Aku ingin bersyukur kepada Tuhan karena hikmatNya sehingga aku bisa mendapatkan pengertian dan makna dari setiap kata dalam Firman Tuhan.
Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penulis, saat ia sedih, saat ia gembira, atau saat ia marah.
“Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,”
Mazmur 9:2-3 TB
Aku mau bersyukur atas hikmat dan pengertian di saat aku membayangkan bagaimana jika itu tidak ada.
Kata-kata hanya sekedar kata-kata, tanpa ada makna. Kosong.
Firman Tuhan hanya seperti tulisan saat kita membaca buku dengan bahasa asing. Kita bisa membaca kata-katanya, namun kita tidak mendapatkan pengertian darinya.
Betapa akan tidak menariknya Firman Tuhan bagiku saat kata-kata itu melintas tanpa makna.
Hikmat dan pengertian ini baru aku sadari hari ini, sehingga aku tahu kenapa aku bisa merasakan Allah begitu sedih saat Ia memakaikan baju kulit hewan kepada Adam dan Hawa. Aku bisa merasakan kekesalan dan kemarahan Musa saat ia melihat bangsa Israel membangun lembu emas padahal Tuhan sudah begitu baik. Aku bisa merasakan ketakutan dan pengharapan Daud saat ia mengadu dalam pelarian atau dalam pertempurannya. Dan aku bisa merasakan betapa Yesus sangat bersukacita, bersemangat di saat menyampaikan khotbah di atas bukit.
Semua itu bisa kurasakan dan mendapat pengertian darinya.
Bagaimana jika tulisan itu hanya sekedar tulisan tanpa makna?
Semakin kusadari akhirnya bahwa aku perlu Roh Kudus untuk menolongku, memberiku pengertian mulai pengertian yang sederhana sampai yang dalam dan kompleks. Yang menolongku untuk memahami hubungan, kaitan, dan bagaimana aplikasinya dalam konteks diriku di saat ini, dalam pergumulan pribadi, dalam situasiku yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Roh Kudus menuntunku.
Aku perlu Roh Kudus untuk mencelikkan mataku sehingga aku bisa melihat maknanya. Aku perlu Roh Kudus untuk berbisik lembut di telinga rohaniku. Aku perlu sentuhan tangan Tuhan di hatiku agar aku bisa merasakan perasaan hati Tuhan dalam FirmanNya.
Sesungguhnya kita semua dipanggil dan diutus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Apakah anda akan menghindari atau menolak panggilan Allah?
Yehezkiel 2:3 TB [3] Firman-Nya kepadaku: ”Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.
Amanat agung, dimana Tuhan Yesus mengutus murid-muridnya untuk menjadikan seluruh bangsa muridNya juga berlaku bagi kita anak-anak Tuhan di masa sekarang. Amanat agung tersebut bukan hanya ditujukan bagi rasul-rasul Tuhan Yesus pada waktu itu. Melainkan juga bagi setiap orang yang mengakui Tuhan dan mengasihi Tuhan.
Pasal ini juga memberitahu situasi yang akan kita hadapi, penolakan-penolakan tentunya. Namun Tuhan berpesan agar kita tidak gentar dan tidak takut. Allah meminta kita untuk menyampaikan perkataanNya, firman Tuhan.
Dan Tuhan juga berpesan agar kita pun jangan sampai berbalik menjadi pemberontak, kabur, menghilang dari panggilanNya. Tuhan meminta kita bertekun membaca dan merenungkan firmanNya, menelan setiap bagian dalam firman Tuhan bukan hanya yang membangkitkan semangat atau motivasi, bamun juga yang berisikan nyanyian ratapan, kesedihan, rintihan, dan keluh kesah. Dan biarlah itu semua menjadi kekuatan bagi iman kita dalam mengerjakan misi panggilan Allah.
Doa
Ya Tuhan, tarik kami yang buta dan tuli hati apabila kami tidak menangkap panggilanMu. Janganlah biatkan kami betbalik menjadi pemberontak.
Betikan kami keberanian untuk memberitakan firmanMu di dalam keseharian kami. Dan terutama ubahkanlah hiduo kami, pribadi kami, agar melalui kehiduoan kami orang menjadi semakin heran dan penasaran akan Engkau.
Beri kami hikmat Tuhan, agar kami senantiasa bisa mengambil setiap kesempatan untuk membaca dan merenungkan firmanMu yang akan memnuhi hati dan pikiran kami.
Hari Tuhan sudah dekat dan akhir zaman sudah seringkali disampaikan, bahkan mungkin sedah sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, namun memang sampai sekarang Hari Tuhan yang disampaikan itu belum tiba juga waktunya.
Lalu apakah kita akan berhenti mempercayainya? bahwa Hari Tuhan itu benar-benar akan datang?
Hari Tuhan itu ada, itu adalah salah satu janji Tuhan yang dinantikan oleh seluruh orang percaya.
‘Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. ‘
2 Petrus 3:9 TB
Sesuai dengan ayat yang menjadi rhema bagi saya, justru kita harusnya melihat belum datangnya Hari Tuhan sebagai waktu tunggu. Sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk berbalik dan bertobat.
Karena kalau Hari Tuhan benar datang, maka tidak akan ada waktu lagi bagi kita untuk memperbaiki diri karena kita baru tersadar bahwa ternyata hari itu benar-benar ada. Yang ada apabila kita tidak siap adalah ketakutan yang begitu besar, penyesalan, dan tangisan.
Karena hari Tuhan tidak kunjung datang, maka sebagian orang yang tidak tahan untuk melampiaskan hawa nafsunya, sebagai bentuk pembenaran berubah menjadi pengejek yang mengejek mempertanyakan dimanakah Hari Tuhan yang diseru-serukan oleh orang-orang percaya? Mengapa kita harus hidup kudus karena toh setelah sekian lama hari itu juga tidak datang? Mengapa harus menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bersenang-senang menikmati hidup.
Sesungguhnya mereka yang sengaja tidak mau tahu dan tidak mau peduli untuk mempersiapkan diri untuk datangnya Hari Tuhan ibarat sedang menggali lubang kuburnya, menggali lorong untuk menuju ke kerajaan maut. Semakin dalam ia menggali, semakin sulit ia melihat ke atas untuk berbalik dan keluar dari lubangnya. Ia terus saja menggali, dan menggali semakin dalam.
Sementara mereka yang sadar, dan sekuat hati menahan diri dan berjuang untuk hidup suci dan saleh demi menanti-nantikan datangnya Hari Tuhan ibarat sedang membangun rumah mereka di sorga. Rumah seperti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Saat hari itu datang diri kita harus ditemukan dalam kondisi yang sesuai dengan yang Tuhan mau sehingga kita harus senantiasa, setiap waktu berusaha agar kita kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia (Ayat 14).
Sehingga sekaranglah waktu terbaik bagi kita untuk berbalik dan bertobat, bukan nanti karena bisa saja tidak ada nanti bagi kita karena Hari Tuhan itu tiba seperti pencuri. Daripada kita sibuk menunggu peringatan, menunggu alarm, atau berusaha mengidentifikasi Hari Tuhan sudah semakin dekat, alangkah lebih baiknya kita dari saat ini mempersiapkan diri. Apakah kita berharap bisa meniru penjahat yang disalibkan di sebelah Tuhan Yesus yang mendapat janji keselamatan karena bertobat di saat-saat terakhir? Masalahnya apakah kita sangat yakin bahwa diri kita masih ingat bertobat saat waktu itu datang? Atau justru kita ketakutan, dan ada orang yang karena takutnya justru marah dan memaki, menghujat Tuhan sebagai pelampiasannya?
Masih ada waktu sekarang, berhentilah melakukan hal-hal yang membawa kita semakin dalam ke lubang maut, berbaliklah kepada Tuhan. Sedalam apapun kita, jika kita bersungguh-sungguh berbalik dan bertobat Tuhan sanggup memulihkan hidup kita.
Saya ingin mengajak kita semua menggunakan strategi yang berbeda daripada hanya sekedar bertahan untuk melawan godaan setan dan iblis menuruti hawa nafsu kedagingan. Bagaimana jika kita gunakan strategi bekerja untuk Tuhan di masa tunggu ini? Fokus yang selama ini mungkin kita gunakan bertahan menjaga hidup suci dan saleh beralih menjadi bekerja untuk Tuhan sambil tetap menjaga hidup suci dan saleh.
Strategi bertahan itu seperti menjalankan rutinitas keagamaan namun hanya sekedar menjalankan saja, tanpa ada passion di dalamnya. Karena sudah rutin saja, dan kehidupan di luar rutinitas keagamaan tetap lebih banyak jauh dari Tuhan. Tidak semua orang bisa selalu kuat bertahan, walaupun Roh Kudus senantiasa akan menguatkan diri kita.
Strategi bekerja untuk Tuhan ibarat strategi menyerang. Menyerang bukan berarti melupakan pertahanan, karena kalau tidak menjaga pertahanan menjalani hidup suci dan saleh maka sangat beresiko kita akan jatuh. Pertahanan tetap dijaga namun fokus kita bukan lagi melihat dan mengantisipasi resiko jatuh terhadap serangan iblis terhadap diri kita namun beralih menjadi bagaimana kita bisa menyelamatkan jiwa-jiwa, bagaimana mereka bisa mendengar tentang berita keselamatan, bagaimana hidup mereka bisa berbalik pada Tuhan, bertobat, dan mengalami penyertaan Tuhan sehingga mengalami terobosan, seperti amanat yang disampaikan Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga. Bahkan kita dibekali Roh Kudus yang akan menjadi partner kerja kita sehingga kita tidak berusaha dan bekerja sendirian. Roh Kudus yang akan menjadi penghibur, pemberi semangat, pemberi insight dan ide-ide, hikmat, dan pemberi kekuatan untuk kita yang mau bekerja untuk Tuhan.
Doa
Ya Tuhan, terimakasih Engkau telah menjadi Juru Selamat bagi kami. Dalam hati kecil kami, kami sangat ingin untuk berkumpul bersama-sama denganMu namun kami sadar fisik kami masih ada di dunia. Ajari kami ya Roh Kudus untuk bisa bekerja bagi Tuhan dengan kondisi kami dan keterbatasan yang kami miliki. Kami mau percaya bahwa Engkau akan memperlengkapi kami dengan segala sesuatu yang kami perlukan, segala tools, pengetahuan, dan kemampuan agar kami bisa menghasilkan buah yang harum di hadapanMu ya Tuhan.
Hebrews 12:2 NIV [2] fixing our eyes on Jesus, the pioneer and perfecter of faith. For the joy set before him he endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God. https://bible.com/bible/111/heb.12.2.NIV
Ibrani 12:2 TB [2] Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Memusatkan pandangan kita kepada Kristus merupakan sumber kekuatan dan pengharapan sekaligus penjagaan bagi hidup kita.
Tuhan Yesus mencontohkan kepada kita manusia, bahwa Ia pun menanggung segala sesuatu, penderitaan, kesakitan, dan malu di atas kayu salib karena Ia senantiasa memandang Bapa di surga. Ia menjalani semuanya dan mendapatkan kekuatan serta keyakinan bahwa semua itu akan membawa keselamatan bagi seluruh manusia.
Segala penderitaan yang kita alami, Yesus pun pernah menjalaninya dan akhirnya melewatinya. Memang Yesus bukanlah manusia biasa, tapi Ia mau menunjukkan agar kita fokus pada Bapa, padaNya, karena saat kita fokus pada Yesus maka Roh Kudus akan memberikan kekuatan, pengharapan, dan membukakan jalan atas penderitaan dan pergumulan yang sedang kita alami.
Percayalah bahkan jika pergumulan itu belum berlalu, Tuhan sudah memberikan kekuatan dan pengharapan yang baru untuk kita bisa tenang bahkan sukacita menjalaninya.
Memusatkan pandangan pada Yesus juga merupakan suatu penjagaan atas hidup kita agar jalan kita tidak ke kanan dan ke kiri, agar keyakinan kita tidak diombang-ambingkan, agar kita tidak disesatkan.
Penjagaan baik di kala kita sedang berjuang menjalani pergumulan atau di kala kita sedang baik-baik saja, atau bahkan saat hidup kita sedang bahagia-bahagianya. Agar jangan sampai kita terlena dan lupa sehingga kita melenceng dari arah yang Tuhan sudah tentukan.
Bagaimana caranya agar senantiasa memusatkan pandangan kita kepada Yesus?
Jadikan Yesus sebagai idola dalam hidup kita!
Ya, menurut saya itu salah satu cara yang membuat kita senantiasa berpikir tentang Yesus.
Saya mengingat orang-orang yang mengidolakan penyanyi. Bagaimana mereka bisa mengenali penyanyi tersebut A – Z, hapal semua karyanya, mengikuti media sosialnya, koleksi albumnya, punya barang-barang yang ada wajahnya, menabung dan keluar uang demi bisa menghadiri pertunjukan atau konser mereka, senang saat idolanya senang, ikutan sedih saat idolanya sedih. Bahkan kalau memungkinkan mereka bisa mengikuti gaya mulai dari penampilan, dan juga gaya hidup, serta cara pandang. Dan mereka punya julukan sendiri sebagai fans garis keras, seperti punya tribe atau komunitas sendiri.
Bagaimana kalau saya mengidolakan Yesus seperti fans garis keras artis penyanyi?
Bukankah saya seharusnya selalu memikirkan tentang Yesus di sebagian besar waktu saya?
Bukankah jika terbuka kesempatan kita berjuang untuk bisa bertemu dan berbicara denganNya?
Bukankah momen untuk bertemu dan berbicara denganNya itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu dan membuat saya exciting? Dan saat kesempatan itu terlewat saya merasa sangat sedih dan susah hati?
Bukankah saya seharusnya hapal semua kata-kataNya dan karya-karyaNya, bahkan kalau bisa kita meniruNya (doa, perkataan, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan)?
Bukankah saya seharusnya mengikuti gayaNya (ramah, lembut, dan penuh kasih), cara pandangNya (sabda bahagia di atas bukit)?
Tuhan, ternyata ya baru aku sadari kalau Engkau belum menjadi idola dalam hidupku. Oh, Maafkan aku ya Tuhan. Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku. Mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku. Dan mulai sekarang aku mau menjadikan Engkau sebagai idola hidupku, sepenuh hatiku. Dalam nama Tuhan Yesus. Amen
Hari ini mendengarkan arahan Paulus kepada Timotius melalui suratnya yang pertama, bab 3 dan 4.
Ayat rhema hari ini:
Terutama di bab 4, saya mendapatkan prinsip-prinsip dalam melayani, terutama prinsip dalam membangun diri kita sendiri dalam rangka melayani dan memberitakan Injil.
1 Timotius 4:6 TB [6] Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.
Dan di ayat-ayat selanjutnya Paulus menyampaikan beberapa hal terkait tugas Timotius dalam melayani, membangun dan memberitakan Injil.
Renungan
1. Kita harus mendidik diri kita dalam hal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat.
Itu berarti kita memang harus belajar, bagaimana ceritanya kita mau memberitakan Injil jika kita tidak tahu, tidak memahami Injil itu sendiri? Bagaimana kita mau menceritakan kebaikan Tuhan Yesus jika kita tidak pernah berusaha mengenal pribadiNya dan hidup bergantung kepadaNya?
2. Menjauhi takhayul dan dongeng nenek-nenek tua.
Takhayul dan dongeng nenek-nenek tua itu membuat kita bingung. Walaupun seperti hal-hal yang sederhana, tidak nyata, hanya khayalan, justru dapat meracuni pikiran dan hati kita. Bisa jadi iman kita melemah karena dari sekedar mendengar cerita takhayul dan dongeng menjadi mulai percaya sedikit-sedikit. Tutup kuping rapat-rapat agar jangan goyah iman kita.
3. Rajin beribadah
Ini ayat emas yang kita juga sering dengar: Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. – 1 Timotius 4:8 TB
Mungkin ada banyak orang yang menganggap remeh ibadah, ah itu hanya ritual saja. Bisa saja kita berpendapat seperti itu, itu karena kita tidak pernah sungguh-sungguh saat beribadah, pikirannya kemana-mana, sambil chat WA urusan pekerjaan, dan alasan lain-lain sehingga kita tidak pernah merasakan manfaat dan kegunaannya bagi diri kita. Sehingga kita tidak menganggap ibadah itu sebagai sesuatu yang penting.
4. Menjadi teladan
Dalam hal:
Perkataan
Tingkah laku
Kasih
Kesetiaan, dan
Kesucian
Dengan senantiasa berusaha menjadi teladan dalam hal-hal tersebut, kita akan mendapatkan respect, rasa hormat dari siapa pun termasuk dari orang-orang yang secara usia mungkin lebih senior.
5. Bertekun dalam membaca Firman Tuhan.
Nahhh… kembali lagi ke Alkitab. Tidak bisa tidak karena Firman Tuhan adalah sumber dari segala sumber jika kita ingin membangun dan menjaga diri kita sebelum membangun dan mengajar orang lain. Firman Tuhan inilah yang akan memperkaya hidup kita dengan hikmat, yang akan menuntun kita dalam menjalani proses transformasi diri, transformasi karakter kita agar semakin serupa dengan Tuhan.
Harapan dan Doa
Ya Tuhan jangan lepaskan tangan kami ya Tuhan, agar kami jangan sampai terseret arus dunia ini. Biarlah kami tampak bodoh karena tidak mengikuti trend dunia, tapi berikan kami hikmat agar kami semakin sejalan dengan trendMu ya Tuhan.
1 Korintus 1:18 TB Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
Ada 2 poin dari ayat tersebut yang berkaitan dengan pemberitaan tentang salib:
Pemberitaan tentang salib itu adalah kebodohan.
Pemberitaan tentang salib itu adalah kekuatanAllah.
Yang menarik bagi saya adalah kedua hal tersebut bukanlah lawan kata, padahal Paulus menuliskannya sebagai suatu perbandingan, menggunakan kata “tetapi”. Kebodohan lawan katanya kepintaran, atau kecerdasan, atau bisa juga menggunakan kata kebijaksanaan yang secara konteks merupakan lawan kata dari kebodohan.
Mengapa dalam hal ini Paulus menggunakan kata kekuatan Allah?
Kemudian dalam ayat ini juga ada 2 kategori manusia:
Yang akan binasa.
Yang akan diselamatkan Allah.
Paulus menjelaskan semuanya dalam ayat-ayat selanjutnya di pasal ini.
1. Allah akan membinasakan hikmat dan kearifan orang-orang yang disebut berhikmat, bijak.
Pada waktu itu golongan ahli Taurat, mayoritas orang Yahudi, dan Yunani melihat pemberitaan salib itu sebagai suatu kebodohan. Bagi ahli Taurat dan orang Yahudi pasti tidak menerima Tuhan Yesus sebagai Mesias, tidak cocok dengan gambaran persepsi Mesias yang selama bergenerasi didoktrinkan kepada mereka. Mereka selalu meminta tanda dan bukti. Sementara itu bagi orang Yunani yang percaya akan banyak dewa, figur dan profil Tuhan Yesus sama sekali tidak mendekati salah satu dewa-dewi mereka, apalagi sampai mati disalibkan. Mereka mencari hikmat, logika yang mana sulit mereka temukan dalam ajaran Tuhan Yesus.
Sehingga menjadikan pemberitaan tentang salib ini sebagai batu sandungan atas keyakinan bangsa Yahudi. Dan karena tidak masuk dalam logika orang-orang Yunani mereka menganggapnya sebagai suatu kebodohan.
2. Bagi siapapun yang dipanggil, Kristus adalah Kekuatan Allah dan Hikmat Allah.
Kita semua telah dipanggil, bahkan termasuk orang Yahudi dan Yunani di atas, namun bersediakah kita membuka hati untuk menjawab, menangkap, atau meresponi panggilan Allah?
Paulus menyampaikan bahwa di awal-awal, jemaat Korintus yang terpanggil, yang memutuskan untuk percaya dan mengikuti Tuhan Yesus dan turut memberitakan salib dulunya bukan siapa-siapa, bukan dari golongan terpelajar dan bukan dari golongan orang-orang berpengaruh dan terpandang.
Tuhan mau memberikan hikmat dan kekuatan Allah kepada siapa saja yang mau, namun sayangnya kedua golongan itu biasanya yang seringkali menolak panggilan Allah, makanya merekalah yang akan binasa.
Sementara bagi yang mau meresponi panggilan Allah, apapun latar belakangnya bukan hanya hikmat sebagai lawan kata kebodohan yang akan Tuhan tambahkan, juga kekuatan Allah, dan akhirnya nanti keselamatan.
Bukankah kalau kita mau berhitung, meresponi panggilan Tuhan itu untungnya berlipat ganda ya? Dapat hikmat Allah, dapat kekuatan Allah, dan akhirnya diselamatkan dalam sorga.
Aplikasi, apa yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?
Hari ini waktunya kita mengambil keputusan, apakah kita mau komitmen dalam panggilan Tuhan?
Apakah kita bersedia bayar harga agar kita mendapatkan berbagai karunia Allah itu, baik hikmat, kekuatan, dan juga tentunya keselamatan.
Anak sekolah saja harus belajar, mengerjakan tugas, mengerjakan ujian supaya dapat nilai bagus.
Yang buka usaha pun begitu, di awal-awal saat merintis usaha harus bangun pagi-pagi, buka toko, urus segala sesuatu sendiri demi mendapatkan cuan agar bisa memperbesar usahanya, agar bisa makan.
Seberapa penting dan berharganya kah karunia Tuhan itu sehingga seringkali kita mengenyampingkan karena proses untuk memperolehnya kita lihat sangat tidak nyaman, susah, tidak enak.
Putuskanlah untuk berkomitmen, mulailah dari memutuskan tertanam dalam satu gereja lokal, gereja dimana kita bisa bertumbuh dan berkembang dalam iman akan Kristus. Tertanam itu berarti mengakar, menyerap air, sari makanan agar bisa bertambah besar, agar bisa berbuah nantinya. Komitmen dalam satu gereja lokal juga menunjukkan komitmen kita pada Tuhan.
Setelah memutuskan berkomitmen di satu gereja lokal maka langkah berikutnya bangun juga komitmen untuk terlibat di dalamnya, mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja tersebut, terlibat aktif di dalamnya, karena kita dipanggil Tuhan bukan hanya untuk mendengarkan Firman Tuhan, kita dipanggil Tuhan selain menjadi pelaku Firman dan juga memberitakan Firman Tuhan, memberitakan salib. Nah…. kalau kita tidak mau terlibat masuk dalam gereja apa yang mau kita lakukan? Kalau kita ikut beberapa gereja mana yang mau kita pilih?
Ayo, putuskanlah bahwa kita benar-benar mau jadi murid Kristus sesungguhnya.
Ya Tuhan ampuni kami ya Tuhan, binasakanlah kekerasan hati kami ini kalau kami selama ini seringkali menolak panggilanMu dengan alasan-alasan, dengan logika-logika yang kami buat sendiri.
Kalau perlu ganti hati kami ya Tuhan, ganti dengan hati yang begitu mengasihiMu, hati yang mengerti kerinduanMu, dan hati yang kuat, dan mau melangkah mengerjakan panggilanMu.
Ganti kepintaran kami membuat alasan-alasan untuk tidak melaksanakan panggilanMu dengan kebodohan, dengan penundukan diri untuk melangkah hanya mengandalkan tuntunanMu.
Tuhan Yesus Kristus bukan hanya memberkati secara fisik, justru pertama kali Tuhan itu memberkati kita manusia secara emosional, mental, dan spiritual. Dan pemenuhan kebutuhan emosional manusia, pemulihan atas perasaan negatif yang kita alami itu ada di dalam Kristus.
Saya coba browsing di internet dengan keywords: “kebutuhan emosional”, dari satu situs kesehatan disebutkan bahwa kebutuhan emosional manusia itu adalah kasih sayang, penerimaan/diterima, validasi, rasa aman, percaya/dipercaya, empati/ dimengerti, dll. Salah satu pakar yaitu Maslow mengemukakan teori kebutuhan manusia seperti gambar di bawah:
Kebutuhan Manusia menurut Maslow. Pic from Gramedia
Dan apabila kebutuhan manusia tersebut dirasakan tidak terpenuhi maka akan timbul perasaan negatif dalam diri manusia. Perasaan negatif yang timbul bisa dalam bentuk kemarahan, kesedihan, benci, iri, putus asa, cemas, takut. Dan apabila perasaan negatif tersebut tidak tertangani maka dapat berdampak kepada berbagai macam kondisi, bisa berdampak kepada sikap atau perilaku negatif atau kondisi fisik menjadi sakit. Dan jika itu berlangsung terus maka akan berdampak kepada lingkungan di sekitar kita, orang-orang yang ada di sekitar kita, pekerjaan, hubungan, dan lain sebagainya.
Ayat yang menjadi rhema hari ini memberikan kunci jawaban atas itu semua, bahwa dalam Kristus kebutuhan emosional kita akan dicukupkan oleh Kristus; Tuhan memberikan harapan yang menimbulkan rasa aman, rasa tenang, Tuhan memberikan kasihNya dalam berbagai bentuk dan bisa melalui siapa saja yang membuat kita merasa dikasihi, dan saat Kristus ada di dalam diri kita, dan kita taat kepadaNya maka karakter kita akan terbentuk sehingga orang di sekitar kita akan menghargai diri kita, kita akan mendapatkan pengakuan yang baik dari mereka. Dan itu semua bukan hanya cukup bahkan berlimpah sehingga kita dapat memberikannya kepada orang lain di sekitar kita.
Bukan hanya kebutuhan emosional, namun Kristus pun memberikan pemulihan akan setiap perasaan negatif yang mungkin timbul dalam hati kita manusia. Sedih, marah, kecewa, sakit hati, cemas, takut, tawar hati, semuanya Kristus akan memberikan pemulihan. Begitu banyak kesaksian orang dipulihkan dari perasaan-perasaan negatif ini, mungkin jauh lebih banyak daripada pemulihan fisik (saya tidak punya datanya).
Yah, itu berarti benar adanya bahwa kita harus hidup dalam Kristus agar Kristus dapat hidup dalam hati kita.
Betapa nikmatnya hidup seseorang di saat kebutuhan emosionalnya tercukupi, bahkan saat kondisi fisik dan situasi di sekitarnya tidak ideal, tidak nyaman ia bisa tetap tenang, merasakan damai, merasakan sukacita, dan sejahtera.
Aplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari:
Apakah kita masih seringkali mengalami perasaan-perasaan negatif di dalam hati kita? Apapun bentuknya?
Itu artinya kita perlu masuk lebih dalam lagi dalam Kristus. Kita perlu lebih bersungguh-sungguh lagi, lebih serius , komitmen dengan Kristus. Maka mungkin kita bisa mengecap/ mengalami sedikit kebahagiaan dan sukacita di sorga saat kita masih berada di dunia.
Yuk, semangat lagi berdoa, ke Gereja, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, memuji dan memuliakan Tuhan dengan pujian.
Harapan dan Doa:
Ya Tuhan, begitu besar kasihMu kepada kami manusia. Ampuni kami yang buta, yang tuli, yang keras hati, yang kurang percaya ini ya Tuhan.
Ajari kami, tuntun kami ya Tuhan untuk semakin dalam berada di dalamMu.
Hari ini saya dapat banyak rhema dari 1 pasal yang saya baca, yaitu dari Surat Paulus kepada jemaat di Filipi, pasal yang pertama.
Ayat rhema kita hari ini:
Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baikdi antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
Filipi 1:6 (TB)
Renungan, mari kita merenungkan ayat ini:
Pada saat membaca ayat ini, perasaan saya tertuju pada kalimat: “yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu”, ternyata Tuhanlah yang memulai setiap pekerjaan yang baik. Seharusnya juga bukan karena kita pintar atau smart, namun karena Tuhan bekerja, karena Roh Kudus bekerja di antara kita. Yang menginisiasi, yang memulai setiap pekerjaan baik itu ternyata Tuhan sendiri.
Pekerjaan baik itu Tuhan mulai di antara kita, mungkin itu maksudnya bahwa bukan ditujukan untuk diri kita semata, namun juga ditujukan untuk orang-orang lain di sekitar kita. Sehingga jika kita memiliki ide baik, untuk suatu pekerjaan baik maka seharusnya yang Tuhan rencanakan kebaikan itu bukan hanya untuk diri kita sendiri atau keluarga kita sendiri. Karena Tuhan ingin buah yang dihasilkan itu juga bagi orang-orang lain di sekitar kita.
Dan jika pekerjaan baik itu memang direncanakan oleh Tuhan maka Tuhan tidak akan berhenti di tengah jalan, Tuhan akan meneruskannya sampai dengan tuntas, sampai dengan memberikan buah bagi banyak orang. seringkali kita dalam pekerjaan mengalami kondisi stuck, atau mentok bahasa jawa-nya. Tuhan pasti punya orang lain, atau cara lain yang seringkali tidak terpikir oleh kita agar kondisi tersebut bisa terurai bisa kembali berjalan. Tuhan memulai pekerjaan baik di antara kita, jadi ada orang lain seharusnya.
Apa yang bisa kita ambil untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Senantiasa memulai hari, memulai aktifitas, memulai pekerjaan dengan doa, meminta Tuhan untuk turut bekerja ditengah-tengah kita. Agar hari kita, aktifitas kita, maupun pekerjaan kita baik adanya di mata Tuhan.
Meminta tuntunan Tuhan saat menjalani hari, saat menjalankan aktifitas, saat dalam pekerjaan. Pikiran kita juga senantiasa tertuju ada Tuhan. Tujuan dari pekerjaan kita adalah hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Saat dalam kondisi buntu, minta petunjuk dari Tuhan apa, siapa, dan bagaimana agar bisa menembus atau keluar dari kebuntuan itu.
Harapan dan doa:
Ya Tuhan kami bersyukur, kami diingatkan bahwa Engkaulah yang memulai setiap pekerjaan baik ditengah-tengah kami.
Sertai kami selalu yaTuhan dalam setiap langkah, setiap proses, bhakan disaat kami merasa tidak ada lagi jalan keluar, kami percaya Engkau akan memberikan jalan. Berikan kami mata hati, telinga hati agar kami dapat melihat jalanMu, agar kami dapat mendengar petunjukMu, dan terlebih lagi berikan kami hati dan pikiran yang terbuka kepadaMu agar jangan sampai kami justru menolak Engkau ya Tuhan.
Kami mau setiap aktifitas kami, dan setiap pekerjaan kami berbuah baik yang akan membawa jiwa-jiwa yang hilang kembali kepadaMu.
Hari ini saya akan sharing rhema dari Kitab Efesus, pasal 5.
Ayat rhema hari ini adalah:
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Siapa pun, agama apa pun, kepercayaan apa pun pasti pernah mengalami situasi kesulitan untuk mengatur waktu. Entah karena kesibukan yang terlalu banyak atau memang belum mahir dalam mengatur diri agar waktu yang ada dapat dioptimalkan.
Waktu adalah sesuatu yang tetap sifatnya, secara relatif tidak akan bertambah, namun selalu dirasakan semakin sempit, semakin berkurang, atau semakin cepat.
Siapa yang merasa bahwa perayaan Natal terakhir seperti baru kemarin? Atau jalan-jalan berlibur terakhir seperti baru beberapa hari yang lalu? Tak terasa sekarang sudah mau dekat waktu libur panjang lagi. Ya, waktu bisa berlalu begitu cepat dan jika kita tidak mengelola diri kita dengan baik maka kita akan kehilangan momen atau kesempatan.
Dalam surat kepada jemaat di Efesus ini, Paulus mengingatkan jemaat di sana untuk senantiasa memperhatikan cara hidup mereka, jadilah arif, dan jangan bodoh. Dalam hidup ini mereka diminta untuk senantiasa berusaha mengenal Tuhan agar dapat mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan mereka.
Situasi kehidupan setiap orang dan setiap keluarga pasti berbeda-beda, pergumulan yang dihadapi pun pasti berbeda-beda, namun yang pasti usaha untuk mengenal Tuhan itu harus dilakukan oleh setiap pribadi. Karena dengan mengenal Tuhan, kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Karena kita mengenal Tuhan dan mengerti kehendakNya maka kita akan memiliki cara pandang seperti cara pandang Tuhan. Kita tidak memandang masalah sebagai suatu masalah, kita tidak memandang kesulitan, bencana, musibah sebagai suatu hal yang berat. Bagi orang lain mungkin terasa sangat berat, namun bagi orang-orang yang mengerti kehendak Tuhan, yang sangat memahami kehendak Tuhan akan memiliki kekuatan dan spirit yang tidak ada habis-habisnya. Kekuatan itu berasal dari Tuhan.
Aplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari:
Maka dari itu, jika saat ini kita bingung, kita merasa sedang susah, merasa beban berat, dan pahit mari datang kepada Tuhan? Kembalilah kepadaNya, kenalilah Dia, dan Tuhan akan memberikan cara pandang yang baru, Tuhan akan memberikan kekuatan, dan pengharapan agar kita dapat terus berjalan, melangkah dalam iman.
Melangkah bukan dengan langkah yang gontai, lemas, susah, namun melangkah dengan penuh semangat yang berkobar-kobar karena Tuhan bekerja di dalam diri kita. Karena Tuhan mau membuat kita menjadi pemenang yang lebih dari sekedar pemenang.
Harapan dan Doa
Ya Tuhan, terimakasih karena Engkau kembali mengingatkan kami di saat kami sedang terpuruk, disaat kami merasa kehilangan arah dan tujuan, disaat kami merasa tidak ada harapan lagi.
Engkau mengingatkan kami bukan untuk sesuatu yang bagaimana, hanya kembali mendekat kepadaMu, kembali berdoa, kembali membaca firmanMu, kembali melayaniMu.
Hari ini saya mendapatkan rhema dari Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, pasal ke-2.
Ayat rhema hari ini:
‘Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. ‘
Jika ada pertanyaan siapakah kita? Maka ayat ini adalah jawabannya. Bahwa kita ini adalah ciptaan Allah, yang diciptakan Allah di dalam Kristus Yesus.
Tuhan Allah sebagai sang pencipta, yang menciptakan alam semesta ini pastinya menciptakan kita pun dengan kesempurnaan, walaupun di mata kita sepertinya kita ini sebuah produk gagal, yang banyak cacatnya, yang banyak defect-nya, yang tidak layak. Ya, kita sempurna di mata Tuhan, jika ada pikiran yang mengatakan bahwa kita tidak sempurna maka pemikiran itu bukan dari Tuhan, itu adalah tipu daya iblis yang memang ingin menggiring kita untuk jauh dari Tuhan.
Sebagai salah satu ciptaan Tuhan pasti Tuhan menciptakan kita, dengan keunikan kita untuk bisa berperan atau berfungsi dalam seluruh penciptaan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan kita secara random, asal saja, atau bahkan iseng. Tuhan menciptakan kita dengan tujuan. Kita diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Ada tugas, ada tujuan, ada peran, ada fungsi saat kita diciptakan dan itu semua tentunya untuk sesuatu yang baik. Kita melakukan pekerjaan baik.
Dan beruntungnya lagi bahwa Allah sudah mempersiapkan jauh sebelum kita lahir. Sehingga jika kita ingin mengetahui, memahami, mengerti apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk kita bisa melakukan pekerjaan baik maka kita harus hidup dekat dengan Tuhan agar kita bisa melihat kekayaan kasih karunia Tuhan yang melimpah-limpah kepada kita dan kepada manusia.
Aplikasi dalam kehidupan kita:
Apakah kita seringkali masih berpikir bahwa kita tidak layak?
Apakah terpikir bahwa aku bukan siapa-siapa?
Apakah terpikir hidupku ke depan tidak jelas arahnya?
Mari kita ingat lagi bahwa kita ini adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan Tuhan sempurna dan baik adanya. Kita ini adalah anak-anak Tuhan, kita ini adalah hamba-hamba Tuhan yang hidup dan bekerja untuk Tuhan loh, ini Tuhan bukan boss manusia. Dan saat kita senantiasa mendekat, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan maka Tuhan akan memperlengkapi kita agar kita benar-benar bisa berfungsi dalam pembangunan tubuh Kristus.
Harapan dan Doa
Ya Tuhan, kami mau tengking segala pemikiran dan perasaan yang menyebutkan bahwa kami tidak layak, bahwa kami adalah pendosa, bahwa kami bukan siapa-siapa. Memang kami dahulu begitu, tapi kami percaya bahwa Tuhan yang kaya dengan rahmat dan oleh kasihNya yang begitu besar telah menghidupkan kami kembali bersama-sama dengan Kristus, Tuhan telah membangkitkan kami di dalam Kristus Yesus dan menyediakan tempat bagi kita di sorga.
Ajari kami ya Tuhan dalam ketidaktahuan kami. Pimpin kami. Tuntun kami ya Tuhan.