Renungan Yeremia 18:1-17 – Disempurnakan Slalu
Yeremia 18:1-17 menggambarkan siklus kehidupan manusia.
“”Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini,
Yeremia 18:6 TB
hai kaum Israel!,
demikianlah firman Tuhan.
Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk,
demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”
https://bible.com/bible/306/jer.18.6.TB
Kita adalah tanah liat, dan Tuhan, adalah Sang Penjunan, The Potter.
Berbahagialah kita yang sedang berada di atas pelarikan, atau roda putar pembuat gerabah/ keramik dari tanah liat, karena itu berarti Tuhan sedang bekerja atas kita.
Sang Penjunan tentunya memiliki visi dalam hati dan pikiranNya, akan dibentuk menjadi apakah tanah liat ini? Tentunya suatu benda yang baik dan bagus di mataNya.
Mari kita membayangkan prosesnya.
Tanah liat itu digebak-gebuk di atas pelarikan.
Tanah liat, bahan baku gerabah itu bukanlah yang teksturnya sudah lembut, masih dengan tekstur asalnya, keras. Walaupun bukan keras, kering seperti batu. Itu menggambarkan kondisi hati kita, karakter, dan sifat kita yang keras.
Maka ditambahkan air, agar air itu melembutkan tekstur tanah liat tersebut. Air itu akan terserap ke dalam tanah liat, menjadi struktur, dengan tekstur yang baru. Bagaimana agar optimal teksturnya supaya bisa mulai dibentuk? Diremas, squeeze.
Air adalah Firman Tuhan, yang harus kita serap, agar struktur kimia kita berubah, tekstur kita menjadi tekstur yang siap dibentuk. Dan diremas, itu artinya kita akan dihadapkan dalam situasi-situasi yang relevan dengan Firman Tuhan tersebut. Dihadapkan dengan situasi kita harus mengampuni, dengan situasi kita harus mengasihi, harus memberi, harus bertahan mengandalkan Tuhan. Pada saat diremas itu juga sambil membuang batu, kayu, atau rumput yang ada di tanah liat, agar jadi bahan yang homogen, siap dibentuk.
Lalu berikutnya apa? tergantung mau dibentuk menjadi apa, kalau akan dibuat menjadi guci mahal maka proses selanjutnya adalah diputar dan dibentuk. Sambil diputar, dikasih air sedikit, ditarik ke atas, dilebarkan, dikecilkan, dibuat rongga. Bisa pakai tangan namun terkadang juga pakai alat. Itulah yang kita rasakan, Tuhan akan memproses seperti tadi, dan tentunya tidak enak, dan bisa tidak enak sekali. Tapi tangan Tuhan tidak pernah lepas. Tangan Tuhan dan kaki Tuhan senantiasa menjaga kita jangan sampai rusak, putarannya tidak akan terlalu cepat sampai tanah liat itu terpental dari roda putar, dan kedua tangan Tuhan dengan gentle membentuk kita.
Jadi benarlah Firman Tuhan yang mengatakan bahwa tidak ada kesukaran yang kita hadapi yang melebihi batas kemampuan kita, karena Tuhan yang membatasi.
Kadang Tuhan hentikan rodanya karena ada kotoran, batu, kayu, atau rumput sehingga Tuhan harus mencongkel itu keluar.
Proses itu terus dan terus dijalankan sampai menjadi bentuk yang Tuhan bayangkan, visi Tuhan atas tanah liat itu, atas diri kita.
Nabi Yeremia diperlihatkan bagaimana Tuhan membentuk hidup manusia menjadi suatu yang indah dan baik di mataNya.
Doa:
Ya Tuhan,
Ajari kami selalu untuk bisa menikmati setiap proses yang Engkau lakukan atas kami, bisa bersyukur di setiap tahapan kehidupan kami.
Terimakasih Tuhan, atas kesempatan untuk Engkau bentuk, kami mau menyerahkan diri kami dan hidup kami ke tanganMu Tuhan.
Amin
