Darah Yesus.
3 hari terakhir ini senantiasa terlintas dalam pikiran saya tentang Darah Yesus. Kita juga seringkali menyebutkan kedua kata ini dalam doa-doa kita. Terutama saat kita membutuhkan perlindungan dan penjagaan Tuhan. Ada juga yang menyebutkan kedua kata ini untuk konteks-konteks yang lain seperti kesembuhan, pemulihan, dan lain-lain.
Pikiran saya melintas pada paskah pertama, (Keluaran 12), dimana bangsa Israel merayakannya di Mesir saat Malaikat Tuhan melintasi tanah Mesir mengambil semua anak pertama bangsa Mesir bahkan sampai anak binatang. Di sana Tuhan memerintahkan melalui Musa agar setiap rumah mengoleskan darah anak domba yang telah disiapkan sebagai korban paskah pada bingkai pintu (kedua tiang dan ambang pintu).
Tuhan Yesus, yang diumpamakan sebagai anak domba yang menjadi korban penebusan atas dosa-dosa kita. Bahkan untuk dosa-dosa yang belum kita lakukan.
Pada saat kita menyebutkan Darah Yesus dalam doa, biasanya kita menyebutkan agar Darah Yesus melindungi diri kita, rumah kita, tempat kerja kita, atau negara kita. Namun saya diingatkan pada satu tempat yang sangat rentan, yang sangat lemah sekaligus bisa juga kuat – hati kita.
Ya, hati kita, disitulah dimana seharusnya Tuhan Yesus kita berada, namun sangat sering juga kita tidak mengizinkan Tuhan berada disana, bahkan mungkin kita tanpa sadar mengusir Tuhan dari hati kita. Mengapa begitu? Kemungkinan besar kita termakan tipuan-tipuan Iblis, trik-trik klasik yang masih sangat efektif digunakan.
Iblis adalah master of distraction, saat perhatian kita teralihkan oleh hal-hal yang menggugah hati kita, mungkin melalui mata kita, yang kemudian mempengaruhi pikiran kita. Saat itulah Iblis mulai masuk. Dengan keahlian persuasinya mempengaruhi dan meracuni pikiran kita, mempengaruhi, membenarkan, memberi makan ego kita, dengan logika-logikanya.
Coba bagaimana Adam dan Hawa jatuh? Diberi makan ego bahwa mereka akan bisa seperti Tuhan yang mengerti mana yang baik dan mana yang jahat. Dan menurut saya itu masih ada sampai sekarang, saat kita sudah mulai menilai orang lain berdasarkan pengertian-pengertian kita. Sayangnya itu yang salah. Pengertian akan yang baik dan jahat itu hanya 1 sumbernya – Firman Tuhan.
Bagaimana Daud jatuh saat melihat seseorang mandi di sungai? Pikirannya yang diberi makan iblis. Dipengaruhi terus sampai dia mereka-rekakan rencana jahat.
Bagaimana Iblis mencobai Yesus dengan terang-terangan saat Yesus berpuasa. Karena Iblis tidak bisa menebak/ masuk dalam pikiran Tuhan Yesus, maka ia menerka-nerka. Puasa pasti lapar – maka ia mencoba membangun logika bahwa kalau lapar makan saja, Yesus punya kemampuan merubah batu menjadi roti. Kemudian dia membawa Yesus ke atas Bait Allah, mencobai apakah Yesus akan sombong bahwa dia tidak akan mati jika jatuh. Lalu ia mencoba menerka bahwa Yesus datang karena Yesus mau menjadi Raja atas seluruh bumi, menawari tahta.
Iblis itu juga persisten, dia tidak akan berhenti sampai kita benar-benar jatuh ke tangannya. Dia bahkan menggunakan semua hal yang mungkin menurut kita itu yang benar, yang kita lihat sesuai dengan logika kita, dengan perasaan kita.
Kembali ke hati kita. Menurut saya keselamatan itu harus dikerjakan bersama. Terutama kita pribadi dengan Tuhan. Terutama yang percaya kan ya. Keselamatan, janji-janji Tuhan tidak akan terwujud kalau kita tidak ikut cara dan jalanNya Tuhan. Kita perlu senantiasa menjaga hati kita. Bagaimana caranya menjaga hati? Dengan cara merenung-renungkan firman Tuhan, karena kalau sepanjang hari isi pikiran kita hanya Firman Tuhan dan bagaimana caranya kita menjalankan perintah-perintah Tuhan maka kecil sekali kemungkinan Iblis mencuri perhatian kita.
Permasalahan, pergumulan, kesusahan hidup, penyakit bisa mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Pekerjaan, kesibukan, kesuksesan, dan kekayaan bisa mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Bahkan keluarga kita sendiri pun, pasangan kita bisa mengalihkan perhatian kita dari Tuhan.
Maka dari itu, saya baru mengerti kenapa Ps Philip mengajarkan caranya menjaga hati. Ia selalu bilang, saat bangun tidur, saat buka mata pikir Roh Kudus dulu, Doa, Bahasa Roh. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang biasa beliau ceritakan yang baru saya sadari bahwa itulah cara beliau membangun benteng dari serangan iblis. Yang masih jadi PR buat saya pribadi.
Darah Yesus, mari kita oleskan darah Yesus di hati kita sesering mungkin. Sebagai bentuk kesadaran bahwa kita mau bekerjasama dengan Tuhan untuk mengerjakan keselamatan kita masing-masing. Mari kita mulai membangun kembali kebiasaan-kebiasaan setidaknya mendekati yang dicontohkan oleh Ps. Philip dalam keluarganya.
Saya percaya, Tuhan akan membawa kita ke tanah yang Ia janjikan.