesus memberkati.

    (Sermon Note – Ibadah GMS Bogor 24 Maret 2024)

  • 20. Happy Palm Sunday

    20. Happy Palm Sunday

    Hari ini adalah hari minggu palma, terbayang suasana gereja yang dalam liturginya merayakan hari minggu palma.

    Suasana ceria dan sukacita ada di dalamnya.

    Ayat rhema hari ini:

    ‭‭Yohanes 12:14-15 TB‬‬
    Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis:  ”Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.”

    https://bible.com/bible/306/jhn.12.14.TB

    Renungan saya hari ini:

    Mengapa ada kata “jangan takut”?

    Ya mengapa?

    Karena kalau melihat referensinya, yang tertulis di Zakaria adalah seperti ini:

    ‭‭Zakharia 9:9 TB‬‬
    Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

    https://bible.com/bible/306/zec.9.9.TB

    Disana disampaikan agar Yerusalem bersorak-sorai.

    Tidak berbeda jauh dengan yang tertulis di Injil Matius:

    ‭‭Matius 21:5 TB‬‬
    ”Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

    https://bible.com/bible/306/mat.21.5.TB

    Mengapa bisa berbeda kata-kata pembukanya? Bisa berbeda berdasarkan sudut pandang penulis pada saat itu. Matius mungkin karena ia seorang pemungut cukai, ia mendokumentasikan, detil dan rinci. Sementara Yohanes, mungkin pada saat mengingat hal itu kembali ia merasa sangat sedih dan mungkin juga takut sehingga yang dituliskannya adalah jangan takut.

    Pada saat kita mengingat dan merenungkan Firman Tuhan, dari satu ayat yang sama Roh Kudus bisa menuntun kita melihat dan merasakan dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Dan biasanya hal itu memang pribadi sifatnya. Dari satu ayat Firman Tuhan yang sama Tuhan bisa berbicara dengan konteks yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Puji Tuhan itulah rhema, itulah saat logos menjadi rhema.

    Hari ini, disaat saya membayangkan sukacita Yesus disambut di Yerusalem, mungkin di dalam hati Yesus berkecamuk perasaan sedih dan mungkin juga takut. Karena walaupun Ia Tuhan, namun tidak menutup kemungkinan tubuh fisik Yesus saat itu merasakan sedih dan sedikit takut.

    Itupun yang saya rasakan, perayaan minggu palma tidak pernah benar-benar menjadi suatu perayaan sukacita, karena kita tahu waktu sudah sangat dekat bagi Dia untuk menjalani sengsara ditangkap dan disalibkan. Perayaan Minggu Palma ini merupakan pembuka dari satu rangkaian kisah sengsara, yang ditutup dengan perayaan sukacita Paskah.

    Mari kita mengingat, merenungkan, dan membayangkan dalam minggu ini, bagaimana Tuhan Yesus menjalani sengsaraNya.

    Amen

    Image by freepik

  • 16. 2 Tesalonika 2:3 – Mengapa harus ada hari-hari itu ya Tuhan?

    16. 2 Tesalonika 2:3 – Mengapa harus ada hari-hari itu ya Tuhan?

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini seperti kosong, ada beberapa ayat yang menarik, tapi hati ini tidak tergugah untuk menuliskan sesuatu, dan setelah break sejenak, kembali lagi membaca dan mencoba merenungkan, kembali ke satu ayat dengan pertanyaan yang menggelitik.

    Ayat rhemanya sebagai berikut:

    ‭‭2 Tesalonika 2:3 TB‬‬
    Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga!

    Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa,

    https://bible.com/bible/306/2th.2.3.TB

    Tiba-tiba terbersit pertanyaan kepada Tuhan, “Mengapa ya Tuhan, mengapa harus dunia berubah dahulu menjadi murtad baru Engkau datang? Tidakkah Engkau kasihani kami yang imannya tidak seberapa kuat ini?”

    Saat dunia berubah, apakah kami sanggup menghadapinya? Bertahan dalam iman agar tidak digoyahkan dunia? Adakah manusia yang sanggup bertahan dalam tekanan, dalam penderitaan, atau bahkan penganiayaan itu?

    Ya Tuhan, jika memang itu harus terjadi, jangan jauh-jauh dari kami ya Tuhan. Jangan biarkan kami merasa sendirian. Jangan lepaskan kami dari tanganMu, pegang tangan kami erat-erat. Jangan biarkan kami berubah, berbalik dari padaMu.

    Amen

    Image by freepik