Kucinta Alkitabku

Renungkan dan Bagikan

Tag: intimacy

  • Renungan Mazmur 9 : 2 – Kata-kata tanpa makna

    Renungan Mazmur 9 : 2 – Kata-kata tanpa makna

    Aku ingin bersyukur kepada Tuhan karena hikmatNya sehingga aku bisa mendapatkan pengertian dan makna dari setiap kata dalam Firman Tuhan.

    Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penulis, saat ia sedih, saat ia gembira, atau saat ia marah.

    “Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,”

    Mazmur‬ ‭9‬:‭2‬-‭3‬ ‭TB‬‬

    Aku mau bersyukur atas hikmat dan pengertian di saat aku membayangkan bagaimana jika itu tidak ada.

    Kata-kata hanya sekedar kata-kata, tanpa ada makna. Kosong.

    Firman Tuhan hanya seperti tulisan saat kita membaca buku dengan bahasa asing. Kita bisa membaca kata-katanya, namun kita tidak mendapatkan pengertian darinya.

    Betapa akan tidak menariknya Firman Tuhan bagiku saat kata-kata itu melintas tanpa makna.

    Hikmat dan pengertian ini baru aku sadari hari ini, sehingga aku tahu kenapa aku bisa merasakan Allah begitu sedih saat Ia memakaikan baju kulit hewan kepada Adam dan Hawa. Aku bisa merasakan kekesalan dan kemarahan Musa saat ia melihat bangsa Israel membangun lembu emas padahal Tuhan sudah begitu baik. Aku bisa merasakan ketakutan dan pengharapan Daud saat ia mengadu dalam pelarian atau dalam pertempurannya. Dan aku bisa merasakan betapa Yesus sangat bersukacita, bersemangat di saat menyampaikan khotbah di atas bukit.

    Semua itu bisa kurasakan dan mendapat pengertian darinya.

    Bagaimana jika tulisan itu hanya sekedar tulisan tanpa makna?

    Semakin kusadari akhirnya bahwa aku perlu Roh Kudus untuk menolongku, memberiku pengertian mulai pengertian yang sederhana sampai yang dalam dan kompleks. Yang menolongku untuk memahami hubungan, kaitan, dan bagaimana aplikasinya dalam konteks diriku di saat ini, dalam pergumulan pribadi, dalam situasiku yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Roh Kudus menuntunku.

    Aku perlu Roh Kudus untuk mencelikkan mataku sehingga aku bisa melihat maknanya. Aku perlu Roh Kudus untuk berbisik lembut di telinga rohaniku. Aku perlu sentuhan tangan Tuhan di hatiku agar aku bisa merasakan perasaan hati Tuhan dalam FirmanNya.

    Terima kasih Tuhan, terima kasih ya Roh Kudus.

    Amen

  • 40. Renungan Ibrani 12 – Tuhan yang mendidik

    40. Renungan Ibrani 12 – Tuhan yang mendidik

    Dapat rhema apa hari ini?

    Tuhan itu sangat care pada kita.

    ‭Ibrani 12:5, 7-8 TB‬
    [5] Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
    [7] Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? [8] Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

    https://bible.com/bible/306/heb.12.5-8.TB

    Didikan Tuhan

    Tuhan kita itu sangat peduli dengan kita, sesuai dengan Firman Tuhan inj, Tuhan mendidik. Dan dalam didikanNya sama seperti saat kita di sekolah maka ada ajaran, peringatan, bahkan juga ganjaran.

    Hah, ganjaran? Seram sekali.

    Ya, peringatan dan ganjaran. Karena sama seperti seorang anak banyak keingintahuannya, rasa ingin eksplorasi, coba-coba walaupun sudah diperingatkan namun tetap nekat, atau memang ada banyak juga yang kepala batu. Sudah diperingatkan berulang kali masih dilakukan, sudah mengalami kesusahan dan kesulitan sendiri (ganjaran) tapi masih saja dilakukan apa yang sudah diperingatkan berulangkali sebelumnya.

    Saya sadar bahwa pembawaan saya itu mau seenaknya sendiri.

    Dan Tuhan kita sangat memahami itu dan mengenal kita luar dalam, dan juga sangat mengasihi dan menyayangi kita sehingga Tuhan sesungguhnya tidak pernah mengajari kita, membimbing dan menuntun hidup kita, serta memperingatkan kita karena Tuhan tidak ingin kita masuk dalam kegelapan yang paling dalam. Masalahnya apakah kita selalu mau diajari Tuhan?

    Apakah kita mau menjadi penurut-penurut Kristus?

    Ataukah kita maunya jalan sendiri dengan pemikiran sendiri, jalan dengan punya asumsi-asumsi sendiri bukannya percaya dan mengandalkan Tuhan.

    Saat Tuhan ingin mengajak kita untuk bekerja melayani, apakah kita ketakutan sendiri karena berpikir sendiri tidak mampu padahal Tuhan sudah meyakinkan kita melalui orang-orang di sekitar kita? Ibarat orang tua yang menyuruh anaknya merebus air, namun anak itu ketakutan sendiri, mau kabur karena dipikirannya takut kompor meledak, takut terbakar, takut nanti tersiram air panas, dan lain sebagainya.

    Takut

    Saat kita tidak mau melangkah walaupun Tuhan sudah meminta, itu sama dengan kita tidak percaya pada Tuhan. Kita mengingkari Tuhan.

    Bukan ganjaran dari Tuhan, namun saya percaya selalu ada konsekuensi dari segala sesuatu yang kita lakukan ataupun yang kita pilih untuk tidak kita lakukan. Dan jika kita memilih untuk tidak melakukan request dari Tuhan, saya tidak bisa membayangkan konsekuensinya.

    Saat Tuhan mengajar, meminta kita melakukan sesuatu, sama seperti kita pada anak-anak kita maka sebagai orang tua yang mengasihi anaknya pastilah untuk tujuan yang baik. Tuhan ingin membekali kita bukan hanya dengan pengetahuan namun juga dengan skill, keahlian. Bahkan untuk hanya sekedar memasak mie instan, membuat kopi instan itu butuh skill. Butuh dipraktikkan agar benar-benar mahir.

    Seorang ayah yang melatih anaknya bersepeda.

    Ada PR-PR yang harus kita kerjakan sendiri supaya kita bisa mengerjakannya, tidak bisa hanya dengan mendengar pelajarannya atau teorinya.

    Kalaupun bisa, jika tidak sering dipraktikkan bisa diperkirakan hasilnya tidak akan sebaik jika sering dipraktikkan.

    Mari kita sambut didikan dan ajaran Tuhan, kita perhatikan peringatanNya, dan kita kerjakan panggilan Tuhan agar hidup kita selamat dari segala tipu daya iblis.

    Jangan takut, karena Tuhan pasti membimbing dan menyertai, tidak akan membiarkan kita jalan sendiri.

    Doa

    Ya Tuhan, ampuni kami jika kami keras kepala dan keras hati. Kami mau berubah ya Tuhan. Kami mau melangkah untuk hidup benar, kami mau melangkah bukan hanya tahu teori, tahu Firman, tapi kami mau melangkah mengerjakan setiap tugas dan panggilan Tuhan atas hidup kami.

    Amen

    Image by freepik

  • 35. Renungan Galatia 3 – Hak dan Kewajiban anak

    35. Renungan Galatia 3 – Hak dan Kewajiban anak

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini membaca Galatia 3:15-29 tentang Hukum Taurat atau Janji yang bagi saya cukup sulit menangkap dan memahami apa konteks yang ingin disampaikan Paulus kepada jemaat di Galatia.

    Ayat rhema saya sebagai berikut:

    ‭Galatia 3:26-27, 29 TB‬
    [26] Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. [27] Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
    [29]  Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

    https://bible.com/bible/306/gal.3.26-29.TB

    Dari ayat-ayat tersebut di atas bisa saya simpulkan bahwa kita yang memiliki iman dalam Yesus Kristus dan telah dibaptis dalam Kristus adalah anak-anak Allah, yang juga merupakan keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

    Ada satu pemikiran yang menggelitik, apakah orang yang dari mulutnya “mengaku” dirinya Kristen, percaya kepada Kristus juga berhak menerima janji Allah? Padahal dalam hidupnya sehari-hari tidak pernah berpikir untuk hidup benar sesuai Firman Tuhan.

    Ego saya berkata: “Kok enak ya?”

    Apakah yang memiliki iman dan telah dibaptis dalam Kristus dan menjadi anak-anak Allah tidak memiliki kewajiban sebagai anak Allah? Apakah kasih karunia Tuhan begitu besarnya sehingga asal sudah mengaku dan dibaptis dalam Kristus akan auto-mendapat janji Allah atau warisan sebagai anak (Galatia 4)?

    Saya membandingkan posisi sebagai anak di dunia, ya saya punya hak untuk dikasihi, dicintai, diajar, dibimbing, dan jika orang tua saya memiliki warisan untuk saya maka saya pun berhak untuk mendapatkan warisan tersebut.

    Namun apakah sebagai seorang anak, apakah saya punya kewajiban terhadap orang tua saya?

    Coba kita renungkan dan coba tuliskan, apa yang menjadi kewajiban seorang anak kepada orang tuanya?

    1. ……

    2. ……

    3. ……

    Dan seterusnya jika lebih dari 3.

    Kemudian kembali kepada posisi sebagai anak-anak Allah, apakah kita juga seharusnya memiliki kewajiban kepada Allah?

    Coba kita renungkan dan tuliskan juga, apa yang menjadi kewajiban kita kepada Allah?

    1. …..

    2. …..

    3. …..

    Dan seterusnya jika lebih dari 3.

    Bagi saya pribadi, saya punya kewajiban-kewajiban sebagai anak Allah. Kewajiban tersebut sebenarnya tertulis di dalam Firman Tuhan, dan begitu banyak. Namun saya melihat kewajiban tersebut sebagai suatu didikan, petunjuk, arahan, dan bimbingan Tuhan kepada saya anakNya. Walaupun terkadang keras, namun saya percaya itu agar saya ingat karena pasti itu penting buat saya. Dan semua itu bukan hanya agar kita mendapatkan janji Allah, namun agar kita selamat. Karena kalau tidak selamat, bagaimana kita mau mendapatkan janji Allah itu? Benar bukan?

    Saya sendiri berusaha untuk mengikuti Firman Tuhan tidak melihat sebagai suatu kewajiban namun lebih karena saya mengasihi Tuhan dan percaya kepadaNya sebagai bapak saya. Seringkali dalam banyak situasi saya pun abai, lupa, atau termakan ego dan nafsu pribadi sehingga saya tidak mengerjakan apa yang sudah Tuhan beritahukan sebelum-sebelumnya (namanya juga anak-anak ya 😊), namun saat tersadar saya berusaha segera minta maaf sama Tuhan dan berpikir bagaimana biar tidak lupa, tidak termakan ego dan nafsu kedagingan.

    Saya percaya Tuhan sebagai bapak saya sangat sabar dan tidak pernah mengingkari saya apalagi meninggalkan saya. Namun saya juga tidak enak kalau terus-terusan membuat Tuhan kecewa dan sedih atas kelakuan saya yang tidak benar.

    Anda sendiri, bagaimana anda melihat posisi anda sebagai anak Allah? hak dan kewajiban sebagai anak Allah?

    Share di bawah ya….

  • 33. Renungan Galatia 1 – Iblis tidak senang

    33. Renungan Galatia 1 – Iblis tidak senang

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya mendapat konfirmasi bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang, apalagi iblis, jangan sekali-kali berpikir tentang itu.

    Ayat Rhema hari ini:

    ‭Galatia 1:6-7 TB‬
    [6] Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, [7] yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.

    https://bible.com/bible/306/gal.1.6-7.TB

    Satu kalimat yang menarik bagi saya bahwa ternyata pada waktu itu pun sudah ada orang-orang yang berniat mengacaukan kita, yang memutarbalikkan Injil Kristus. Dan kalau dulu ada maka pasti sekarang pun juga ada.

    Dan kalau kita percaya kepada mereka membuat kita berbalik dari pada Tuhan tentunya Iblis akan sangat senang, itu yang tidak boleh, itu yang tidak boleh sama sekali. A big “NO”!

    Hanya satu pribadi yang harus kita senangkan setiap waktu yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, walaupun Ia tidak ada di hadapan kita secara fisik tapi kita percaya bahwa Ia ada di hati kita dan Ia mengetahui segala sesuatu yang kita alami, kita pikirkan, dan kita rasakan.

    Pertanyaannya: Mengapa kita sampai percaya kepada orang yang memutarbalikkan Injil Yesus Kristus?

    Jawabannya simple, karena kita tidak mendalami Injil Kristus dan belum benar-benar menghidupinya.

    Coba diingat-ingat, apakah kita masih rutin membaca Firman Tuhan ini setiap pagi?

    Jika iya pertanyaan berikutnya, apakah dalam keseharian kita, di tengah kesibukan kita, kita mengingat-ingat tentang satu ayat atau kisah di dalam Firman Tuhan?

    Kalau jawabannya dalam hati adalah belum, maka kita harus memperbanyak frekuensi kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Walaupun kita belum merasakan enaknya membaca Alkitab, mari kita pegang dulu tujuannya, alasannya kenapa kita membaca Alkitab.

    Coba tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut setiap pagi, saat mulai malas membaca atau ada kesibukan yang harus dikerjakan sehingga kita menunda membaca Alkitab.

    1. Mengapa saya senang membaca Alkitab setiap hari?

    2. Mengapa saat saya membaca Alkitab, hati dan pikiran saya menjadi damai dan penuh pengharapan?

    3. Mengapa saat saya membaca Alkitab saya merasa seperti Tuhan yang sedang berbicara, bercerita langsung kepada saya?

    4. Mengapa saat saya membaca Alkitab saya seperti mendapat banyak insight baru? Yang berguna bagi kehidupan saya sehari-hari termasuk bagi pekerjaan saya?

    5. Mengapa saya begitu mudah mengingat ayat atau kisah dalam Alkitab saat saya sedang beraktifitas , termasuk saat saya sedang bekerja?

    6. Mengapa saya merasa Tuhan seperti tersenyum kepada saya saat saya mulai membaca Alkitab dan saat saya mengingat-ingat Firman Tuhan? Tersenyum bahagia seperti seorang bapak atau ibu yang sedang melatih anaknya belajar berjalan atau bicara?

    7. Mengapa diri saya berubah jadi lebih baik saat saya semakin banyak membaca dan merenungkan Firman Tuhan?

    Tanyakan 7 pertanyaan ini setiap hari terutama setelah bangun tidur, saat anda berniat untuk membaca Firman Tuhan.

    Satu hal yang Tuhan janjikan yang saya pegang sekarang ini, dengan mengisi hidup kita dengan Firman Tuhan maka kita menyediakan tempat khusus dalam hati kita untuk Tuhan. Sehingga Tuhan tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalamNya. Dan saya percaya Tuhan yang begitu baik dan mengasihi kita akan menyertai dan menjaga hidup kita agar hidup kita senantiasa damai sejahtera dan penuh sukacita.

    Inginkah bapak ibu melihat Tuhan tersenyum?

    Bayangkan Tuhan Yesus tersenyum saat kita belajar mengenal Firman Tuhan, mengenal pribadiNya.
  • 27. Easter – He has Risen, come and see (Matthew 28:6).

    27. Easter – He has Risen, come and see (Matthew 28:6).

    Dapat rhema apa hari ini?

    Pagi ini saya terbangun pagi-pagi sekali, dan membaca verse of the day di aplikasi youversion.

    ‭Matius 28:6 TB‬
    [6] Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

    https://bible.com/bible/306/mat.28.6.TB

    Saat membaca ayat ini, hati dan pikiran saya berpikir dan merenungkan juga membayangkan beberapa hal:

    1. Bagaimana perasaan para wanita yang awalnya datang hanya mau sekedar melihat kubur Yesus? Bahwa ternyata Tuhan Yesus sudah tidak ada di dalam kubur?

    Mereka pergi pasti masih dengan perasaan sedih dan duka yang sangat mendalam, dan tiba-tiba mereka dikejutkan dengan beberapa hal gempa bumi, batu kubur yang besar terguling sendiri, dan seorang malaikat Tuhan turun di depan mereka.

    Yang awalnya sedih dan duka berganti menjadi kaget dan takut pastinya, karena bagi mereka itu bukanlah hal yang biasa terjadi.

    Kemudian saat mereka masuk ke dalam kubur, mereka benar tidak menemukan tubuh Yesus terbaring di sana, mereka tambah kaget, bingung, takut, sedih, pasti bercampur aduk perasaan yang mereka rasakan. Mereka tidak tahu harus bagaimana? Mereka tidak tahu harus bagaimana meresponi apa yang mereka baru alami. Ditambah lagi malaikat itu mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit, bangkit? Bagaimana mungkin? Kalau anak Yairus, dan Lazarus, Tuhan Yesus yang membangkitkan tapi apakah mungkin Tuhan Yesus bangkit sendiri? Mereka senang pastinya, bersukacita karena informasi yang mereka terima dari malaikat Tuhan Yesus sudah bangkit walaupun masih kalut, bercampur aduk perasaan mereka. Dan bertanya-tanya, apakah benar Yesus pernah bilang kalau Ia akan bangkit?

    2. Hidup berjalan bersama dengan Tuhan itu tidak akan biasa-biasa saja ya, kita akan mengalami banyak hal yang luar biasa yang akan menggoncangkan hati dan pikiran kita.

    Ya bagi perempuan-perempuan yang mengalami peristiwa ini, sekarang kita bisa menyebut mereka beruntung, tapi saat mereka mengalami itu mereka pasti sangat kalut.

    Begitu pula kita, saat ada peristiwa besar yang kita hadapi, di saat itu kita pasti kalut, bisa cemas sampai takut, bisa sedih, atau sebaliknya marah karena takut. Maka dari itu sesuai yang dikatakan malaikat kepada mereka, “Janganlah kamu takut;” kemudian malaikat itu juga menambahkan dengan kalimat yang menenangkan mereka, “sama seperti yang telah dikatakanNya“. Oh ya?, ternyata Tuhan sudah pernah mengatakan hal ini kepada kita? Kapan ya? Dimana?

    Saat hidup kita berjalan di sisi penyertaan Tuhan, walaupun penuh dengan gejolak maka jika kita senantiasa mendengar, merenungkan, dan mengingat FirmanNya segala perasaan negatif itu akan menghilang, ganti tenang dan sukacita, atau bahkan justru tidak muncul sama sekali karena kita sudah yakin lebih dahulu bahwa Tuhan akan menjaga kita, Tuhan akan menolong kita.

    Dalam peringatan paskah kali ini, mari kita datang kembali kepada Tuhan untuk bertemu pribadiNya agar sukacita kita kembali penuh. Sama seperti ketika mereka berjumpa lagi dengan Tuhan dalam perjalanan kembali dari kubur. Agar segala perasaan, beban berat yang kita sedang pikul diangkat oleh Tuhan. Agar kita pun juga bisa bangkit dari dosa, dari segala keterpurukan perasaan dan pikiran kita. Biarlah Tuhan menggantinya dengan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa.

    Come and see

    Mungkin hati kita saat ini merasa kosong sama seperti kubur yang kosong, Tuhan sudah bangkit. Ayo cari Tuhan lagi, agar Ia kembali menjadi Raja dan Juru Selamat di dalam hati kita. Jangan sedih dan kecewa, Tuhan sedang menunggu kita di satu tempat (di galilea kita), mari melangkah dengan sukacita ke tempat dimana kita dulu pernah bertemu denganNya, mari kita tinggalkan segala beban, karena Tuhan sudah bangkit, tidak ada yang perlu kita cemaskan dan takutkan lagi.

    Mari berjalan bersamaNya, bergandengan tangan erat-erat sama seperti seorang anak kecil yang menggandeng tangan orang tuanya.

    Semoga kasih Tuhan selalu beserta kita, dari sekarang sampai selama-lamanya. Amen.

  • A Child of God

    A Child of God

    If you could have something named after you, what would it be?

    Yes, if that is the prompt you asked to me, I am the child of God.

    I love my Father in heaven.

    I love Him because He loved me first.

    And I realize now why that I must love other because he loved me first

    I know that I did a lot of awful things in my life, but at the end of the day I always want to get back to my Father’s home.

    I realized that in my side, my relationship with my Father is not really good, I oftenly disobey Him, I didn’t listen to Him, I didn’t do what He asked me to do, and I forgot Him.

    I am sorry God for what I did in my past.

    And this morning, I am gratefull that this prompt pop up, I want to renew my commitment to You. Please help me Oh God, help me to become like You.

    Amen

  • 17. 1 Korintus 11:1 – Follow my example

    17. 1 Korintus 11:1 – Follow my example

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya membaca 2 pasal yaitu pasal 11 dan 12 dari surat pertama rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

    Ayat rhema saya hari ini adalah:

    ‭‭1 Corinthians 11:1 NIV‬‬
    Follow my example, as I follow the example of Christ.

    https://1corinthians.bible/1-corinthians-11-1

    Mohon maaf saya menggunakan alkitab versi internasional – NIV.

    Dalam versi terjemahan baru tertulis seperti ini:

    Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.

    1 Korintus 11:1 TB

    Renungan saya

    Dari ayat ini saya seperti diingatkan bahwa dalam mengikut Kristus kita perlu mengikut seseorang yang telah mengikut Kristus lebih dulu. Dan yang harus selalu kita pegang dalam mengikuti orang ini adalah mereka juga manusia, mereka pun bisa melakukan kesalahan, ada ketidaksempurnaan dalam diri mereka, sehingga pandangan kita harus tetap berfokus hanya kepada Kristus.

    Pribadi yang kita ikuti ini haruslah pribadi yang dalam kesehariannya, dalam tingkah lakunya, pemikiran, sikap, dan hatinya senantiasa melekat kepada Kristus, bukan hanya perkataannya saja. Karena yang kita akan contoh (example) adalah keseluruhan baik perkataan, pemikiran, sikap, tingkah laku, dan juga hatinya. Hendaknya pribadi tersebut juga telah mencontoh Kristus sebelumnya di dalam kesehariannya.

    ‭‭1 Corinthians 11:1 AMPC‬‬
    PATTERN YOURSELVES after me [follow my example], as I imitate and follow Christ (the Messiah).

    https://bible.com/bible/8/1co.11.1.AMPC

    Tidak mungkin kita mencontoh seorang pribadi dalam hal mengikut Kristus yang hidupnya sendiri, tingkah lakunya seringkali tidak sesuai dengan ajaran Tuhan.

    Pribadi tersebut akan menjadi model Kristus bagi kita di dunia karena pribadi tersebut telah melihat Kristus sebagai model, dan begitupun diri kita. Kita tetap menggunakan pribadi Kristus sebagai model utama, namun agar lebih terbayang memang seringkali kita memerlukan figur yang dapat kita lihat dengan mata kepala kita sendiri.

    Seperti kita memodel seorang pribadi dan Kristus tentunya maka kita pun akan menjadi model bagi orang lain, bagi pasangan kita, rekan kerja, anak buah, anak kandung, saudara kita, rekan-rekan satu gereja, satu komunitas, tetangga, teman, dan banyak lagi. Pribadi kita pertama-tama akan dinilai dan bahkan mungkin diberikan label (suka atau tidak suka), sehingga segala perkataan, perbuatan, tindak-tanduk, dan sikap kita akan menentukan nilai dan label yang melekat pada diri kita.

    Sehingga mengikut Kristus dalam konteks ini tidak lagi menjadi personal atau urusan pribadi. Personal / urusan pribadi dalam hal diri kita kepada Tuhan, dalam beribadah, dalam menjalankan ajaran Tuhan. Namun tidak bisa lagi personal atau urusan pribadi karena kita dilihat oleh orang lain, karena kita pasti dinilai oleh orang lain, diberi label oleh orang lain tidak peduli apakah kita suka atau tidak suka, karena kita pun melakukan itu  terhadap orang lain tanpa kita sadari.

    Di saat kita mengakui iman percaya kita terhadap Kristus sebagai Tuhan Allah kita, maka hidup kita pun haruslah menggambarkan siapa itu Kristus, walaupun kita ini masih manusia. Tapi kita berusaha terus setiap waktu, walaupun sangat tidak mudah. Banyak hal yang kita tidak mengerti, banyak hal yang bertentangan dengan insting dan logika, apalagi budaya sekitar kita. Namun itulah komitmen yang harus kita bangun setiap waktu, hidup serupa dengan Kristus.

    Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, “Beratkah mengikut Kristus itu?”

    Bagi yang kurang cinta atau kurang sayang atau kirang mengidolakan Kristus itu berat, tapi bagi fans garis kerasnya Kristus itu happy, itu membahagiakan dan menggairahkan. Sama seperti seseorang yang mengidolakan artis, atau tokoh, di rumah atau dikamar ada foto-foto figur tersebut, ada karya-karyanya mungkin, ada banyak hal mungkin yang dia beli atau miliki untuk memenuhi perasaan suka yang ia rasakan, bahkan cara berpakaian, cara bicara, dan yang ekstrim merubah bentuk tubuhnya agar serupa dengan figur yang ia idolakan. Apakah ia terbeban? Apakah ia berat mengeluarkan begitu banyak uang agar bisa mengikuti idolanya ini?

    Apakah Kristus sudah menjadi idola di hidup kita?

    Ataukah kita memiliki idola yang lain selain Kristus?

    Apakah kita masih terlalu perhitungan dengan Kristus?

    Yang Tuhan cari bukanlah hanya sekedar fans garis keras, namun orang-orang yang juga mau mengerjakan apa yang Tuhan sudah ajarkan di dalam kitab suci, di dalam Firman Tuhan terutama dalam hal mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia, dua perintahNya yang utama dan terutama.

    Ayo kita bangun hubungan dengan Kristus lebih dalam lagi. Berdoa jangan sekedar berdoa – ngobrollah dengan Tuhan, berkomunikasi, membaca Alkitab jangan sekedar membaca Alkitab – renungkanlah, cari dan mintalah rhema, renungkan, pikirkan dan aplikasikan bukan hanya sekedar dihapalkan.

    Ayo kita tularkan spirit mencintai Tuhan kepada orang lain, bahwa Tuhan itu begitu baik dalam kehidupan kita. Dan saya percaya hidup kita akan baik-baik saja apa pun yang terjadi di sekitar kita.

    Amen

    Image by freepik

  • 12. Efesus 5:1 – Copy Paste Tuhan

    12. Efesus 5:1 – Copy Paste Tuhan

    Dapat rhema apa hari ini?

    Hari ini saya membaca Surat Paulus kepada jemaat di Efesus tanpa sengaja di aplikasi bangun tidur dalam kondisi masih setengah sadar, saya baru sadar ternyata saya sudah membacanya minggu lalu. Dan saya mendapatkan rhema yang baru 😃.

    Ayat rhema saya hari ini adalah:

    ‭‭Efesus 5:1 TB‬‬
    Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih

    https://bible.com/bible/306/eph.5.1.TB

    Renungan, mari kita merenungkannya:

    Saat membaca ayat ini ditengah kondisi setengah sadar baru bangun tidur, belum sadar penuh pikiran saya benar-benar tertuju ke ayat ini, bahkan saat saya menyelesaikan membaca pasal 5 dan 6.

    Yang menarik adalah kata jadilah penurut-penurut Allah. Kata penurut yang digunakan kali ini bukanlah sesuatu yang umum, sangat jarang digunakan dalam bentuk jamak. Sehingga untuk mendapatkan konteks yang lebih jelas, saya membaca juga di versi yang lain:

    New International Version (NIV)

    ‭‭Ephesians 5:1 NIV‬‬
    Follow God’s example, therefore, as dearly loved children

    https://ephesians.bible/ephesians-5-1

    Amplified Bible, Classic Edition (AMPC)

    ‭‭Ephesians 5:1 AMPC‬‬
    THEREFORE BE imitators of God [copy Him and follow His example], as well-beloved children [imitate their father].

    https://bible.com/bible/8/eph.5.1.AMPC

    Dari kedua versi ini saya mendapatkan 2 poin:

    1. Kita itu adalah anak-anak yang dikasihi Tuhan.

    2. Kita harus mencontoh Bapa kita.

    Kita sebagai manusia mempunyai kecenderungan untuk lebih menyukai hal-hal atau orang lain yang memiliki kemiripan dengan kita.

    Saat bertemu atau berbicara dengan orang baru, seringkali tanpa kita sadari kita mencari kesamaan dengan orang tersebut salah satunya sebagai respon pada saat kita bertanya asal kota, pekerjaan, tinggal dimana saat ini, dan lain sebagainya. Begitupun saat berbicara mengenai hal-hal yang lain, kita cenderung mencari hal-hal yang mirip dengan yang kita pikirkan atau kita rasakan ada kemiripan dengan diri kita.

    Apabila anda adalah orang tua yang memiliki anak. Sebagai orang tua anda pasti akan sangat senang saat anak anda mirip dengan anda, bukan hanya fisik namun juga pemikiran, dan lebih senang jika ternyata anak kita bisa lebih baik dari kita.

    Untuk mencontoh Tuhan, follow God’s example (NIV) itu tidak mudah, apalagi menjadi peniru Tuhan atau imitators of God (AMPC) dalam rangka untuk menjadi serupa dengan Tuhan (imitate their father).

    Pada saat kita memutuskan untuk menjadikan Tuhan sebagai Tuhan Allah kita, mengadakan janji komitmen, kita disebut sebagai lahir baru, kita menjadi bayi rohani berapa pun usia kita. Dan agar bayi rohani ini bisa bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa rohani maka kita perlu selain mendapatkan asupan nutrisi (makanan dan minuman rohani – Firman Tuhan) kita juga harus mendapatkan stimulasi agar bisa mengembangkan baik sistem otot dan refleks tubuh, logika dan cara berpikir, serta perasaan melalui mendengarkan khotbah di gereja, sharing, kesaksian, dan tentunya mencoba mengaplikasikan hal-hal yang sudah kita lihat, dengar, dan rasakan itu dalam kehidupan sehari-hari.

    Tuhan mendampingi kita selalu dalam setiap prosesnya sama seperti kita apabila kita mendampingi anak kita pada waktu bayi saat belajar berbicara, saat belajar berjalan, saat belajar makan, membaca, atau menulis. Kita begitu senang saat anak kita sudah mulai bisa melakukan, sehingga begitu pun Tuhan yang begitu senang atas setiap pencapaian kita saat kita berusaha melakukan petunjuk, perintah, nilai-nilai dari Tuhan walaupun belum sempurna, walaupun masih jatuh bangun. Tuhan happy.

    Kasih Tuhan kepada kita itu sangat manis, agak aneh kedengarannya ya. Tapi seperti itulah yang terbersit dalam hati saya membayangkan Tuhan mendampingi hidup saya agar saya bertumbuh dan berkembang dalam iman akan Tuhan. Jika diterjemakan dalam bahasa Inggris, God’s love is so sweet. 😃

    Dan Tuhan itu setia. Tuhan setia menunggui kita bahkan saat kita jatuh bangun, dan sesungguhnya Tuhan itu tidak diam saja saat kita terjatuh, jika kita belum bisa bangun sendiri Tuhan pasti menyorongkan tanganNya untuk membantu kita mencoba lagi. Hanya pasti masalahnya ada di kita, seperti anak kecil juga seringkali sok-sok malu menyambut uluran tangan Tuhan, atau ada juga yang modelnya menangis makin keras guling-guling, atau tidak ada juga yang malah jadi tantrum (makin terpuruk).

    Aplikasi

    Sekarang kita ada di posisi mana? Apakah masih bayi, balita, anak-anak yang bandel? Remaja yang cari perhatian atau sudah beranjak dewasa rohani?

    Dimanapun fase pertumbuhan dan perkembangan rohani kita senantiasalah melekat pada Tuhan. Jangan menghindar apalagi menjauh karena kita akan kelaparan dan kehausan rohani, kita akan sulit bertumbuh dan berkembang, dan pada akhirnya iman kita pun mati walaupun kita masih hidup.

    Tetaplah membaca dan merenungkan Firman Tuhan, berdoa bergereja, terlibat dalam perkumpulan atau kegiatan pelayanan di gereja, dan yang paling penting menjalankan Firman Tuhan dalam keseharian kita.

    Harapan dan Doa

    Semoga kita sehat dan makin kuat iman kita di dalam Kristus.

    Ajari dan bimbing kami selalu ya Tuhan.

    Amen.

  • 7. Intermezzo – What a Funny God

    Have you experienced that Jesus is funny?

    This morning, after I woke up, and did everything else I sit on my yoga-mat on the floor, open my bible and pray before I read the bible.

    My pray this morning are not usual words that I used to say when I pray before reading my bibles.

    I said, “Lord, thank you for this morning, I want to listen Your words, I want to study, I want to study Your words so I can live right. Amen”

    I open my eyes and when I looked in my bible, the title of the chapter I have to continue read today is : Kebenaran yang sejati (Indonesian version bible) – Phillipians 3. What? It is kind of funny I think.

    Image by stockking on Freepik

    Although it is different title with New International Version (NIV) : No Confidence in the Flesh. I assume that it was God who really want to speak to me about this topic. And you know that God frequently did something like that in instant, like it was already there before I said that in my wish or my prayer. And a second after I finished my words, bamm… it is in front of my eyes.

    Oh God, You are so kind and sweet to me. Me, who frequently off the road. Yes you are loyal and commit to me. Thank You Jesus, don’t let me go, don’t let me off from Your guardiance. Amen.

  • Saya adalah Pengelola

    Pengelola adalah sebuah mindset baru yang saya dapatkan 2 hari belakangan ini.

    Segala sesuatu adalah milik Tuhan’bahkan diri kita, tubuh kita pun sesungguhnya adalah milik Tuhan, yang dipercayakan kepada Tuhan untuk kita kelola.

    Sekarang kembali lagi kepada kita. Siapa Tuhan di mata kita? Jika kita menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, maka seharusnya kita mengelola segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Karena Tuhan akan datang meminta pertanggungjawaban kita, apa yang sudah kita lakukan terhadap tubuh kita, diri kita, keluarga kita, pekerjaan kita, komunitas kita.

    Ada satu hal lagi yang baru saya dapatkan lagi pagi hari ini, makanya saya menulis agar jangan sampai kabur buah pikir ini, yaitu: kita tidak dibiarkan Tuhan mengelola sendiri. Kita itu adalah mitra kerja Tuhan. Partner. Bahkan lebih lagi, kita itu adalah anakNya Tuhan. Yang jika mengalami kesulitan dalam mengelola, dalam menjalankan hal-hal yang dipercayakan Tuhan, kita boleh kapan saja bertanya, kapan saja konsultasi, kapan saja mengadu, mengeluh, apapun yang kita alami boleh kita sampaikan, bahkan cerita atau merayakan keberhasilan bersama Tuhan.

    Mintalah bimbingan kepada Tuhan, mintalah tuntunan, mintalah nasihat, mintalah petunjuk, mintalah bantuan kepada Tuhan. Maka Ia, Bapa kita akan dengan sukacita membantu kita.

    Terimakasih ya Tuhan, ya Roh Kudus untuk hikmat yang boleh aku terima pagi hari ini.

    Engkau sungguh luar biasa.