Renungan Mazmur 9 : 2 – Kata-kata tanpa makna
Aku ingin bersyukur kepada Tuhan karena hikmatNya sehingga aku bisa mendapatkan pengertian dan makna dari setiap kata dalam Firman Tuhan.
Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penulis, saat ia sedih, saat ia gembira, atau saat ia marah.
“Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,”
Mazmur 9:2-3 TB
Aku mau bersyukur atas hikmat dan pengertian di saat aku membayangkan bagaimana jika itu tidak ada.
Kata-kata hanya sekedar kata-kata, tanpa ada makna. Kosong.
Firman Tuhan hanya seperti tulisan saat kita membaca buku dengan bahasa asing. Kita bisa membaca kata-katanya, namun kita tidak mendapatkan pengertian darinya.
Betapa akan tidak menariknya Firman Tuhan bagiku saat kata-kata itu melintas tanpa makna.
Hikmat dan pengertian ini baru aku sadari hari ini, sehingga aku tahu kenapa aku bisa merasakan Allah begitu sedih saat Ia memakaikan baju kulit hewan kepada Adam dan Hawa. Aku bisa merasakan kekesalan dan kemarahan Musa saat ia melihat bangsa Israel membangun lembu emas padahal Tuhan sudah begitu baik. Aku bisa merasakan ketakutan dan pengharapan Daud saat ia mengadu dalam pelarian atau dalam pertempurannya. Dan aku bisa merasakan betapa Yesus sangat bersukacita, bersemangat di saat menyampaikan khotbah di atas bukit.
Semua itu bisa kurasakan dan mendapat pengertian darinya.
Bagaimana jika tulisan itu hanya sekedar tulisan tanpa makna?
Semakin kusadari akhirnya bahwa aku perlu Roh Kudus untuk menolongku, memberiku pengertian mulai pengertian yang sederhana sampai yang dalam dan kompleks. Yang menolongku untuk memahami hubungan, kaitan, dan bagaimana aplikasinya dalam konteks diriku di saat ini, dalam pergumulan pribadi, dalam situasiku yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Roh Kudus menuntunku.
Aku perlu Roh Kudus untuk mencelikkan mataku sehingga aku bisa melihat maknanya. Aku perlu Roh Kudus untuk berbisik lembut di telinga rohaniku. Aku perlu sentuhan tangan Tuhan di hatiku agar aku bisa merasakan perasaan hati Tuhan dalam FirmanNya.
Terima kasih Tuhan, terima kasih ya Roh Kudus.
Amen
