
Hebrews 12:2 NIV
[2] fixing our eyes on Jesus, the pioneer and perfecter of faith. For the joy set before him he endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God.
https://bible.com/bible/111/heb.12.2.NIV
Ibrani 12:2 TB
[2] Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
https://bible.com/bible/306/heb.12.2.TB
Memusatkan pandangan kita kepada Kristus merupakan sumber kekuatan dan pengharapan sekaligus penjagaan bagi hidup kita.
Tuhan Yesus mencontohkan kepada kita manusia, bahwa Ia pun menanggung segala sesuatu, penderitaan, kesakitan, dan malu di atas kayu salib karena Ia senantiasa memandang Bapa di surga. Ia menjalani semuanya dan mendapatkan kekuatan serta keyakinan bahwa semua itu akan membawa keselamatan bagi seluruh manusia.
Segala penderitaan yang kita alami, Yesus pun pernah menjalaninya dan akhirnya melewatinya. Memang Yesus bukanlah manusia biasa, tapi Ia mau menunjukkan agar kita fokus pada Bapa, padaNya, karena saat kita fokus pada Yesus maka Roh Kudus akan memberikan kekuatan, pengharapan, dan membukakan jalan atas penderitaan dan pergumulan yang sedang kita alami.
Percayalah bahkan jika pergumulan itu belum berlalu, Tuhan sudah memberikan kekuatan dan pengharapan yang baru untuk kita bisa tenang bahkan sukacita menjalaninya.
Memusatkan pandangan pada Yesus juga merupakan suatu penjagaan atas hidup kita agar jalan kita tidak ke kanan dan ke kiri, agar keyakinan kita tidak diombang-ambingkan, agar kita tidak disesatkan.
Penjagaan baik di kala kita sedang berjuang menjalani pergumulan atau di kala kita sedang baik-baik saja, atau bahkan saat hidup kita sedang bahagia-bahagianya. Agar jangan sampai kita terlena dan lupa sehingga kita melenceng dari arah yang Tuhan sudah tentukan.
Bagaimana caranya agar senantiasa memusatkan pandangan kita kepada Yesus?
Jadikan Yesus sebagai idola dalam hidup kita!
Ya, menurut saya itu salah satu cara yang membuat kita senantiasa berpikir tentang Yesus.
Saya mengingat orang-orang yang mengidolakan penyanyi. Bagaimana mereka bisa mengenali penyanyi tersebut A – Z, hapal semua karyanya, mengikuti media sosialnya, koleksi albumnya, punya barang-barang yang ada wajahnya, menabung dan keluar uang demi bisa menghadiri pertunjukan atau konser mereka, senang saat idolanya senang, ikutan sedih saat idolanya sedih. Bahkan kalau memungkinkan mereka bisa mengikuti gaya mulai dari penampilan, dan juga gaya hidup, serta cara pandang. Dan mereka punya julukan sendiri sebagai fans garis keras, seperti punya tribe atau komunitas sendiri.
Bagaimana kalau saya mengidolakan Yesus seperti fans garis keras artis penyanyi?
Bukankah saya seharusnya selalu memikirkan tentang Yesus di sebagian besar waktu saya?
Bukankah jika terbuka kesempatan kita berjuang untuk bisa bertemu dan berbicara denganNya?
Bukankah momen untuk bertemu dan berbicara denganNya itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu dan membuat saya exciting? Dan saat kesempatan itu terlewat saya merasa sangat sedih dan susah hati?
Bukankah saya seharusnya hapal semua kata-kataNya dan karya-karyaNya, bahkan kalau bisa kita meniruNya (doa, perkataan, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan)?
Bukankah saya seharusnya mengikuti gayaNya (ramah, lembut, dan penuh kasih), cara pandangNya (sabda bahagia di atas bukit)?
Bukankah saya seharusnya menjalankan permintaanNya (hidup kudus, menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang)?
Hmmm….
Tuhan, ternyata ya baru aku sadari kalau Engkau belum menjadi idola dalam hidupku. Oh, Maafkan aku ya Tuhan.
Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku.
Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku.
Dan mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku, sepenuh hatiku.
Dalam nama Tuhan Yesus. Amen











